
Gadis Taruhan Galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
part 45
Galkar mengerucutkan bibirnya saat mengingat kejadian itu."jangan gitu lagi, gue cemburu tauu"pekik Galkar tertahan saat Ghea menutup mulut Galkar.
"Stt jangan berisik ih, takut tetangga marah-marah kaya kemarin,"celetuk Ghea melototi Galkar, Galkar dibuat terkekeh."asal Alkar tau, tetangga suka marah-marah pas pagi, gara-gara Alkar teriak-teriak, itu ganggu mereka al"
Galkar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."itu kan keinginan lo, ghe, lo lupa?"
Ghea mengerutukan keningnya, berusaha mengingat.
"Aaa Ghea ngga inget"Ghea mengembungkan kedua pipinya. Galkar mengacak rambut Ghea asal.
"Yaudah, intinya, lo pernah bilang ke gue kalo lo mutusin gue, gue bakal teriak didepan rumah lo, masih kecil kok udah pikun"celetuk Galkar tertawa.
"Apa sih, Ghea ngga pikun tau, Ghea cuma lupa!"Ghea menangkis kenyataan itu.
"Iya, Ghea gue ngga pikun"akhirnya harus Galkar juga yang mengalah.
"Nahh gituu"
Galkar mengangguk-anggukkan kepalanya."ngga bobo, hm?"Ghea menggeleng.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nunggu Mamksy sama Papksy pulang"Galkar mengangguk.
•••
Pukul 11 Galkar baru sampai dirumah, ia sudah menduga jika orang rumah sudah tidur.Namun, suara langkah kaki tiba-tiba saja terdengar.
"Abis darimana kamu,?!"suara tinggi Papa menyapa pendengaran Galkar.
"Apa peduli Papa sama aku?"sentak Galkar berjalan menaiki tangga.
"Papa peduli sama kamu gal, apa kamu ngga pernah anggap Papa ada?"suara pria paruh baya itu memelan, sudah lelah dengan tingkah anak laki-lakinya ini.
Galkar tertawa sumbang."bukannya terbalik?"Galkar membalik tubuhnya menghadap Papa.
"Jaga ucapan kamu Galkar!"bentak Papa emosi, matanya terlihat marah.
"Papa sayang sama kamu gal!"pungkas Papa. Langkah Galkar terhenti, hatinya berkata ingin menjawab ucapan laki-laki itu, tapi otaknya berputar untuk tidak menjawab, raganya sudah lelah, Galkar melanjutkan langkahnya.
"Papa sayang sama Galkar, apa kamu ngga percaya, itu?"gumam Papa menatap punggung Galkar.
Mama yang mendengar perbincangan mereka berniat untuk berbicara kepada Galkar.
"Gal..?"Mama menghampiri Galkar. Dilihatnya Galkar berbalik menghadap Mama.
"Loh, Mama belum tidur?"bingung Galkar, pasalnya Mama nya itu tidak pernah tidur selarut ini.
Mama menggeleng."Kamu abis darimana?"tanya Mama.
__ADS_1
"Dari rumah Ghea mah, kasian Ghea sendirian dirumah, Galkar tungguin sampai orang tua nya pulang, Mama tenang aja, Galkar sama Ghea diteras kok, ngga didalem rumah"jujur Galkar, takut-takut Mama nya memarahinya karna bertamu dijam tidur orang lain.
Mama mengangguk mempercayai ucapan anak bungsunya ini."Papa sayang sama kamu gal, Mama pun begitu"Mama menatap anaknya sendu, ada ekspresi kecewa yang Mama nya itu tujukan.
Galkar bergeming."tapi--"
Sebelum Galkar angkat bicara Mama memotong."kamu percaya sama Mama, kan?"Galkar mengangguk pelan.
"Maafin masa lalu Papa, sayang, Mama selalu ajarin Galkar buat selalu memaafkan orang lain kan? terlebih, ini Papa kamu sendiri"ujar Mama, mata kantuknya sudah memerah.
"Maafin Papa ya gal? Mama ngga mau, didalam rumah ini ada perpecahan lagi, cukup yang lalu jadiin pelajaran"tungkas Mama pada intinya."maaf kalo Mama belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk Galkar sama kak Nara. Mama sayang kalian, begitupun Papa gal"
"Mah..?"
"Kenapa, sayang?"Mama tersenyum tipis.
"Galkar juga sayang sama Mama dan juga Papa"Galkar memeluk Mamanya, rasa sesak seketika menggerogoti sisi lain hatinya."maafin Galkar ngga bisa jadi anak baik buat Mama sama Papa, maafin Galkar udah bersikap layaknya musuh sama Papa, maafin Galkar mahh"racau Galkar didalam dekapan Mamanya.
"Gal..?"
Suara bariton Papa membuat Galkar menghentikan tangisnya. Ia berbalik, memeluk tubuh rentan Papa nya yang umurnya sudah tidak lagi muda.
"Maafin Galkar pah, maafin Galkar"
Papa mengangguk, menyerka air matanya yang sempat turun."iya gal, Papa juga minta maaf ya belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu"
Galkar menggeleng."Papa udah jadi orang tua yang terbaik, maafin Galkar yang pembangkang ini"ucap Galkar dengan tangisan yang ia keluarkan.
__ADS_1
•••