
Terlihat disebuah toko buku tepi jalan raya yang tidak jauh dari halte bus, seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMA sibuk memilih buku dikaregori novel, dia tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya, dengan saksama dia melihat ssetiap novel yang iya jumpai, dan akhirnya dia berhentidisebuah buku yang berjudul bila akhirnya nanti.
Dari raut wajahya iya terlihat sangat girang sekali menemukan novel tersebut sehingga dengan segera iya
membawakan novel tersebut dke tempat kasir untuk segera membayarnya, dan “bruk” gadis tersebut menabrak seorang lelaki jangkung yang mengenakan kyang mengenakan setelan jas dengan kemeja putih didalanya
dilengkapi dengan sepatu kulit yang semakin membuatnya menawan.
“sorry, nggak sengaja, kamu gak apa-apa, kan?” sang lelaki itu
bertanya kepada gadis itu, tapi sayangnya bukan mendapatkan sebuah jawaban
malah sang gadis memilih untuk segera berdiri dan menuju kekasir untuk segara
membayar bukunya.
“mba, sudut bibir mba berdarah, ini pake tisu untk membersihkannya” kasir wanita memberikan
sebuah kotak tisu kearah gadis tersebut dan iya pun membersihkan sudut bibirnya.
“makasih, mba dan ini uangnya” gadis itu memberikan uang pembayaran novelnya dan mengucapkan terima
kasih, sementara dibelakang seorang lelaki yang menubruk gadis barusan memanggil gadis tersebut karena kartu pelajar gadis tersebut jatuh saat iya tidak sengaja menabrak gadis tersebut tadi.
“mba, tunggu sebentar, ini kartu pelajarnya ketinggalan” lelaki itu berusaha melambaikan
tangannya agar si gadis menoleh kearahnya, namun usahanya sia-sia si gadis tidak mendengar seruan lelaki tersebut. Akhirnya iya pun bergegas keuar dari toko buku tersebut untu mengejar sang gadis, namun dia terlambat, si gadis sudah tidak ada di tempat. Dia melihat alamat dikartu pelajar tersebut untuk mengantar kartu pelajar milik gadis tersebut, ternyata alamat tersebt searah dengan rumahnya, hingga akhirnya iya pun memutuskan untuk mengantarkan kartu pelajar milik sang gdis tersebut setelah iya menyelesaikan urusannya, karena
iya terlebih dahulu dihubung oleh seseorang sehingga iya bergegas melajukan mobilnya ke jalan raya menuju sebuah Gedung yang layak disebut sebaga kantor karena semua orang yang berada di daerah tersebut mengenakan pakaian formal.
Diperjalanan dengan mengendarai sepeda motor metiknya di gadis menuju jalan pulang
kerumahnya yang sangat sederhana. Dimana ada seorang wanita tua yang sudah menunggunya diteras rumah
“Kok nenek duduk diluar bukannya istirahat didalam rumah aja, entar sakitnya nenek kambuh lagi loh” sigadis menyalami neneknya dan menyerahkan bungkusan makanan
“nenek bosan didalam rumah, makanya nenek keluar untuk mencari udara segar. Toh nenek hanya
duduk diteras ja kan, nggak bakalan buat penyakit nenek kambuh kok” nenek meyakinkan si gadis tersebut untuk tidak khawatir kepadanya
__ADS_1
“yaudah, nenek makan aja dulu ya, itu sate tempat kesukaan nenek, kebetulan Aya singgah buat beli buku tadi ya sekalian Aya beli aja” Aya duduk disamiping sang nenek yang sangat menikmati satenya
“tadi bunda nelpon nanyain kamu gimana keadaannya, dia bilag udah hampir sebulan kamu nggak
ngubungi mereka ya?” tanya sang nenek dengan sangat hati-hati
“iya, nek. Lagian setiap Aya ngubungi mereka yang ngangkat selalu sekretarisnya atau nggak kalo
Aya nelpon kerumah yang sealu ngangkat bi inah, makanya Aya jadi malas mau ngubungi mereka. Mereka juga nggak peduli gimana keadaan Aya sama nenek disini juga” wajah Aya memerah menahan tangisnya, sang nenek yang mengerti kondisi Aya langsung memegang tangan Aya seraya mengusap punggung tangannya seolah-olah
memberikan Aya kekuatan.
“nenek ngerti gimana perasaan kamu, tapi bia gimana pun juga mereka orangtua kamu, ibu yang
telah melahirnkan kamu” nenek memberikan pengertian kepada Aya. Mau bagaiman pun juga Aya hanya seorang anak yang sangat membutuhka perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, bukan nya aya tidak mensyukuri masih memiliki nenek yang sangat sayang dan peduli kepadanya, biar gimanapun juga Aya remaja yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.
Nenek berusaha untuk mencairkan suasana yang agak muram itu, akhirnya nenek mengajak Aya untuk
masuk ke rumah dan menyuruh aya untuk segera memebersihkan diri kemudian istirahat.
