GADIS KECIL

GADIS KECIL
Tidak Menyangka


__ADS_3

Hii Friends


Saiya kembali ><


Happy New Year All


oke gak usah kelamaan.


Happy reading🌼


#Tidak Menyangka.


Pagi hari, seluruh penghuni rumah sederhana ini sudah terbangun kecuali ibu hamil satu ini. Siapa lagi kalau bukan Cia. Tanpa mereka sadari Cia sudah dalam keadaan pingsan sejak kemarin malam.


Terlihat gadis cantik yang sedang berdiri didepan rumah sembari memandang sekitar. Vivi tersenyum manis dengan memandang bunga-bunga bermekaran di halaman rumah.


"Lho nak, Cia nya mana?" tanya Hellena dengan menepuk pundak gadis didepannya.


Vivi tersentak ketika merasakan pundaknya ditepuk - tepuk. ia membalikkan badannya menghadap Hellena. Melihat tatapan tajam milik wanita didepannya membuat Vivi menundukkan kepalanya.


"Eumm ... i ... itu nek, gimana ya." ucap Vivi terbata-bata karena takut dengan tatapan itu.


Hellena tersenyum manis menatap gadis didepannya, ia tau bahwa gadis ini takut tatapan tajamnya.


"Jangan menunduk, siapa nama mu? kemarin Cia belum sempat mengenalkan mu."


Vivi mendongak merasakan usapan lembut yang sudah lama ia tak pernah merasakannya. "Aku Viana Hanindiya nek, biasa dipanggil Vivi."


"Ah baiklah, bagaimana jika nenek memanggil mu Via? anggap saja ini panggilan sepesial."


"Boleh, emm ... nama nenek siapa?"


Hellena terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan Vivi. "Santai saja Via, nama nenek Hellena dan suami nenek Haston. Ya nanti akan nenek kenalkan dirimu dengan suamiku."


"Lanjut mengobrol dengan duduk Via, jangan berdiri terus. Bisa-bisa kaki nenek encok." ledeknya disertai kekehan, dengan menepuk kursi disebelahnya.


"Emang kaki bisa encok ya hihi." batin Vivi tertawa pelan.


Mata Vivi mulai memanas entah sejak kapan air matanya keluar tetes demi tetes. Sejak orang tuanya meninggal saat kecelakaan, Vivi tidak mendapatkan kasih sayang di panti asuhan. Bahkan, bayang-bayang ibu panti yang mengusirnya masih terekam jelas di ingatannya.


Hellena yang merasakan tidak ada respon dari gadis disampingnya, menolehkan kepalanya sejenak.


"Hey, ada apa? kenapa Via menangis? apakah tatapan nenek memang sangat mengerikan?" tanyanya bertubi-tubi. Bukan tanpa sebab Hellena bertanya demikian. Yah, biasanya ketika ada orang baru yang tidak terbiasa dengan tatapannya pasti akan ketakutan.


Vivi menghapus air matanya kasar, ia merutuki kebodohannya karena mengingat kembali masa-masa itu. Vivi sudah berjanji untuk tidak mengingatnya. Tapi apa sekarang? Justru ia sampai menangis membuat tubuhnya lemah. Vivi membenci dirinya dulu karena selalu menuruti tanpa melawan orang-orang yang menyakitinya.


"Via." panggil Hellena sekali lagi.


"I ... iya nek." lirihnya menahan isak tangisnya.


"Kenapa menangis hm?"


"Ti ... tidak apa-apa nek Vivi hanya merasa bahagia sekarang." bohongnya.


Hellena mengerutkan keningnya, ia tau Vivi berbohong.


"Nek, bolehkah Vivi memelukmu?"


Hellena mengangguk lalu mendekatkan dirinya dengan gadis ini. Entahlah Vivi memang orang baru, tapi entah mengapa Hellena nyaman dengan gadis satu ini.


Lama mereka berpelukan, Hellena mulai melepaskan pelukannya setelah dirasa Vivi tidak lagi terisak.


"Sudah Via, walaupun nenek tidak tau masalah mu. Tapi, nenek yakin kamu gadis yang kuat." bisiknya tepat telinga Vivi.


