
"AAHHK.. LEPAS.. LEPASKAN AKU!! LEPAS!! " eun terus di tarik "ya.. Ya.. Ya.. Selamat datang nona eun" eun di duduk di sebuah kursi penutup kepalanya di lepas "pak menteri" kata eun " iya nona eun ini aku menteri ekonomi yang mendanai organisasi terorisme ini"kata menteri "pak menteri kenapa? Kenapa kau" kata eun "kau tau karena berita yang kau terbit kan aku jadi di tahan " kata menteri ekonomi itu "kami punya penawaran" beberapa koper di letakan di atas meja depan eun "buat klarifikasi tentang berita yang kau buat itu, katakan kalau itu bohong" kata pria di samping pak menteri
"Lihat uang ini? "
"Nona eun uang ini akan menjadi milikmu tapi lakukan perintah ku"
"Bagaimana nona eun"
"Kau tenang saja kau akan tetap memiliki pekerjaan setelah ini"
"Akan lebih mudah jika kau langsung bergabung juga dalam organisasi ini"
Eun menatap pak menteri dengan tatapan tajam "kau mau membeli ku? Menteri macam apa kau ini? " tanya eun "plakkk!! " eun di tampar dengan keras sampai ada darah yang keluar dari sudut bibir eun "ORANG SEPERTI MU LAH PANTAS DI TAHAN DAN MATI DENGAN MEMBUSUK DI PENJARA!! " kata eun beberapa pria di ruangan itu langsung mengacungkan senjata nya ke arah eun "kau yakin tidak ingin memikirkan ini baik baik" kata menteri ekonomi "aku tidak tertarik dengan uang mu!! Bunuh saja aku!! Kebetulan aku lagi ingin mati!! " kata eun "aku sudah biasa di ancam ataupun ingin di bunuh tapi aku berakhir keluar dalam keadaan hidup!! Kau mau bunuh aku kan? Bunuh saja" kata eun "kau keliatan nya tidak bisa di ajak bicara baik baik ya"kata menteri ekonomi eun terdiam belakangan ini hidup nya benar-benar mengalami banyak kejadian yang tidak menyenangkan dari dia di culik karena menerbitkan berita korupsi di ancam akan di bunuh karena membuat berita tentang seorang pejabat, di pukuli karena di tuduh mengambil uang suap, dan lainnya bahkan sampai akhir nya pacar nya calon tunangan nya berselingkuh, orang tuanya yang bertengkar , dia tidur dengan pria asing, dan di kejar pria asing, dan sekarang di culik.
Hansen berhenti " mereka ada di sekitar sini"kata leo "ayo kita cari" kata hansen "aku yakin markas orang orang itu akan sedikit sulit untuk di temukan" kata leo.
Petir mengusap usap wajah vivian "tenang polisi sedang melakukan pencarian dan eun akan segera di temukan kita harus yakin" kata petir "benar vivian" kata Yuda.
Eun jatuh ke lantai beberapa pria langsung kembali menariknya dan menghajar nya "uhuk!! Uhuk" eun mencoba melawan "cukup!! " kata menteri ekonomi "hah.. Hah.. Hah.. " dada eun naik turun nafas nya terengah-engah "bagaimana? " tanya menteri ekonomi "aku" eun berdiri dengan kaki yang sudah terkena serpihan kaca "aku- tidak- akan-berkerja-sama - dengan- orang -rendahan-sepertimu" ucap eun "dorr!! " eun berlutut seketika ketika menteri itu menembak kakinya.
Leo melihat sebuah tangga tersembunyi di dekat sebuah pohon "hansen ada di sini" kata leo "ayo semuanya" kata leo.
__ADS_1
"Aku sudah sangat marah" menteri itu mengacungkan senjatanya ke dahi eun "selamat tinggal papa, mama, semuanya" kata eun dalam hati perlahan dia memejamkan matanya "DORR DORR DORR DORR DORR DORR DORR DORR DORR DORR DORR DORR!! " suara tembakan terdengar berkali kali "grebb" seseorang menarik eun "pejam kan mata Anda nona di sini sangat berdebu" kata hansen tetapi eun membuka matanya "dorr dorr dorr dorr dorr" adu tembak masih terjadi
"Hansen bawa nona eun pergi"
"Benar Hansen cepat! "
"Cepat pergi"
"Serahkan pada kami"
Hansen mengangguk mengangkat tubuh eun "uhh.. " eun melihat tubuh menteri dan anak buahnya sudah terkapar tak berdaya "uh.. " perlahan lahan mata nya terpejam Hansen langsung membawa Eun pergi dan meletakkan tubuh eun ke dalam mobil .
