GADIS KECIL

GADIS KECIL
Rasa sakit


__ADS_3

Ketika aku sadar, aku mencium bau yang sangat wangi. Wanginya bahkan lebih wangi dari wewangian yang di miliki kakak Xianlun. Benar, kakak galak itu, namanya indah, wajahnya cantik dengan alis melengkung indah dan hitam, hidung mancung, bentuk wajah sempurna, serta terakhir dengan rambut hitam panjang berkilauan.


Wanginya seperti bunga-bunga sakura yang pernah aku cium beberapa hari sebelumnya. Ketika sang biksu dengan pakaian kuningnya menyankupkan kedua tangannya seperti perahu dan di dalamnya ada banyak bunga-bunga sakura.


“Ciumlah,” katanya saat itu dalam gemuruh hujan dan petir-petir yang ada di luar.


Aku mengangguk dan mengambil satu. Kudekatkan di hidungku dan menghirupnya sembari menutup mata. Manis dan menyegarkan, begitulah yang aku cium. Aku masih mengingat bagaimana wajah damai sang biksu yang di penuhi kerutan-kerutan. Mengingatnya membuatku ingin pergi ke kuil lagi.


Ketika aku perlahan-lahan membuka mata, kedua kaki dan satu tanganku terasa sangat sakit, hingga aku tidak bisa menggerakkannya. Aku merintih dengan pemandangan atap-atap rumah yang berwarna coklat. Aku tahu, ini di suatu tempat, tepatnya di sebuah pondokan. Sesuatu apa yang membuat tangan dan kakiku sakit tanpa ada luka sedikit pun?


Aku mendengar suara jangkrik dan burung-burung, yang mungkin hari sudah mulai malam.


Apa yang terjadi sebelumnya? Apa yang telah muncul dari langit dan menghancurkan pohon-pohon, membelah tanah, memunculkan kabut, sehingga membuatku tidak bisa bergerak dan terguncang-guncang seperti ada gempa bumi yang sangat dahsyat. Bahkan aku masih bisa merasakan guncangan itu hingga sekarang.


Aku menoleh ke samping. Tepat saat itu, pintu terbuka. Cahaya kuning matahari masuk ke dalam bersamaan dengan kakak Xianlun. Ternyata Baunya dari pakaian yang di kenakan kakak Xianlun.


Walaupun ia jahat, tetapi saat ini aku melihat wajahnya pucat seperti ketika ibu mengkhawatirkanku. Alisnya dan wajah cantik seperti layu akibat cahaya matahari. Aku tidak memahami apa yang terjadi. Berjalan dengan tenang membawa keranjang yang di penuhi sayuran-sayuran hijau.


Matanya yang selalu ceria kini terlihat redup dan kurang cantik di pandang, meski pun ia sekarang memakai gaun putih bersih.


Ia menghela nafas ketika memandangku, kemudian duduk di sampingku. “Apakah sakit?”


Ia berkata dengan nada sedih. Baru kali ini aku melihatnya seperti ini. Biasanya wajahnya sangat tegang dan di penuhi aura intimidasi. Aku hanya bisa menjawab seadanya dengan lembut mengatakan, “Sakit.”


“Apakah kau ingin pulang?”


Aku ingin mengatakan iya. Aku ingin bertemu dengan ibu dan hidup bersamanya, merindukan kemarahan dan suaranya. Tetapi, di mana? Apakah aku bisa pulang? Aku memutuskan untuk mengangguk.


“Kau tidak bisa pulang.”


Nadanya lembut. Aku hanya bisa melihatnya sembari menahan rasa sakit di kakiku. Tetapi aku kecewa mendengar jawaban itu. Sudah aku duga jawaban seperti itu yang akan keluar. Tapi aku ingin tahu alasannya.

__ADS_1


“Kenapa tidak bisa?” Aku bertanya dengan lirih.


“Karena kita tidak bisa kembali lagi.”