Vivi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. "Terimakasih untuk pelukannya nek dan maaf telah membuat baju mu basaha karena air mataku."


"Tidak apa, sudahlah bagaimana jika Via membantu nenek untuk menyiapkan sarapan. Mungkin Cia kelelahan makanya belum bangun."


"Boleh nek, ayo Via bantu sambil menunggu Cia dan kakek bangun." Vivi melirihkan suaranya pada kalimat terakhirnya saat melihat pria paruh baya yang keluar dari salah satu ruangan rumah ini.


Hellena menyirit kebingungan arah pandang Vivi, segera ia membalikkan tubuhnya. Oh ternyata suaminya ini sudah keluar dari kamar.


"Sudah-sudah, ayo Via nanti nenek kenalkan." ujarnya dengan menarik pelan pergelangan tangan Via menuju dapur.


***

__ADS_1


California city


Semakin hari, sifat Anggel berubah-ubah mulai dari manja, mudah marah, dan semakin lama ia benar-benar menguras keuangan Ziand.


Seperti awal tujuannya, Anggelina menepati janjinya untuk memeras harta keluarga mertuanya. Dengan alasan ngidamnya, jika tidak dituruti ia akan mengeluarkan jurus andalannya, tentu saja dengan menangis dan mengurung dirinya didalam kamar.


Seperti hari ini, Anggelina meminta uang 500 juta hanya untuk membeli tas branded import. Dalam satu bulan, Anggelina bisa menghabiskan 25 miliar hanya untuk kesenangannya.


Sebenarnya Ziand sangat keberatan, jika bukan karena momy dan dady nya yang selalu menuruti keinginan menantunya. Sudah dipastikan Ziand akan melarang keras keinginan istrinya.


***


"Akhirnya selesai." gumam Vivi dengan mengusap keringat di dahinya.


Masakan sederhana namun terlihat sangat menggiurkan sudah terhidang di atas meja.


"Via kamu bangunkan Cia, biar nenek yang menyusul kakek dibelakang."


"Baik nek."


Vivi berlalu pergi menuju kamar tersebut.


Ceklek!


"Astaga, tumben banget sih jam segini belum bangun." gerutunya, Vivi memandang Cia yang meringkuk di atas kasur dan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Cia, hey! bangun. Kebo banget sih, ayo sarapan!" berkali-kali Vivi menggoncang tubuh Cia, namun tidak ada respon sama sekali dari ibu hamil ini.


"Cia woy!!" sekali lagi Vivi berteriak cukup keras, tepat ditelinga sahabatnya.


Hellena dan Haston yang mendengar teriakkan Vivi, langsung bergegas menuju kamar cucunya.


Deg!


"Via, ada apa? kenapa kamu berteriak?" tanya Hellena panik.


Haston mendekati cucunya dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Cia


"Astaga!!!!" teriak Hellena saat melihat wajah cucunya yang pucat pasi.


"Kita bawa saja Cia ke klinik pa." usul Hellena yang dibalas anggukan suaminya.


Setelah ambulans datang, Haston mengangkat cucunya dan membaringkannya di brankar ambulans.


🐾***🐾


Pintu ruang UGD terbuka, menampakkan dokter wanita muda dengan stetoskop dilehernya.


Hellena menghampiri dokter tersebut dengan wajah khawatirnya.


"Keluarga pasien?"


"Saya neneknya, bagaimana keadaan cucuku dok?"


"Mari dibicarakan diruangan saya saja bu." ucap dokter tersebut dengan ramah dan sopan.


"Baiklah ayo, pa ayo ikut."


"Via, temani Cia saja ya." imbuhnya yang dibalas anggukan kecil Vivi.


***


"Jadi bagaimana keadaan cucuku dok?" tanya Haston to the point.


Dokter yang ber name tag Anabelle menghembuskan nafas pelan.


"Begini bu, apakah cucu anda sudah menikah?"


"Maksudnya? Menikah? cucu saya belum menikah dok." jawab Hellena.


Anabelle menyodorkan amplop hasil laboratorium kepada kedua pasangan pasutri didepannya.


Deg!


