gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
belajar mencintai


__ADS_3

Kim membuka matanya ketika dia tidak merasakan kehadiran gadis di sebelah nya "uh? Kemana dia" kim langsung duduk "eun" kata kim sambil berjalan ke kamar mandi "eun" kata kim sambil membuka pintu kamar mandi "kemana dia? " kim langsung buru buru mandi "jangan jangan di kerja" kata kim.


Beberapa pelayan duduk di kejauhan memperhatikan seorang gadis yang ada di dapur "ku rasa nanti aku akan di gantung" bisik rei "aku juga tapi bagaimana ini" bisik rin "aku tidak mau mendengar kata kata kasar" kata dila "hei kalian ngapain di sini? kok malah membiarkan nona eun di dapur" kata liam "dia yang minta " kata rei.


"Pluk" eun memasukan kentang ke dalam panci "apa yang kau lakukan? " eun berbalik "tuan kim" kata eun "kenapa kau ada di sini!! Mana yang lain!! Mereka seh--" eun menempelkan sepotong wortel ke bibir kim "jangan marah ini aku yang mau, aku mau masak sudah lama aku tidak masak aku juga sedang bosan " kata eun "aku meminta mereka untuk istirahat hari ini tidak papa kan? " eun mengedipkan mata nya beberapa kali, "bagaimana kalau kau terluka? " kata kim "ya ampun jangan berlebihan ini cuma masak. bukan datang meliput mafia atau ******* ini hal mudah" kata eun dengan enteng "baik lah aku akan membantu" kata kim. "Omg tuan kim tidak marah" kata hansen "dia " kata rei "aahhh.. Lega ku fikir aku akan di marahi" kata dila, "tidak perlu aku akan melakukan nya sendiri" kata eun "kau akan berangkat kerja? " tanya eun "tidak aku kerja dari rumah hari ini" kata kim "kok bisa bagaimana dengan bos mu? " kata eun "karena aku bos nya" sahut kim dengan cepat "waduh" kata eun dalam hati,bagaimana bisa dia lupa kalau kim adalah seorang bos.


Eun mengambil keju dan mulai memarut nya "biar aku saja" kata kim "tidak aku tidak yakin kau bisa melakukan nya" kata eun "akan ku buktikan" kim mengambil keju itu "hati hati ya" eun kembali melihat daging yang dia panggang dan melihat kue yang dia oven "tuan kim keju nya sudah selesai? " tanya eun "iya bentar" kata kim "ini" kata kim "oke" eun meletakkan keju itu di atas kue nya "kue nya sudah jadi" kata eun ,kim menatap eun tanpa bisa mengatakan apapun "pluk pluk" eun memasukan adonan ke dalam panci berisi air yang mendidih"awas" kata kim "daging nya juga selesai" kata eun "kau mau coba? " kata eun sambil memotong daging yang baru saja dia panggang "Nanti saja" kata kim "oke udah beres semua nya" kata eun sambil membawa makanan ke meja makan dan kim membantu nya "tuan kim tidak usah" kata eun "tidak ada yang bisa melarang ku" kata kim dengan ketus "hati hati itu masih panas" kata eun "kalian tidak mau makan bersama? " eun menatap para bodyguard "tidak nona terimakasih" kata mereka, eun menatap kim yang masih di dapur "ayolah makan bersama ku" kata eun "tidak nona kami sudah makan" kata mereka "huh? " eun melihat kim membawa sepiring buah buahan dan juga susu "tuan kim kenapa mereka tidak mau makan bersama? " tanya eun "mereka tidak akan makan bersama" kata kim "kenapa dia kan ada di sini juga" kata eun "cepat makan dan minum obat mu" kata kim. eun menatap para bodyguard yang sedang berjaga lalu menatap kim "kita akan makan bersama dengan mereka" kata kim "benarkah? " kata eun "tapi tidak sekarang aku akan atur waktunya" kata kim "oke" kata eun sambil menatap piring kim masih kosong "kau tidak ingin makanan di meja? " tanya eun dengan polos "aku ingin" kim menatap mata eun "tangan mu yang mengambil nya" kata kim "oh akan ku ambil kan kau mau yang mana? " tanya eun "aku mau mencoba semua nya" kata kim "um.. Aku akan ambil kan daging nya dulu " kata eun "apa kau nyaman tinggal di sini? " kata kim eun menatap kim "jika tidak ? aku tidak akan di sini" kata eun "tapi bisa aja sih aku minta bantuan mereka untuk membawa ku pergi" kata eun kim langsung menatap eun "jadi kau mau pergi? " kata kim "eun " kim terlihat memperhatikan eun yang sedang makan, "eun aku bertanya" kata kim "kenapa? " kata eun "karena aku tidak mau kau pergi" kata kim sambil berdiri "ei tuan kim" eun menahan tangan kim "kau belum selesai" kata eun "aku mau menemui bodyguard penjaga pintu" kata kim "tapi untuk apa? " kata eun "bukan kah kau ingin pergi? aku mau mereka mengunci semua nya" kata kim "hei kau bodoh ya? Aku cuma bercanda" kata eun "ayo makan lagi" kata eun. kim kembali duduk "ayolah makan aku tidak akan pergi" kata eun "kemanapun aku pergi dia juga menemukan ku percuma kan? " kata eun dalam hati "tuan kim" kata eun, kim menatap eun "aku lupa mau ngomong apa " kata eun "tapi masakan nya enak kan? " kata eun "hm" kim mengangguk "berikan aku kue nya" kata kim "uh oke" kata eun "bentar ya" eun berdiri dan menjauh ketika ponsel nya berbunyi "halo" kata carl dengan pelan "halo" kata eun "carl halo kenapa kau tidak bersuara" kata eun "carl kau baik baik saja" eun mulai panik "carl halo halo.. Hei carl" kata eun "halo" eun menjadi kawatir "eun" terdengar suara carl ."astaga kenapa aku tidak mendengar suara mu dari tadi apa yang terjadi? " tanya eun "aku merasa ada yang aneh" kata carl "apa yang aneh! kau baik baik sa--" eun merasakan perut nya kembali sakit "aku baik baik saja cuma tadi ada orang nya jadi aku memutuskan tidak bicara" kata carl "oke katakan" eun membungkuk "tuan nhai menemui ku lalu bertanya tentang tuan kim" kata carl "kau serius? " tanya eun "iya dia bertanya tanya semua tentang tuan kim aku bilang saja aku tidak tau" kata carl "pasti karena tuan kim kem--" eun menutup mulut nya "uhuk" eun terbatuk "carl aku kawatir kak ai dan tuan kim" eun menoleh ke belakang kim menahan tubuh eun "ada apa? " tanya kim "oh tidak tidak ada" eun memasukan ponselnya ke saku "aku.. Aku cuma.. Merasa sakit perut" kata eun "ayo minum obat" kata kim.