"Dia belum bangun juga"
"Dia sudah mendapatkan perawatan dia cuman kelelahan dan juga belum makan"
"Dia pasti terlalu panik"
"Apa kata dokter tadi? "
"Eun akan membaik kok"
__ADS_1
"Hum..? "
"Hei dia bergerak! "
Eun membuka matanya perlahan melihat petir ada di samping nya "eun.. Hai" kata petir eun melihat sekeliling nya "kau ada di rumah sakit" kata Yuda "siapa yang membawa ku ke sini? " tanya eun "seorang pria cuma aku lupa namanya" kata petir "ahh" eun merasakan rasa sakit yang teramat di kakinya "eun.. Eun.. Tenang lah kau duduk? " kata Yuda "iya" kata eun "biar kami bantu" kata petir "uh... " eun memegang kepalanya "sakit ya? " kata Yuda "sakit banget" kata eun "tapi di mana vivian? " tanya eun "dia.. Dia ada bersama carl" kata Yuda "di mana? " tanya eun "di ruang sebelah" kata petir "aku mau melihat nya apa dia sakit" kata eun "hei hei kau masih sakit" kata petir "tidak papa" kata eun sambil turun dari ranjang "eun.. Dengar kan aku kau" kata Yuda "vivian begini juga karena aku" kata eun "biar aku bantu" kata Yuda "tidak ini tidak terlalu ahh" eun meringis kali ini rasa sakitnya menjadi berkali kali lipat "pakai kursi roda eun" kata petir sambil mengambil kursi roda di sisi ranjang "aku.. Ak--" pandangan eun mulai kabur "brukk" dia jatuh kedepan dia merasakan ada tangan seseorang sedang melingkar di pinggang nya "kau" kata Yuda "kau seharusnya diam kenapa banyak bergerak? " kata kim eun menatap kim sebentar lalu pingsan "eun" kata Yuda "jangan sentuh! " kata kim "apa ?! dia itu teman ku" kata Yuda "panggil dokter" kata kim "baik tuan" kata liam kim mengangkat tubuh eun "minggir! " kata kim Yuda langsung menjauh dari pintu "kenapa kau datang? " kata petir "apa yang salah? " kata kim "tuan kim" seorang dokter datang "beri aku dua dokter yang ahli untuk merawat nya" kata kim "aku mau di di rawat di rumah" kata kim "hei kau mau bawa dia ke rumah siapa? " kata petir sambil meletakkan kembali kursi roda yang dia ambil "ke rumah ku" kata kim "tidak tidak... Aku melarang nya! " kata Yuda "aku juga! " kata petir "kami masih mampu merawat nya dia akan kembali ke rumah sewanya di sana kami akan merawat nya" kata Yuda "lagian dia juga gak ingin ikut dengan mu masa kau memaksa nya dalam kondisi begini kau gila ya" kata petir "dokter aku Yuda teman akrab nya aku akan mengurus nya" kata Yuda "aku calon suami nya jadi biarkan aku mengurus calon istri ku" kata kim "hei kau tidak boleh membawa nya dia punya rumah kok" kata petir "rumah mu itu gak jelas kami tetap melarang! " kata Yuda "dokter siapkan segalanya aku mau bawa dia pulang ke rumah" kata kim.
Di Apartemen indah gemilang..
