Gadis Taruhan Galkar

Gadis Taruhan Galkar
Episode 17


__ADS_3

Wanita taruhan galkar


-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•


Galkar mengerutkan keningnya saat Ghea melewati dirinya begitu saja dikoridor sekolah.


"Tumben ngga negor" gumam Galkar memasuki kelasnya.


"Wehh gal" ujar Aska.


"Hm?"


"Tumben masuk kelas, biasanya ke kelas Ghea dulu awokawok" goda Aska, pasalnya setiap pagi Ghea selalu menarik lengan Galkar untuk ikut bersamanya ke kelas gadis itu, ntah apa yang Ghea lakukan.


Galkar mengedikan bahunya acuh.


"Lo lagi ada masalah sama Ghea gal?" tanya Eja membaca mimik wajah Galkar yang lesu.


Galkar mengeleng."Ngga"


"Masaaa, bo'ong kali ah" goda Aska, lagi.


"Lo ada masalah ngga sebelumnya sama Ghea?"Andi ikut menimpali, yang sejak tadi hanya diam.


"Ngga ada"


"Ngga mungkin ngga ada, pasti ada, ngga mungkin Ghea nyuekin lo tadi pas dikoridor"seru Eja, ikut bingung melihat perubahan pacar sahabatnya itu, bagaimana ia tidak bingung? kalo misal masalah ini akan mengakhiri hubungan keduanya, rencananya akan gagal.

__ADS_1


"Lo tau?" ucap Galkar. Eja mengangguk mengiyakan.


-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•


Galkar menatap wajah Ghea dari kejauhan. Ghea sedang memakan nasi goreng buatannya disana bersama Sisi dan juga... Reihan.


"Dia kenapa sih, anj*ng gue merasa kesepian" ucap Galkar didalam hati.


"Jangan diliatin aja, samperin sono, ntar diambil Reihan aja, ngamuk" sindir Andi tersenyum tipis, eja terkekeh geli menatap wajah kesal milik Galkar.


"Bodo amat, gue ngga peduli dia mau deket sama siapa aja, just dare kan" ujar Galkar pelan, padahal mulutnya sangat berbeda dengan isi hatinya.


-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•


Ghea sedang membaca buku di perpustakaan. Galkar duduk dihadapan Ghea. Ghea mendongakkan kepalanya. Mata caramel Galkar bertemu dengan mata hazel Ghea.


Ghea menatap Galkar, melihat dalam-dalam mata caramel Galkar yang memerah nan berair itu, apa Galkar menangis?. Ghea duduk kembali.


"Kenapa nangis?"ucap Ghea lembut, dirinya jadi tak tega melihat Galkar. Galkar hanya diam menatap mata Ghea yang sipit itu.


"Why cry boy?" ujar Ghea, tetap, Galkar hanya diam tak menjawab.


"Anak ganteng kenapa nangis hm?" Ghea mengusap lembut rambut Galkar. Galkar menangis. Ah untungnya duduk mereka dipojok. Galkar beralih duduk disamping Ghea. Galkar sesegukan diceluk leher milik Ghea. Ghea terkekeh pelan.


"Uluh uluh ini kenapa kejer banget nangisnya" Ghea mengusap rambut hitam legam milik Galkar. Sesegukan Galkar makin menjadi-jadi. Galkar menatap manik mata hazel Ghea.


"Hiks, lo hiks jahat" rengek Galkar. Ghea sampai terkejut melihat Galkar yang berubah 90°.

__ADS_1


"Ghea jahat kenapa?"


"Lo cuekin gue, terus ngga bawain bekel buat gue lagi hiks" Galkar mengadu bak seorang anak kecil.


"Maaf, Ghea kan lagi kesel sama Alkar makanya Ghea cuekin Alkar" Ghea mengerucutkan bibirnya lucu.


"Kesel kenapa?" isakan Galkar kian mereda.


"Alkar ngga sayang sama Ghea"


"Kata siapa?"


"Alkar"


Dahi Galkar mengerut."Ucapan kemarin Alkar" Galkar mengingat-ingat ucapan kemarin.


"Lo percaya?" Ghea mengangguk polos.


"Ghee, kalo gue ngga sayang sama lo, gue ngga akan bertahan sampai saat ini" ucap Galkar tersenyum tipis, sungguh, ucapan Galkar kali ini bukan untuk main-main, ia sudah terjatuh kepada gadis bermata hazel itu.


"Maafin Ghea, Ghea tau Ghea salah" Ghea menunduk.


"Seharusnya gue yang minta maaf sama lo, udah asal ngomong kemarin" Galkar mengacak rambut panjang Ghea. Ghea cemberut.


"Lo lucu, makanya gue suka"


-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•

__ADS_1


__ADS_2