gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
pindah ke apartemen baru


__ADS_3

Suasana malam di luar tidak terlalu terang vivian memperhatikan kondisi di luar melalui jendela di lantai dua "duuh.. Kemana eun kok belum pulang" fikir vivian. Kim memperhatikan eun di dalam mobil "kau masih menangis? " tanya kim "tidak kok" kata eun "yang benar saja? " kata kim dalam hati mobil berhenti kim keluar dari mobil di susul eun .


Eun menatap kim yang kembali memakai kan jas nya ke tubuhnya "ayo" kata kim "vivian!! " eun menekan bel "vivian!! " kata eun "iya iya sebentar" vivian segera berlari membuka pintu "eun kenapa mata mu merah? " tanya vivian "tidak papa" eun berbalik melepaskan jas yang ada di tubuhnya "ini jas mu" kata eun. Sambil memperhatikan wajah eun kim mengambil jas itu dari tangan eun "kau baik baik saja? " tanya kim eun menganggukkan kepala nya "sudah malam lebih baik kau pulang" kata eun anak buah kim datang membawa barang barang yang mereka beli tadi "milik mu" kata kim "tunggu! " ucap eun "aku tidak mem--" kata eun "kelihatan nya kau menyukai nya jadi aku membeli nya untuk mu pergilah tidur" kim pergi "eun kau benar-benar tidak papa? " tanya vivian "iya" eun mengambil salah satu tas "ini untuk mu" kata eun "untuk ku? " tanya vivian "iya" eun mengangguk "tadi aku di jalan bertemu idola mu dia sedang konser jadi aku ingin memfoto dan merekam untuk mu tadi hasil nya tidak bagus tapi jangan kawatir tuan kim ternyata menyuruh anak buah nya untuk merekam semuanya untuk mu kamera nya ada di dalam tas itu berserta barang barang yang berkaitan dengan konser idola mu" kata eun "ya ampunnn.. Terima kasih eun kau tidak perlu repot repot uh.. Tapi seandainya aku punya cukup uang aku akan ke konser nya" kata vivian "aku mengantuk bisa tidur? " kata eun "bisa kenapa kau bertanya ma bisa tidur kapan saja kau mau tidur dengan ku atau mau di kamar lain? " tanya vivian "aku tidak ingin mengganggu tidur mu aku akan tidur di kamar lain good night".


Malam yang hening tidak ada suara sedikit pun yang terdengar eun berbaring di atas ranjang sambil memeluk bantal air matanya terlihat mengalir kembali " selintas aku bisa tenang tidak ingat apapun tentang mu namun semesta membuat ku kembali teringat dengan mu"isak eun dia terisak menangis tanpa mengeluarkan suara.


Pagi hari yang cerah..


Eun menatap kertas yang dia pegang "bisakan? " tanya Eliezer "bisa pak" kata eun "iya bisa lah ini" kata carl "aku serah kan tugas ini ke kalian" kata Eliezer "kami menerima nya pak" kata carl.


"Ha kami mau pergi dulu " kata eun "pergi ke mana? " tanya petir "mengambil berita di sini" eun menunjukan kertas yang dia pegang "oke deh hati hati ya" kata vivian "hum vivian aku akan kembali ke rumah mu bisa pinjam kunci " kata eun "jangan bilang kau mau pindah sekalian? " kata vivian "iya " kata eun "tempat ini dekat dengan apartemen yang aku bilang itu" kata eun "oke deh ini hati hati ya" kata vivian.

