
...Happy Reading...
...•...
Pukul dua dini hari Morgan terbangun dari tidur panjangnya, Morgan meremas rambutnya berharap rasa pusingnya berkurang namun Nihil! Bisikan-bisikan itu terus terdengar samar-samar.
"Ini papa sayang, ayo bangun."
"Papa disini boy, cepatlah bangun. Bunda merindukan mu."
"Morgan, putra bunda. Katanya kangen sama papa, itu papa sayang."
Bisikan-bisikan itu terus berputar membuat kepalanya seakan-akan ingin pecah, setelah beberapa menit bocah kecil ini mengumpulkan tenaganya. Morgan dapat duduk dengan baik walaupun masih lemas.
Perlahan, penglihatannya menyusuri ruangan bernuansa putih tersebut hingga pandangannya terpusat pada sepasang lelaki dan perempuan yang tengah tertidur di sofa ruangan itu.
Yang lebih membuatnya terkejut adalah cara mereka tertidur, jika dilihat dari mata orang dewasa mungkin itu hal biasa. Hei! Morgan masih anak-anak, melihat Ziand yang tertidur sembari merengkuh pinggang Cia dan bundanya juga menyenderkan kepalanya di pundak pria itu.
Morgan berdecak kesal, harusnya bundanya itu tidur bersamanya. Hembusan nafas panjang Morgan lakukan.
"Haruskah Morgan membangunkan bunda?" batinnya menatap kelopak mata Cia yang terlihat sembab.
"Tapi gimana caranya Morgan bangunin bunda, ish bikin kepalaku makin pusing huaa." imbuhnya kembali mencoba membaringkan tubuhnya.
•••
Pagi harinya, Cia terbangun dengan wajah terkejut. Tidak-tidak! Kemarin malam ia ingat jika dirinya tidur di kursi kecil bersebelahan dengan brankar putranya. Namun, apa ini? Seingatnya Ziand sudah berpamitan untuk pulang.
Dengan ogah-ogahan, Cia menurunkan lengan kekar Ziand yang masih saja memeluknya. Cia akui, berada di pelukan pria itu memang sangatlah nyaman.
Cia berdecak kesal, mengendus-endus bau parfum asing yang menempel di bajunya. "Ck, kenapa parfumnya malah nempel di bajuku sih."
Morgan terkekeh kecil, melihat wajah kesal Cia membuat rasa pusingnya berkurang.
"Bunda." panggilannya pelan berharap Cia dapat mendengar suaranya yang mirip seperti bisikan.
"Bunda." panggilannya lagi sedikit menaikkan suaranya.
Cia membulatkan matanya, selangkah lagi ia akan memasuki toilet tetapi terhenti saat mendengar suara putranya.
"Sayang!" jerit Cia keras, dengan terburu-buru Cia melangkahkan kakinya menuju putranya itu.
Grep!
__ADS_1
Wanita ini tak lupa, mengecup seluruh wajah Morgan dengan gemas. Berkali-kali ia mengucapkan syukur kepada Tuhan.
Suara jeritan Cia membuat tidur Ziand terusik, beberapa kali pria ini mengerjapkan matanya guna menetralkan cahaya yang masuk.
Hingga terpampang lah ibu dan anak yang tengah berpelukan, lagi-lagi pria ini menyunggingkan senyum manisnya.
"Morgan." panggil Ziand mendekati keduanya.
"Hii om." sahutnya, ingin sekali bocah kecil ini memanggil pria itu papa seperti yang Ziand katakan waktu itu. Jika tidak ada Cia sudah dipastikan Morgan akan memanggil pria itu papa.
"Om? Itu papa kamu sayang, papa kandung kamu." timpal wanita yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan tersebut.
Papa?" kata Morgan tidak mengerti.
Cia memandang aneh wanita yang baru saja masuk, Hellena. Ya, itu memang Hellena neneknya.
"Jadi kami belum tau sayang?" tanya Hellena tanpa memandang Cia.
"Tau apa memangnya oma?"
