
Happy Reading
•
Ziand meninju tembok ruangannya, melampiaskan emosinya. Kertas-kertas berserakan dimana-mana, nafas Ziand memburu dengan wajah memerah padam penuh emosi. Dadanya terasa sangat sesak hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Hasil tes DNA yang dibawakan Max membuat pria satu ini membelalakkan matanya, pikirannya benar-benar blank.
Tes tersebut menunjukkan bahwa 95,80% benar jika Morgan adalah putranya. Tangannya terkepal kuat mengingat seberapa brengseknya ia dengan mudah memprko*sa gadis yang tidak bersalah.
"Bagaimana aku menjelaskannya?"
Arrrgggghhhh
"Badji*gan kau Ziand!" teriaknya frustasi menjambak rambutnya sendiri.
•••
Dikarenakan hari ini sekolah diliburkan, Disya mengajak Morgan untuk datang ke kantor milik ayahnya. Karena ancaman Ziand beberapa waktu lalu membuat Tara menimang nimang perbuatan yang untuk mencelakai putra adiknya.
Disya dan Morgan sengaja' tidak mengatakannya pada Ziand jika mereka berdua akan ke kantor. Kedua bocah ini merengek dan meminta salah satu supir keluarga MOORE agar diantarkan ke kantor Ziand.
F'M Company
Salah satu scurity membukakan pintu untuknya, seluruh orang kantor tau jika Disya adalah putrinya dan Ziand juga memerintahkan seluruh karyawannya untuk memanggil Morgan dengan sebutan 'Tuan Muda'
"Om Max!!!" teriak Disya ketika melihat Max yang ingin menaiki lift.
Max berlari kecil menghampiri keduanya. "Hey, dengan siapa kalian kesini?"
"Itu tuh, sama supir."
"Papa mana?" imbuh Disya.
"Ada, di ruangannya biasalah."
Saat hendak menggandeng Disya dan Mirgan, justru kedua anak ini menghindar bersamaan. Max yang bingung hanya mengangkat satu alisnya.
"Gendong!" rengek nya bersama-sama.
"Huufft, iya ayo. Bisa-bisa tulang om remuk, kalo kalian terus-terusan minta gendong." keluh Max dengan wajah yang dibuat-buat.
"Ck, badan segede tiang listrik gini. Mana mungkin remuk, orang cuma gendong Disya sama Morgan doang kok." cibir Disya memicingkan matanya.
CEO ROOM
Brak!
Disya mendorong pintu ruangan tersebut kuat-kuat hingga menghasilkan bunyi yang nyaring. Ini salah satu kebiasaan Disya yang membuat Ziand sedikit jengkel.
"Loh! Kalian ke sini." Ziand berbasa-basi.
"Nggak pa, kita hantu." ketus Disya, meliuk-liukkan tubuhnya menandakan ia ingin turun.
Sedangkan Morgan masih nyaman didalam gendongan Max, ah bahkan Morgan sudah melingkar tangannya di leher milik Max dan menenggelamkan wajahnya di pundak Max.
"Hhmm, wangi parfum om Max mirip kaya punya aunty Vivi. Yakan Disya." ceplos Morgan semakin menghirup aroma parfum itu.
"Aunty Vivi?" tanya Max pura-pura tidak tahu.
"Iya aunty Vivi, wanginya sama. Bedanya kalo punya om Max versi laki-laki kalo punya aunty Vivi khusus buat perempuan." bukan, bukan Morgan yang menjawabnya. Tetapi putri Ziand lah.
"Morgan, sini turun. Om Max mau lanjutin kerjanya." timpal Ziand sedikit iri.
"Max, kosongkan jadwal ku hari ini." titah Ziand membuat Max melotot.
"Tapi Zi~" sebelum ia melanjutkannya justru sudah mendapatkan tatapan membunuh dari Ziand.
•••
__ADS_1
Ibu satu anak ini sedang membereskan barang-barangnya setelah mendapatkan telepon dari putranya untuk dijemput.
"Ci, kamu yakin mau kesana. Ada nenek lampir dih." ucap Vivi tidak yakin dengan keputusan Cia.
"Mau gak mau Vi, kalo Morgan gak dijemput aku. Mana mau dia pulang." sahutnya.
