
Gadis Taruhan Galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Seminggu sudah terlewati, Galkar menatap sendu ponselnya yang terasa hampa tidak ada notifikasi dari Ghea.
"Gue kangen lo, ghe"cicit Galkar lirih.
Ia merebahkan dirinya disana, berharap semua ini hanya ilusi. Matanya kian tertutup, namun suara ketukan pintu membuat Galkar mengurungkan niatnya untuk tidur.
Galkar beranjak dari tidurnya, membuka pintu.
"Galkar, sohib gue! gue kangen sama lo gal"pekik Aska begitu heboh, membuat kedua temannya yang dibelakangnya tentu malu mempunyai teman modelan Aska ini.
"Apaan sih lo, ngga jelas banget, baru tadi disekolah ketemu"Galkar melirik Aska tak suka. Gimana Galkar tak suka? Aska merentangkan tangannya bersiap untuk memeluknya.
"Dih, gue kan kangen sama lo, emang lo ngga kangen sama gue?"ucap Aska.
"Ngga, gue kangen sama Ghea bukan sama lo, puas?!"cetus Galkar.
Membuat ketiga temannya itu tertawa pelan.
"Udah bucin dia gengs"celetuk Eja terkekeh pelan.
"Kalo Ghea denger apa yang lo omongin, apa yang bakal lo lakuin gal?"sela Andi menaikan satu alisnya, menunggu jawaban dari Galkar.
Galkar mengangguk."gue bakal teriak didepan Ghea, kalo gue kangen dia"
Andi mengangguk, tersenyum misterius.
__ADS_1
"Astaga, kaki dede Aska pegel nih, ngga ada yang mau nawarin masuk ke dalam kamar, apa ya?!"sindir Aska melirik Galkar, seolah-olah ia sedang tersakiti.
Galkar berdengus."ayo masuk"
Ketiganya masuk ke dalam kamar Galkar.
Aska langsung merebahkan dirinya dikasur empuk milik Galkar.
Galkar hanya menggeleng pelan, dari ketiga temannya, hanya Aska yang tidak memiliki malu.
"Jadi, gimana gal? lo mau berusaha dapetin hati Ghea, lagi?"seru Eja yang sudah duduk dikursi belajar milik Galkar.
Galkar mengangguk mantap."iya, gua mau berusaha dapetin hati Ghea lagi, tanpa kata taruhan tentunya"
"Bagus.."
•••
"Apaan sih kak, berisik banget lo"
"Lo apaain Ghea, hah?! lo bikin dia sakit hati gara-gara taruhan konyol lo itu, hah?!"dada Nara naik turun, ia diceritakan oleh Mama nya atas masalah Galkar dan juga Ghea.
Galkar bergeming."kak..? gue juga ngga bisa bohong sama diri gue sendiri kak, gue cinta Ghea kak"ucap Galkar.
"Kalo lo cinta, lo bisa jujur dari awal sama dia, bahkan lo bisa jujur lebih dulu soal taruhan itu, ngga kaya gini"suara Nara memelan, melihat raut wajah Galkar yang tidak memiliki semangat.
"Muka lo jelek kaya gitu, mending lo kerumah Ghea deh"Nara meledek Galkar, untuk menghibur adik nya itu.
"Gue juga niatnya mau kerumah Ghea, gara-gara lo jadi ketunda"cetus Galkar keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Dih, untung adek, kalo bukan udah gue tendang ke selokan"gumam Nara.
•••
Galkar mengangguk yakin untuk bertemu dengan Ghea. Dan, tidak lupa juga, ia membawa martabak keju kesukaan Ghea.
Galkar mengetuk pintu rumah Ghea. Tidak ada tanda-tanda jika ada orang akan membuka.
Galkar mengechat Ghea, ceklis satu. Ghea belum membuka blokiran nya.
Galkar lalu mengechat Mamsky Ghea. Terbalas.
Galkar membaca pesan itu."Mamsky sama Papksy Ghea lagi keluar kota? Ghea sendiri dong?!"perasaan khawatir membuat Galkar melihat kaca jendela kamar Ghea. Masih menyala, berarti Ghea belum tidur.
Dengan lantangnya Galkar berteriak."GHEAAA AYO TURUN, GUE DIDEPAN!"
"GHEAA, GUE BAWA MARTABAK KEJU KESUKAAN LO,"
"GUE NGGA MAU PUTUS GHE, AYO TURUN, GUE MINTA MAAF YA?"
Dilihatnya lagi, lampu dikamar Ghea mati, Ghea mematikan lampu kamarnya, perasaan kecewa yang Galkar rasakan, untuk sekian kalinya, Galkar selalu melakukan hal ini, berteriak seperti orang kesurupan, biarlah jika orang memakinya, ia sudah tidak peduli.
Kepala Galkar tertunduk, masih diposisi didepan pintu.
Ceklek.
Kepala Galkar mendongak.
"Ghea..?"Galkar terperangah tak menyangka.
__ADS_1
•••