Di dalam kamar..


Kim menatap eun yang sedang meminum obat "apa yang terjadi? " tanya kim "hm? " eun menatap kim yang duduk di samping nya "aku mendengar mu tadi" kata kim "hum.. Cuma masalah kecil di kantor" kata eun "apapun itu jangan sampai mengganggu fikiran mu" kata kim "iya.. Aku mengerti " kata eun "aku akan kerja " kata kim "hum.. Tuan kim" eun berdiri berjalan di dekat kim "boleh kah aku meminta carl datang ke sini kami ingin membahas pekerjaan" kata eun "tapi kau sedang sakit" kata kim "cuma sebentar saja" kata eun "baiklah hanya sebentar" kata kim "baik aku akan menelpon nya" kata eun kim langsung pergi ke ruang kerja nya.


Air di kolam terlihat benar benar jernih dan berwarna biru dengan pemandangan indah di sekeliling dua bodyguard kim terlihat berdiri di sekitar kolam "eun " kata carl "apa? " kata eun "mereka berdiri di situ terus" kata carl "memang begitu kerja nya" kata eun "rasanya tidak nyaman begini bagaimana kita ngobrol" kata carl "bicara aja tapi jangan keras keras" kata eun "ayo lanjut kan pembahasan kita tadi" kata eun "tuan nhai aku tidak tau apa yang dia fikir kan dia membentak ku seperti biasanya, dia fikir aku bohong aku sudah berkata jujur aku tidak tau apa apa soal tuan kim aku hanya kenal nama nya saja" kata carl "dia bertanya ini itu ini itu di mana kim tinggal? Di mana kim? Apa hubungan eun dengan kim? Apa pekerjaan kim? Begitu lah seakan akan tuan nhai mencari informasi tentang tuan kim" kata carl "apa itu artinya kak ai merencanakan sesuatu untuk tuan kim" kata eun "mungkin saja" kata carl "carl kak ai pernah mengatakan pada ku kalau tuan kim itu seorang p-e-m-b-u-n-u-h aku hampir percaya " kata eun "lalu? " kata carl "ternyata tidak aku bertanya langsung pada nya dan dia memang seorang pembisnis" kata eun "mungkin karena masalah waktu itu yang tuan kim berkata kalau dia benci pada tuan nhai" kata carl "mungkin juga" kata eun "tapi apapun yang di fikir kan tuan nhai kemungkinan tidak akan berdampak pada tuan kim .lihat saja pengawal nya ada di mana mana" kata carl "kau benar pertama kali aku datang ku fikir mereka itu keluarga nya ternyata pengawal nya" kata eun.


"Tidak masalah tidak masalah jika carl tidak mau memberitahu ku" kata nhai "aku akan cari tau sendiri akan ku hancurkan kau kim" kata nhai di rumah nya.


Di taman..


