
Keesokan harinya....
Eun membuka matanya melihat sekitar nya "umm.. " eun duduk mengambil ponsel nya yang berbunyi "halo kak ai" kata eun "kau di mana? " tanya nhai "aku ada di rumah aku tidak ke kantor, hum jika ada masalah katakan saja aku bisa memperbaiki nya di sini" kata eun "aku cuma ingin mengatakan sesuatu pada mu" kata nhai "katakan saja aku mendengar mu" kata eun "apa pria itu ada di dekat mu? " tanya nhai "pria? Pria mana? Aku kan tinggal tinggal sendiri kak ai" kata eun "pria waktu itu yang datang ke kantor" kata nhai "tuan kim? " kata eun "benar" ucap nhai "tuan kim tidak ada di sini aku tidak tau dia ada di mana tapi apa ada sesuatu yang berhubungan dengan nya? " tanya eun "aku cuma ingin mengatakan sesuatu tentang nya pada mu! " kata nhai "baik" kata eun "eun dia bukan pembisnis dia seorang pembohong dia sesungguhnya adalah seorang pembunuh yang berkedok sebagai pembisnis, kau lebih baik menghindari nya dia tidak aman" kata nhai "aku sudah mengetahui kebenarannya" kata nhai eun terdiam perlahan air mata nya mengalir "eun kau mendengar kan aku? " tanya nhai "eun? " eun mengusap air mata nya "aku mendengar kak ai" kata eun "tapi kenapa kau mengatakan nya pada ku? " tanya eun "karena aku peduli pada mu" kata nhai hening sejenak "kak ai.. Dokter sudah datang aku matikan telpon nya" kata eun "baik lah semoga lekas sembuh" ucap nhai.
Eun kembali menangis "kak ai.. Apa kau tidak menyadari satu hal" tangis eun "kau juga pembohong... Kau pembohong kau membohongi ku terus menerus dan.. Dan sekarang kau mengatakan tuan kim berbohong jika begini siapa yang harus kepercaya, aku harus percaya pada siapa" ucap eun ponsel nya kembali berbunyi "eun bagaimana kabar mu? " tanya vivian "aku baik" kata eun "eun kau baik baik saja? Suara mu terdengar seperti orang habis menangis" kata vivian "aku cuma flu, kau lanjut saja bekerja nanti kak ai bisa menegur mu" kata eun "aku akan menemui nanti oke" kata vivian "hum" kata eun. "Ada apa? " tanya petir "eun pasti habis menangis" kata vivian "apa? Tapi karena apa? " tanya petir "aku juga tidak tau" kata vivian.
Eun mengusap air matanya tiba-tiba mata nya terfokus pada air di samping ranjang nya "good morning cepat lah minum aku, pagi hari paling bagus adalah meminum air mineral sekarang ayo minum aku agar tubuh mu terasa segar" eun membaca tulisan yang ada di botol itu "apa ini tulisan kim? Atau siapa? " fikir eun lalu dia menyingkirkan selimut nya berusaha untuk berjalan sambil berpegangan dengan benda yang ada di sekitar nya eun melihat meja sudah penuh dengan makanan eun berjalan ke arah meja makan "aku akan menemui mu nanti setelah pulang dari kantor aku ada empat pertemuan dengan perusahaan lain, aku tidak pintar memasak jadi aku menyuruh koki datang memasak untuk mu makan lah dan minum obat nya aku tidak membangun kan mu karena ku fikir kau masih butuh tidur karena semalaman suhu tubuh mu meningkat drastis selamat makan" eun membaca kertas yang ada di meja.
Sore hari..
Vivian melipat laptop nya lalu membereskan barang barang nya "kau akan menemui eun? " tanya carl "iya kau ikut? " tanya vivian "aku ikut naik mobil ku saja" kata carl "aku juga ikut" kata Yuda "aku juga" kata petir "ayo cepat aku kawatir pada nya" kata vivian.
