gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
belum bisa melupakan masa lalu


__ADS_3

"Eun" eun menghentikan langkah nya "kak ai" kata eun nhai berjalan ke depan eun "aku kagum dengan berita yang kau buat baru baru ini" kata nhai "terimakasih" kata eun "jika tidak ada hal penting lagi biarkan aku lewat aku ada tugas mewawancarai sekarang" kata eun "aku menemui mu untuk ini" nhai memberikan sebuah flashdisk "apa ini kak ai" kata eun "di dalam nya ada laporan keuangan yang harus di koreksi" kata nhai "oh baik lah" kata eun lalu dia pergi ke ruangan nya sendiri eun membuka laptop nya "ayo eun kita berangkat" kata carl "hum ya sebentar carl aku merapikan laporan ini sebentar" kata eun "biar aku saja" kata petir "jika kau terlambat bagaimana berita nya bisa terbit" kata petir "tapi bagaimana kalau kak ai tau" kata eun "tidak akan ayo cepat" kata petir "ayo eun" kata carl "baik lah ayo" kata eun.


Kim mengambil ponsel nya mengirim pesan ke eun namun seperti biasa eun tidak pernah membaca dan membalas pesan nya "tuan anda memanggil saya? " tanya deon "siapkan mobil di jam 20.00 dan juga jangan ada jadwal di malam hari karena aku akan pergi" kata kim "baik tuan" kata deon "oh tunggu dulu" kata kim "iya tuan" kata deon "jika kau ingin menemui seseorang apa yang kau bawa? " tanya kim "hum.. " deon kebingungan karena tidak seperti biasa kim bertanya hal lain selain pekerjaan "makanan tuan hum.. Bunga juga tergantung.. Hum.. Ter.. Tergantung siapa yang.. di.. di temui" deon gugup "jika orang yang kau suka? " kata kim "hum... bu.. Bunga dan coklat hum.. Lebih simpel buket tuan " kata deon "coba cari kan untuk ku" kata kim "e.. Ini tuan seperti ini" deon menunjukkan ponsel nya kim menatap layar ponsel deon "pesan yang ini pastikan jam 20.00 sudah sampai" kata kim "baik tuan" deon menunduk lalu pergi.


Carl menatap eun yang terlihat sangat berkeringat "ah.. Panas nya" kata eun "benar.. Bagaimana kita beli minum dulu sebelum ke kantor" kata Carl "aku setuju" kata eun "ayo" kata Carl.


Di kafe..


Pelayan mengantar pesanan eun dan carl "hei mbak di sini ada boba? " tanya eun "ada " kata wanita itu "bungkus tiga satu rasa alvokado, moca, coklat hum kau mau carl" kata eun "aku capocino" kata carl "bungkus dua capocino" kata eun "baik" kata wanita itu.


Di kantor..

