
Gadis taruhan galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Seminggu berlalu begitu cepat, seorang gadis cantik menyeret koper besarnya menuju bandara.
"Hati-hati ya ghee" Papsky memeluk gadis kecil itu, Ghea.
"Iya pap, Papsky juga harus hati-hati di negara ini ya" mata Ghea berkaca-kaca.
"Oh iya, tunggu sebentar, seseorang akan ikut bersama kalian" sela Grenpa. Dahi Ghea mengerut.
"Siapa Grenpa?"
"Itu dia" Grenpa menujuk seorang anak laki-laki. Dengan postur tubuh yang tinggi, kulit sawo matang, dan hidung yang mancung.
"Kak Dilan?" beo Ghea.
Dilan Kalingga. Kakak sepupu Ghea.
"Hai cil" Dilan mengacak rambut Ghea. Ghea mengerucutkan bibirnya.
"Ish kak Dilan, rambut Ghea berantakan tau" Dilan terkekeh.
"Dilan akan tinggal bersama dengan kalian di Indonesia, Dilan juga akan melanjutkan S2 nya di Indonesia, apa kalian keberatan?" ucap Grenpa.
"Tidak pih, kami senang Dilan akan ikut bersama kami" ucap Mamsky tersenyum.
Papsky dan Grenpa mengangguk.
"Kak Dilan kapan balik dari Jerman?" Ghea memukul pelan lengan Dilan.
"Udah seminggu yang lalu dek, maaf ya ngga ngabarin Ghea" Dilan tersenyum.
"Huu iya-iya Ghea maafin, tapi nanti di indo kak Dilan harus traktir Ghea es cream, ngga mau tauu" celetuk Ghea. Dilan tertawa.
Ghea masih sama seperti dulu. Ramah dan sangat ceria.
"Iya-iya"Dilan mengacak rambut Ghea
Informasi pesawat tujuan Singapura- Indonesia sudah terdengar.
"Kami berangkat dulu ya" ucap Mamsky.
"Iya hati-hati disana, jaga Ghea" ucap Papsky. Mamsky mengangguk. Masih rindu dengan suaminya ini.
"Bulan depan Papsky harus bersama kita ya" desak Ghea.
"Iyaa sayaang, bulan depan Papsky akan kembali" Papsky mengelus rambut anak satu-satunya itu.
"Ghea pasti bakal rindu sama Papsky" Ghea memeluk tubuh Papskynya.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
INDONESIA
Waktu 13.20
Mereka sudah sampai dikediaman Anderson.
"Masih ingat kamar yang dulu kan Dilan?"goda Mamsky. Pasalnya sudah sangat lama Dilan tidak berkunjung ke kediaman Anderson semenjak ia kuliah di Jerman.
"Hahah masih kok mam, aku tidak pelupa seperti gadis kecil ini" sindir Dilan melirik Ghea.
"Huu bisanya nyindir" jutek Ghea. Dilan terkekeh.
"Kalian istirahat lah, Mamsky ingin istirahat dulu"
"Okeyy mam" ucap keduanya.
Dilan langsung berlalu ke lantai dua, begitu pun dengan Ghea.
Ghea memasuki kamarnya. Ia merebahkan dirinya. Sangat lelah. Pikir Ghea.
"Ah Ghea kangen kamar ini" Ghea mengambil benda pipih itu di tas brandednya.
__ADS_1
"Huft kebiasaan" lesu Ghea. Ia berharap bahwa Galkar mengiriminya pesan.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Ghea tersenyum setelah mengirimi pesan untuk Galkar.
"pengen nonton drakor deh" Ghea beranjak turun dari kasur. Mengambil laptop didalam lemari.
"Nonton ini aja ah"
Tok tok tok.
"Masuk" ucap Ghea.
"Ghee?" Dilan masuk ke kamar Ghea yang bernuansa peach itu.
"Eh kenapa kak?" Ghea tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ini, kakak mau kasih es cream yang Ghea minta"
"Aaa makasih" Ghea langsung mengalihkan pandangan ke es cream vanilla itu, ia langsung melahap es cream dingin itu.
Dilan terkekeh.
"Oh iya, kak Dilan udah punya pacar belum nih" goda Ghea. Memakan es creamnya kembali.
"Kakak kan laki-laki, jadi nyari cewek tuh bagi kakak gampang, dan Ghea harus jaga kehormatan Ghea" wajengan dari Dilan. Ghea mengangguk.
"Syap kak lanlan" ucap Ghea memanggil panggilan kesayangan Dilan.
"Kamu udah punya pacar ya?" Ghea mengangguk malu-malu.
