GADIS KECIL

GADIS KECIL
Kedekatan Ziand


__ADS_3

Happy Reading



Setelah ia mendengar penjelasan mommy nya, Ziand benar-benar frustasi.


Benarkah dia wanita itu?


Apakah bocah kecil yang bersamanya adalah putranya?


Bagaimana cara ia mengatakan ini?!


Saking kerasnya berfikir, kepala Ziand seperti akan pecah. Merenung, itulah yang dilakukan Ziand sekarang. Malam yang sunyi ditemani dengan beberapa batang rokok, wine dan minuman berkadar alkohol tinggi lainnya.


Hanya dengan cara ini Ziand menenangkan dirinya, Handphone Ziand terus membunyikan notifikasi yang menandakan ada yang mengirimkan pesan padanya. Ziand justru tidak merasa terganggu sama sekali.


Diambilnya handphone tersebut dan membuka aplikasi chatting. Ziand tertawa keras, melihat mantan istrinya yang mengirimkan foto-foto mesranya dengan laki-laki tua tapi memiliki banyak duit. Tentu saja duit Ziand lebih banyak darinya.


Ziand terus menenggaknya hingga tak terasa ia mabuk sekarang. Bukankah ini yang ia inginkan? hanya dengan mabuk ia kembali dalam ketenangan.


•••


Rutinitas pagi hari telah selesai, mereka sarapan tanpa Ziand. Tentu saja Disya merasa senang, ia memang menyayangi ayahnya. Tapi melihat ayahnya yang selalu acuh padanya, membuat rasa sayang Disya luntur perlahan.


"Disya mau bawa bekal?" tawar Killa.


"Tidak oma, bunda selalu menyiapkan makan siang Disya dan Morgan." sahutnya antusias.


"Benarkah? apa masakannya terasa enak heum?"


"Sangat enak oma, uuuhh kalau oma mencobanya pasti akan ketagihan hahaa." canda Disya membuat Killa dan Fernand tertawa.


"Sudah-sudah ayo biar oma dan opa antarkan." ajak Fernand yang diangguki Disya dan Killa.


Baru saja ketiganya akan memasuki mobil, Ziand dengan cepat mencegah mereka.


"Tidak, biar Ziand saja yang mengantarkannya." harap Ziand mengkode ayah dan ibunya dengan embel-embel ingin mendekatkan dirinya pada sang putri.


Killa dan Fernand mengerti arti tatapan Ziand, dengan keterpaksaan Killa membiarkan putranya untuk mengantar Disya. Sebenarnya Killa dan Fernand ingin menemui Cia disekolah. Tapi melihat tatapan Ziand yang memohon membuatnya sedikit haru.


"Baiklah, Disya berangkat sama ayah ya."


Disya memandang omanya seakan-akan ia tak mau diantar ayahnya. Saat menatap manik mata Killa yang mendapatkan gelengan. Disya menggembungkan pipinya.


"Iya, Disya diantar ay ... ayah." Disya mengatakan 'ayah' dengan terbata-bata karena ia tidak biasa mengatakan itu.


•••


Diperjalanan, Disya terus-menerus diam. Tidak ada yang memulai pembicaraannya, Ziand yang bingung bagaimana ia bisa mendekatkan diri dan Disya yang tidak sabar bertemu dengan Cia dan Morgan.


Disya terus mengotak-atik jam tangan yang Cia belikan, Disya dengan tidak sabarnya menelpon Cia menggunakan jam tersebut.


'Panggilan Terhubung'


"Hallo bunda!" pekiknya senang.


{...]


"Tidak ada, Disya hanya rindu." terangnya membuat hati Ziand tergores.


{...}


"Apa!? Bunda tidak masuk hari ini, bunda sakit?" tanya Disya dengan nada khawatir, Ziand hanya memperhatikan interaksi putrinya yang sangat serius.


{....}


"Baiklah, bunda istirahat. Disya sayang bunda." sahutnya setelah itu panggilan telepon tersebut diakhiri dengan ucapan Disya tadi.


Duar!


Bagai tersambar petir dengan ribuan belati yang menusuk hatinya, Ziand benar-benar sedih. Ia bahkan belum pernah mendapat perlakuan seperti itu dari putrinya. Perempuan yang hanya orang asing dengan mudahnya Disya mengatakan jika ia menyayanginya.


Ziand mencoba menahan air matanya dengan sekuat tenaga, saat beberapa tetes air mata yang turu. Ziand segera menghapusnya cepat.


"Ayah menangis?" tanya Disya spontan dengan wajah polosnya.


"Ti ... tidak." jawab Ziand.


"Bohong, ini apa?" tanyanya lagi dengan mengusap pipi Ziand yang masih ada beberapa bekas air matanya.


Ziand memegang tangan Disya yang berada di pipinya, tidak ada cengkraman kali ini. Ziand memegangnya dengan kelembutan.


