
...Happy Reading...
...•...
"Bagus, ini benar-benar memuaskan!" pekik salah satu gadis itu dengan mengangkat tinggi flashdisk hitamnya.
"Dengan ini kita bisa menjebloskannya kedalam penjara." timpal gadis yang satunya, membuat ketiganya mengangguk.
"Kapan kita akan membahas ini dengan Ziand dan calon istrinya itu?" tanya pria berbadan kekar yang masih asik menghisap dan menghembuskan asap rokoknya.
"Wait! Calon istri? Apa maksudmu?"
"Nona Viana Hanindiya yang terhormat, apakah anda berfikir jika saudara saya akan membiarkan putra kandungnya dan sang mama itu terus-terusan dipandang rendah oleh masyarakat? Oh tentu tidak! Masih mending saya menyebutnya calon istrinya sedangkan saudara ku itu, bahkan dia terang-terangan menyatakan Gracia adalah istrinya." papar Leon melembutkan tatapannya, walaupun terlihat sangat aneh.
Mereka…? Yap! Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah Leon, Max, Cala, dan Vivi. Keempatnya sepakat untuk fokus menyelidiki tentang penculikan Morgan. Melihat Cia yang sangat berambisi untuk mencari pelakunya membuat Vivi dan Cala khawatir hingga mereka meminta Cia untuk fokus dengan Morgan dan biarlah kedua gadis ini yang mencari informasi-informasi itu.
"Bener juga, tapi belum tentu Cia mau dengan saudara mu iti. Tuan Leon." sahut Vivi tak ingin kalah.
Max menepuk pundak Leon, mengkode agar tidak dilanjutkan. Beberapa hari bersama Vivi membuat Max sedikit mengerti sifat gadis ini. Salah satunya adalah tidak ingin kalah berdebat.
"Gadis mu benar-benar seperti singa betina Max." bisik Leon yang hanya terdengar olehnya.
Max terkekeh pelan mengingat wajah garang milik Vivi yang sering ia keluarkan.
"Ngapain bisik-bisik, gw tau kok gw cantik. Nggak usah pake bisik-bisik juga kali." kata Vivi sedikit menyombongkan diri.
"Udah deh nggak usah dibahas, jadi kapan kita mau ngasih informasi ini?"
"Paling tidak, tunggu Morgan pulih. Sementara kita pantau dulu, siapa tau wanita ular itu kembali menjalankan aksinya." saran Max membuat mereka mengangguk mengerti.
•••
Umpatan-umpatan kasar terus menerus wanita ini keluarkan, karena ancaman beberapa hari yang lalu membuatnya sedikit merasa terancam.
Perlahan-lahan, pelanggan-pelanggannya juga pergi karena tak merasa puas dengannya. Ekonomi krisis, tidak ada pemasukan namun banyak pengeluaran.
"Sialan!! Bagaimana ini." ucapnya menggigit ujung kuku ibu jarinya.
__ADS_1
"ALTARA!!!!" teriak Harso dari luar kamar wanita ini dengan menggedor-gedor pintu kamar putrinya.
"Ban**at!! Apa lagi sih yah. Tara nggak punya uang!!" sahutnya tak kalah berteriak.
"Keluar cepat." Sania juga ikut menimpali.
"Iiihhh!! Udah Tara bilang! Tara nggak punya uang!"
Brak!
Dengan wajah marahnya, Harso mendobrak pintu kamar putrinya dan langsung menyeret rambut putrinya agar keluar.
"S-sakit yah, aduh sakit … sakit bod*h!!"
"Anak tidak tau di untung! Urusi masalahmu sekarang. Ada beberapa polisi menunggu mu." kata Harso menghiraukan ringisan putrinya.
Bagi Harso dan Sania, anak tidaklah berguna jika mereka tidak dapat menghasilkan uang yang banyak. Yang Tara alami sekarang belun ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Cia.
