
Happy Reading
•
Nasib Tara setelah dipecat dari perusahaan Ziand sekarang menjadi P*K. Tara dipaksa oleh kedua orang tuanya dan juga diajak oleh teman-temannya. Masa bodoh dengan harga dirinya yang terpenting ia mendapatkan banyak uang.
Awalnya memang Tara menolak pekerjaan ini tapi lama kelamaan Tara lah yang paling banyak diincar di Club untuk memu*skan para pria-pria yang haus akan belaian. Selama itu juga Tara terus-menerus memprovokasi orang tuanya, ah bukan-bukan lebih tepatnya mendesak ayah dan ibunya untuk mengganggu Cia beserta orang-orang yang tinggal bersamanya.
"Ma, ayolah. Kita datengin Cia kerumahnya terus rampas hartanya." desak Tara manja.
"Kenapa sih Tara, lagian buat apa kita gangguin anak sial*n itu. Sekarang aja uang kita udah banyak gini, hasil dari ngejal*ng kamu." sungut Sania menekan kata 'ngejl*ng'.
"Iihh mah, Tara masih dendam sama jal*ng kecil itu. Gara-gara dia, Tara dipecat sama Ziand." ketusnya.
"Udah tau Cia sekarang lebih kaya, kamu sok-sokan mancing dia. Udah lah Tara, biarin Cia. Mama sama ayah males ngusik dia lagi,." sahut Harso ikut menimpali putrinya.
"Kalo gitu, sinih balikin duitnya. Kalo mama sama ayah gak mau bantuin Tara, siniin duitnya. Gak usah minta duit lagi sama Tara." pekik Tara menghentak-hentakan kakinya dan pergi ke kamarnya. Inilah ancaman yang ampuh agar Sania dan Harso mau membantunya.
"Gimana mah?" tanya Harso meminta pendapat.
"Mamah males banget Yah, kalo urusan sama Cia lagi. Sekarang juga udah ada mama Hellena sama papa Haston, kita pasti bakal dicemooh habis-habisan disana." sahutnya.
"Terus mama bakal biarin Tara gak kasih uang gitu sama kita?"
"Ya gak gitu juga. Aaaahhh!!! mama pusing, besok aja mikirin nya." Sania berlalu pergi meninggalkan Harso sendirian yang masih terus berpikir.
Didalam kamar Tara sedang mencari cara agar bisa menghancurkan Cia, walau sedikit demi sedikit. Entah apa yang ia pikirkan hingga semirik muncul di bibirnya.
"Apapun itu, aku akan tetap menghancurkan mu Cia." racau Tara semakin banyak menenggak minuman beralkohol itu.
"Hahaha, lihat saja. Aku akan merebut Ziand dari mu."
"Dengan cara apapun itu, termasuk membuat mu mat* ah bagaimana jika aku melukai jagoan kecil mu?"
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang Tara lontarkan sampai wanita ini benar-benar mabuk dan hilang kesadarannya.
__ADS_1
•••
Pagi harinya Tara masih kekeuh untuk mendesak kedua orang tuanya, ancaman demi ancaman bTara keluarkan. Hingga Sania dan Harso luluh dengan tawaran terakhir Tara.
"Terakhir kalinya Tara ngajak kalian, kalo mamah sama ayah tetep gak mau. Kembalikan semua uang yang Tara kasih, kalo kalian mau Tara bakal kasih uang 2 kali lipat dari biasanya atau bahkan 3 kali lipat kalo kita berhasil." ucapnya.
Sania dan Harso saling memandang. "2/3 kali lipat uang dari biasanya, jika dihitung-hitung berarti 10.000 USD." mata Sania dan Harso berbinar membayangkan uang itu ada pada mereka.
"Baiklah, kami akan membantu mu nak. Ingat janji ku sekarang 2-3 kali lipat dari uang biasanya." timpal Harso semangat.
