GADIS KECIL

GADIS KECIL
Mimpi


__ADS_3

Glubrak!!


Ziand terbangun dari tidurnya dan tidak sengaja terjatuh membentur meja didepannya, membuat Cia dan Morgan yang sedang berpelukan itu cepat menoleh kearahnya.


"Cia, bagaimana? Apa kau menerima tawaran ku untuk menikah tadi?" Cia mengerutkan keningnya heran, bukankah sedari tadi ia hanya memeluk putranya. Apa maksud ucapan pria ini.


"Tawaran apa maksud mu?"


"Memang om nawarin apa ke bunda? Bukannya dari tadi om tidur yah." Morgan ikut menimpali.


Ziand dibuat cengo atas jawaban keduanya. "Astaga! Apa ini mimpi?" batinnya.


"Om, hey jangan melamun." tegur Morgan.


"Ah iya bagaimana?"


"Bagaimana apanya tuan Ziand? Anda sangat membingungkan." jawab Cia kembali memeluk putranya erat.


"****!" umpatnya.


"Jika memang tadi itu mimpi, kenapa sangat-sangat nyata." batinnya lagi.


"Why? kenapa dengan wajah mu."


Ziand memegang wajahnya, apakah wajahnya terlihat aneh?.


"Ti-tidak apa, hanya memikirkan mimpi tadi." sahutnya.


"Memangnya om mimpi apa?" tanya Morgan, sedikit menjauhkan wajahnya dari pelukan ibunya.


"Bukan apa-apa, eum … sejak kapan kau terbangun hm." kata Ziand mengalihkan pembicaraannya.


"Mungkin 3 jam yang lalu, sejak om mulai senyum-senyum sendiri."


"Sebegitu kah aku bermimpi, ya Tuhan. Ini sangat memalukan."


Cukup lama mereka terdiam, hingga Morgan membuka suaranya untuk menceritakan tentang tidur panjangnya tadi.


"Bunda bunda." Morgan menepuk pelan dada ibunya membuat Ziand mengalihkan atensinya.


"Bunda, pas Morgan tidur. Morgan selalu denger suara bunda loh."


"Oh ya, lalu?"


"Bukan cuma suara bunda yang minta Morgan cepat bangun. Tapi ada suara papa juga bunda, papa udah pulang ya? Terus papa mana sekarang." paparnya mendongakkan kepalanya menatap manik mata ibunya itu.


"Apa yang Morgan denger, waktu papa Morgan bisikin?"


"Papa bilang, papa disini, kata papa juga bunda rindu sama Morgan." ungkapnya dengan mata berbinar.

__ADS_1


Cia memalingkan wajahnya, menatap langsung wajah Ziand yang masih diam tak bergeming. Setelah dirasa tidak ada sahutan dari pria itu, Cia membalik tubuhnya menghadap putranya.


"Canggung sekali, Ya Tuhan." batinnya.


"Bunda? kok melamun." suara Morgan memecah keheningan.


"Ah iya sayang, Bunda tidak melamun kok."


Morgan tersenyum tipis, matanya tak berhenti menatap sekitar seolah olah mencari sesuatu. "Papa mana Bunda?"


Untuk kesekian kalinya Cia memejamkan matanya, ia benar-benar bingung bagaimana menjawabnya. Satu-satunya cara adalah mengalihkan pembicaraan, tapi bagaimana? Ah sudahlah, kepalanya berdenyut memikirkan hal itu.


Ziand menghembuskan nafasnya perlahan, ia masih tidak percaya jika tadi itu mimpi. "Kenapa harus mimpi, andai saja tadi itu sungguhan, betapa bahagianya diriku ini."


Sama halnya dengan Ziand, Cia kini juga sedang bergelut dengan pikirannya.


"Jangan egois Cia, Morgan benar-benar membutuhkannya sekarang. Sebesar apapun rasa sakit yang kau alami, kau harus memberitahunya." batin Cia melawan egonya sendiri.


"Papa ada kok sayang, sebentar ya. Bunda mau ngobrol dulu sama Om Ziand di luar."


Setelah mendapatkan anggukan dari putranya, Cia menarik pelan tangan Ziand dan membawanya keluar dari ruangan itu.


"Kenapa kau menarik ku keluar?"


"Tentang Morgan tadi emm…"


"Aku akan mengatakannya jika kau mengizinkan ku dan ku harap kau tidak egois untuk ini." potongnya cepat sembari memegang kedua pundaknya wanita itu.


"****! Mengapa dia semakin tampan jika tersenyum." batinnya berteriak.


"Terimakasih." Ziand memeluknya erat hingga buliran buliran bening itu jatuh tanpa ia sadari.


"PAPA!!!"


Teriakan itu astaga, mengganggu suasana sekali. Ziand berdecak sebal, ia hapal betul siapa pemilik suara yang memekikkan telinga.


Dengan ogah ogahan Ziand melepaskan pelukannya dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang putri, masih ingatkah kalian dengan Disya? atau mungkin kalian sudah lupa karena author sudah berabad-abad tidak update.