__ADS_1


Vivian menatap ke arah ponsel nya "katanya meliput berita aman kok sampai sekarang gak pulang pulang gak ada kabar juga" fikir vivian "jangan jangan eun bohong lagi" kata vivian "Hai semua nya" carl datang "aku membeli minuman dingin kalian bisa ambil satu" kata carl "terimakasih" kata mereka "aku mana? " kata Yuda "punya mu sana sama vivian" kata carl "vivian? " kata Yuda "eun maksudnya" kata carl "oh" kata Yuda "hei kenapa kau melamun" kata eun "uhh.. Eun kau membuat aku kesal! Kenapa kau tidak menelpon ku atau memberi kabar sedikit pun aku cemas bodoh" kata vivian "akh.. Kau memukul ku!! Hei vivian bodoh aku sedang pergi mewawancarai orang jika aku menelpon mu mana yang mau aku dengar narasumber atau kau! " kata eun "setidak nya beri aku pesan" kata vivian "diam dan minum lah boba mu ini, ini milik petir ini Yuda" kata eun "kau sedang menyogok ku agar aku tidak marah? " kata vivian "minum lah aku tau kau kepanasan" kata eun "makanya aku membeli minuman dingin" kata eun "eun" eun terkejut "mana laporan nya? " tanya nhai sambil mengambil minuman yang eun pegang "kak ai" kata eun "laporan nya mana? " kata nhai "oh" eun gugup "Hai tuan nhai" petir datang sambil menyelipkan flashdisk ke tangan eun "kak ai" eun memberikan flashdisk nya ke nhai "minuman ini ku ambil" kata nhai "hum" kata eun "apa dia sengaja" fikir eun dia kembali teringat biasa nya nhai mendatangi nya mengambil minuman sisa nya "aku haus sayang" kata nhai "eun.. eun" kata vivian "eun" kata vivian "eun!! " eun tersadar "hum.i.. Iya" kata eun "minum lah milik ku" kata vivian "aku tidak haus hu... m aku akan kembali ke ruangan ku" kata eun vivian menatap eun berjalan dengan lesu "kenapa si brengsek bertingkah seenaknya" kata petir "jangan marah jika dia dengar kau bisa di pecat dia itu orang kepercayaan bos" kata vivian "tapi ini keterlaluan" kata petir. Eun duduk kembali mengusap air matanya "bagaimana bisa aku melupakan mu jika kau terus muncul di dekat ku" kata eun "aku sedang berjuang melupakan mu tapi mengapa kau seakan-akan menghalangi ku" kata eun vivian menatap eun dari pintu yang terbuka sedikit "apa yang dia lakukan" bisik carl "dia menangis" bisik vivian "sudah ku duga" kata petir "aku harus apa?" eun menangis terisak .


Vivian mengetuk pintu "eun ayo pulang sudah waktunya kita pulang" kata vivian "eun!! " kata vivian "iya iya bentar" kata eun dia mengusap air matanya membersihkan wajahnya "eun" kata carl "iya sebentar " kata eun tak lama kemudian pintu terbuka "kau baik baik saja? " tanya vivian "tentu ayo kita pulang oh ya besok aku akan pindah ke apartemen baru" kata eun "benarkah tapi kau bisa tinggal bersama ku jika kau mau" kata vivian "aku tidak akan merepotkan mu kau sudah banyak membantu" kata eun "sebelum pulang bagaimana aku traktir kau minum" kata vivian "boleh" kata eun "ayo aku antar" kata carl.


Malam harinya...


Vivian menatap eun yang sedang melamun di sofa "Hai" kata vivian "hum? " kata eun "kenapa kau melamun" kata vivian "aku--" kata eun "bentar" vivian berdiri karena ada suara bel di luar "hah!! " vivian terkejut saat membuka pintu "aku menjemput nya" kata kim "aku tidak izinkan! "Kata vivian " bukan urusan mu awas"kata kim "ini rumah ku " kata vivian bodyguard kim bergerak maju "vivian siapa? " kata eun "bukan siapa siapa pergilah tidur" kata vivian "kau mau apa! " kata vivian "aku sudah menjaga teman mu malam itu dan sekarang kau tidak mempercayai ku lagi" kata kim "jangan ganggu eun" kata vivian "dia sedang tidak bisa di gang--" pintu di dorong eun menatap ke arah pintu "tuan kim" kata eun "sesuai janji kan? " kata kim "hum" eun menunduk "ayo" kata kim "uh.. " eun terlihat kebingungan "eun " kata vivian "uh.m.. " eun berdiri "kau sudah siap? " tanya kim "iya hum" eun memalingkan wajahnya kim terlihat kebingungan begitu juga dengan vivian "tuan kim sejak kapan kau ada di sini" kata eun kim menatap vivian begitu juga dengan vivian "eun apa kau masih belum sadar ayo aku mau bicara" vivian menarik eun menjauh "apa yang kau katakan" kata vivian air mata eun kembali keluar "vivian.. Aku tadi melihat kak ai datang ku fikir dia datang ke sini namun setelah ku perhatian lagi ternyata dia tuan kim bukan kak ai" kata eun "ternyata eun masih belum melupakan tuan nhai" fikir vivian "kasihan dia" kata vivian dalam hati dia langsung merangkul eun "tuan kim datang ingin mengajak mu pergi tapi aku melarang nya karena aku tau kau sedang lelah" kata vivian "aku sudah janji pada tuan kim akan pergi ikut dengan nya malam ini tapi aku lupa aku.. Aku terlalu sedih" kata eun "eun kau butuh istirahat" kata vivian "eun" kata kim "Um.. Iya" kata eun "tapi kau bisa pergi dengan kim siapa tau suasana malam bisa mengubah suasana hati mu, tidak ada yang tau jika habis jalan jalan kau bisa lebih tenang" kata vivian "usap air mata mu jangan menangis lagi tuan nhai orang yang tidak pantas mendapat kan mu" kata vivian "iya" kata eun "ayo kita temui tuan kim" kata vivian "aku" kata eun matanya terfokus ke arah buket bunga raksasa yang ada di samping sofa "tuan kim kenapa kau membawa benda seperti ini" kata eun "kenapa kau tidak suka? " tanya kim "hum.. ini.. hum.. su.. suka" kata eun " kita bisa pulang larut jika sekarang tidak berangkat "kata kim sambil mengulurkan tangan nya " tuan kim.. Aku akan menepati janji e.. Tapi aku belum bersiap"kata eun "tidak papa" kata kim eun menatap vivian "jika kau lukai teman ku aku potong telinga mu" kata vivian kim menarik eun lalu pergi "tuan kim aku--" kata eun "tidak papa tidak usah bicara" kata kim.