Eun menyentuh bunga mawar "aku baru tau banyak bunga di sini" kata eun "ya ampun... Kau ngapain aja di sini? " tanya carl "aku baru mengelilingi dalam rumah nya itu pun belum sepenuhnya" kata eun "eun.. Apa kau.. Apa kau menyukai tuan kim? " tanya carl eun terdiam lalu berdiri dan menatap carl "untuk saat ini aku tidak memiliki perasaan apapun pada nya tapi ku rasa" kata eun "aku harus mencoba nya, aku harus belajar mencintai nya " kata eun "apaan belajar mencintai? " kata carl "meskipun awalnya aku takut namun aku memberanikan diri untuk kembali mencintai seseorang lagi, ku harap kedepan nya akan lebih baik semoga saja dia tidak melakukan apa yang kak ai lakukan pada ku" kata eun "jika kau sudah yakin maka aku akan mendukung mu" kata carl.tiba tiba carl mematung melihat seorang wanita yang sedang memberi makan ikan "dia.. Dia siapa? " kata carl "dia rei asisten rumah tangga" kata eun "rei.. Bukan kah aku meminta mu untuk tidak melakukan apapun " eun menghampiri rei "iya nona tapi rasa nya aneh jika aku tidak melakukan kebiasaan ku" kata rei "carl ini rei" kata eun "rei ini sahabat ku carl" kata eun "halo" kata carl sambil mengulurkan tangan "uh.. Tangan ku kotor" kata rei "tidak papa tangan ku juga kotor habis ke sana tadi" kata carl "oh baiklah Hai aku rei salam kenal" kata rei "salam kenal juga" mereka berjabat tangan "rei biar aku yang memberi makan ikan nya kau bisa lakukan yang lain" kata eun "baik lah" rei pergi "oh ya ikan seperti ini bisa di--" eun menatap carl yang senyum senyum menatap rei pergi menjauh "carl!! Helo.. Kau jangan jangan" kata eun "oh.. Iya iya apa apa apa pa.. Ap.. Apaan" carl salah tingkah. eun tertawa "ya ampun untuk pertama kalinya aku melihat mu begini" kata eun "apa sih? " kata carl "kau suka rei ya" kata eun "ti..ti..tidak" kata carl "kenapa kau jadi salah tingkah muka mu juga merah hayoo... Ngaku" kata eun "jangan begitu aku jadi malu eun" kata carl "kau suka rei kan akan aku teriakan" kata eun "tidak tidak hei eun jangan begitu" kata carl "mungkin ini yang di bilang cinta pandangan pertama" kata eun "eun.. " wajahnya carl semakin bertambah merah "hahahaha... " eun tertawa senang melihat wajahnya carl seperti udang rebus.


Arrayan membuka sebuah kotak. dan terlihat isi kotak itu adalah senjata "ini lebih ringan akan aku coba" kata arrayan "tap"patung manekin berlobang " ya ampun dia sama sekali tidak mengeluarkan suara"kata arrayan "kim harus tau ini" kata arrayan.


Di ruang kerja kim..


Suara jari kim terdengar di dalam ruangan itu. dia sedang mengetik sesuatu "halo" kata kim "tuan bagaimana dengan iklan promosi yang waktu itu gagal kita buat? " tanya deon "aku sudah menyelesaikan nya kau tinggal siapkan saja yang lain untuk orang yang mempromosikan nya nanti akan ku lihat" kata kim "oke tuan" kim mematikan telpon namun baru saja di matikan ponselnya kembali menyala "halo kim.. Yeah.. Kau tau tuan ryu mengirim banyak senjata dan senjata ini sama sekali tidak mengeluarkan suara saat di gunakan" kata arrayan "ku harap kau bisa memakai nya dengan baik" kata kim "oh pasti " kata arrayan "aku tidak mau kegagalan ! pria itu harus ada di depan ku" kata kim sambil mematikan telpon dia menutup laptop nya.


Carl melambaikan kedua tangan nya "bye bye eun.. Semoga cepat membaik " kata carl "bye bye hati hati ya" kata eun carl masuk ke dalam mobil kemudian pergi .


"Tuan kim" eun melihat kim baru keluar dari ruang kerja nya "sudah pergi? " tanya kim "carl baru saja pergi dia membeli beberapa camilan untuk kita aku meletakkan nya di bawah " kata eun "kau mau kemana? " tanya kim "ke kamar mengambil laptop, kau sudah selesai? " kata eun "belum" kata kim "oh ya soal produk dari perusahaan mu kami sudah mengerjakan nya tadi, nanti aku kirim oke" eun pergi.


Malam harinya..


Kim masuk ke dalam kamar setelah selesai makan namun eun tidak terlihat "eun" kata kim "iya.. Aku di sini" kim segera berjalan membuka pintu ruang tamu mini yang ada di kamar nya "kau sedang apa? " tanya kim "merapikan kerjaan" kata eun.


Sementara itu di tempat lain

__ADS_1


"Bruagg"ken jatuh " dia masih hidup!! Dia akan membongkar semua nya"kata milthon "kau hanya membunuh seorang gadis reporter saja tidak bisa" kata milthon "ternyata anak buah ku lebih berguna ya walaupun sedikit" kata axzon "tuan ampun tuan.. Saya benar benar sudah memberinya racun" kata ken "tapi dia masih hidup!!! " kata milthon "tenang milthon.. Aku punya ide cemerlang" kata axzon "apa ide mu? " kata milthon dengan tatapan kejam nya "acara tuan Arthur sebentar lagi kita datang dan meminta pada nya untuk membawa seorang reporter agar perkembangan bisnis nya tersiar ke mana mana namun itu bukan tujuan kita, tujuan kita adalah menghabisi gadis reporter itu saat dia datang ke acara nya" kata axzon "tidak buruk" kata milthon .