__ADS_1


Eun dan carl menatap apartemen yang ada di hadapan mereka "wah.. Ini besar banget" kata carl "ya aku tidak tau uang ku cukup atau tidak tapi semoga saja cukup " kata eun "tenang ada aku" kata carl mereka berdua pun masuk "aku ingin menyewa satu kamar " kata eun "untuk berapa lama? " tanya wanita di depan nya "untuk satu tahun" kata eun "oke anda mendapatkan kamar di lantai empat ini kuncinya silahkan scan di sini pembayaran nya" eun mengangguk "eun kenapa sedikit banget satu tahun? " tanya carl "kan nanti bisa di perpanjang aku harus kerja dulu cari uang untuk itu" kata eun "ting" pintu lift terbuka "nomor tiga puluh " kata eun "ini eun" kata carl "oh iya" kata eun sambil menempelkan kartu di depan pintu mereka masuk ke dalam saat pintu sudah terbuka "lumayan kan tapi luas ini sih ketimbang apartemen indah gemilang" kata carl "tapi apartemen xie juga bagus" kata eun dua pria datang membawa barang barang milik eun "nanti aku rapikan ayo kita kerja" kata eun "kau yakin nanti merapikan nya? " tanya carl "iya aman tuh buat kerjaan kalau di malam hari" kata eun "oke deh" kata eun.


Di sebuah tempat


"Kim menghabisi semua nya" kata mark "benar tuan kami gagal " kata ken "KAU BILANG APA? " pria bertubuh besar dan Berkulit putih itu menatap pria di depannya "kami gagal tuan" kata ken "karena kim tiba-tiba datang saat itu padahal kami hampir menang anak buah arrayan habis 90%tuan" kata ken "kim" pria itu terlihat benar-benar marah "tuan ada tamu datang" kata isti "siapa? " tanya pria itu "tuan axzon dan anak buahnya " kata isti "suruh masuk" kata pria itu tak lama kemudian datang segerombolan orang "ya milthon apa kabar kawan" axzon duduk berhadapan dengan milthon "angin apa yang membawa mu sampai ke tempat ku? " tanya milthon "angin pertemanan" axzon tersenyum "ku fikir kau datang untuk mengejek ku" kata milthon "kenapa? " tanya axzon "kim juga menghabisi delapan puluh persen orang orang ku kau lihat sendiri sisa nya " kata axzon "aku rasa nya ingin membunuh nya" kata milthon "itu tidak mudah karena ryu ada bersama nya namun jika kita lawan dia sendiri kemungkinan kita akan menang" kata axzon "jika dia kita serang di markas ryu kemungkinan pasukan kita yang tersisa akan musnah" kata axzon.


Carl tersenyum sambil merekam sekeliling nya "eun jangan ke sana kita belum dalam narasumber" kata carl "tapi rasa nya aku ingin melompat" kata eun "eh tunggu" eun menghampiri seorang pria muda "Hai kakak nama nya siapa" kata eun "calvin" kata calvin "oh ya ka Calvin bisa minta waktu nya sebentar? " tanya eun "hum ya sebentar kan? " kata calvin "iya kak calvin bisa lihat tempat itu bagaimana tanggapan anda mengenai tempat wisata yang baru di tutup ini? " tanya eun "hum.. " calvin terlihat sedang berfikir "karena itu pantas" kata calvin "kenapa kak calvin merasa tempat wisata ini pantas di tutup apa karena keamanan nya ya.. Karena tempat ini selalu memakan korban jiwa" kata eun "iya itu karena masalah keamanan nya masa tempat sebagus ini keamanan nya minus mana makan korban jiwa lagi" kata calvin "saran kak calvin buat tempat ini apa? " kata eun "saran sih mending tutup aja selamanya jika tidak aman" kata calvin "oke terimakasih ya kak atas waktu nya. Baik tempat indah di belakang ini adalah tempat wisata terpopuler nomor lima namun kali ini harus benar-benar di tutup karena beberapa laporan mengenai tempat ini yang selalu memakan korban jiwa ayo kita lihat" eun berjalan ke arah sebuah wahana seluncuran yang lumayan tinggi "tempat seluncuran ini yang kerap kali memakan korban jiwa membuat tempat ini jadi di tutup sayang banget padahal aku belum coba" kata eun.


