
Gadis taruhan galkar
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Hari weekend membuat Ghea ingin bermalas-malasan didalam kamarnya.
"Sumpaa ini nyamann bangett"seru Ghea bergulat dengan selimut dan bantal gulingnya.
"GHEAA..BANGUN, ADA GALKAR DIBAWAH"teriak Mamsky dibalik pintu kamar Ghea. Ghea langsung duduk mendengar bahwa ada Galkar dibawah.
"Gimana ini, Ghea belum mandii"
"Gheaa cepetan"pekik Mamsky.
"Iyaa Mamsky"teriak Ghea dengan wajah paniknya.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Galkar menatap Ghea dari atas sampai bawah."Belum mandi?"
Ghea mengigit bibir bawahnya dengan jari yang ia mainkan, persis sekali seperti anak kecil yang sedang dimarahi.
Ghea mengeleng."Belum al"
"Mentang-mentang hari weekend, mau malas mandi hm?"hardik Galkar dengan tatapan tajamnya. Ghea menundukan kepalanya dalam.
"Eh, ada Galkar?"suara bariton Papksy membuat suasana yang tadinya tegang menjadi menghangat.
"Iyaa om"Galkar menyalami tangan Papksy.
"Marahin aja Ghea gal, susah sekali anaknya kalo disuruh mandi tuh"Papksy malah membela Galkar. Ghea pikir Papsky akan membela dirinya. Ghea mengerutu didalam hatinya.
Ghea memelas meminta pertolongan Papksy. Papksy malah mengacuhkan gadis itu.
"Kalo gitu, om mau kekantor dulu ya gal"Papksy menepuk bahu Galkar."makanya mandi"bisik Papksy ditelinga Ghea. Ghea kesal bukan main.
Selepas kepergian Papsky.
"Papsky lo aja belain gue kan?"Galkar tersenyum kemenangan. Ghea cemberut.
"Udah sana mandi"
"Ngga mau, emang mau kemana sih?"sentak Ghea yang emosi.
__ADS_1
"Heh bocil, disuruh mandi malah ditanya mau kemana"protes Galkar menoyor kening Ghea pelan.
"Ish, biasanya kan Mamsky kalo nyuruh Ghea mandi artinya mau pergi, emang kita mau pergi kemana al?"mata sipit Ghea terlihat membinar-binar.
"Ngga kemana-mana, gue cuma nyuruh lo buat mandi"
"Tapi Ghea ngga mau mandi"lirih Ghea.
"Mau mandi apa mau gue siram air keran?"ancam Galkar. Ghea bergedik ngeri.
"Alkar galak, serem, kaya singa"celetuk Ghea tanpa dosa.
"Apa lo bilang?"Galkar mendekat. Ghea gelagapan.
"IYAAAA GHEAA MANDII HUAAA"Ghea langsung masuk kedalam rumah dengan terbirit-birit. Galkar mendapat hiburan gratis melihat tingkah mengemaskan Ghea.
"Tuhan ngga adil ya ghe? padahal gue mau bahagia sama lo, tapi tuhan malah mempersatukan kita lewat ujiannya yang begitu rumit"gumam Galkar.
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•
Ghea mengerucutkan bibirnya dikala melihat Galkar yang sedang duduk sembari memakan cemilan buatan Mamsky.
"Ishh Alkar mahh"decak Ghea kesal, Galkar mengedarkan pandangannya menatap Ghea dari atas sampai bawah.
"Malah ngemil ishh, ayo"paksa Ghea tak sabaran.
Dahi Galkar mengerut."Ayo kemana?"
Ghea membulatkan matanya, ia kesal mendengar penuturan Galkar yang tidak sesuai ekspektasinya.
"Jalan-jalan lah"ketus Ghea memasang muka juteknya.
"Siapa juga yang mau ajak lo jalan-jalan, makanya lain kali jangan salah paham"Galkar terkekeh sembari mengunyah keripik pisangnya.
"Alkar jahat ihh, Ghea udah mandi gini masa ngga mau jalan?"Ghea membanting dirinya duduk disebelah Galkar.
"Dih siapa suruh belum mandi, jorok"
"Jorok-jorok gini Alkar tetap suka kan?"Galkar mengangguk membenarkan ucapan Ghea. Ghea tersenyum senang.
"Kalo ngga jorok"ujar Galkar, membuat Ghea mengeluarkan tanduk tajamnya.
"Udah diem, gue kesini cuma mau ngasih sesuatu buat lo"
__ADS_1
Ghea mengeritkan keningnya, bingung."Mau ngasih apa?"penasaran Ghea.
Galkar mengambil sebuah box, seperti kandang, kucing.
"Ini buat lo"Ghea mengambil, dengan sebuah rasa penasaran.
"Atas dasar apa Alkar kasih Ghea box ini?"bingung Ghea.
"Bukan atas dasar apa, tapi cara supaya lo ngga rindu sama gue"canda Galkar.
"Boleh Ghea buka?"
"Buka aja"
Ghea membuka box itu, dan yaps. Dugaan Ghea benar, sebuah kucing berbentuk mungil dengan warna kuning keputih-putihan.
"Aaa astaga, kucingnya lucuu bangett, makasih Alkar, sayang kamu"Ghea mengeluarkan kucing itu dari dalam box.
"Gemoyy bangett kaya Alkar"Ghea melirik Galkar, yang dilirik menatap tajam sang gadis.
"Jangan sama-samain gue sama kucing"hardik Galkar, Ghea tertawa.
"Ghea namain kamu siapa yaa"
"--Alkar ngga mau request nama buat si kucing ini?"
"Ngga, dan ngga minat"acuh Galkar, Ghea menyoraki laki-laki itu.
"Gimana kalo nama kamu luna, dipanggilnya una"Ghea tersenyum senang.
"Kenapa lo mau kasih nama luna, nama kucing kan banyak"celetuk Galkar, keheranan tentunya, nama kucing ko sangat bagus? kan, bisa dinamain udin atau jamal.
Pikiran yang sangat menakjubkan.
"Karena, arti luna itu adalah sebuah bulan, begitu pun dengan seseorang yang telah memberi una ke Ghea, makasihh yaa al, Ghea akan selalu mengingat Alkar lewat una"Ghea tersenyum tulus, Galkar tersenyum kecil, lalu mengacak rambut Ghea.
"Bahkan, seterang apapun bulan, seindah apapun bintang, kalo lo yang selalu gue tuju, mereka semua ngga ada artinya buat gue"blush, ucapan Galkar kali ini membuat pipi cubby Ghea memerah bak kepiting rebus, sangat manis didengar, bahkan Galkar sampai terkekeh melihat begitu merah pipi cubby itu.
"Pipi lo merah, lo alergi?"laki-laki itu menjahili Ghea.
"Iyaa, Ghea alergi Alkar"cetus Ghea yang sudah kepalang kesal bukan main.
"Heh"
__ADS_1
-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•-•