Eun menatap kim "coba lihat hasil nya" kata eun "minuman terbaru yang mengandung ekstra bunga mawar dan juga campuran buah segar" kim menatap video yang ada di laptop eun "berita nya akan terbit besok carl akan mengabari mu" kata eun "ini sangat bagus" kata kim "iya lah siapa dulu yang buat" kata eun "aku akan kembali ke ruang kerja kau minum obat mu dan tidur lah" kata kim "kau lembur? " kata eun "iya" kata kim "oh.. Oke" kata eun "minum sekarang" kata kim "sekarang? " kata eun "jika aku melihat nya aku akan sangat tenang" kata kim "hum" eun berdiri mengambil obat nya kim hanya menatap nya "gluk gluk" eun meminum obat nya "bagus lah" kim langsung berdiri "dia gak ngantuk saat lembur? apa ya rahasia nya? Aku aja kalau gak ada camilan saat kerja haduh langsung ngantuk" kata eun.


Keesokan harinya..


Yuda menatap vivian "ku rasa bukan cuma aku yang merasa carl aneh" kata vivian "aku juga" kata Yuda "ya ampun.. Dia benar-benar membuat ku tidak tenang" kata carl "apa menurut mu dia ada masalah" bisik Yuda "ku rasa dia di marahi pria brengsek itu" kata Yuda "aku ingin melihat nya lagi" kata carl "Hai carl kau kenapa? " tanya petir "aku mau ke sana la--" carl langsung terdiam "tidak papa" kata carl dengan cepat "aku tau kau sedang jatuh cinta kan? " kata petir "tidak kok" kata carl "ini karena aku terlalu bersemangat" bantah carl "aku tidak yakin " kata vivian, muka carl kembali merah "ayolah carl jangan buat orang penasaran" kata vivian "tapi janji jangan kasih tau eun" kata carl "haa jangan jangan kau suka eun" kata Yuda "bukan!! Tapi gadis ikan" kata carl "gadis ikan? " kata petir "mermaid? " kata vivian "kok mermaid sih? Bukan dia manusia kok" kata carl "kau bilang gadis ikan" kata petir "dia pemberi makan ikan" kata carl "oke oke dari pada ribet kasih tau aja foto nya" kata Yuda "gak ada gak aku belum sempat memfoto nya, aku udah gugup" kata carl "ya ampun dia jatuh cinta" kata vivian.


Eun membuka mata nya melihat tidak ada kim di samping nya "nona sarapan sudah siap" kata rin "oh iya" eun pergi mandi.


Kim mengambil ponsel nya "rei pastikan eun meminum obat nya pagi ini" kata kim "siap tuan" kata rei.


Eun duduk di meja makan "di mana tuan kim? "Tanya eun " tuan masih berada di ruang kerja nona"kata hansen "dia tidak sarapan? " tanya eun "tuan bilang dia akan makan nanti" kata hansen "nona jangan lupa minum obat" kata rei.


Siang hari...


"Tuk" bola kecil melayang di udara "tuk"lalu kembali di pukul " ayo lagi"kata eun "siap nona" kata leo sambil memungut bola tenis yang jatuh di lantai "bisa main tenis meja di sini tau gitu aku kan gak perlu keliling keliling" kata eun dalam hati.


Di kantin


Malam harinya..


Eun berdiri di depan pintu ruang kerja kim "tuan kim!! " eun mengetuk pintu "tuan kim" kim mendengar suara eun dari luar "buka pintu " kata kim "griitt" pintu terbuka eun langsung masuk ke dalam, ruangan itu begitu luas dan penuh dengan dokumen dokumen yang tersusun rapi eun terus berjalan sampai melihat kim duduk di depan laptop nya "ada apa? " kim masih mengetik "kau masih kerja" eun menatap kim "iya" kata kim "kau tidak lapar? Kau bisa istirahat sebentar setidak nya untuk makan" kata eun "iya nanti" kata kim tanpa menatap ke eun "aku bisa mengambil kan makanan untuk mu kau mau makan apa? " tanya eun. kim berhenti sejenak dia menatap ke arah eun "ya sudah lah kau bisa lanjut aku akan ke kamar" kata eun "tap" kim menarik tangan eun "jika aku melihat mu aku tidak menginginkan apapun lagi" kata kim sambil melingkar kan tangan nya di pinggang eun yang sudah ada di pangkuan nya "kau tidak waras kau berkerja tidak tau batasan kau bisa sakit jika tidak makan" kata eun "kau perhatian pada ku apa itu tanda nya kau sudah mencintai ku? " tanya kim "aku hanya tidak mau kau sakit" kata eun "aku akan buatkan roti sandwich untuk mu" kata eun "tidak usah" kata kim sambil mencium tangan eun "apa itu masih lama? " eun menatap laptop kim "sebentar lagi" kata kim "kala begitu selesaikan lalu pergi makan aku akan membuatkan mu makanan di dapur" kata eun "kalau aku minta yang lain? " tanya kim "kau mau makanan apa? " tanya eun "bukan makanan seperti itu" kata kim "oke buah? Kue? " kata eun "aku ingin memakan mu" kata kim "boleh? " kata kim sambil mengusap rambut panjang eun dan mencium wajah eun "tuan kim aku sedang serius tapi kau malah bercanda" kata eun "aku akan selesai secepatnya jika aku memakan mu di kamar" kata kim "haah.. Aku mengerti jangan jangan" kata eun dalam hati "kau mau memakan ku.. Itu arti nya kau akan melakukan hal seperti waktu aku datang ke sini? " kata eun kim tersenyum "iya aku benar benar lapar sekarang" kata kim eun mau berdiri tapi kim menahan nya dengan erat "aku tidak mau" kata eun "waras lah sedikit tuan kim" kata eun "hum.. Baik lah " kata kim "jadi kau ingin makan apa? " kata eun "tidak berubah" kata kim "apa? Tidak berubah" kata eun "jika tidak ya tidak papa aku tidak makan apapun kecuali dirimu" kim mengetik dengan tangan kanan nya "tuan kim aku akan pergi" kata eun "kenapa? " tanya kim "kau sekarang terlihat sangat menakutkan" kata eun "karena aku ingin memakan mu? " kata kim "iya" kata eun "iya arti nya setuju kan? " kata kim "hum.. Aku tidak mengiya kan kemauan mu tapi mengiy-" kim mencium bibir eun "biarkan hari ini aku memakan mu" kata kim "lihat pekerjaan ku" kim menunjuk sebuah tumpukan kertas "masih banyak jadi membuat ku tidak ingin apapun lagi jadi sekarang aku hanya ingin memakan mu" kata kim "baik lah" kata eun kim tersenyum "tunggu lah di kamar" kata kim sambil melepaskan eun kim segera mengambil ponselnya "deon sisa nya ku serahkan pada mu" kata kim.