"Bukan apa-apa, Diysa mendekat lah." ujar Ziand menarik pelan tubuh Disya hingga terduduk tepat disebelahnya.

__ADS_1


"Say ... emm maksudnya, ayah boleh memelukmu?" tanya Ziand hati-hati.


Disya mengerutkan keningnya, ia takut kejadian beberapa tahun lalu terulang. Dimana Ziand bertanya seperti itu namun berakhir Ziand mencekik lehernya.


Tanpa sadar Disya menganggukkan kepalanya membuat Ziand tersenyum lebar. Air mata Ziand benar-benar tidak dapat ditahan lagi, ia mendudukan Disya kepangkuan nya dan memeluknya lagi.


Cukup lama mereka berpelukan, Disya menjauhkan tubuhnya menatap Ziand.


"Mengapa ayah menangis? apa Disya berat." dengus Disya menghapus jejak air mata ayahnya. Perlahan Disya melupakan kejadian buruk yang telah ia dapatkan dari ayahnya.


Simpel bukan? hanya dengan cara Ziand melembutkan diri kepada putrinya, Disya bahkan tidak takut lagi dengannya. Walau ia tidak tau bagaimana kedepannya.


"Ayah tidak boleh menangis, kata bunda laki-laki itu harus kuat. Jika Morgan menangis saja bunda akan mengomel, bagaimana jika bunda melihat ayah menangis? hahaha itu sangat lucu, jika bunda mengomeli ayah." papar Disya sembari membayangkan wajah garang Cia..


"Heum? siapa bunda?" tanya Ziand pura-pura tidak tahu.


Disya menghentikan tawanya. "Ayah tidak tau siapa yang Disya sebut sebagai bunda?"


Ziand menggeleng menandakan ia benar tidak tahu.


"Apa oma tidak menceritakannya? uh sayang sekali ayah tidak tau siapa bunda, jika ayah tau. Pasti ayah akan tergila-gila." lede Disya membuat Ziand senang, putrinya kini sudah bisa berbicara panjang lebar dengannya.


"Tuan muda, sudah sampai." ucap supirnya yang sedari tadi diam.


"Disya kedalam dulu ayah." pamitnya mengambil tangan Ziand dan menciumnya, membuat kedua laki-laki yang berada didalam mobil terkejut.


Mengapa Disya melakukan itu? tentu saja ia mengingat ucapan Cia yang selalu mengajarinya sopan santun.


•••


20 menit kemudian


Ziand masih berada dihalaman sekolah dasar tersebut, entahlah apa yang ia lakukan.


"Ayah!!!!" pekik Disya berlari sambil menggandeng tangan Morgan.


Kedua bocah kecil ini menghampiri mobil Ziand.


"Ayah masih disini?"


"Mengapa kalian keluar? apa ada yang tertinggal?" Ziand berbalik tanya.


"Tidak, tadi ibu kepala sekolah bilang jika sekolah diliburkan hari ini secara mendadak." jujur Disya, sedangkan Morgan hanya menatap datar wajah Ziand.


"Really? bagaimana jika kalian ikut dengan ayah kekantor?" tawar Ziand.


"Boleh." Disya menjeda ucapannya dan melirik pada Morgan yang masih terdiam. "Bagaimana? kau mau ikut kan Al?" lanjutnya bertanya dengan sedikit nada memohon pada laki-laki kecil ini.


"Al? sejak kapan kakak memanggilku Al?" sahut Morgan.


"Sejak hari ini, bagaimana? Ikut ya. Please, nanti kamu bisa belajar bisnis disana bareng ayahku." pinta Disya yang diangguki Ziand.


Morgan masih dengan mode datarnya, karena ia memang tidak terbiasa jika ada orang baru. "Huuffft, iya Morgan ikut." ucapnya pasrah.


•••


Z'M COMPANY


Morgan memandang takjub dengan gedung menjulang tinggi dihadapannya.


"Besar sekali tuhan." gumam Morgan yang masih bisa didengar Ziand.


"Kenapa bengong? ayo masuk." ajak Ziand.


Karena Morgan terlalu lama melamun, akhirnya Disya menarik tangannya untuk masuk kedalam mengikuti ayahnya.


Max menghampiri Ziand saat sudah keluar dari lift tersebut.


"Tuan, rapatnya akan segera dimulai." lapor Max.


"Hm, Max bisakah kau antarkan putriku dan putraku ... hmm, maksudnya putri ku dan temannya bawa mereka ke ruangan milik ku." perintah Ziand sedikit tergagap.


Ziand mensejajarkan dirinya pada sang putri. "Disya ke ruangan ayah saja ya." ucapnya sebelum pergi.


"Okay, bisakah ayah meminjamkan kami laptop?" rengek Disya.


