
Gadis taruhan galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Seorang laki-laki menatap lekat sang gadis, yang sedari tadi memakan es cream.
"Huemm es creamnya enak, Galkar mau?"tawar gadis itu, Ghea.
Galkar mengeleng.
"Kenapa? es cream nya enak lohh"Ghea memakan es cream hingga tandas.
"Gue mau nanya"pandangan Ghea langsung pada objeknya.
"Silahkan, mau nanya apa?"
"Kenapa lo bisa langsung akrab sama nyokap gue " Galkar menatap Ghea dengan mata elangnya.
"Emm mungkin karna kita sama-sama perempuan, makanya Ghea langsung akrab sama Mama Galkar " jelas Ghea.
"Thanks"
Ghea mengerutkan keningnya bingung."Buat apa?"
"Buat all, thanks buat hari ini"Galkar tersenyum. Membuat Ghea terpukau dengan senyum itu.
Saat Galkar merubah raut wajahnya menjadi datar kembali, Ghea cepat-cepat memegang pipi Galkar.
"Galkar lebih ganteng kalo senyum, manis banget" puji Ghea. Seketika wajah Galkar panas mendapat pujian dari Ghea. Padahal setiap hari disekolah selalu mendapat pujian seperti itu.
"Apaan si"Galkar melepas tangan kecil itu dari wajah nya. Ghea terkekeh kecil.
"Galkar harus semangat ya, jangan nyerah. Mama masih butuh Galkar " ucap Ghea, tersenyum. Lagi.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Ghea sedang berkutat dengan soal-soal fisika yang diberi Pak Dodo kepadanya. Ralat. Kepada murid kelas 12 IPA 2 .
"Suttt ghee"bisik Reihan. Teman bersebrangan dengan meja Ghea.
"Ada apa?"
"Jawaban nomor 12 apa?"
"Ih kamu mau nyontek ya? ngga mau ah" Ghea melanjutkan mengerjakan tugasnya.
"Yaelah pelit amat, satu soal doang kok. Plaseee gheee, lo kan baeee, pinterr, terus cantik lagi" pemuda itu tak henti-hentinya untuk meminta jawaban dari Ghea. Ngga pasti memang kaya jawaban si dia. Sksksk.
"Sekali aja ya" Reihan mengangguk antusias mendengar ucapan Ghea.
Ghea mengangkat tangannya. Pak dodo langsung mengerutkan keningnya.
"Ada apa Ghea?" tanya Pak Dodo.
"Reihan mau bertanya Pak, dia malu katanya" terdengar kekehan dari akhir kalimat yang Ghea lontarkan.
"GHEAA" teriak Reihan.
"Reihan, keluar dari pelajaran saya"intruksi Pak Dodo. Dengan kesal Reihan meninggalkan kelas.
__ADS_1
"Maaf rei" gumam Ghea tersenyum ngeledek.
"Awas lo ghee" gumam Reihan menatap tajam manik mata hazel Ghea.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
"Huft makanya hati-hati, jadi jatoh lo" ucap laki-laki. Dengan rambut acak-acakan dan berkeringat bercucuran.
"Kan Ghea ngga liat kalo ada batu" ucap Ghea. Gadis itu sedari tadi mendengar setiap wajengan dari sang laki-laki.
"Awssss sssshhhh" ringkis Ghea kecil.
laki-laki itu menatap Ghea yang kesakitan."Bandel si jadi orang, kalo dibilangin dengerin ghe " lagi. Mungkin sudah 100 kali laki-laki itu mengatakan kalimat yang sama.
"Maaf Galkar"
Yaps. Galkar. Laki-laki yang mengomeli Ghea sedari tadi adalah Galkar. Si laki-laki pujaan hati sang gadis.
"Udah selesai"
"Makasih Galkar" Ghea tersenyum sangat manis.
"Hmm"
"Galkar. Ghea mau izin"ucap Ghea serius.
"Izin?"Ghea mengangguk.
"--Kemana?"lanjutnya.
"Mau izin keluar sama Mamsky, nanti"
"Kata Mamsky mau ke mall"
"Ya udah hati-hati ya, kalo masih sakit ngga usah ikut" Galkar mengacak rambut panjang Ghea. Ghea bersemu merah. Galkar terkekeh.