Petir mengangkat barang barang milik eun "ini jauh lebih pantas" kata kim sambil menatap eun ke tempat kamar nya dulu dokter langsung menyiapkan infus dan segala sesuatu yang lain untuk eun "eun.. " vivian datang "kim membawa nya kembali ke sini" kata Yuda "eun.. Bangun lah" kata vivian "sebaiknya biarkan dia istirahat dan lebih baik satu orang saja yang menjaga nya" kata dokter "biar aku saja" kata vivian "kau yakin? " kata carl "iya " kata vivian "baiklah... Kami akan pulang dulu ganti baju lalu akan kembali ke sini buat gantian jaga"kata petir " dia"kata Yuda "hum.. Tuan kim lebih baik kau pulang" kata petir kim pergi keluar kamar . Vivian mengambil tisu untuk membersihkan wajah eun "griit" pintu kembali terbuka "tuan kim" kata vivian "lanjutkan saja" kim duduk di sofa sambil menatap vivian yang sedang membersihkan wajah eun "hum? " vivian menatap ponsel nya berbunyi "halo kak" kata vivian "kakak sudah ada di apartemen mu kau ada di mana? Kakak ingin bertemu dengan mu karena kakak akan segera berangkat lagi ke seul" vivian menatap eun "iya kak sebentar ya" kata vivian dia melirik ke kim yang sedang berbaring di sofa sambil memejamkan matanya "petir angkat dong.. " kata vivian "pergilah" kata kim vivian menoleh "dia gak tidur rupa nya" fikir vivian "aku tidak akan pergi" kata vivian kim berdiri dan berjalan ke arah eun yang masih berbaring di atas ranjang "jangan" kata vivian di saat kim hendak menyentuh tangan eun "jangan sakiti teman ku" kata vivian "kau fikir aku akan melukainya? " tanya kim "tentu saja!! Jangan sentuh dia" kata vivian "teman ku akan datang untuk menjaga nya " kata vivian "kau lihat" kim menunjuk ke arah pintu "di luar sana bodyguard ku banyak, teman mu ini akan menjadi calon istri ku bagaimana bisa kau berfikir aku akan melukai nya? " kata kim "bahkan teman ku tidak mengenal mu sama sekali" kata vivian "jadi bagaimana bisa aku percaya pada mu? " kata vivian "teman mu sedang marah pada ku kami sudah kenal sejak lama aku kekasihnya gara gara salah paham dia marah pada ku sampai sekarang" kata kim "apa ada bukti nya? " kata vivian "karena eun baru putus dari pacarnya bagaimana bisa dia punya pacar " kata vivian "liam!! " kata kim liam langsung datang "waktu itu eun lari dari ku kan? " kata kim "iya tuan nona eun lari tanpa memberi kabar" kata liam "sungguh kapan? " kata vivian "kira kira tangan tiga " kata liam "tanggal tiga" kata vivian "masih belum yakin? " kata kim "hum.. " vivian masih terlihat belum yakin "apa yang mau kau lakukan? " tanya kim "suruh bodyguard mu pergi semuanya" kata vivian "liam!! Kemari" kata kim "siap tuan" kata liam "bawa yang lain pergi semuanya" kata kim "tapi tuan anda ba--" kata liam "kau tidak tuli kan? " kata kim "baik tuan " liam pergi bersama bodyguard lainnya "bagaimana? " kata kim "bentar" vivian memfoto kim "baik.. Tapi jika kau berani macam macam aku akan lapor polisi, aku percaya kan teman ku pada mu" vivian mengusap wajah eun "jangan coba coba menyakiti nya ya" kata vivian "jangan lupa aku yang menolong nya waktu dia di culik" kata kim "b.. Be.. Benar juga" fikir vivian "baik" vivian meletakkan kartu pintu eun di meja lalu pergi.
Kim mengusap usap rambut eun sambil berbaring di sebelah nya "aku tidak tau dari mana kau datang" kata kim "yang ku tahu aku menjadi gila saat pertama kali bertemu dengan mu dan semakin gila di saat aku berhasil menemukan mu" kata kim "entah kenapa aku bisa tertarik dengan mu kau benar benar membuat ku gila dalam hitungan detik" kata kim.
Yuda berlari ke arah petir "vivian mengantar kakak nya ke bandara eun ada bersama kim cepat selesai kan tugas kantor kita harus ke sana" kata Yuda "iya iya" kata petir.