"Tunggu beberapa menit sayang. Paman Max akan membelikan kalian masing-masing." balasnya lalu mengecup kening Disya untuk kedua kalinya membuat hati Ziand sedikit menghangat.


•••


CEO ROOM


"Al, apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Disya memulai pembicaraannya.

__ADS_1


"Bisakah kakak tidak memanggilku Al? itu sangat risih." sembur Morgan yang masih sibuk dengan laptop baru.


"Tidak, lagipula lebih mudah jika memanggil mu Al." cibir Disya tak mau kalah.


"Ya ya baiklah, terserah kakak saja. Aku hanya sedang mencoba meretas akun orang lain." papar Morgan memperlihatkan pekerjannya.


"Woow, keren. Siapa yang mengajari mu?"


"Aunty Vivi, dulu dia mengajariku diam-diam. Tapi karena ketahuan bunda jadi bunda ngomel-ngomel deh." adunya.


"Hahaha nanti ak~~"


Ceklek!


Perbincangan kedua bocah ini terhenti dan langsung menatap arah pintu yang dibuka secara tiba-tiba tanpa mengetuk.


Tara memasuki ruangan bosnya dengan niat akan menggodanya lagi, mengingat rapat tadi sudah selesai. Itu berarti ini saatnya ia beraksi


"Ngapain?" tanya Disya dingin melihat tante-tante yang sering mencary perhatian pada keluarganya.


"Loh Disya ada disini?" tanya Tara basa-basi.


"Bukan, ini setan." ketusnya membuat Tara cemberut.


"Ngapain sih tante kesini, ganggu aja." sarkas Disya.


"Mau ketemu ayah kamu." Tara melirik pada Morgan yang masib asik pada laptopnya.


"Eh anak har*m ada disini." ejek Tara tapi Morgan tampak acuh dengan wanita itu, toh dia tidak mengenalny.


"Morgan bukan ana har*m!" jerit Disya.


"Aduh Disya, kok kamu mau-maunya sih berteman sama anak har*m ini." ucap Tara mengompor-ngomporinya.


"Ngapain kamu kesini heh, mau ngegoda CEO disini ya. Oh ya lupa kan dia keturunan jal*ng." lanjutnya membuat Morgan tidak terima.


"Masa? Apa dirumah anda tidak ada kaca!? cih, tidak sadar diri bit*h!" tantang Morgan dengan penuh keberaniannya.


"Apa katamu? asal kamu tau ibumu yang jal*ng sesungguhnya bod*h. Hahaha kasihan sekali dirimu lahir tanpa ayah." ejeknya lagi.


Mata Morgan memerah memandang sengit wajah Tara, melihat ada gelas yang terisi air penuh didepannya. Morgan melemparkan air itu beserta gelasnya pada Tara, membuat kemejanya basah.


Prang!


Gelas mahal tersebut jatuh hancur mengenai lantai, Tara yang sudah tersulut emosi hendak melayangkan tamparan pada putra adiknya.


Brak!


Pintu ruang kerja tersebut dibuka kasar oleh Ziand, dengan segera ia menahan tangan Tara dan menempelkan pistol yang ia genggam pada pelipisnya.


"Sekali kau menyentuh putra ku, akan kubun*uh kau didepan orang tuamu." bisik Ziand yang hanya bisa didengar Tara.


Tubuh Tara bergetar mendengar ancaman Ziand, ia berlari keluar saat Ziand melepaskan cengkraman tangannya.


Morgan terduduk dilantai dengan air mata yang terus mengalir.


"Apa benar aku ini anak har*m?" ucapnya kepada dirinya sendiri. Ziand yang melihat itu hatinya berdenyut nyeri.


Disya menghampiri Morgan dan memeluknya erat. "Bukan, kamu bukan anak har*m."


Ziand mendudukkan dirinya pada sofa yang tak jauh dari kedua bocah tersebut, diangkatnya Morgan untuk dudum di pangkuannya. Dan disusul Disya disebelahnya.


"Hey boy, lihat sini. Kamu bukan anak har*m." ucao Ziand mencoba menenangkan Morgan dengan membawa tubuh kecilnya kedalam pelukannya dan tak lupa menarik tubuh Disya agar bergabung.


Tangis Morgan pecah saat berada didalam pelukan Ziand, Morgan mencengkram kuat jas milik Ziand menyalurkan rasa kesalnya.


Tak ingin tinggal diam, Ziand juga mengelus punggung Morgan dan Disya.


***Gimana nih?


Awal kedekatan Ziand dengan putra dan putrinya.


Bagaimana kisah selanjutnya?


Bagaimana perjalanannya?


yuhuu***


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


Satu dukungan sangat berharga bagi saya, dengan itu saya lebih semangat dalam menulis.


Typo bertebaran, saiya mencoba untuk merevisi ulang. So, do not worry><

__ADS_1


Mau visualnya?


__ADS_2