
Gadis Taruhan Galkar
•••
Ghea meletakkan ponselnya diatas nakas, helaan nafas lelah ia hembuskan.
Suara deritan pintu membuat Ghea mengalihkan pandangannya."kenapa mam?"
"Ghee? kamu lagi ada masalah sama Galkar?"ucap Mamsky to the point. Ghea bergeming.
Mamsky mengusap rambut tergerai Ghea."apapun itu masalahnya, cepet selesai baik-baik yaa, jangan lari dari masalah"
"Mam? kalo Mamsky disakitin sama Papksy, apa yang bakal Mamsky lakuin?"
Mamsky diam, memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan Ghea yang satu itu.
"Mungkin Mamksy bakal marah, tapi setiap orang punya kesempatan kedua, jadi Mamksy maafin Papsky"kata Mamsky tersenyum. Ghea mengangguk mengerti.
•••
"Hati-hati ghe, belajar yang pinter"ujar Papksy.
"Syapp Papskykuu, muahh"Ghea mengecup pipi Papsky cukup lama.
"Kaya bocil"gumam Dilan yang duduk di kursi belakang.
"Iri aja yang dibelakang wlee"Ghea langsung keluar dari mobil.
"Ghea lagi ada masalah sama Galkar ya, pap?"Dilan melirik Papsky yang ada dihadapannya, Papksy mengangguk mengiyakan ucapan Dilan.
•••
__ADS_1
Ghea melewati Galkar begitu saja dikoridor , tidak ada teriakan ataupun sapaan dari gadis itu , Galkar merasa kehilangan.
"Ghee.."
Galkar mencekal pergelangan tangan Ghea lembut, Ghea menatapnya datar.
"Gue minta maaf, gue ngga mau putus ghe"lirih Galkar, wajah serta pakaiannya terlihat sangat kusut, benar-benar seperti preman pasar.
"Lepas"Ghea melepaskan cekalan tangan Galkar.
"Ghe.."
"Biarin Ghea sendiri gal, Ghea butuh waktu"
"Sampe kapan? gue ngga bisa ghe"Ghea mengedihkan bahunya tanda tidak tahu.
"Gue ngga bakal lepas lo ghe, lo tetep punya gue, katakan kalo gue egois, tapi gue bener-bener ngga mau kaya gini ghee, gue bener-bener butuh lo"
"Udah? aku mau kekelas"acuh Ghea membuang muka kearah lain.
"Gue cinta lo, Ghea"ujar Galkar. Ghea langsung pergi dari hadapan Galkar.
"Harus sabar, semua butuh proses gal, jangan terlalu terburu-buru apalagi memaksa"
Ucapan Mama tadi pagi selalu terngiang-ngiang dikepala Galkar.
"Galkar akan berusaha buat luluhin Ghea mahh, Galkar janji sama Mama"gumam Galkar ntah pada siapa.
•••
Galkar mendaratkan bokongnya dikursi kantin, menatap Ghea yang sedang makan bakso dihadapannya."makannya pelan-pelan, ngga ada yang mau ambil juga kok"seru Galkar terkekeh pelan.
__ADS_1
Ghea memutarkan bola matanya malas, tentu saja malas, malas melihat Galkar untuk sekarang ini.
"Ghe gu--"
Belum sempat Galkar berbicara, Ghea sudah menatap Galkar seperti ingin memasangnya."bisa pergi?"
Syok. Itu yang dirasakan Galkar saat ini. Ghea berubah 80°.
"Ghe..lo kok gitu?"Galkar berujar lirih, matanya terlihat sayu.
"Kamu ngga denger ucapan aku tadi pagi? aku butuh waktu, jangan egois, bisa?"desak Ghea menatap tajam Galkar, tapi menurut Galkar. Ghea terlihat lucu sekarang ini.
Galkar menggeleng."ngga bisa, gue mau nemenin pacar gue makan bakso"Galkar tersenyum jahil.
"Keras kepala"gumam Ghea melanjutkan acara makannya yang tertunda tadi. Galkar menangkup pipinya sendiri sembari melihat Ghea yang asik menyantap baksonya.
"Hai ghe"sapa Reihan duduk disebelah Ghea. Ghea tersenyum, lalu menjawab sapaan Reihan.
"Hai rei"
Darah Galkar mendidih, rasa ingin menonjok Reihan saat ini juga, tapi ia urungkan niatnya saat melihat tatapan maut dari Ghea.
"Ini novel yang lo minta"Reihan memberikan novel kepada Ghea, Ghea menerimanya dengan hati yang berbunga-bunga. Pasalnya itu novel yang ia cari selama ini.
"Makasih ya rei"Reihan mengangguk.
"Gue kekelas dulu ya ghe, ada urusan"ujar Reihan, tentu kepergian Reihan karna ulah Galkar.
Ghea sudah beranjak dari duduknya."eh ghe, mau kemana?"seru Galkar.
"Bukan urusan kamu"Ghea melenggang pergi dari area kantin.
__ADS_1
Galkar tersenyum kecil, siap menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
•••