"Papa menangis? hahahaha." bukannya menanyakan kenapa ayahnya menangis, gadis kecil ini justru menertawakan dirinya.


Ziand mengerutkan keningnya heran, apa anehnya?Disya mengurangi gelak tawanya dan kembali berucap.


"Disya tidak percaya jika Papa bisa menangis, atau mungkin karena Bunda. Papa jadi menangis." Disya menghapus jejak air mata yang masih terpampang jelas di wajah ayahnya itu, dan menatap Cia penuh selidik membuatnya gelagapan sendiri.


Tawa Disya kembali, saking kerasnya ia tertawa hingga suara pekikan Morgan membuat semuanya bungkam. Bahkan mereka melupakan Max yang sedari tadi hanya diam seolah olah sedang menonton drama keluarga didepannya ini.


"BUNDAA!"


Keempat Manus berbeda gender itu langsung masuk kedalam dengan tergesa-gesa. Jika Cia dan Ziand sedang mengatur nafas, berbeda dengan Disya yang menatap Morgan tidak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Aaaaa!!!" pekik Disya berlari kencang menuju brankar Morgan dan berusaha memeluk sahabatnya itu. Dengan bantuan kursi, Disya dapat memeluk erat Morgan. Sangat erat hingga…


"Se … sesak, Disya." lirihnya dengan nafas terengah-engah.


Saking rindunya ia dengan pria kecil itu, Disya bahkan tidak mendengar rintihan Morgan. Disya terus memeluknya hingga tangisnya pecah saat itu juga.


"Astaga, hey sayang. Jangan terlalu erat oke, Morgan masih lemas." ucap Ziand mengangkat Disya hingga pelukan itu terlepas, membuat gadis itu menangis semakin kencang.


Disya semakin memberontak tak karuan, membuat Cia heran. Sebegitu kah Disya merindukan putranya?


"Turunin Disya, Pa! Disya mau peluk Morgan." bukannya berhenti Disya semakin meraung-raung bak singa kelaparan.


Morgan menatap dalam mata Ziand, hingga helaan nafas panjang terdengar dan Ziand membawa Disya kembali duduk di brankar Morgan.


Morgan mengusap air mata yang berada di pipi chubby milik Disya dengan sangat lembut, sedangkan ketiga manusia dewasa itu hanya memandang Morgan tak percaya. Ah! jika orang lain melihat mereka mungkinkah mereka mengira jika Morgan dan Disya adalah sepasang kekasih.


"Kenapa lama sekali kau tertidur Morgan, hikks … aku merindukan mu." ungkap Disya, masih dengan isakan tangisnya.


"Maaf, tapi lihatlah aku sudah bangun bukan." sahutnya di akhiri dengan kekehan kecil.


Eeekkhhmm!!


Ziand berdehem keras, mengkode Max agar agar membawa Disya keluar.


"Disya belum makan sejak kemarin malam kan, jadi sekarang kita pergi mencari makan dulu ya." ajak Max selembut mungkin, semenjak Morgan koma nona nya itu menjadi lebih sensitif.


Disya mengusap ingusnya yang keluar, sungguh memalukan! menurutnya. Kebetulan sekali ia sangat lapar saat ini, tak mungkin jika ia menolaknya.


Disya mengangguk. "Morgan mau nitip?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala seraya tersenyum. Disya menatap ayahnya dan Bunda Cia seolah olah juga menanyakan apakah mereka mau menitip makanan.


Lagi-lagi Disya mendapatkan gelengan kepala, setelah Disya dan Max pergi mencari makanan. Kini saatnya Ziand mengatakan yang sebenarnya.


"Morgan mau nggak ketemu sama Papa?" tanya Cia memulai duluan.


Morgan mendongak menatap bundanya dengan mata berbinar, "Mau bunda!" sahutnya kegirangan.


"Tapi sebelum itu Morgan harus janji dulu sama Bunda, kalau udah ketemu sama Papa. Morgan gak boleh benci sama Papa."


Morgan menimang-nimang ucapan Bundanya, dengan pasrah ia menganggukkan kepalanya pasrah. Tenang saja, Morgan tidak mungkin membenci Papanya. Emmm … Hanya sedikit memarahinya saja tidak apa kan hahaha ~batin Morgan.


Ziand mendekati brankar Morgan untuk ikut bergabung dengan mereka. Cia memundurkan langkahnya sedikit agar memberi ruang untuk keduanya.


"Papa mana Bunda, kenapa lama sekali." geram Morgan.


Ziand memeluk erat putranya dan berbisik.


" I'm your father." Morgan menegang menatap tak percaya pria dewasa didepannya ini.


Apakah Morgan akan membencinya?

__ADS_1


Bagaimana reaksi Morgan setelah ini?


Hii, author kembali lagi. aku tau kalian kecewa karena udah lama banget ga update:( I'M SORY


__ADS_2