"Hu... M ah.. Ahhk" kim melihat eun meringis "hei.. Hei" kata kim "aah.. Sakit banget" eun membuka matanya "HAAAAAAA... EI TUAN KIM!!! " kata eun sambil duduk "kenapa kau berteriak? " tanya kim "kau membuat ku terkejut!! Mana.. Eh? Kemana teman teman ku" kata eun "hei.. Apa masih sakit? " kata kim "kenapa kau di ranjang ku!! Turun!! " kata eun "apa" kim menatap eun "ahh.. Aw" eun merasakan kakinya sangat susah di gerakan "kau mau kemana? " kata kim "vivian!! " kata eun "dia baru pergi" kata kim sambil ikutan duduk di dekat eun "kenapa kau yang ada di sini haah.. Jangan jangan kau mengusir teman ku iya kan? " kata eun "kenapa kau selalu berfikir buruk tentang ku? " kata kim "mana ada malaikat seperti mu hum.. Di mana ponselku" kata eun "di sana" kim menunjuk sofa "uh.. " kata eun kim berdiri mengambil ponsel eun "kau mau apa? " tanya kim "aku ingin menelpon seseorang untuk membawa kan air minum" kata eun kim meletakkan kembali ponsel eun "kau mau minum apa? " tanya kim "berikan saja ponsel nya" kata eun "katakan! " perintah kim "air biasa saja" kata eun "bentar" kim keluar dari kamar tak lama kemudian dia kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan juga makanan "minum lah" kata kim "waduh.. Kok aku merasa dia ada niat buruk bagaimana kalau makanan atau minuman ini di campur ramuan khusus agar aku patuh" fikir eun "kenapa? " kata kim "kau coba lah dulu" kata eun "berfikir buruk lagi" kim membuka sebotol minuman lalu menuang nya ke dalam gelas eun memperhatikan nya saja kim mulai meminum air itu lalu kim juga mencoba makanan yang dia bawa "bagaimana" kata kim "hu.m.. "Kata eun " tunggu dulu pasti ada reaksi nya"fikir eun kim kembali mengambil sesuap daging lalu menatap eun "ummph" kim menarik leher eun lalu memasukan daging yang ada di mulut nya ke mulut eun "jangan berfikir aku meracuni mu" kata kim "eun!! Eun" terdengar suara Yuda tak lama kemudian pintu kamar terbuka "eun .. Kau baik baik saja? Apa dia melukai mu" kata Yuda dengan nada rendah "awas makanan nya tumpah" kata petir "kau baik baik saja kan kami telat datang" kata Yuda "tidak papa tidak papa kalian sudah makan? " tanya eun "belum tapi kami bawa makanan" kata Yuda "aku akan siapkan makanan nya" petir pergi "kim ada di sini" bisik Yuda "aku juga gak tau saat aku bangun dia ada di sini" bisik eun "ayo aku bantu ke ruang makan" kata Yuda kim menatap mereka berdua "hei.. Apa dia kita ajak makan? " Tanya Yuda "tidak usah" kata eun.
"Bagaimana dengan kaki mu? " tanya Yuda "masih sakit" kata eun kim memperhatikan eun yang sedang makan setelah selesai mereka lanjut dengan ngobrol membahas kegiatan mereka sampai tiba-tiba kim datang berdiri di depan eun "uh? " eun melihat teman teman nya "kita sudah ulur waktu tapi kok kim tidak pergi pergi aku dah ngantuk" fikir Yuda "apa jangan jangan kim mau pergi" fikir petir "ouh.. Sudah malam ya" kata Yuda "eh iya ya gak terasa ya" kata eun "hum.. Kalau begitu" kata petir "pergi keluar" kata kim "oh.. Iya-iya kau kelihatan nya juga mau pergi ya ayo kita pergi" kata Yuda "merinding aku" kata Yuda dalam hati "hum.. Eun kau bisa jalan ke kamar atau" kata petir "aku bisa sendiri" ucap eun "baiklah kami pamit dulu" kata petir sambil beranjak ke pintu begitu juga dengan kim "griittt!! " pintu di tutup oleh Kim membuat eun kebingungan kenapa kim kembali lagi "ke.. Kenapa kau kembali? Bukannya kau bilang pergi keluar? Kau ingin pergi kan? " kata eun "tap!" eun menatap tangan kim yang ada di samping lengan nya kim menunduk "yang ku maksud itu adalah mereka" kata kim "apa? " fikir eun "dan kau juga! Seharusnya kau pergi tidur bukan bicara dengan mereka" kim menatap lengan eun yang terkilir dia langsung berdiri pergi mengambil penyangga buat tangan eun "dokter bilang kau harus pakai ini jika tidak ingin tangan mu di amputasi" kata kim "apa? Tapi kapan dokter bilang begitu? " fikir