GADIS KECIL

GADIS KECIL
Penjelasan


__ADS_3

...Happy reading...


...•...


...•...


...•...


...•...


...•...


...🦴•••🦴...


Penjelasan


Haston tau cucunya ketakutan, akhirnya dia memilih untuk bertanya dengan nada melembut. "Siapa yang menghamili mu Cia? Jelaskan semua ini, jangan ditutup-tutupi."


Cia mendongak melihat netra mata kakeknya yang melembut.


"Ja ... jadi begini nek, kek. Ci ... Cia hikkss..."


"Cia jelaskan cepat!!!" perintah Hellena.


Cia menarik napas dalam guna merendam isak tangisnya agar lebih tenang.


"Waktu i ... itu Cia ingin menjemput Vivi di Club ka..."


"Viaa!! Kenapa kamu ke Club hah!? apa pekerjaan mu di sana?" tanya Hellena penuh emosi.


Vivi menundukkan kepalanya takut, ia tau ini juga salahnya.


"Tidak nek, Vivi hanya menghadiri party di Club itu." papar Vivi dengan nada bergetar.


"Nenek, jangan menyela ucapan ku hikkss ... jika kalian ingin mendengarkan penjelasannya dengarkan saja dulu tanpa harus menyela." lirih Cia kembali menangis, sungguh Cia juga tidak ingin seperti ini terlebih lagi ada kehidupan di rahimnya.


"Cia menjemput Vivi karena tidak memiliki uang untuk pulang. Sampai di Club itu, Cia pergi ke lantai 3. Kata bartender ruangan party Vivi ada dilantai itu. Baru sampai lantai 2 Cia menemukan lelaki dengan tubuh mengenaskan, Cia kasihan dan menolongnya. Dia bilang ingin kekamar 2b yang jaraknya 3meter dari situ. Aku menuntunnya, setelah berada didepan pintu kamar itu aku didorong masuk olehnya. Dan dia mengunci pintu, setelahnya hikkss..., hikkss." jelas Cia.


Hening


Ruangan tersebut tidak ada yang melanjutkan obrolannya, hanya diisi suara isak tangis.


Haston merenungi sejenak permasalahan itu. Tidak mungkin ia menyuruh cucunya untuk membunuh janin tidak bersalah, ia juga menginginkan seorang cicit saat ini.


"Tidak apa Cia, Kakek akan tetap menerima janin yang ada didalam kandungan mu. Bagaimanapun juga di calon cicit ku." Haston sembari mengusap kepala cucunya.


Ketiga perempuan itu melongo tak percaya dengan jawaban Haston. Apa katanya tadi? Menerima janin yang ada dalam kandungan Cia?


"Apa maksudmu pa!!? Kamu mau kita di cap jelek di lingkungan masyarakat karena memiliki cucu yang hamil diluar nikah!?"


"Hellena, apa kau tidak ingat. Kita tidak pernah mempermasalahkan ucapan mereka? Mau di cap buruk sekalipun kita tidak perduli bukan? Ini juga calon cicit kita kau tau itu hm? janin didalam kandungannya tidak bersalah apa kita tega menyuruh Cia untuk membunuh dia." papar Haston dengan menunjuk perut Cia.


Hellena mengangguk paham, selama ini Hellena dan Haston tidak memperdulikan sudut pandang masyarakat disana.


"Maafkan nenek Cia, maaf telah membentak mu, maaf telah menampar mu. Nenek benar-benar marah mendengar kamu hamil."


Cia membalas pelukan Hellena tak kalah erat, air matanya kembali tumpah. Ia tidak menyangka nenek dan kakeknya mau menerima janin ini.


"Bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka tau?" tanya Haston.


"Mereka tau, bahkan mereka telah mengusir Cia dan mencoret Cia dari kartu keluarga."


Mata Haston dan Hellena membulat sempurna. Ternyata ini alasannya Cia lebih memilih tinggal dengannya, benar-benar keterlaluan anak dan menantunya itu.

__ADS_1


"Tidak apa Cia, sudah tidak perlu merasa sedih karena itu. Kamu bisa tinggal ditempat nenek dan kakek bersama Via."


"Via sini nenek ingin memeluk kalian berdua bersama."


Vivi mendekati keduanya dengan kepala masih menunduk.


"Maaf telah menuduh mu bekerja di Club Via."


"Tidak apa nek, Vivi tau nenek masih marah dengan semua ini."


Ketiganya berpelukan menyalurkan rasa kasih sayang yang amat besar. Haston sangat terharu melihat semua itu.


"Begini saja, Via mau tidak menjadi cucu kami? Seperti Cia." tawar Haston masih mengusap air matanya yang turun tanpa diminta.


Vivi melirik sekilas kepada sahabatnya, Cia mengangguk menandakan ia setuju.


"Vivi mau nek, kek." lantangnya membuat semua orang tertawa melupakan sejenak kesedihan mereka.


