
...Happy Reading...
...•...
"Bunda, Morgan kapan bangun? Disya kangen." lirihnya terus menatap tubuh lemah Morgan yang masih tidaka ada perubahan. Disya menggenggam salah satu tangan Morgan dan menangis terisak-isak.
"Disya berdoa ya, semoga Morgan cepat bangun." ujarnya mengelus rambut putranya, isakan Disya semakin terdengar membuat dada Cia semakin sesak.
"Udah, Disya nggak boleh nangis ya. …" Cia tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar suara perut Disya yang lapar.
"Pfft … hahaha, Disya laper hm?" tawanya meledak melihat pipi Disya yang memerah.
Disya mengelus perutnya dengan menganggukkan kepalanya membuat Cia gemas.
"Baiklah, kita ke kantin rumah sakit ini aja ya." tawarnya.
"Terserah bunda saja, Disya udah laper banget bunda." rengek Disya, dengan sekali hentakan Disya sudah berada di gendongan Cia dan menciumnya gemas.
•••
Cukup! Kali ini Ziand benar-benar merindukan putranya, masa bodoh dengan amukan Cia nantinya. Jika seperti ini terus, mau bagaimana kedepannya? Setiap kali Ziand ingin menjenguk putranya, Cia selalu saja melarangnya dengan mengungkit-ungkit masa lalu.
Umpatan-umpatan pedas selalu Ziand dapatkan dari wanita itu, sekarang saatnya Ziand bertindak.
Ceklek.
Ziand menatap penjuru ruang rawat Morgan, mungkinkah Cia berada di toilet? Sebelum pria ini melangkahkan kakinya menuju sang putra. Ziand terlebih dahulu mengecek ruangan tersebut, apakah Morgan sendirian. Kemana wanita itu?
Keningnya berkerut. "Kemana wanita itu dan juga Disya, pasti Cia membawa Disya pergi. Kenapa Disya tidak menghubungi ku?" batin Ziand mengingat tidak ada pesan atau panggilan telepon dari putrinya.
"Hah, sudahlah. Ini justru bagus bukan." imbuhannya dengan seringai terbit di bibir pria ini.
Perlahan Ziand melangkahkan kakinya menuju sang putra yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi.
Buliran bening membasahi pipinya, Ziand mendekatkan wajahnya dengan Morgan. Tangan kekar miliknya bergetar saat mengusap pipi Morgan.
__ADS_1
"Cepat sadar sayang, katanya Morgan mau ketemu papa. Ini papa boy, jangan lama-lama tidurnya. Kamu nggak kangen sama bunda dan yang lainnya." bisik Ziand, mengecup lama kening Morgan dengan sayang.
"Nanti kalo Morgan sembuh, papa janji deh bakal ajak Morgan, Disya dan bunda buat jalan-jalan bareng. Kaya yang Morgan cerita sama papa waktu itu."
Ziand semakin terisak, berpikir bagaimana penderitaan Cia setelah ia perko*a, sampai melahirkan putranya dan membesarkannya tanpa sosok suami.
Ziand mengangkat kembali kepalanya, memeluk putranya erat. Bagai menyalurkan energi. "Maafkan papa yang tidak menemani bunda saat mengandung mu boy, maafkan papa yang tidak menyadari kehadiran mu." ujarnya masih dengan isakan-isakan kecil.
Gerak-gerik Ziand sedari tadi tidak lepas dari sepasang mata yang mengawasinya dari kaca pintu luar, melihat wajah penyesalan Ziand menbuat hatinya berdenyut. Wanita ini juga ikut menangis ketika mendengar ucapan-ucapan Ziand.
Tidak lain dan tidak bukan, wanita itu adalah Cia. Ia kembali karena handphone dan dompet miliknya tertinggal, baru saja ia ingin membuka pintu ruangan itu. Cia mendengar sayup-sayup suara isakan tangis, sangat menyedihkan. Membuat wanita ini mengurungkan niatnya untuk masuk.