"Jangan melakukan diluar batasan ya ghe, kakak ngga mau adik kesayangan kakak dirusak oleh laki-laki brengsek" Ghea terdiam.
"Galkar ngga kaya gitu kok kak, dia orang yang baik. Ghea percaya itu" Ghea tersenyum.
Dilan tersenyum. Mengelus rambut Ghea.
"Ghea? " panggil Mamsky. Membuka pintu kamar Ghea. Dilan dan Ghea menoleh.
"Ada Galkar dibawah, cepet turun" ucap Mamsky. Menutup pintu kamar Ghea kembali.
Tubuh Ghea seakan kaku. Ia jadi grogi menemui Galkar.
"Sana gih, temui pacar Ghea" ucap Dilan. Ghea berdiri.
"Ghea ke bawah ya" Dilan mengangguk.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Ghea melihat laki-laki tampang dengan jaket kulitnya sedang duduk diteras rumahnya.
Ghea perlahan mendekat."Hai Galkar"
Galkar menoleh. Terdiam. Ia merindukan gadis ini. Gadisnya.
Ghea duduk disamping Galkar.
"Ayo diminum, Mamsky udah buat tuh" Ghea menunjuk segelas teh dengan beberapa cemilan yang sudah ada di meja.
Galkar hanya mengangguk. Ahh rasanya Galkar ingin merengkuh tubuh gadisnya. Ia rindu. Iya, Galkar.
"Galkar kenapa diem aja?" alis Ghea menyatu.
"Gue rindu lo" ucap Galkar tanpa gengsi.
Wajah Ghea memanas rasanya ada puluhan kupu-kupu yang sedang berterbangan diperutnya. Jantungnya berdetak kencang.
"G-ghea juga rindu Galkar" ucap Ghea tersenyum malu.
Galkar tersenyum. Sangat kecil. Galkar mengambil tangan Ghea. Ghea terkejut bukan main.
"Ada apa?" tanya Ghea.
"Coba tutup mata lo"
__ADS_1
"Ha?"mulut Ghea terbuka. Galkar terkekeh.
"Cepett" pinta Galkar.
"Apa Galkar mau cium ghea ya?" batin Ghea.
Ghea menuntup matanya. Galkar mendekat. Galkar mengeluarkan sebuket bunga mawar serta coklat yang cukup besar.
"Sekarang buka matanya"
Ghea membuka matanya. Matanya berkedip lucu. Menetralkan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya.
Ghea tercengang melihat apa yang ada didepannya."Buat lo"ucap Galkar.
"Bunganya cantik banget" Ghea tersenyum.
"Suka?"
"Suka banget, makasih Galkar"Ghea tersenyum senang.
"Sama-sama"
Ghea tersenyum.
"Jangan senyum terus, nanti gue diebetes"gombal Galkar.
"Ngga apa apa diebetes, kan ada Ghea obat penyembuh buat Galkar" balik gombal Ghea.
Keduanya tertawa.
"Cari makan yuk" ajak Galkar.
"Ayuk, tapi Ghea ganti baju dulu ya"
"Iyaaa, jangan lama-lama"
"Syapp"Ghea langsung lari masuk kedalam rumah. Galkar yang melihat tingkah Ghea tertawa kecil.
"Dasar bocil"gumam Galkar.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Galkar dan Ghea sudah berada diatas motor ninja Galkar. Angin menerpa wajah cantik Ghea. Galkar melirik dari kaca spion.
"Why is she so beautiful?" batin Galkar.
"Galkar?" Ghea sedikit teriak. Karna motor Galkar sangat berisik.
"Apa?"
"Seadanya kota ini milik kita berdua, apa yang bakal Galkar lakuin? "
"Gue bakal teriak dikota ini, dengan menyebut nama seseorang l"
"Nama siapa?" beo Ghea. Kepo.
"Lo"gumam Galkar.
"Apa Galkar? Ghea nggaga denger"
"Ngga kok, gue ngga ngomong apa-apa, kita mau kemana?" alih Galkar.
"Jalan-jalan aja, makan angin" ucap Ghea menirukan suara dua bocil botak yang tayang ditelevisi.
"Kalo makan angin, yang ada nanti lo masuk angin"
"Ngga apa apa, nanti tinggal minum obat"seru Ghea.
"Gue ngga suka lo sakit"ujar Galkar menatap kaca spion.
Alis Ghea mengerut."Kenapa?"
"Gue ngga akan tega ngeliat cewe yang gue sayang sakit"ucap Galkar. Ghea mengulum senyumnya. Mungkin dari kebanyakan orang yang mendengarnya akan merasa alay, tapi jika sudah dimabuk asmara, kata alay itu akan berganti menjadi alayfyu.
•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
__ADS_1