"Galkar?"
"Hmm?"
"Galkar manis banget sii, pantesan gula Ghea di rumah habis"
Blush. Pipi Galkar ada semurat merah.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-
Sebulan sudah hubungan Ghea dan Galkar. Semua terlihat baik-baik saja, namun tidak tau untuk kedepannya.
"Galkarrr" teriak Ghea di koridor sekolah. Untung sekolah sudah bubar, jika tidak? bisa di pastikan kalo Ghea akan jadi pusat perhatian.
"Hmm?" dehem Galkar. Melihat Ghea yang sudah berada dihadapannya.
"Mamsky Ghea nelepon, nyuruh Ghea pulang" jujur sang gadis.
"Oh, terus?"
"Ghea izin pamit sama Galkar, soalnya besok Ghea ngga sekolah "
Galkar mengeritkan kening nya. Keringatnya yang bercucuran sedari tadi membuat sosok jangkung itu tampan berkali-kali lipat.
__ADS_1
"Kemana?" Galkar menatap Ghea penuh dengan tanda tanya.
"Selama seminggu, Ghea bakal keluar negeri sama Mamsky, mau kunjungi Papsky disingapura"
Ntah mengapa, dada Galkar serasa sesak. Padahal ia tidak punya penyakit jantung.
"Gal,, Galkar" Ghea mengibaskan tangannya di depan wajah Galkar.
"Eh kenapa" lamunan Galkar buyar.
"Galkar kenapa si, kok bengong" Ghea mengerucutkan bibirnya. Seketika jantung Galkar berdisko tak karuan.
"Gapapa, yaudah ayo gue anterin pulang" ucap Galkar. Ghea mengangguk dengan senang.
"Ayyoo" Ghea menarik lengan kekar Galkar yang besar. Galkar tersenyum kecut.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
"Galkar?" sudah 15 menit yang lalu, tapi Ghea tak kunjung turun dari mobil Galkar.
"Hmm?" Galkar tak mengalihkan pandangannya. Ia tetap menatap setir mobil miliknya.
"Ghea ngga pengen jauh dari Galkar" aku Ghea dengan mata yang sudah berkaca-kaca,
Pandangan Galkar tertuju pada gadis itu.
"Ntah kenapa gue ngga pengen lo pergi ghe, gue mohon" batin Galkar.
"Lo ngga kangen emang sama Papsky lo?" Galkar mengalihkan pembicaraan.
"Kangen banget"
"Yaudah, lo temui Papsky lo"
Ghea nampak berpikir. Detik kemudian ia mengangguk dengan senyum bak bulan sabit yang sedang melengkung.
"Yang penting kan, minggu depan Ghea ketemu Galkar, ya kan Galkar?" Galkar hanya mengangguk.
"Nanti kalo Ghea kangen, Ghea boleh telepon Galkar kan?" lagi. Galkar mengangguk.
"Sayaaangg Galkar " Ghea berhamburan memeluk tubuh Galkar. Galkar tak membalas namun juga tidak menolaknya.
Pelukan dilepaskan oleh Ghea.
"Salamin buat Mamsky lo" ucap Galkar. Ghea mengacungkan jembolnya.
Just info. Minggu lalu Galkar main ke rumah Ghea. dengan bujukan dan rayuan Ghea. Galkar mengiyakan ucapan Ghea. Gadisnya.
"Yaudah, Ghea turun dulu ya" Ghea memegang pintu mobil. Namun suara Galkar menghentikan kegiatan Ghea.
"Kalo mau jalan, kabarin"terdengar manis di telinga Ghea. Ghea mengangguk dengan terus tersenyum.
"Ghea masuk ya, bye Galkar"
Galkar menatap kepergian Ghea. Sampai Ghea sudah masuk rumah, Galkar langsung menjalani mobilnya.
Ditengah perjalanan. Galkar menepikan mobilnya.
"Anj*ng gue kenapa bang*at, arghh" Galkar mengacak rambutnya. Pikiran dan hatinya kini tidak sejalan.
__ADS_1
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•