"Ck, aku ikut deh Ci. Kalo nenek lampir itu macem-macem kan bisa langsung tak tinju." seloroh Vivi memperlihatkan tangannya yang mengepal.
"Kamu yang bawa mobil ya Ci, mager banget serius. Supirnya lagi pergi semua lagi." imbuhnya.
"Iya aku yang bawa. Mana kuncinya?" menodongkan telapak tangannya.
"Nih."
•••
Sampai di parkiran khusus perusahaan tersebut, Cia dan Vivi dibuat tercengang dengan mulut sedikit terbuka. Kepalanya mendongak mengikuti tinggi gedung tersebut.
"Gila gede banget Ci, kita biasanya cuma lewat doang. Sekarang bisa masuk, bener-bener crazy." gumam Vivi.
"Udah deh Vi, jangan bikin mata karyawan disini liatin kita kaya orang mau ngerampok." ledek Cia yang langsung mendapatkan pukulan kecil di lengannya.
"Selamat siang, permisi mbak, ruangan Presidir sebelah mana?" tanya Cia sopan.
"Selamat siang, sudah buat janji sebelumnya?" tanyanya balik.
"Belum, tapi silahkan telepon Presidir anda. Saya ingin menjemput putra saya."
"Oh ibunya Morgan yah, maaf bu. Saya baru pertama kali bertemu dengan anda, ruangan presdir ada dilantai 20 dengan pintu berwarna hitam dan ada tulisan 'CEO ROOM." jelas resepsionis tersebut.
Cia menganggukkan kepalanya, melangkah menuju lift diikuti dengan Vivi yang masih terdiam mengamati ruangan gedung tersebut. Saat ditengah jalan, tangan Cia di tarik secara tiba-tiba.
Brugh!
Setelah ditarik, tiba-tiba tangannya dilepaskan begitu saja membuat Cia terjatuh ke lantai. Cia mendongak melihat wanita yang memperlakukannya, senyum semirik muncul di wajahnya.
"Untuk apa kau kesini bit*c, setelah kau menggunakan anak har*m mu untuk menggoda CEO sekarang kau juga ikut turun tangan. Cih." sindir Tara membuat Cia tidak terima.
Plak!
Cia menampar Tara dengan keras, saking kerasnya hingga membuat sudut bibir Tara mengeluarkan darah. "Jaga batasan mu, jangan pernah menyebut putra ku anak har*m!"
"Sial*n!! berani sekali kau menampar ku jal*ng. Dia memang anak har*m, anak yang lahir tanpa ayahnya. Bahkan kau hamil diluar nikah." murka Tara memegangi pipinya yang masih panas.
Cia mati-matian menahan amarahnya, jangan sampai ia kelewatan. " Jal*ng teriak jal*ng? terus tujuan menggoda om-om di Club yang memiliki banyak uang. Bukan jal*ng yah? oh ya lupa, bahkan anda menjual diri dengan harga murah. Sepertinya tidak pantas jika disebut jal*ng lebih pantas jika anda disebut WANITA MURAHAN!" ucap Cia meninggikan suaranya saat menyebut wanita murahan.
Tara yang sudah terselut emosi, mengambil salah satu gunting yang ada di jasnya. Hingga ia ingn menus*kkan gunting itu pada Cia, namun terlambat karena Vivi memelintir tangannya kebelakang hingga terasa ingin patah.
Para karyawan yang melihat adegan itu justru bertepuk tangan dengan cara memelintir tangan Tara, bukan hanya Ziand yang jijik dengan kelakuan Tara, bahkan seluruh karyawan kantor itu sudah muak dengan Tara.
"Kembali bekerja!" perintah Ziand yang baru tiba, setelah ia mendapatkan telepon dari resepsionisnya ia berlari menuju lift disusul dengan Max.
"Max, bawa wanita menjijikkan ini keruangan ku." titah Ziand, Max mendekati Tara yang masih dipelintir tangannya.
Bukannya melepaskan, justru Max juga semakin kuat memelintir tangan wanita ini.
"Ayo." ajak Ziand memasuki lift khusus diikuti Vivi dan Cia.
***
"Jelaskan!" perintahnya dengan nada dingin.
"Dia duluan presdir, dia datang-datang langsung memukuli saya." bohong Tara setelah Max melepaskannya.