"Papa dan mama tidak bertengkar kau salah paham eun" eun hanya diam mendengar suara papa nya di telpon "biar kau yang bicara" kata mama eun "dengar sayang.. Mama dan papa sudah baikan waktu itu ada masalah yang terjadi membuat kami sama sama kebingungan mencari solusi nya membuat pertengkaran kecil seperti yang kau lihat waktu itu" kata mama nya "tapi mama dan papa sudah tidak bertengkar" kata mama nya "kau dengar kan eun" ucap papa nya "aku dengar jika kalian bertengkar lagi aku tidak akan pulang selama nya" kata eun "ya ampun kau terdengar masih marah sayang" ujar mama nya "ya sudah lah kami tidak akan bertengkar keluarga kita adalah keluarga yang bahagia" kata papa nya "di mana calon menantu ku? Apa nhai ada di situ" eun terdiam air matanya tidak dapat di bendung "eun.. Kenapa diam paa mu sedang bertanya" kata mamanya "kak ai.. " kata eun "aku dan kak ai sudah putus.. Kak ai ingin menikah dengan orang lain" ucap eun sambil berusaha agar tidak menangis dengan keras kedua orang tua nya terdiam "aku dan kak ai tidak satu rumah lagi aku pindah" kata eun "mama tau apa yang kau rasakan mama akan menjemput mu" kata mama nya "tidak ma.. Aku baik baik saja" kata eun pintu di ketuk "bentar ma" kata eun sambil berjalan membuka pintu "eun" kata vivian "sstt.. Mama menelpon ku" bisik eun "biar aku yang bicara" kata vivian "halo tante.. Aku sahabat eun kami baru saja pulang kerja" kata vivian petir merangkuk eun yang mulai terisak "tidak papa tidak papa" kata petir "vivian ya" kata mama nya "iya tanteku di sini ramai sekali kau baru saja mau pergi makan bersama" kata vivian "vivian aku tau eun pasti tidak baik baik saja nhai meninggal kan nya begitu saja" kata mama nya "tidak papa tante ada kami di sini semuanya akan baik baik saja kau tidak perlu cemas tante" kata vivian "benar tante ada aku juga" seru Yuda "aku juga" kata carl "terimakasih kalian tolong hibur dia ya" kata mama nya "iya tante kau tenang saja hum.. Tante takut nya keburu malam kami berangkat dulu ya cari makan" kata vivian "oke baik lah bye" telpon mati vivian menoleh ke arah eun yang sedang menangis air mata nya pun ikut turun cepat cepat dia mengusap nya lalu berjalan ke arah eun "sudah lah.. Tidak papa" kata vivian "ada kami di sini" kata vivian "aku ingin menutupi semuanya tapi.. Mulut ku malah berkata apa ada nya" kata eun "tidak papa, kau hebat eun kau berani jujur kau tidak salah" kata vivian "guys.. " eun mengusap air mata nya "aku ingin pergi dari sini" kata eun "aku tidak ingin.. " kata eun "kau tau itu" kata vivian "di mana ya tempat yang bagus" fikir carl "hum.. Aku tau" kata Yuda "aku punya sepupu dia tinggal di luar kota dia punya apartemen di di sebuah pulau ka bisa ke sana sambil menenangkan fikiran mungkin itu yang terbaik agar kondisi mu juga cepat pulih" kata Yuda "kau benar juga" kata petir "kapan" kata vivian "aku akan pergi sekarang tunjukkan saja alamat nya" kata eun "aku akan mengantar mu" kata carl "aku akan telpon sepupu ku dulu" kata Yuda "ayo bereskan barang barang mu" kata vivian.