eun kim memasangkan penyangga itu "kau bisa pergi! Lihat hari sudah malam! " kata eun kim menyipitkan matanya "kenapa masih diam pergi sana! Ini tempat ku! Cepat pergi" kata eun "kau mengusir ku? Tapi kenapa kau tidak mengusir mereka? " tanya kim "mereka itu teman ku dan siapa? " kata eun "hanya orang asing " eun mencoba menggerakkan kakinya "uh... " eun menahan sakit baru saja menggerakkan sedikit kakinya rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh kim tersenyum sinis "masih sok angkuh? " fikir kim "aduh.. Kenapa makin terasa sakit da--" kata eun dalam hati dia terdiam ketika kim tiba-tiba mengangkat tubuhnya eun menatap wajah dingin kim yang tidak menatap ke arah nya. Kim meletakkan eun ke atas ranjang "kau ingin bersihkan wajah mu atau langsung tidur? " tanya kim "hum.. Sebenarnya aku ingin membersihkan wajah ku tapi sekarang seperti nya --" kata eun "aku yang akan membersihkan nya" kim duduk mengeluarkan sesuatu dari paper bag "apa itu? " tanya eun "pembersih wajah " kim menuang cairan ke atas kapas "tidak tidak aku tidak mau! " kata eun kim menatap nya "kau itu pria bagaimana kau tau tentang pembersih wajah " kata eun "diam" kim menahan tangan kiri eun lalu mengusap wajah eun dengan kapas "jika wajah ku rusak aku akan memecahkan kaca mu dari kamar sampai keseluruhan" kata eun kim tidak bicara dia terus membersihkan wajah eun sampai selesai kemudian kim berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan "habis lah wajah ku" fikir eun kim keluar dari kamar mandi menatap eun "kenapa masih melihat ku? " ucap kim "bagaimana aku bisa tidur jika kau belum pergi dari sini? Entah apa yang terjadi kalau aku tidur" kata eun kim mendekat menarik selimut eun lalu pergi keluar kamar "dia beneran pergi gak ya? " fikir eun namun tidak ada tanda tanda adanya pergerakan di luar eun akhirnya bernafas lega dan perlahan tidur.
Di ruang tamu
Kim terlihat sedang melakukan sesuatu dengan laptop nya "peningkatan perusahaan greenpark" terlihat tulisan muncul di layar laptop nya "um!! " kim mengecilkan suara ponsel nya "katakan" ucap kim "tuan anda tidak pulang? Kami menunggu anda di luar pintu" ucap hansen "anda besok memiliki jadwal pertemuan " ucap hansen "aku sudah siap kan dokumen buat pertemuan asisten akan mengurus nya" kata kim sambil mematikan telpon "aug.. Uh.. " di tengah malam kim mendengar suara eun dari kamar kim langsung berdiri "hum.. Papa" kata eun kim mendekati nya "tubuhnya panas" kata kim dalam hati dia langsung pergi keluar kamar dan melihat beberapa bodyguard nya yang sudah kembali datang "ada apa tuan? " tanya justin "tubuh nya panas apa ada sesuatu untuk orang yang bertubuh panas? " tanya kim "kenapa tidak panggil dokter tuan mungkin dokter tau obatnya" kata faresta "dia akan bangun jika dokter datang" kata kim "tuan aku tau sesuatu" kata aron kim langsung menatap nya "cari kain kecil handuk kecil juga tidak papa sama sediakan air yang dingin untuk mengompres nya" kata aron "bagaimana? " tanya kim "begini tuan handuk itu nanti anda basahi dengan air di mangkuk itu lalu di peras dan tempel kan di dahi nona eun" kata aron "oke" kim menutup pintu membuka lemari eun "ini" kim mengambil handuk kecil milik eun lalu berjalan ke dapur "air dingin mangkuk" kim mengambil mangkuk kecil dari rak piring lalu mengisinya dengan air dingin.
__ADS_1
Kim duduk memeras handuk itu lalu meletakkan mangkuk di meja kecil di samping ranjang dengan hati hati dia menempel kan handuk itu ke dahi eun "papa.. Kenapa.." ucap eun "bahkan saat tidur masih sempat mewawancarai seseorang" guman kim "tap" kim melihat tangan eun memegang tangan nya "berdamailah dengan mama" bisik eun "tunggu sebentar aku ambil laptop ku dulu" kata kim tepi eun tidak melepaskan pegangan nya kim menatap wajah eun "dasar keras kepala" ucap kim sambil melepaskan sepatu nya lalu berbaring di samping eun.