
Gadis Taruhan Galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
"Ghea..?"Galkar terperangah tak menyangka.
Ghea mengenakan pakaian tidurnya, dress putih selutut, dan rambut tergerainya, itu membuat Ghea tambah cantik. Terakhir Galkar melihat Ghea, seminggu yang lalu, gadis itu selalu menghindar jika Galkar ingin menghampirinya, tapi siapa sangka? Ghea akhirnya mau menemui Galkar.
"Alkar.."ucap Ghea lembut.
Galkar mengangguk."iya ghe..? ah gue lupa, gue bawa martabak keju kesukaan lo, makan yuk? lo udah makan belum?"
Ghea menggeleng."belum,"cicit Ghea.
"Makan martabak, mau ya?"percayalah, Galkar kini sangat manis dimata Ghea.
"Mau kalo sama Alkar"
Tenggorokan Galkar tercekat mendengar suara Ghea lagi. Galkar ingin merengkuh tubuh gadis ini sekarang juga.
Galkar mengangguk, menggiring Ghea untuk duduk di teras rumah gadis itu.
Mereka makan dengan keheningan. Galkar sesekali menatap Ghea secara terang-terangan.
"Ghe..?"
"Iya Alkar?"Ghea menatap mata elang milik Galkar.
"Lo punya gue, kan?"Ghea terdiam. Lalu tersenyum.
"Emang Alkar maunya Ghea punya siapa?"alih Ghea.
"Alkar maunya, Ghea punya Alkar,"ucap Galkar menirukan ucapan Ghea yang memanggil dirinya dengan panggilan nama.
Ghea mengangguk."Ghea punya Alkar"
Galkar menatap Ghea tak percaya."ghe..?"mata laki-laki itu terlihat berkaca-kaca.
"Hug me, please"pinta Galkar.
Ghea memeluk Galkar, Galkar membalas pelukan itu dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kalo ini mimpi, gue mohon, jangan ada orang yang bangunin gue"gumam Galkar didalam pelukan. Ghea tertawa pelan mendengar gumaman Galkar.
Ghea mengendurkan pelukannya."ini ngga mimpi Alkar"ucap Ghea. Ia mencubit pipi Galkar gemas.
Galkar menjerit."awww.."
Ghea kaget, ia tidak menyangka cubitan nya membuat Galkar menjerit begitu kencang.
Ghea mengelus pipi Galkar."sakit banget?"dari sorot mata, Ghea sangat terlihat khawatir.
"Sakit banget,"ucap Galkar."cium dong, biar ngga sakit"
"Huh, modus"Ghea tertawa.
"Gue seneng"ungkap Galkar jujur.
"Seneng kenapa?"
"Seneng bisa liat lo ketawa, lagi, gue kangen dengan tawa itu, dan juga orangnya"sahut Galkar. Ghea merasa pipinya kian panas.
"Jangan pergi, ya?"
•••
"Lo cantik banget, ghe"ungkap Galkar menatap dalam-dalam manik mata Ghea, ia sudah hanyut dalam wajah anggun nan menawan itu.
Ghea membuang mukanya kearah lain, tentu saja ia malu mendengar pujian gamblang yang terlontar begitu saja dari bibir Galkar.
"Ghe, gue mau jelasin semuanya sama lo, supaya lo percaya sama gue, gue ngga mau nutup-nutupin apapun lagi dari lo, gue janji"wajah Galkar terlihat serius, lalu tersenyum manis kepada Ghea.
"Yaudah, coba jelasin"pipi Ghea mengembung, ia menangkup pipinya sendiri, terlihat sangat imut.
"Lo jangan kaya gini, gue nanti ngga fokus buat cerita"pungkas Galkar melihat arah lain.
Ghea terkekeh pelan, mengangguk."jadi..?"
Galkar menceritakan semua awal taruhan itu, tidak ada kata yang ia lebih-lebihkan, selesai Galkar cerita, ia membawa tangan Ghea untuk ia genggam."lo percaya sama gue kan ghe?"
Ghea mengangguk dengan secarik senyum manisnya. Galkar membawa Ghea kedalam dekapannya."makasih, lo udah percaya sama gue, gue cinta sama lo, ghe"
"Tapi.."sela Ghea, melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Tapi kenapa?"Galkar terlihat khawatir.
"Ghea bahagia Alkar udah mau jujur, Ghea udah tau semuanya sebelum Alkar cerita sama Ghea, temen-temen Alkar waktu itu kesini, inget, pas Alkar jujur sama Mamksy Papsky?"Galkar mengangguk, mengingat saat itu."pas Alkar pulang, temen-temen Alkar dateng, jelasin semuanya sama Ghea, Ghea bahagia tentunya,"
"Loh? kalo lo taunya dari seminggu yang lalu, kenapa lo selalu menghindar dari gue?"mata Galkar terlihat berkaca-kaca jika mengingat Ghea menjauhinya, ia tau ini adalah konsekuensinya.
"Ini semua akal-akalan dari temen-temen Alkar, awalnya Ghea ngga tega buat ngehindar dari Alkar, tapi ngeliat perjuangan Alkar hati Ghea jadi luluh, inget, pas Alkar hujan-hujanan karna nunggu Ghea latihan vocal?"
Galkar berusaha mengingat.
Pada saat itu..
"Ghea, ayo pulang sama gue"Galkar ingin menarik tangan Ghea, tapi ia kalah cepat dengan Reihan.
"Heh, ngapain lo pegang-pegang tangan cewe gue?!"emosi Galkar menggebu-gebu. Siap menghajar Reihan kapan saja.
"Cewe lo? lupa apa gimana, lo sama Ghea kan udah putus, eh?"Reihan seakan-akan keceplosan.
"Kurang ajar"Galkar sudah mendaratkan bogem mentah ke pipi mulus Reihan.
"Galkar, udah!"pekik Ghea. Galkar emosi, mukanya merah padam.
"Lo cuma boleh manggil gue Alkar bukan Galkar, ghe"ujar Galkar.
Ghea mengacuhkan Galkar, ia membantu Reihan untuk berdiri.
"Pergi!"usir Ghea, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ghe..jangan nangis, gue mohon"pinta Galkar yang menyadari mata Ghea ada linangan air mata.
"Pergi Galkar, aku mohon"
"Oke fine!"Galkar melengos pergi begitu saja saat hujan sudah turun, ia melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.
•••
Ingetin aku buat post nanti malam yaa😉
Oh iya, sekedar info
•} senin-sabtu : post 2 bab
__ADS_1
•} minggu : libur
dadah babaii, jangan bosen untuk pantauin cerita Galkar Ghea yaaa! ^o^