Kim keluar dari ruang rapat "tuan kim" young membungkuk memberi hormat lalu pergi "tuan kim laporan keuangan nya sudah selesai" kata zakra "letakan saja di ruangan ku " kata kim "tuan" deon asisten kim datang "pertemuan selanjutnya sekitar tuju puluh menit lagi" kata deon "kau pergi ke ruangan ku periksa semua laporan" kata kim "baik tuan" kata deon melihat kim azka langsung menghampiri nya "anda ingin kemana tuan? " kata azka "masih ada waktu aku ingin makan malam di apartemen eun ku harap dia tidak pindah lagi atau lari dari ku" kata kim "baik tuan" kata azka hansen langsung menyiapkan mobil kim langsung masuk ke dalam mobil lalu mengeluarkan ponsel nya "nomor yang anda tuju tidak menjawab" kim terus menelpon eun "kenapa masih tidak mau mengangkat telpon dari ku" fikir kim.
"Hai kakak sepupu!! " seru Yuda "Hai kau juga akan ke apartemen ku? " tanya pria tinggi dan kurus itu "tidak kakak sepupu ini teman ku namanya eun dia ingin tinggal di apartemen mu yang di pulau itu" kata Yuda "oh.. Dia terlihat tidak sehat" kata sepupu Yuda "iya dia sakit karena itu dia butuh ketenangan" kata Yuda "baiklah aku akan membawa nya masukan barang barang nya ke mobil ku" kata pria itu "nama kakak sepupu mu itu siapa? " tanya vivian "dia terlihat seperti jerangkong kurus dan tinggi" bisik petir "jaga bicara kalian dia tidak kurus baju nya saja yang kebesaran makannya terlihat kurus" kata Yuda "oh ya siapa tadi nama dia" tanya pria itu "eun kakak sepupu ingatan mu buruk sekali" kata Yuda "hei jangan buka aib Hai eun aku mile " kata mile "hum.. Aku eun" kata eun "eun jaga dirimu ya sering sering telpon aku" kata vivian "iya ini juga cuma sementara" kata eun.
Kim berbalik menatap bodyguard nya "mungkin nona eun tidur tuan" kata mattew "hei hei" leo memanggil seorang wanita yang kebetulan lewat "mau tanya, nona eun yang tidur tinggal di kamar ini apa di-" kata leo "nona eun teman nya nona xie ya? " kata wanita itu leo menatap kim "xie siapa? " fikir kim "iya" kata leo sembarangan jawab "nona eun tadi sore pergi entah kemana dia membawa banyak barang barang nya" kata wanita itu "maksud mu pindah? " tanya liam "iya kelihatan begitu" kata wanita itu "tuan telpon dari deon" kata hansen "katakan" kata kim "tuan segera ke kantor lima belas menit lagi pertemuan di mulai" kata deon "kita pergi" kata kim.
Mile berjalan sambil menjelaskan semuanya ke eun "ini apartemen mu, dan jika butuh sesuatu kau cukup jalan sebentar ke arah sana di sana ada rumah ku " kata mile "iya tuan" kata eun "hei apa aku terlihat tua? Panggil aku kakak" kata mile "baik kak mile terimakasih" kata eun "ini bibi tukiyem dia pembantu di sini kau bisa meminta bantuan pada nya oke aku pergi dulu ini jadwal ku membaca novel" kata mile sambil pergi "ini barang barang nya mau di taruh di mana? " tanya tukiyem "di kamar ku bibi, itu isi nya baju" kata eun "ayo saya bantu" kata tukiyem.
__ADS_1
Setelah selesai semua nya tukiyem pamit pergi, eun berdiri berjalan pelan pelan ke arah jendela menatap langit malam yang penuh dengan bintang angin bertiup perlahan membelai rambut dongker milik eun.
"Aku sibuk pulang agak larut kau bisa tidur duluan tanpa menunggu ku"
"Hari ini perkerjaan agak banyak jadi aku lelah dan ingin langsung tidur, maaf ya tidak bisa menemani nonton film kesukaan mu"
"Ciuman itu hanya di lakukan orang yang kekanak-kanakan karena ciuman sesungguhnya akan terjadi saat kita tunangan"
"Selamat hari jadian.. Coba buka kado yang ku beli untuk mu bagus gak"
Eun memejamkan matanya
"Pagi sayang.. Wah kau masak apa ini? " tanya nhai "kau bilang kemarin ingin makan seafood kan jadi aku memasak nya untuk mu pagi ini" kata eun "gak salah aku milih pacar seperti mu memang calon istri terbaik" ujar nhai "hum.. Benarkah? Awas kalau kau berbohong ya" kata eun.