Di dalam kamar..


"Mati aku kenapa aku bisa terjebak" kata eun "tap tap" kim masuk ke dalam kamar "vivian telpon aku" eun mengirim pesan ke vivian "kenapa yang lain pada gak bisa di telpon" fikir eun.


"Yeaah.. Masuk dong" kata Yuda yang sedang asik bermain bola di pasar malam "cuma segitu aku juga bisa" kata vivian "heleh gak masuk" kata Yuda "kalian ini seperti anak anak" kata petir "lihat lihat aku ajarin main nya" kata carl.


Kim mendekati eun memegang dagu eun dengan lembut "dag dig dug cuy" kata eun dalam hati "kau tidak takut kan? " kata kim "kenapa kau membawa minuman? " tanya eun "ini buat makanan semakin enak" kata kim sambil perlahan membuka pakaian eun "tuan kim" kata eun "sstt" kim mengambil minuman yang di bawa "kau mau apa? " tanya eun kim menyiram kan minuman itu ke leher eun yang memakai baju dalam "tuan kim" kata eun "sstt" kim menunduk menjilat minuman di leher eun "ini sangat manis" kata kim "uhh" eun memejam kan matanya ketika kim asik menyeruput minuman yang di tumpah kan ke tubuh eun "uhh.. Tuan kim" kata eun kim menatap eun "dingin? " tanya kim "I..iya" kata eun "uhh" eun kembali memejam kan matanya sementara kim menjilati minuman itu "ahh.. Kau" eun meringis kim tersenyum "kau mengigit ku" kata eun kim membaringkan tubuh eun "slurup.. Slurup" eun meremas sprai ranjang "crek"eun menatap tangan kirinya " tuan kim kenapa kau memborgol ku aku tidak ma-umm"kim mencium bibir eun "tuan kim" kata eun "tidak perlu takut" kata kim "uhh" eun melihat madu di letakan di tubuhnya "ini akan sangat leng--uuhh" eun meringis kim menjilati madu itu baju dalam eun telah basah kim membelai nya dengan lembut dan perlahan menyingkirkan baju dalam itu kim menatap tubuh eun dengan detail lalu mulai mengerakan tangan nya untuk menyentuh semua nya "tuk" tali pinggang kim jatuh ke lantai.kim menyeringai sambil memainkan jarinya ke tubuh eun perlahan membungkuk menghiap sisa sisa madu di tubuh eun "ah.. Tuan.. Kim.. Uhh.. Pelan.. Ahh.. Tuan.. Kim.. Uhh.. Uh.. Ahh.. Kau. Menyakiti.. Ku" kata eun sambil mencoba mendorong kim "ahh... Ahkk.. Ah.. " eun menatap kim yang menatap ke arah nya kim tersenyum mengusap wajah eun dan perlahan kembali bergerak "ahh... " eun meringis sementara kim tersenyum "terimakasih sudah hadir dalam hidup ku" kim menahan tangan eun "uhh" kim terus bergerak sambil menciumi eun dengan semangat "ahhh.. Ahhak.. " eun memejam kan matanya berkali kali kim mengigit nya tiba tiba "aku akan memelan kan untuk mu" bisik kim "ah.. Tuan kim" tangan kiri yang di borgol kim meremas bantal dengan kuat "hah.. Hah.. Hah" kim mengusap rambut eun dengan nafas tersengal sengal "aku mencintaimu eun" kata kim sambil memegang tangan eun kembali "jangan sakiti aku" kata eun "tidak akan" kim mencium eun sambil kembali bergerak semakin cepat dan cepat .


Di pasar malam..


Petir terlihat duduk di kursi "ayo yang ini yang ini" kata vivian "tidak yang ini pasti" kata Yuda "hei ayo pulang ini sudah malam loh" kata petir "pulang sana!! " seru carl, Yuda dan vivian "apa? " kata petir.