"Bagimana tuan kim? " tanya choi dari perusahaan anugrah jaya "aku mau jika seperti yang aku katakan tadi" kata kim "tolong tuan kim naikan kah lah satu tingkat lagi kami benar benar hanya bisa berharap pada mu" ucap siwon "benar tuan" kata Daniel "kalau begitu aku akan menunda nya" kata kim sambil berdiri "oh tuan kim jangan di tunda" kata choi "baiklah sesuai yang Anda minta" kata Daniel "kalian yakin? " tanya kim "yakin" kata mereka "baiklah" kata kim "senang berkerjasama dengan anda" kata siwon "senang berkerja sama dengan anda juga" kata deon sambil berjabat tangan.


Kim duduk di kursi nya deon datang sambil membawa segelas minuman dingin "deon di mana ponsel ku? " tanya kim "di tas anda tuan" kata deon "kau boleh pergi" kata kim deon mengangguk lalu pergi dari ruangan kim.

__ADS_1


Kim mengambil ponselnya menatap ke arah jam "ku rasa sudah jam istirahat" kim menekan ponsel nya.


"Tuk" eun meletakkan sumpit nya dengan buru buru mengambil ponsel nya "pasti vivian" kata Carl "hum?? " eun menatap layar ponsel nya langsung mengheningkan ponsel nya dan kembali meletakkan ponselnya "siapa? " tanya Carl "tuan kim" kata eun "dia masih mengganggu mu ya" kata carl "lupakan" kata eun.


Kim menatap ponselnya "masih tetap tidak mau menjawab telpon ku" kata kim sambil terus menelpon eun.


Malam harinya...


Di dalam kamar nya eun merapikan barang barang nya "akhirnya eh?? Ada lagi? " eun menatap beberapa tas lagi "itukan yang kemarin" eun membuka tas itu isinya baju baju yang dia lihat di toko besar waktu pergi bersama kim "kau suka? " tanya kim "tidak" kata eun tapi entah kapan semuanya sudah di kemas tanpa sepengetahuan eun dan juga aksesoris, tas dan lain-lain nya "ya ampun padahal tuan kim dan selalu ada di samping ku lalu yang mengkemas dan membayar barang barang ini siapa? " fikir eun ponselnya kembali menyala tuan kim kembali muncul di layar ponselnya "hei tuan kim! " kata eun "kenapa kau baru mengangkat telpon ku? " tanya kim "diam biar aku yang bicara dulu" kata eun "barang barang yang kau berikan pada ku kemarin ha--" kata eun "itu memang untuk mu jangan kawatir aku tidak mencuri aku sudah membayar nya" kata kim "aku tidak melihat nya? " kata eun "lain kali akan ku tunjukkkan jika kau tidak percaya" kata kim "tapi kenapa kau membeli sebanyak ini? " eun mengingat harga semua nya "ku rasa aku bayar pakai gaji magang ku pun aku gak akan mampu" fikir eun "ku lihat kau menyukai nya" kata kim "kau selalu saja sok tau! Huh sudah lah aku akan ganti uang mu besok" kata eun "kau fikir aku jualan? " ucap kim "aku tidak berfikir begitu" kata eun "lalu kenapa kau bicara seperti itu? " tanya kim "memang nya salah" kata eun "aku membeli nya untuk mu bukan menjual nya" kata kim "jadi kapan? " kata kim "kapan? Kapan apa? " kata eun "kapan kau tinggal bersama ku" tanya kim "kau masih mau berharap aku tinggal bersama mu? Dengar ya itu tidak akan terjadi" kata eun "itu harus segera terjadi atau aku menjemput mu dengan paksa" kata kim "kau fikir kau siapa? Jika kau macam macam aku akan telpon polisi! Dan satu lagi jangan telpon aku kaya gak ada kerjaan lain" kata eun "aku akan menjemput" eun mematikan telpon nya melirik ke arah jendela "aman kok.. Lagian dia kan gak tau aku tinggal di sini" kata eun.


Kim tersenyum tipis "masih saja kasar" kata kim sambil meletakan ponsel nya dia kembali teringat masa masa jalan bersama eun "entah mengapa aku bisa menyukai gadis seperti itu" fikir kim sambil senyum senyum sendiri teringat eun berkata kalau dia akan mengganti kaca jendela kamar nya "kau harus tinggal bersama ku eun" kata kim.

__ADS_1


__ADS_2