Eun berjalan ke arah pintu masuk "tiket nya nona" kata seorang pria "tiket dimana aku mendapatkan nya? " tanya eun "ini" kim menyerahkan dua tiket masuk "ayo" kata kim "seharusnya vivian ikut tadi" kata eun sambil berdiri mencoba merekam seorang artis yang bernyanyi "tuan kim uang tiket nya tadi berapa? Nanti aku ganti" kata eun "sudah selesai" kata kim "apa? Belum aku belum dapat foto nya yang--" eun menatap layar tablet milik kim "waw kok bisa? Kau kan ada di samping ku" kata eun "ini hal mudah ayo aku lapar" kata kim.


Eun menatap makanan di meja "kayanya aku bakal menghabiskan seluruh gajiku untuk makan di sini" fikir eun "kenapa? Kau tidak makan? " tanya kim "hum.. Ini aku baru mau makan" kata eun "makan lah ini sup sarang burung ini bisa membuat imun semakin kuat" kata kim.

__ADS_1


Kim keluar dari mobil di ikuti dengan eun "kau mau bunga? "Tanya kim " tidak"kata eun sambil menatap sekitar nya "ini adalah taman kunang-kunang dulu aku pernah ke sini waktu sma" kata kim "aku tidak melihat kunang-kunang nya" kata eun "belum ini sebentar lagi lihat ya tempat yang itu perhatikan sambil hitung mundur sepuluh detik" kata kim "10.. 9..8..7..6..5..4...3..2..1.." ucap eun dalam hati tiba tiba suasana menjadi sangat terang terlihat dengan jelas air sungai yang memantulkan cahaya kunang-kunang dan jembatan yang di hiasan lampu warna warni menjadi semakin terang "ya ampun" kata eun dalam hati angin berhembus perlahan menggerakkan rambut eun yang indah di timpah cahaya rembulan kunang-kunang hingga di atas bunga terlihat benar-benar sangat indah "tap" eun menatap kim yang sedang menatap ke arahnya sambil memakaikan jas nya ke tubuh eun "dingin kan? "Ucap kim " Elisa.. Maukah mau menikah dengan ku"eun menatap seorang pria yang berlutut di jembatan


"Wah.. Romantis sekali"


"Ya ampun aku terharu"


"Astaga momen ini benar bener indah"


"Terima Terima Terima Terima"


Kim memperhatikan wajah eun "nih" kim memberikan sapu tangan ke eun "aku tidak menangis" ucap eun "aku tau" kata kim "kau mau kemana? " eun menahan tangan kim kejadian masa lalu kembali teringat dimana nhai meniru gaya pasangan lain "kenapa? " kata kim "aku ingin pulang" kata eun "kau baik baik saja? " tanya kim "aku ngantuk" kata eun "aku mau pulang" ujar eun "baiklah" kim memegang tangan eun.

__ADS_1


__ADS_2