
Gadis Taruhan Galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Mereka berhenti disebuah taman. Dengan pemandangan danau yang memanjakan kedua mata.
"Wahh tempatnya indah" Ghea menatap sekeliling.
Lampu gantung dengan kelap kelip lampunya yang redup.
"Ayo duduk disana" tunjuk Galkar. Ghea menurut. Keduanya duduk.
"Mau gula-gula kapas?" tawar Galkar. Ghea mengangguk semangat.
Galkar beranjak. Membeli gula-gula kapas untuk Ghea.
"Ini"
"Makasih Galkar "
Galkar menatap Ghea yang sedang memakan gula-gula kapas itu."Galkar mau?"
"Buat lo aja"
Ghea mencubit gula-gula kapas itu. Ia menyodorkan ke mulut Galkar.
"Ayo makan"
Galkar dengan pasrah memakannya."Manis" ucap Galkar menatap Ghea.
"Haha iya manis banget ya gula-gula kapasnya"
"Bukan gula-gula kapasnya yang manis, tapi lo"
Ghea mendongak. Menatap Galkar yang sedang menatapnya.
"Sejak kapan Galkar pinter gombal?"
"Sejak, lo ngga ada disisi gue"
Darah Ghea seketika berdesir.
"Ghee?" Galkar mengalihkan pandangannya kearah danau.
"Iya Galkar?"
"Seandainya gue nanti nyakitin hati lo, apa yang bakal lo lakuin"
"Ghea percaya sama Galkar, Galkar ngga akan nyakitin hati Ghea" Ghea tersenyum.
"Kalo gue buat lo nangis?" Galkar menatap kedua mata indah Ghea.
" Ghea bakal cubit Galkar dan pukul-pukul Galkar " Ghea memakan gula-gula kapasnya.
"Emamg berani?"tantang Galkar.
Ghea mengeleng dengan muka polosnya."Ngga"Galkar terkekeh. Mengacak-acak rambut terurai Ghea.
"Gue izinin, lo boleh cubit dan pukul gue kalo gue buat lo nangis"Ghea terdiam.
__ADS_1
"Kalo lo mutusin gue, gimana?"ujar Galkar wajahnya kini sangat sendu.
Ghea tertawa.
"Ghea kan suka sama Galkar, masa iya Ghea mutusin Galkar. Ya ngga bakal terjadi lah" Ghea geleng-geleng.
"Kalo sebaliknya gimana?" ucap Ghea.
"Artinya gue bodoh, bisa nyia-nyiain gadis kaya lo" Galkar tersenyum sendu.
"Gue harap lo gadis yang bersama gue, untuk terakhir kalinya"
Ghea tersenyum." Galkar percaya ngga, kalo Ghea ngga bisa hidup tanpa Galkar?"
"Ya ngga lah, lo ngga akan hidup tanpa nyokap dan bokap lo. Bukan karna gue" Galkar terkekeh, Ghea sangat kesal, niat ingin mengombali Galkar tapi jawaban Galkar malah diluar ekspektasi Ghea.
"Ishhh " Ghea mengerucutkan bibirnya.
"Jelek lo kalo cemberut" ledek Galkar.
Ghea menatap Galkar serius.
"Sok serius lo neng" Galkar menoyor pelan dahi Ghea.
"Galkar kalo ada masalah, cerita aja sama Ghea ya" Ghea tersenyum. Galkar terdiam.
"Jangan sungkan buat cerita sama Ghea, Ghea kan pacar Galkar " Ghea tersenyum. Lagi.
Galkar tersenyum kecil, lalu mengangguk.
"Thanks"
"Sama-sama Galkar "
"Gue bukan power ranger yang tiba-tiba berubah"
Keduanya tertawa dengan angin sore yang menemani kedua insan yang dimabuk asmara itu.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Ghea turun dari motor Galkar. Ia memberikan helm kepada Galkar.
"Nih, kasih ke nyokap lo" Galkar memberi kresek warna putih itu ke Ghea.
"Makasih Galkar, emm Galkar ngga mau mampir dulu?" tawar Ghea.
"Ngga, gua nitip salam aja sama nyokap lo" Ghea tersenyum, lalu mengangguk.
"Okey nanti disampein"
"Besok sekolah?" Ghea mengangguk.
"Siapa yang nganter?" tanya Galkar.
"Mungkin sama Mamsky, atau engga sama kak Dilan"
Dahi Galkar mengerut." Dilan? siapa?"
"Kakak sepupu Ghea, umurnya berpaut 3 tahun" Galkar mengangguk.
__ADS_1
"Besok gue jemput"
Bibir merah jambu milik Ghea terangkat.
"Iya Galkar, Ghea tunggu"
"Gue balik, bye" Galkar menjalankan motor ninjanya. Ghea menatap motor Galkar yang hilang dari pandangan.
"Bye, Galkar" Ghea tersenyum.
Ghea membuka gerbang. Dan masuk ke dalam rumah. Suara televisi diruang tamu membuat Ghea menduga-duga bahwa Mamsky belum tidur.
"Udah pulang ghee" Ghea menyalami tangan Mamskynya.
"Udah mam"
"Galkar ngga mampir?"
"Ngga mam, dia langsung pulang tadi. Tapi tadi dia nitip salam buat Mamsky "
"Wa'alaikummussalam" Mamsky tersenyum.
"Ini dari Galkar mam" Ghea memberikan kresek putih itu ke Mamsky.
"Martabak?" Mamsky membuka kresek itu.
"Iyaa, itu buat Mamsky "
"Aduhh Galkar calon mantu idaman ya ghee" Ghea terkekeh.
"Ghea keatas dulu ya mam" Ghea beranjak.
"Oh iya mam, kak Dilan mana?"
"Dilan lagi ke kampus buat besok pendaftaran mahasiswa baru ghee" Ghea mengangguk.
Ghea menaiki tangga.
Sesampainya di dalam kamar. Ghea menduduki kursi belajarnya. Membuka laci mejanya. Mengambil buku diary pink miliknya.
Ghea menulis kata-kata yang sudah menghiasi hari nya pada hari ini.
Ghea membacanya kembali, lalu tersenyum.
"Memory my" Ghea tersenyum menatap buku diary yang ia namai itu.
Ghea menyimpannya lagi ke dalam laci. Ia berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ghea keluar dari kamar mandi. Merebahkan dirinya dikasur empuknya.
Ghea menatap langit-langit kamarnya yang berwarna peace.
"Kenapa Galkar menanyakan pertanyaan itu sama Ghea, apa Galkar mau ninggalin Ghea? " Ghea bertanya dalam pikiran dan juga hatinya.
Ucapan Galkar tadi sore terus terngiang-ngiang dikepala Ghea.
Ghea beranjak duduk. Ia mengambil bingkai foto yang disana ada gambar dirinya dan juga Galkar.
Ghea tersenyum. Mengelus bingkai itu.
__ADS_1
"Terima kasih tuhann, terima kasih sudah menghadirkan sosoknya dihidup Ghea"gumam Ghea.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•