GADIS KECIL

GADIS KECIL
Kembali


__ADS_3

...Happy Reading...


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bandara xx...


Ramai, satu kata yang menggambarkan bandara tersebut. Banyak orang-orang yang menunggu pesawat selanjutnya tiba, begitu juga dengan Ziand yang menjemput Dady nya.


Berbeda dengan Cia, ibu muda satu ini menggandeng putranya untuk mencari Vivi yang sudah lebih dulu berada di kota ini.


"Morgan tunggu sini dulu ya, jangan kemana-mana oke. Bunda hanya sebentar saja." ucap Cia.


"Baik bunda, Morgan tidak akan kemana-mana." sahutnya.


Cia kembali menyusuri bandara tersebut untuk mencari Vivi sekaligus gelang miliknya. Tiba-tiba...


Brugh!


Cia tersungkur saat bertubrukan dengan pria didepannya.


"Maaf tuan saya benar-benar tidak sengaja." ucapnya dengan wajah menunduk.


"Heum? dengan siapa anda berbicara?" tanya Ziand dengan suara seraknya.


Cia mendongak menatap manik tajam mata pria ini. "Maa..." ucapnya terpotong saat.


"Bundaaa!!!!" panggil Morgan yang sedang berada di gandengan Vivi.


Cia dan Ziand mengalihkan pandangannya kearah Morgan.

__ADS_1


"Benar-benar mirip dengan ku ketika kecil." batin Ziand menatap intens Morgan.


"Kenapa bunda lama sekali hm, Morgan dan aunty Vivi sudah tidak sabar untuk pulang."


"Maaf sayang, tadi gelang bunda jatuh. Jadi bunda harus mengambilnya."


Ziand yang masih menatap pria kecil didepannya seketika atensinya teralihkan saat mendengar wanita didepannya kehilangan gelang.


"Apa ini milikmu?" tanya Ziand mengeluarkan tgelang emas dari balik jasnya.


"Iya benar, astaga terimakasih tuan dan maaf telah menubruk mu." ucapnya tulus.


Morgan berbalik dan menatap mata tajam milik pria tinggi didepannya, hanya sejenak saja Morgan menatap Ziand. Lalu ia kembali berbalik menghadap ibunya.


"Bunda sudahlah, ayo pulang. Morgan lelah." ujarnya menarik pelan pergelangan tangan Cia.


Setelah kepergian wanita tadi dan pria kecil membuat pikiran Ziand melayang entah kemana tapi lamunannya terhenti saat ayahnya menepuk pundak miliknya.


***


"Ini rumahnya bunda?" tanya Morgan dengan tatapan berbinar.


"Yap, ini rumah baru kita." sahut Cia terkekeh.


"Wah!! Morgan bakal betah banget disini, tamannya luas banget. Bisa buat main kejar-kejaran sama aunty Vivi nih." ledek Morgan yang dibalas tatapan sinis Vivi membuat tawa orang disekitarnya pecah.


"Sudah-sudah sekarang Morgan masuk kedalam udah ditunggu oma, opa sama aunty Hana loh."


"Aunty Hana?! aaaaaa bunda Morgan masuk dulu dadah!! bunda hati-hati sama aunty Vivi nanti di ngap." ucapnya berlari semakin kencang agar tidak dikejar Vivi.


"Please deh Ci, anak mu itu ngeselin banget. Bikin darting." keluhnya.


"Darting apaan?" tanya Cia pura-pura tidak tahu.


"Anak sama emak sama aja huh, darting itu DARAH TINGGI ogeb." pekik Vivi semakin kesal.

__ADS_1


"Santai dong Vi, marah-marah mulu. Nanti cepat tua haha."


"Udah deh ya, jangan bikin tuan putri ini kesel terus. Jadi gimana? udah siap nih buat buka lembaran baru, terus kamu yakin mau jadi guru disini?"


"Yakin ga yakin sih." jawabnya santai.


"Yakin kagak? gaje bener jadi emak-emak, tapi menurutku ya Ci. Buat apa sih kamu mau jadi guru, usaha parfum aja udah menumpuk itu duit di ATM. Masih mau jadi guru juga?"


"Huufft, kamu kan tau Vi. Jadi guru itu cita-cita ku dari dulu, ga perduli mau gajinya seberapapun yang penting aku jadi guru."


"Ya kalo itu mau kamu, oke-oke aja sih. Aku dukung."


***


Mansion xx


"Ziand, kenapa sejak dari bandara sampai di mansion. Kamu masih saja melamun huh." ucap Fernand merasa curiga dengan putranya.


"Tidak apa dad, hanya masalah kantor." sahutnya.


"Masalah kantor, masalah kantor. Ziand! Disya butuh kasih sayang kamu, apa kamu tidak berfikir hah. Kerja, kerja, dan kerja. Tidak ada waktu untuk Disya." sarkas Killa.


"Kasih sayang seperti apa sih mom, Disya minta mainan Ziand belikan. Mau liburan ke luar negeri, tinggal berangkat saja. Apa lagi yang kurang sih mom, udahlah Ziand capek." ujar Ziand berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


"Dad?!"


Fernand menarik nafas dalam-dalam. "Dad usahakan mom, selama ini dad juga kasihan dengan cucu kita." tuturnya lembut.


"Sampai kapan dad, setiap malam mom lihat Disya selalu murung dan menangis berjam-jam di kamarnya."


"Kita bicarakan besok saja, dad masih lelah. Sudahlah ayu tidur...."


Bagaimana pertemuan selanjutnya?


Apakah mereka akan mengingat hari itu?

__ADS_1


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2