__ADS_1


"Greet" eun menatap kim "tolong jangan aneh aneh" kata eun ketika kim mengikat tangan nya "uhh.. Tuan kim" eun menatap kim yang memainkan jarinya ke tubuh eun "aw" kim meletakkan es batu ke atas tubuh eun kemudian memainkan es batu tersebut "tuan kim aku... Aku.. Ah.. Aku tidak kuat ini terlalu ah.. Dingin" kata eun kim mengambil es itu dengan mulutnya kemudian memasukan ke mulut eun "kau wangi sekali" kata kim eun menatap kim yang ada di atas tubuh nya "apa yang mau kau tanyakan? " kata kim "apa kau pernah melakukan hal seperti ini pada gadis lain? " tanya eun "tidak" kim menggeleng kan kepala nya "pertama kali dengan mu saat aku di beri obat perangsang" kata kim "ahh.. Berhenti menggigit ku" kata eun kelihatan tangan kim tidak bisa diam terus bergerak menyelusuri tubuh eun "ahh.. Ah.. Tuan kim" kata eun "maaf" kata kim sambil mengusap keringat di wajah eun kim kembali bergerak sambil memainkan jari nya "au... Uh.. " eun meringis kim menutup mulut eun dengan mulut nya "aku suka mendengar suara mu" kim mencium leher eun dengan gairah yang sangat besar "jari mu tidak bisa diam" kata eun dengan suara yang sangat pelan "kenapa? " bisik kim "itu membuat ku geli" kata eun kim tersenyum dan semakin terus memainkan jarinya "ah.. Uh.. " kim menatap tubuh eun sambil terus bergerak "sshhh... " kim mengusap usap dada eun "tuan kim" kata eun "sebentar lagi" kata kim "ahh... Ah... " air mata eun terlihat mengalir dari sudut mata nya"terus lah berteriak " kata kim "ah.. Ah.. Tuan kim.. Ahh.. Ahh.. " eun meremas bantal di atas nya "uummck.ummm.. Ummck" kim memainkan lidah nya di dada eun "ahh.. " eun terkejut kim bergerak dengan sangat kuat tiba tiba "tarik nafas mu" kata kim "hah.. Hah.. Hah. Kau menghentak ku" kata eun "apa itu sakit? " tanya kim "iya" kata eun "muach maaf ya" kata kim pada tubuh bagian bawah eun, "uhh.. " eun melihat kim mengusap usap tubuh bagian bawahnya "sudah tuan kim" kata eun "masih sakit? " kata kim eun menggelengkan kepala nya "ahh.. " kim kembali bergerak "kau seperti model" kata kim "bicara apa kau" kata eun "auhh.. Uh.. " kim memainkan gumpalan daging di dada eun "aku ingin kau mendesah lebih kuat" bisik kim "gila" kata eun "ahh.. Uhh.. Tuan kim.. Ah.. Berhenti ahh" kata eun namun kim tidak berhenti bergerak "ahh.. Ahh.. Tuan kim.. Ahh.. Ku mohon" kata eun "aku tidak dengar" kata kim "ku mohon... Berhenti ahh.. Ahhhkhh.. Ahh. Ahhhh tuan..kim..ahhh akkhh" dada eun naik turun kim tersenyum "kau benar-benar menyiksa ku" kata eun "maaf aku terlalu senang" kim menarik selimut "kau ingin mandi? " tanya kim "iya tubuh ku lengket karena ulah mu" kata eun "mandi bersama? " kata kim "apa? Tidak mau" kata eun namun kim malah mengangkat tubuh nya "tuan kim tidak mau" kata eun. pintu kamar mandi di tutup kim menarik selimut yang di bawa eun kemudian menyalakan air kim tersenyum melihat eun menutupi tubuh nya "kau mau ku mandikan? " tanya kim "tidak" kata eun kim pergi ke toilet eun segera naik ke bath up menutup pembatas mandi kemudian menyalahkan shower "sraakk" kain di buka "tuan kim!! " eun langsung duduk "aku juga ingin mandi" kata kim "apa kau tidak malu! " kata eun "kau tidak akan bersih bila mandi seperti itu ayo" kim menarik eun untuk berdiri, kim mengambil sabun "aku bisa--" kata eun "diam lah" kata kim "lagi lagi dia membuat ku merasa malu" kata eun dalam hati "berbalik lah" kata kim "tuk" eun menatap spon mandi jatuh ke lantai "tuan kim? " eun terkejut kim memeluk nya "aku masih sangat lapar" kata kim "apa? Tidak tidak tuan kim" kim mencium eun "tuan" kata eun kim mengangkat tubuh eun "sebentar saja" kata kim "kau.. Ahh.. Uh.. " eun memeluk kim "ahh" kata kim "ini yang ku uhh..takut kan kalau man-- uh.. Mandi dengan mu" kata eun "pegang lah aku" kata kim sambil membuat hentakan lebih kuat "ahh" eun mencekram punggung kim "tuan kim.. Tuan kim berhenti ahh.. " eun menggigit leher kim "ahh" kim menatap eun "aku benar-benar lapar" bisik kim eun menempel tangan nya ke dinding yang terbuat dari kaca karena menahan hentakan tiap hentakan dari kim "aku juga.. Lapar" kata eun "kalau begitu bagaimana sampai pagi? " kata kim "dasar tidak waras aku benar-benar lapar ingin makan sesuatu" kata eun "ahh.. " kim kembali tiba tiba membuat hentakan yang sangat kuat "kau bilang apa? " tanya kim "kau tidak.. Ahh... Tuan kim" kata eun "aku masih kuat menahan mu" kata kim "aku" eun memeluk kim dengan erat "biarkan aku bernafas" kata eun .kim membuka pembatas "mau kemana? " tanya eun "ke dalam bath up" kata kim sambil berjalan meletakkan tubuh eun "tuan kim jujur aku takut" kata eun sementara kim kembali memainkan jari jemarinya "takut? " kim mencium wajah eun "aku belum pernah melakukan hal seperti ini apalagi saat kau pertama kali melakukan nya pada ku aku benar benar seakan akan kehilangan dunia ku" kata eun "ini dunia mu tidak ada yang perlu kau takuti" kata kim sambil mengangkat sedikit tubuh eun. "Grebb"eun memegang pinggiran bath up " ahh.. Ahh"kim kembali mendesah sambil memainkan jarinya "au" eun merasakan jari kim ada di dada nya "ahhh.. Ahhakhh.. Ahhh" eun dan kim saling tatap kim memeluk eun "jangan pernah berniat pergi dari ku ya" bisik kim.