"Haruskah aku memberitahu tentang Ziand kepada Morgan?" batin Cia, hanya kalimat itu yang terus-menerus berputar di otaknya.
"Bagaimana ini ya Tuhan." pikirnya lagi.
"Jadi, om ini memang papa kamu Morgan. Papa kandung kamu." papar Cia menundukkan kepalanya tidak ingin melihat wajah putranya.
"Om? Papa? Jadi om papanya Morgan?" Morgan memandangi wajah Ziand yang berbinar.
Hanya anggukan kepala yang Ziand lakukan, pria ini mulai mendekati bocah kecil itu dengan niatan memeluknya.
"Stop! Kalau memang om papanya Morgan, kenapa dari kemarin-kemarin om tidak pernah menemui Morgan. Om tidak pernah pulang, dan pada saat awal Morgan bertemu di bandara itu seolah-olah om tidak mengenali Morgan dan bunda. Kemana om selama ini, kemana om saat bunda sedang bekerja keras untuk membesarkan Morgan."
Wooww! Mengejutkan bukan? Sudah ku bilang, Morgan itu berbeda dengan anak kecil lainnya.
Mendengar ucapan Morgan membuat semuanya bungkam, begitu juga dengan Ziand. Dadanya terasa sangat sesak. Buliran buliran bening mulai berjatuhan dengan langkah pelan pria itu mendekati putranya.
"Stop!" jerit Morgan sekali lagi.
Tanpa mengindahkan peringatan putranya itu, Ziand tetap melangkahkan kakinya. Hingga…
Grep!
Sekali tangkapan, Morgan masuk kedalam pelukan hangat milik ayahnya itu. Dengan sekuat tenaga ia mendorong pria didepannya agar menjauh.
__ADS_1
"Maaf." hanya itu yang bisa Ziand katakan seolah-olah tidak ada kata-kata lain. Berbagai kata maaf terus saja pria ini bisikkan.
"Nggak! Kalau om mau Morgan maafin, ada syaratnya." kata Morgan menyeringai.
Cia mengerutkan keningnya curiga, apq yang putranya rencanakan kali ini. Begitu juga dengan Ziand yang memandang heran putranya itu.
"Apapun boy, asalkan jangan minta papa Unu menjauh darimu dan bunda."
"Morgan mau, om lamar bunda didepan Morgan sekarang." ucapnya tegas, membuat Cia dan Ziand membelalakkan matanya tidak percaya.
Tidak hanya Ziand dan Cia, Hellena yang sedari tadi berada disitu juga terkejut.
"Se … sekarang?" gagap Ziand tidak percaya.
"Iya sekarang, kenapa? Om nggak mau?"
"Eh tidak-tidak, tidak perlu sekarang. Om pinjam hp." ujar Morgan menodongkan telapak tangannya.
"Untuk apa?"
"Pinjam sebentar om." pintanya yang langsung diberikan hp milik Ziand.
Satu persatu kontak mulai Morgan hubungi, seperti kedua orang tua Ziand hingga Max dan Leon sampai Cala dan Vivi juga tak lupa bocah kecil ini hubungi.
Ramai, itulah suasana yang ada didalam ruang rawat milik Morgan. Semuanya telah berkumpul seperti yang Morgan inginkan, membuat Ziand mengerti apa yang diinginkan putranya.
"Baiklah sekarang papa mengerti maksud mu boy." bisik Ziand yeng dibalas satu angkatan alis.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Fernand tidak paham.
Setelah menelpon orang tuanya, Ziand meminta Killa untuk mampir ke toko perhiasan untuk membeli cincin tunangannya.
"Ma, mana cincinnya?" tanya Ziand tak menjawab pertanyaan ayahnya.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul disini. Ada hal serius yang kalian harus tau."
Ziand membalikkan tubuhnya menghadap calon istrinya, pria ini mulai membuka kotak cincin itu dengan membungkukkan badannya.
"I'm not a romantic man, and not a man who feels bad on. So, will you marry me?"
apakah Cia akan menerima pria itu?
ataukah ini hanya mimpi?
__ADS_1
tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)