Aku merasakan jawaban itu seperti aku berada di tempat yang jauh dan juga aku merasa itu adalah sebuah pernyataan dan keharusan. Tetapi aku ingin tetap pulang bertemu ibu dan ayah.


“Aku ingin pulang. Tubuhku terasa sangat sakit.”


Kakak Xianlun berdiri, kemudian menatapku dengan lirih. Mengambil satu tangkai sayuran dan pergi beberapa meter.


Aku tidak mempedulikan apa yang ingin ia lakukan, tubuhku sangat sakit. Aku tidak pernah menyangka aku akan menderita seperti ini. Kakak Jing yang sebelumnya ingin melindungiku, entah mengapa pergi bersama kakak Xianlun entah ke mana, meninggalkan ku bersama dengan tuan putri, aku sebut saja seperti itu karena ia terlalu cantik. Aku sangat iri dengannya.


Ternyata kakak jing pembohong. Aku marah dengannya.


Lalu, apa yang terjadi dengan tuan putri? Apakah ia selamat dari kejadian itu?


Aku tanpa sadar menutup mata dan tidur. Hemm.. rasanya agak tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi.


Rasa dingin ini membuatku mati. Aku akan mati di sini.


Tetapi tiba-tiba aku melihat bayangan seorang dari kejauhan. Aku sangat gembira. Bayangan itu sepertinya seorang wanita.


“Hey, bisakah k-kau m-membatuku?”


Kedua Gigiku bergerak cepat. Bulu-bulu mata dan lenganku di penuhi salju.


Aku terus memanggil – manggilnya. Tetapi sosok itu malahan pergi.


“Siapapun di sana, to-tolong aku.”


Ketika aku sudah pasrah, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. “Tidak apa-apa, Xia.”

__ADS_1


Aku menoleh kepadanya, namun tiba-tiba semua menjadi putih berkilau, membuatku tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian aku melihat wajah cantik bagaikan Dewi. Kaka Xianlun, bagaimana kau bisa berada sangat dekat denganku? Aku bisa mendengar suara nafas dan bau harumnya. Rambutnya tergeletak begitu saja di tempat tidur, berserakan.


Kakak Xianlun sangat cantik. Aku tidak pernah melihat wajahnya sedekat ini. Tangannya memelukku dengan lembut dan sangat dekat, hingga aku merasakan kenyamanan dan tubuh dinginku mulai memanas.


Aku tersenyum dan tidur kembali.


***


Ketika aku membuka mata untuk kedua kalinya, kakak Xianlun juga memandangku dengan tatapan lembut seorang ibu. Aku bisa melihat tatapannya kini di penuhi rasa kasih sayang. Membuatku malu dan kikuk. wajahku saat ini memerah.


“Apakah masih sakit?”


“M-masih sedikit.” Aku menjadi gugup.


“Sebentar lagi akan membaik.”


“Kakak, aku ingin pulang.”


“Sudah aku katakan.”


“Tapi aku ingin pulang! Aku tidak mau merasakan sakit seperti ini lagi. Aku ingin bertemu dengan ibu. Aku merindukannya.”


“Tidak bisa.”


“kenapa tidak bisa? Aku ingin pulang... Aku ingin pulang...”


Air mataku menetes begitu saja. Berjalan di antara hidungku dan jatuh ke bawah. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku, dan mengapa aku dengan mudahnya menangis seperti seorang gadis cengeng.


“Tenang.... Kita akan pulang.” Kakak Xianlun memelukku lebih erat. “Tidurlah, besok kita akan pulang. Aku sudah mengirim seseorang untuk menjemputmu. Besok ketika kau membuka matamu, kau akan melihat ibumu.”


Walaupun aku tahu mungkin ia berbohong, aku merasa kata-katanya membuatku tenang. Aku mengangguk dan mengusap air mataku dan menutup mata lagi.

__ADS_1


__ADS_2