Keesokan harinya..


"Kau sudah bangun? " tanya kim "uh..? " eun melihat sekeliling nya "singkirkan tangan mu! " kata eun "haaaching! " eun bersin "kau tidak berangkat kerja? "Tanya eun


"Aku akan berangkat nanti" kata Kim "uhuk.. Uhuk" eun pergi ke kamar mandi "uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. " eun mengunci pintu kamar mandi "uhuk.. Uhuk.. " eun menatap cermin di depan nya "apa??? " eun meraba leher nya terlihat di cermin leher nya penuh dengan tanda merah "uhuk.. " eun memegang perut nya "eun" Kim mengetuk pintu


"Iya sebentar" eun merasa sangat mual "eun buka pintu nya" desak Kim "eun kau baik baik saja? Eun!! " kata Kim ,pintu terbuka "kau baik baik saja? " tanya Kim "aku" eun jatuh pingsan "eun.. Eun" Kim mengangkat tubuh Eun.


Dokter menatap Kim yang berdiri di sebrang ranjang "apa yang terjadi? " kata Kim "tuan Kim racun di tubuh nona Eun belum semua nya hilang dan ini menyebabkan nona Eun terkadang merasa sakit di tambah lagi nona Eun terlalu kelelahan jadi untuk saran jangan biarkan nona Eun melakukan apapun" kata dokter "kapan racun itu bisa hilang? " tanya Kim "masih butuh beberapa hari lagi dan pastikan apa yang nona Eun makan makanan yang benar-benar bersih " kata dokter tak lama kemudian dokter pergi. Kim duduk di samping Eun sambil mengusap kepala Eun "akan ku pastikan mereka mati di tangan ku" kata Kim "hum? " Eun membuka mata nya "tuan Kim? " kata Eun "Eun " Kim menatap Eun "siapa yang mati? " tanya Eun "hum... Tidak ada" kata Kim "bagaimana kondisi mu" kata Kim "kau jangan kemana mana aku akan ambil kan makanan untuk mu" Kim pergi Eun duduk "aku tadi seakan akan mendengar tuan Kim sedang marah tapi pada siapa ya" fikir Eun "Eun makan lah dulu baru minum obat dan vitamin " Kim datang dengan membawa makanan "tuan Kim " kata Eun "iya" kata Kim "kau bisa pergi kerja aku akan makan obat nya" kata Eun "tidak aku sudah memutuskan tidak ke kantor aku akan di sini" kata Kim "kenapa? " kata Eun "Apa aku harus meninggal kan mu di saat kau begini" kata Kim sambil membuka botol obat "apa dia benar-benar mencintaiku? " fikir Eun "jangan menatap ku " kata Kim "dengar tuan Kim aku tidak papa sendirian" kata Eun "kau ingin makan sendiri atau aku harus mengambil nya untuk mu? " kata Kim Eun menatap makanan di depan nya perlahan menggerakkan tangan nya dan mulai makan "kau makan lah bersama ku? " kata Eun sambil menatap Kim Eun mengambil sepotong daging lalu memberikan nya ke Kim "ayo makan" kata Eun Kim memperhatikan wajah Eun sambil membuka mulut nya


Eun tersenyum sambil lanjut makan dan menyuapi Kim "apa kau akan kerja dari rumah lagi? " tanya Eun "kenapa? " kata Kim "jangan lupa istirahat" kata Eun "ku fikir kalau kau kerja kau tidak pernah istirahat " kata Eun ,Kim menatap Eun lalu perlahan tersenyum dan mengusap rambut Eun dengan lembut "aku akan istirahat nanti" kata Kim sambil memasukan obat ke mulut Eun "istirahat lah agar kau pulih dengan cepat" kata Kim setelah mencium kening Eun dia langsung pergi keluar kamar.