Betapa terkejutnya Cia melihat Ziand yang sedang menangis dengan mengusap kepala putranya. Ucapan-ucapan yang Ziand lontarkan masih berputar dipikirannya.
"Apa aku egois, tuhan? Salahkan jika aku mengira ia akan memisahkan aku dan Morgan?" pikir Cia.
Beralih ke Ziand yang tengah duduk di kursi dekat brankar, pria ini masih setia mengelus tangan putranya yang terasa dingin. Pria ini juga menggenggam tangan putranya untuk menyalurkan rasa hangat.
Ziand melepaskannya setelah puas, ia berjalan menuju sofa ruangan tersebut dan menghubungi Max. Selagi ia menghubungi Max, Ziand tidak menyadari jari-jari tangan mungil milik putranya bergerak beraturan.
"Morgan." panggilannya lembut.
Walaupun matanya sudah terbuka penuh, namun Morgan masih enggan menjawab. Tubuhnya terasa sangat lemas, bayang-bayang Tara yang menyiksanya membuat ia ketakutan. Tetesan air keluar dari pelupuk matanya, membuat Ziand panik dan memencet tombol merah yang disediakan untuk memanggil bantuan.
Melihat dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan putranya dengan tergesa-gesa, membuat Cia juga panik. Tanpa ba bi bu, Cia mengikuti mereka untuk mengecek keadaan Morgan.
Setelah dokter dan perawat keluar, Cia berlari memeluk putranya yang masih menangis. Entah aoa yang terjadi dengan Morgan, Cia juga ikut menangis.
Cia berkali-kali mencium seluruh wajah putranya, rindu sangat rindu. Tidak ada respon yang dikeluarkan Morgan, pria kecil ini masih terus saja menangis dan mengeratkan pelukannya dengan sang ibu.
Sedangkan Ziand mengikuti dokter tadi.
"Sayang, kenapa hm?" lirih Cia menepuk-nepuk punggung putranya.
"Morgan rindu bunda." cicitnya sangat pelan, bahkan saking pelannya Cia hanya mendengar beberapa bagian saja.
__ADS_1
"Udah ya nangisnya, sekarang Morgan mau apa?"
Morgan menggeleng sebagai jawaban, tenggorokannya terasa sakit jika ia berbicara. Namun beberapa detik kemudian…
"Ha … haus bunda." ucapnya mencoba memulihkan suaranya.
Cia mengangguk, memberikan secangkir air putih hangat untuknya. Baru satu tegukan, pintu ruangan itu ditendang keras oleh gadis kecil yang cemberut.
"Bunda!" rengeknya masih tidak menyadari jika Morgan sudah sadar.
Cia membalikkan tubuhnya, menghadap Disya yang tengah memanyunkan bibirnya dengan memicingkan matanya.
Astaga, Cia lupa jika ia meninggalkan Disya tadi karena ingin mengambil handphon dan dompetnya.
"Bunda, kenapa lama bang… MORGAN!" pekiknya kegirangan melihat Morgan yang tengah memandangnya juga.
Disya juga melakukan hal yang sama dengan Cia dan Ziand, bocah kecil ini berkali-kali mengucapkan syukur kepada sang pencipta.
Tanpa pikir panjang, Disya menuju brankar yang ditempati Morgan dan mengkode Cia agar mendudukan nya di atas brankar itu.
Keduanya berpelukan melepas rindu.
"Akhirnya doa kita dikabulkan tuhan bunda, Morgan udah sadar sekarang." ucapnya menatap manik mata Cia yang berair.
•••
Ziand baru saja keluar dari ruangan dokter tadi, ia mengacak rambutnya frustasi. Nanti saja ia bertemu dengan putranya, sekarang pria ini harus memikirkan apa yang akan ia katakan pada Cia.
Flashback on
Ziand dan dokter muda tadi duduk berhadapan dengan wajah yang sangat serius.
"Bagaimana keadaan putra saya?" tanyanya langsung.
"Putra anda, mengalami trauma…
__ADS_1
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)