"Cih, giliran soal uang aja langsung. Dasar mata duitan." batin Tara.
"Deal." putus Tara.
Ketiga manusia tersebut berbincang-bincang untuk membahas rencana Tara, satu persatu rencana Tara sudah jelaskan namun tetap tidak disetujui oleh pasutri itu. Membuat dirinya murka.
Prang!
Tara melemparkan seluruh gelas yang ada di meja tersebut hingga pecah.
"Kalian sebenarnya mau bantu Tara gak sih!" murkanya.
Harso dengan mudahnya menampar Tara seperti ia menapar Cia dahulunya.
"Jangan berteriak pada kami jal*ng! Semua rencana mu itu sangat konyol bod*h. Kita semua bisa masuk penjara dengan ide pikiran mu itu." sarkas Harso menunjuk Tara tepat didepan wajahnya.
"Sudah-sudah. Mama punya rencana lebih bagus." paparnya, pelan-pelan Sania menjelaskan apa rencana yang dimaksud membuat Tara dan Harso mau menyetujuinya.
"Bagus, kita mulai dari yang kecil." Tara tersenyum miring.
"Kita harus pintar-pintar bermain cantik kali ini." ujar Harso diangguki Sania dan putrinya.
•••
Zaind pulang dengan wajah yang berseri-seri, siap tidak siap ia harus cepat-cepat memberitahukan ini. Dari pada orang tuanya lebih dulu tau, itu akan membuat dirinya terkena amukan maut dari mommy dan daddy-nya.
__ADS_1
Baru saja ia menapakkan kakinya di ruang keluarga sudah disuguhkan dengan Fernand yang memeluk Killa. Ziand mengerutkan keningnya curiga, kenapa wajah ayahnya penuh amarah. Ziand mendekati kedua orang tuanya dengan langkah pelan.
"Dad, mommy kena...."
Bugh!
Ziand tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Fernand menarik kerah kemejanya dan langsung memukul rahang putranya.
Umpatan-umpatan kasar Fernand berikan padanya, tidak hanya satu bogeman saja. Fernand juga melayangkan beberapa bogeman hingga tamparan keras di pipinya.
Ziand yang tidak tau apa-apa hanya pasrah, percuma saja ia memelas kepada ibunya. Killa saja menutup wajahnya dengan bantal sofa tersebut.
Leon yang baru saja tiba di mansion tersebut tercengang melihat Ziand yang dipukuli habis-habisan oleh Fernand, dengan sekuat tenaga ia mencoba memisahkan ayah dan anak ini.
Leon menuntun saudaranya untuk duduk di kursi tersebut, tetesan dar*h keluar dari sudut bibirnya. Tidak hanya itu, pelipisnya juga mengeluarkan dar*h segarnya dengan pipi yang memerah.
"Om, kenapa mukulin Ziand kaya gitu." tanya Leon merasa kasihan dengan pria breng*ek itu.
"Ternyata putra ku benar-benar baj*ngan." sahut Fernand yang masih menahan amarahnya. Walaupun sudah menghajar Ziand tapi tetap saja ia belum puas.
"Maksudnya?" tanya Ziand lirih.
"APA MAKSUDNYA INI!!?" Killa melemparkan selembar kertas dari rumah sakit tepat di wajah putranya.
"Tes DNA?......."
Apa nih? Orang tuannya Ziand tes DNA punya siapa?
Bagaimana nasib Ziand setelah ini?
Apa rencana sebenarnya orang tua Tara?
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
oh ya sekalian, mau ngucapin banyak-banyak terima kasih yang udah support Author. masih gak percaya tembus 1k like.
__ADS_1
Alhamdulillah, kebahagiaan tersendiri bagi Author pemula. Terus pantau karya Author satu ini. Inn SYaa Allah bulan Februari besok launching karya baru lagi. Yang gak kalah seru dari ini.
Oke cukup sekian basa-basi nya><