Eun berdiri melihat pemandangan dari teras kamar nya sinar matahari menyinari wajah nya "apa yang aku fikir kan? Perhatian juga belum tentu dia benar benar cinta aku" kata Eun.


Di tempat lain


Seorang pria terlihat duduk santai sambil menyalakan rokok nya "itu ide bagus tuan tuan terimakasih" kata pria itu "sama sama tuan Arthur oh ya saya juga ada saran seorang reporter hebat yang tidak kenal takut" kata milthon "benar kah? " kata Arthur "ya nama reporter itu Eun" kata milthon .


"REI" kata Eun "iya nona" kata Rei tiba tiba dia terdiam melihat leher Eun "malam ini aku akan masak kalian tidak perlu membantu" kata Eun "tapi nona" kata rei "aku akan bilang pada tuan Kim" kata Eun "baik lah nona kami akan lakukan hal lain" kata rei "oh ya rei" kata Eun "iya nona" kata rei "apa kau sudah punya pacar? " tanya Eun "hm?? " rei tersenyum "nona.. Aku jadi malu ingin menjawab nya" kata rei "jika kau tidak punya pacar lain kali temani aku bertemu seseorang karena jika kau punya pacar aku takut pacar mu marah jika kau pergi dengan ku" kata Eun "oh.. Aku selalu siap menemani mu nona" kata rei "pergilah antar minuman ini untuk tuan Kim aku akan masak" kata Eun.


Malam harinya...


Terlihat di sebuah ruangan ada foto Eun "gadis ini benar-benar bahaya " kata seorang pria "dia mengetahui dan memegang banyak bukti kasus dan juga kasus yang menyeret nama tuan milthon" kata pria itu yang tak lain adalah axzon "tugas kita saat acara di mulai adalah mengincar nya dan membunuh nya" kata axzon "baik tuan" kata yang lain "setidaknya jika dia mati kita semua akan aman" kata axzon.


"Tap" Kim meletakkan ponsel nya setelah mendengar informasi kalau Eun akan ada di acara tuan Arthur yang akan dia datangi "bagaimana ini? " fikir Kim "ini arti nya Eun dalam bahaya" kata Kim.


Eun duduk di meja makan "dia bilang akan tau waktu istirahat apaan? Jam segini saja dia belum keluar menyebalkan" kata Eun "apa aku terlambat? " Kim datang "sangat terlambat ayo cepat makan" kata Eun "bagaimana cara nya agar Eun tidak datang ke acara itu? " fikir Kim "tuan Kim kenapa menatap ku begitu?"tanya Eun " aku ada salah? "Tanya Eun " hum.. Tidak ingat jangan lupa minum obat nya "kata Kim " aku tidak akan membiarkan Eun pergi! aku harus cari cara"fikir Kim.


Arrayan menepuk dahinya "apa kau bilang? Bagaimana cara nya? Hei Kim wajar gak sih kan Eun mu itu seorang reporter ya pasti akan menerima undangan kapan saja mungkin tuan Arthur meminta Eun untuk membuat berita tentang acara yang di buat pasti gak akan bahaya untuk nya" kata arrayan "bahaya lawan dan teman kita tidak tau bahaya akan terjadi kapan saja jika untuk ku aku akan Terima tapi tidak untuk eun" kata Kim "bagaimana cara nya? " kata arrayan ade mendekati arrayan "ada apa sayang? " tanya ade "tidak papa" kata arrayan "fikir kan cara agar Eun tidak datang" kata Kim.


Arrayan meletakkan ponselnya "apa ada tugas dari bos mu? " kata ade "tidak kok.. " kata arrayan "jujur aku selalu kawatir kalau kau sedang bicara di telpon.. Aku kawatir akan ada bahaya yang datang pada mu .bisakah aku minta kau berhenti melakukan pekerjaan mu? Tuan ryu itu mafia " kata ade "jangan kawatir jika ada kesempatan aku akan langsung mengatakan nya pada tuan ryu" kata arrayan "aku mendengar nama Eun tadi" kata ade kemudian arrayan menceritakan semua nya "apa Eun tau siapa Kim? " tanya ade "tidak Eun tidak tau kalau Kim adalah seorang mafia" kata arrayan "tapi ini bahaya juga kemungkinan musuh kim ada di sana arti nya Eun juga dalam bahaya" kata ade "maka dari itu aku juga bingung bagaimana agar Eun tidak ke sana" kata arrayan "aku tau bagaimana kalau kau berpura-pura datang dan membutuhkan jasa Eun ke kantor" kata ade "oh ya kau benar juga" kata arrayan.


Kim masuk ke dalam kamar terlihat Eun sudah tidur dengan pulas dengan laptop masih menyala di samping nya, Kim berjalan mengambil laptop itu "nonton tapi malah tidur" kata Kim sambil meletakkan laptop Eun ke atas meja "eh?? " Kim tak sengaja menekan beberapa tombol terlihat sebuah dokumen berita tentang perdagangan senjata dan barang terlarang yang di dalangi oleh milthon Kim langsung menatap ke arah Eun yang masih tidur "aku tau sesuatu sekarang" kata Kim sambil mengepal kan kedua tangan nya "ini pasti ulah mu".

__ADS_1


__ADS_2