Cia dan Vivi berdecih, sungguh menjijikkan. Tara bukanlah tandingan untuk Vivi dan Cia jika bergulat. Setelah beberapa tahun tinggal di desa, Cia dan Vivi juga belajar menguasai ilmu bela diri disana.
Ziand berbalik dan menatap tajam Cia yang masih santai dengan wajah datarnya.
"Apa?" ketus Cia merasa risih jika terus-terusan dipandang seperti itu oleh Ziand.
__ADS_1
"Tara, buat surat pengunduran mu hari ini juga. Saya tidak mau, kau menginjakkan kakinya di perusahaan ini." putus Ziand final.
"Ap ... Apa! Tuan saya mohon jangan memecat saya, saya butuh pekerjaan ini...."
"Pergi!" potong Ziand cepat.
"Apa karena wanita jal*ng ini, tuan memecat saya?" tanya Tara memancing emosi Vivi.
Bugh!
Karena tidak kuasa menahan amarahnya, Vivi dengan kuat meninju pundak Tara, hingga wanita ular ini terjatuh. Saat hendak membalas perbuatan Vivi, dengan cekatan Max menghentikan tangan Tara, sedikit memelintirnya lalu menarik kuat hingga Tara terkantuk-kantuk.
•••
Ziand dan Max memutar ulang cctv saat Tara dan Cia berkelahi di lantai bawah. Mulai dari Cia yang menampar kuat pipi Tara hingga mengeluarkan darah sampai Vivi yang mengeluarkan jurusnya untuk melampiaskan amarahnya juga.
"Ngeri banget sumpah Zi." gumam Max diangguki Ziand.
"Bayangin kalo bos menceritakan tes DNA itu sama keluarganya, uh jangan-jangan bos juga bakalan kena tampar kaya gitu juga. Atau mungkin lebih parah." ucap Max menakut-nakuti Ziand.
"Jangan bercanda Max, kau membuat ku semakin ngeri membayangkan wanita itu." sarkasnya mengingat wajah datar Cia tadi dibarengi Max yang mengingat wajah datar Vivi.
Flashback on
Setelah dirasa semuanya tenang, nafas Cia juga berangsur-angsur pulih. Begitu dengan Vivi yang lebih tenag sekarang.
"Dimana putra ku?" tanya Cia to the point.
"Santai, bisakah kita berbicara sebentar." sahut Ziand.
"Tidak, cepat katakan dimana putra ku." jawabnya ketus.
"Dia di...."
"Bundaaa!!!" teriak Morgan dan Disya berlari menghampirinya dan memeluk Cia erat.
"Wajah bunda kenapa? Bunda abis marah ya, papa marahin bunda?" tanya Disya mengusap wajah Cia dengan lembut.
Cia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan untuk menormalkan kembali raut wajahnya. "Tidak kok, bunda mau jemput Morgan."
"Oh ya, sebentar bunda. Morgan ambil tas Morgan dulu."
Sambil menunggu Morgan yang mengambil tasnya, Disya mendekati Max dan memencet hidungnya membuat Max tidak dapat bernapas.
"Om ngapain liatin aunty Vivi kaya gitu?" tanya Disya spontan.
Max yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya gelagapan. "Tidak, siapa yang mau liatin singa betina kaya dia." sahut Max menunjuk Vivi menggunakan dagunya.
"Bohong, om suka ya sama aunty Vivi." goda Disya dengan wajah yang dibuat sedramatis mungkin.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Max, membuat Disya kesal dan langsung menghampiri Vivi.
"Aunty jangan mau sama om Max, dia buaya darat kata papa." adunya mengedipkan matanya secara cepat kepada Max.
Saat ingin melanjutkan menggoda Max, justru Morgan datang dan yah pada akhirnya Cia dan Vivi pulang. Tapi sebelum itu....
"Akan ku antar." ucap Ziand memegang tangan Cia untuk menahan wanita ini.
Alih-alih mendapatkan jawaban, justru Cia menyentak kuat tangan Ziand dan menatapnya tajam. Disusul juga dengan Vivi yang menatap Ziand maupun Max secara bergantian.
Flashback off
Yahhhh, gimana nih? Si Ziand udah tau.
Eh, nyambung gak sih part ini. Jadi worry Author.
kecepatan gak alurnya?
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
__ADS_1