"Apa hamil!? Cia hamil!?" batin Hellena, matanya berkaca-kaca, antara emosi dan terkejut.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini!" sarkas Haston yang tidak percaya jika cucu kesayangannya hamil.


Tangis Hellena pecah mendengar suara suaminya, Haston membawa sang istri keperluannya agar lebih tenang.


"Ini hasil laboratorium kami bu, pak. Cucu anda sudah hamil 4 minggu. Cucu anda pingsan karena kelelahan dan tidak adanya asupan yang masuk dari tubuhnya. Tidak itu saja, sepertinya cucu anda terlihat tertekan antara batin dan mentalnya menbuat kesehatan janin nya menurun." papar Anabelle.


"Hanya itu saja yang saya ingin sampaikan, tolong dijaga dengan baik kondisi pasien dan janin nya, jangan membuatnya semakin tertekan. Ini resep obatnya bu, pak. Bisa diambil di apotek depan." imbuhnya.


***


"Cia bangun. Apa kamu tidak kasian sana nenek, kakek mu. Mereka sangat panik melihatmu pucat seperti ini."


Lama Vivi terdiam, akhirnya jari-jari tangan Cia bergerak beriringan. Membuat senyum Vivi mengembang.


"Cia?"


"Mi ... minum." lirih Cia, walaupun Cia hanya menggerakkan bibirnya. Vivi tau apa yang ia katakan.


"Sebentar Cia, ku panggilkan suster disini dulu."


Usai suster tersebut memeriksa kondisi Cia, Vivi tersenyum lega.


~kondisinya mulai membaik, karena tidak adanya asupan yang masuk mengakibatkan tubuh mu lemah.~ jelas suster tadi.


"Cia, makan lagi ya. Kamu baru 5 suap loh."


Cia tetap menggeleng, bubur rumah sakit terasa hambar di lidahnya. "Tidak Vi, sudah cukup. Rasanya gak enak."


"Aku tau ini gak enak, tapi kamu harus makan banyak dong. Biar cepat sembuh."


Tetap saja, bujukan demi bujukan sudah Vivi keluarkan tapi tetap saja ibu hamil ini menggelengkan kepalanya dan menutup mulut dengan telapak tangan.


Brak!


Pintu UGD dibuka secara kasar oleh Haston, matanya memerah menahan amarah. Ia tidak menyangka, cucu yang dibanggakannya telah hamil diluar nikah.


Haston berjalan cepat yang diikuti Hellena dibelakangnya. Wajah datar keduanya membuat Vivi maupun Cia takut.


Tepat disebelah brankar Cia, Haston melemparkan amplop laboratorium tadi tepat di wajah Cia.


"Apa maksudnya semua ini Cia!?" hardik Haston dengan tatapan membunuh.


Mata Cia membulat sempurna, ia membaca seluruh surat tersebut. Astaga, nenek dan kakeknya sudah tau jika dirinya hamil.


Cia menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir.


"Apa itu benar Cia?" tanya Hellena lirih tapi menekan, membuat bulu kuduk berdiri.


"I ... iya be ... benar." sahut Cia, tanpa menatap keduanya.


Plak!


Hellena menampar keras pipi kiri Cia, membuat pipinya memerah.


Tangis Hellena semakin menjadi-jadi. "Siapa yang menghamili mu Cia!!" jeritnya dengan nafas terengah-engah.


Hening


Cia tidak menjawab pertanyaan neneknya, ia masih mengelua pipinya yang terasa perih dan panas. Aura diruang tersebut terasa sangat mencekam.


Haston tau cucunya ketakutan, akhirnya dia memilih untuk bertanya dengan nada melembut. "Siapa yang menghamili mu Cia? Jelaskan semua ini, jangan ditutup-tutupi."


Cia mendongak melihat netra mata kakeknya yang melembut.


"Ja ... jadi begini nek, kek. Ci ... Cia hikkss..."


Oke segini dulu ya gays😌


Bagaimana Cia menjelaskannya?


Mohon maaf bngt 6hari gak up, lagi ada sedikit masalah 🙃 Alhamdulillah bisa up lagi sekarang.


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


Follow juga boleh hihi

__ADS_1


__ADS_2