"Kak ai.. " kata eun "apa sayang" kata nhai "aku mau seperti itu" eun menunjuk seorang pria yang sedang berlutut di hadapan seorang gadis "tapi ak--" eun tidak melihat nhai lagi "eun ku sayang" telihat nhai sudah berdiri di antara bunga yang bermekaran "aku cinta kamu dan berharap kita selama nya sampai tua" kata nhai eun berlari ke arahnya "kau ini? " kata eun "kau senang" tanya nhai "senang" kata eun "ambil bunga ini untuk mu" kata nhai "kau tidak mencium ku seperti yang di lakukan mereka? " tanya eun "ciuman sesungguhnya ada nanti saat acara resmi pertunangan dan pernikahan kita kalau seperti mereka itu kekanak-kanakan" kata nhai.
"Eun" nhai mengetuk ngetuk pintu toilet "kak ai kau sedang apa? " eun membuka sedikit pintu nya "ini kan" nhai memberikan sebuah paper bag berisi pembalut "aku tau ini sudah jadwal nya" kata nhai "aku jadi malu cepat lah pergi nanti ada yang lihat" kata eun.
"Lihat sayang baju ini bagus kan? Ini buat acara tunangan kita" kata nhai "bagus sekali jas ini pasti sangat cocok untuk mu kak ai" kata eun "tapi ingat ya" nhai menunduk "jika selesai pertunangan jangan jangan panggil aku kak ai lagi panggil aku suami" kata nhai "hum.. Baik Pak suami" kata eun.
"Rapat ini selesai sampai di sini" kata nhai "baik Pak" yang lain mulai pergi eun membereskan dokumen nya "ei.. Kau mau kemana? " mata nhai "kak ai rapat sudah selesai" kata eun "lalu kau akan membiarkan aku sendirian" kata nhai dengan manja "kau mau apa? " tanya eun "bagaimana kalau ada yang kita nanti mereka fikir kita tidak fokus kerja" kata eun "kemarilah suapain aku makan" kata nhai "ya ampun" eun berjalan mendekat membuka kotak bekal milik nhai "greb" nhai menarik eun ke pangkuan nya "aku lapar suapain aku" kata nhai "kak ai.. Ini akan sulit aku menyuapi mu jika duduk begini" kata eun "tidak susah" nhai memegang kotak bekal nya "ayolah" kata nhai "baiklah kau terlihat seperti bayi besar" kata eun sambil menyuapi nhai.
__ADS_1
"Kak ai.. Kenapa kau sekarang menjauhi ku" tanya eun "jauh gimana aku cuma kelelahan" kata nhai "um.. Baiklah mungkin fikiran ku salah" kata eun "iya jangan banyak fikiran ayo sini tidur" mata nhai.
"Kau sudah lihat kan sekarang? " ucap nhai "aku sudah memiliki pacar dan aku mencintai nya" eun mengusap air matanya teringat masa masa bersama nhai apalagi saat di kantor terkadang harus bertemu dengan nhai orang yang pernah menjadi kekasih nya dahulu "um? " ponsel nya kembali berbunyi terlihat nama vivian muncul di layar ponsel nya "vivian"
"Eun kau sudah makan? "
"Sudah tadi aku makan ada seorang wanita yang mengantar makanan ke kamar ku"
"Bagus lah cepat minum obat agar cepat pulih"
"Iya kau juga pergilah tidur ini sudah larut"
"Kau juga tidur eun jangan banyak fikiran besok pergilah jalan jalan jika sudah membaik kaki mu di sana ada pemandangan indah"
"Iya aku tidur duluan ya"
"Iya good night"
"Night too"
Telpon terputus eun melihat banyak panggilan tak terjawab dari kim eun memblokir nomor kim lalu pergi menutup jendela dan tidur.
__ADS_1