"Syukurlah, sekarang Vivi bagian dari keluarga kita."


"Rame nih rumahnya nanti, kalo kakek lagi diladang kalian berdua bisa menemani nenek dirumah. Jadi nenek tidak kesepian lagi haha" ledek Hellena.


Cia tersenyum manis dan mengusap pelan perutnya yang belum terlihat.


"Walaupun aku membenci laki-laki yang memperk**a ku, tapi tenang saja nak mama akan menjaga mu. Jika suatu saat nanti kita dipertemukan dengan ayahmu, mama tidak akan memaafkannya walaupun dia sujud sekalipun." batinnya.


***


2 hari Cia dirawat di klinik, kini saatnya Cia pulang. Dokternya telah memperbolehkannya keluar dari klinik dan memberikan resep vitamin untuk penguat kandungan.


"Aaaaa!!! akhirnya bisa pulang, huh rasanya membosankan sekali berdiam diri berhari-hari di klinik itu." keluh Cia.


"Gak usah teriak-teriak buset dah." sahut Vivi yang berada disebelah Cia.


Cia merebahkan dirinya di kasur kesayangannya, ah rasanya sangat merindukan kasur ini.


"Cia."


"Cia woe!!"


"Mana sih bumil ini."


Brak!


Vivi mendobrak pintu kamarnya lantaran panik karena Cia tak kunjung terlihat.


"Damn it! GRACIA AZELLA!!!" teriak Vivi keras saat melihat Cia yang asik-asiknya tidur tanpa memperdulikan dirinya yang kelimpungan.


"Eunggh ... apaan sih Vi, ngantuk nih." lenguhannya merubah posisi tidur.


"Heh, ini masih pagi banget Cia. Yakali mau tidur jam segini, gak baik katanya loh apalagi kamu lagi hamil gini."


"His, iya-iya aku bangun nih." Cia terduduk di tepian kasur dengan mata yang masih terpejam.


"Mandi gih, ada yang mau aku omongin."


"Ngomong apa? tinggal ngomong aja sih Vi, aku mager kena air."


"Ga ada mager-mageran. Udahs sana."


"Iya-iya ish nyebelin kamu mah." tukas Cia yang dibalas kekehan kecil dari sahabatnya.


•••

__ADS_1


"Ngomongin apa." ucap Cia yang tiba-tiba sudah terduduk disebelah Vivi.


"Aaa! Bunganya kaya monyet!" cetus Vivi tidak jelas karena terkejut.


"Hahahah, mana ada bunga kaya monyet." tawa Cia pecah dan semakin keras saat melihat ekspresi Vivi.


"Gila lu, bikin orang jantungan."


"Ah masa sih hahah." ledeknya semakin membuat Vivi kesal.


"Ci, gimana kalo kita buat bunga-bunga ini jadi parfum?" usul Vivi membuat tawa Cia berhenti.


"Parfum? Kamu bisa bikinnya Vi."


Vivi menggeleng cepat.


"Lah, terus gimana? aku aja gak bisa bikin ko." timbal Cia dengan watadosnya. {wajah tanpa dosa}


"Halah ni anak, umur aja kelihatan muda tapi udah pikun."


Plak!


Cia memukul pelan mulut sahabatnya. Sambil memicingkan matanya dengan bibir yang maju beberapa senti.


"Enak aja pikun huh."


"Huhu bibir saya yang cantik aduhay." ledek Vivi yang berhasil membuat Cia kesal.


"Lupa lo? Parfum yang dulu sampe sekarang lo pake. Siapa yang bikin?"


"Iya Cia inget. Ga usah pake lo-gue juga kali, Cia gak suka bahasa itu."


"Iya sayang, jadi gimana? Kita buat bunga-bunga ini jadi parfum? Paling ngga uji coba dulu lah."


"Boleh juga. Kita minta ijin dulu sama nenek, baru kita buat."


"Sip, semoga aja dengan ini bisa dibuat jadi usaha kan? itung-itung nabung biaya kelahiran mu nanti."


"Aamiin."


•••


Apartement.


Laki-laki bertubuh atletis yang memakai kaso santainya sedang mengotak-atik laptop kesayangannya.


"Kemana gadis itu pergi, terakhir aku mengecek di tempat kerjanya Via dan temannya sudah resign. Sedangkan yang aku dapatkan sekarang hanya keduanya menaiki transportasi keluar dari kota ini."


Arrgghh!


"2 hari aku mencarinya, hanya informasi inu yang ku dapat."


"VIANA HANINDIYA aku akan mencarimu." gumamnya.


"Aahh setelah kehadiran gadis itu membuat pikiran ku selalu terganggu."


Bagaimana cara Max mencari Vivi?


Bagaimana usaha Cia untuk mencukupi kebutuhannya?


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


Follow juga boleh hihi.

__ADS_1


__ADS_2