Menurut 18 USC 1201, siapa pun yang secara ilegal mengurung, menipu, menculik, menculik, tebusan atau mengambil seseorang dan menahan uang atau hadiah dianggap sebagai penjahat. [7]
Dalam beberapa kasus, tidak dapat dianggap sebagai penculikan jika orang tersebut:
diambil oleh petugas, karyawan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 1114 sebagai petugas atau karyawan yang terlibat dalam atau karena pelaksanaan resmi untuk Pemerintah Amerika Serikat.
pejabat asing, orang yang dilindungi secara internasional sebagaimana dimaksud dalam pasal 1116, termasuk Kepala Negara atau pejabat yang setara, Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, Duta Besar, Menteri Luar Negeri, atau pejabat Kabinet lain yang berpangkat atau lebih tinggi dari pemerintah asing , diantara yang lain.
Penculikan seseorang dapat dihukum penjara seumur hidup. Jika penculikan mengakibatkan kematian seseorang, dapat dihukum dengan eksekusi atau penjara seumur hidup. [8]
Amerika Serikat adalah pihak dalam Konvensi Den Haag tentang Aspek Sipil Penculikan Anak Internasional.
Undang-Undang Pencegahan dan Pengembalian Anak Internasional Sean dan David Goldman 2014mendukung Menteri Luar Negeri AS untuk memberikan sanksi kepada negara-negara yang tidak bekerja sama dengan anak-anak yang diculik, dan untuk mengupayakan ekstradisi orang tua yang menculik. Undang-undang juga mengatur daftar "jangan berangkat"
(Sumber; Wikipedia)
Dengan kasus demikian, Tara dijatuhi hukuman sanksi bagi pelaku penculikan terhadap anak yaitu sanksi pidana berupa pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 ( dua puluh) tahun dan denda paling sedikit 8.400$ USD dan paling banyak 35.000$ USD.
(Warning! Hukum diatas hanyalah karangan penulis)
__ADS_1
Sebelum dijatuhi hukuman, Tara sempat melakukan percobaan bunuh diri agar tidak ditahan. Tidak hanya kasus penculikan anak, Tara juga dalang dari kematian istri salah satu sugar Daddy nya. Membuat hukuman wanita ini bertambah.
Flashback on
Setelah menemukan informasi tersebut, 3 jam kemudian mereka berinisiatif untuk menghubungi Ziand dan Cia. Dan sekarang keenam orang tersebut berkumpul di dalam mansion milik keluarga MOORE.
Akibat aura yang dikeluarkan Ziand dan Cia, membuat suasana ruangan tersebut sangat amat serius.
"Ini bukti-buktinya." ucap Vivi memperlihatkan laptop yang baru saja ia otak-atik.
Beberapa Video, gambar, dan penjelasan saksi-saksi terpapar jelas di monitor itu.
Cia mengepalkan tangannya kuat. "Dengan ini kita bisa menjebloskannya kedalam penjara, tidak hanya kasus penculikan. Tara juga terlibat dalam kasus pembunuhan." ujarnya.
"Benar, jadi kapan kita akan melaporkannya?" tanya Leon memandang serius ke arah Cia.
"Aku memang menyayangi kalian, kalian tetap saja keluargaku. Tapi dengan kak Tara yang menculik dan melukai putraku, maka terimalah balasannya." batin Cia melamun.
"Cia, why? Kenapa melamun?" kata Ziand membuat Cia memekik terkejut.
"Aaahh iya kenapa?" tanyanya balik.
Vivi dan Cala menepuk keningnya pelan. "Ngapain ngelamun Cia? Jadi kapan kita mau ngelaporin ini?" timpal Vivi.
"Hari ini juga, kesehatan Morgan mulai pulih."
"Baiklah, kita berangkat sekarang." putus Ziand.
Flashback off.
Cia menghembuskan nafas lega, satu persatu permasalahan mulai terselesaikan. Mulai Minggu depan putranya juga akan menjalankan psikoterapi nya.
untuk bab ini kemarin bnr² amburadul acakadul, gak jelas. Makannya penulis mengubah sedikit tatanannya. Agar nyambung dengan bab selanjutnya
Hiii readers;)
I'm come back!
__ADS_1
Mohon maaf, beberapa hari lalu nggak update. Yang kemarin sampai chat WA/IG/FB tapi belum ku balas, mohon maaf juga.
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)