Lelaki tadi yang membawa kartu pelajar Aya keluar dari sebuah ruangan yang diikuti oleh sekitar
“Rio, kamu duluan aja, saya masih ada keperluan lain. Sekalian kamu kirim semua berkas tadi ke
email saya ya, segera” dengan patuh seorang yang dipanggil Rio meng iya kan perkataan majikannnya,
Mereka menuju bassment untuk mengambil mobilnya, setelah majikannya melaju meninggalkan area bassment Rio pun menuju mobilnya dan tak lama kemudian iya pun melajukan mobilnya meninggalkan area bassment tersebut.
Lelaki tersebut dengan saksama mencari nomor rumah yang ada di alamat kartu pelajar tersebt dan
setelah sekitar 5 melit iya menemukan nomor rumah dengan nomor 18A. iya menghentikan mobilnya didepan pintu pagar rumah sederhana tersebut dan membunyikan bel rumah, sekali iya membunyikanya namun tidak ada reaksi dari pemlik rumah, hingga yang kedua kalinyasang pemlik rumah keluar rumah untuk melihat siapakah kiranya yang akan bertamu. Dari dalam depan pintu sang nenek memberitahukan kepada lelaki tersebut untuk menunggu sebentar sementara sang nenek berjalan meuju pagar rumah untuk membukakan pagar rumahnya
“selamat siang, nek. Maaf apa benar ini alamat rumah Raya Pratiwi” sang lelaki memberikan salam
kepada nenek tersebut
“iya, ini rumah Aya dan saya neneknya, maaf kamu siapa dan ada perlu apa ya?” sang nenek
menanyakan keperluan lelaki tersebut karena sebelumnya Aya tidak pernah membawa teman kerumah apalagi seorang teman lelaki
__ADS_1
“saya Rilo, nek, dan maksud saya mencari Raya untuk mengembalikan kartu pelajarnya yangtertinggal di toko buku tadi” Rilo segera memberikan kartu pelajar kepada sang nenek dan segera pamitan untuk pergi
“terima kasih, nak Rilo. Aya memang selalu ceroboh dengan barangnya, tidak mampir dulu” nenek menawarkan Rilo untuk mampir namun Rilo menolak dengan sopan karena iya merasa masih memiliki urusan lain. Akhirnya nenekpun menutup pagar rumah, namun penyakit nenek pun kambuh, sang nenek langsung terjatuh ketanah, Rilo yang melihat hal tersebut langsung membukakan pagar rumah untuk menolong nenek, Rilo membawakan nenek masuk kerumah dan memanggil-manggil isi rumah tersebut. Aya yang mendengar suara gaduh langsung keluar kamar dengan amsih menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya. Mata Aya terbelalak melihat neneknya yang tengah terbaring disofa ruang tengah”
“nenek kenapa,
bangun nek” Aya menghampiri nnek tanpa menyadari kehadiran Rilo diruangan tersebut. Aya langsung mengambil kotak obat milik nenek dan segera menghubungi seseorang yang merupakan dokter khusus yang menangani penyakit nenek. Aya sudah menangis melihat keadaan neneknya yang masih belum sadar, hingga suara Rilo
menyadarkan bahwa masih ada orang lain diruangan tersebut
“nenek bakalan baik-baik aja, kamu jangan panik coba tenangin dulu diri kamu” bak mata kodok
besar begitulah mata Aya ketika mendengar ada suara lelaki dalam ruangan tersebut, Aya menoleh kearah suara dan terkejut sekaligus malu karena iya masih mengenakan handuk yang iya gunakan untuk mengeringkan badan selepas mandi
“sorry, bukan bemaksud jahat, nenek kamu tiba-tiba pingsan selepas aku mau pamit menganarkan
kartu pelajar kamu, ya aku baw aja masuk kedalam. Sebaiknya kamu pake pakaian dulu aja sana, sebelum dokternya datang biar nenek aku yang jaga untuk sementara waktu” wajah Aya memerah mendengar perkataan Rilo
“tolong tunggu nenek sebentar, makasih” Aya segera berlalu dari ruangan tersebut dan selang
sekitar 5 menit Aya sudah kembali keruangan tersebut
“ok, makasih kamu udah nolongin nenek dan ngembalikan kartu pelajar aku, kamu balik sekarang.”
Rilo membelakkan matanya, bagaimana tidak barusan iya diusir oleh seorang gadis, karena selama ini belum pernah orang yang berani menyuruh apalagi mengusir seorang Rilo Edward Mayniro, namun Rilo masih tidak menghiraukan ucapan Aya karena iya msih khawatir dengan kondisi nenek Aya
“aku balik selepas dokternya datang, masa iya aku pergi gitu aja ninggalin nenek yang masih pingsan. Seorang Aya bukannya senang mendapatkan perhartian begitu iya malah memasang wajah muram
“Ok, makasih atas perhatiannya, tapi aku lebih suka kamu pergi sekarang juga, nggak ada hal yang perlu kamu khawatirkan karna sebentar lagi dokternya bakalan datang. Tak lama Aya berbicara begitu, dokter Fras sudah sampai dirumah Aya dan segera masuk rumah tersebut, dokter Fras agak terkejut melihat Rilo ada dirumah Aya secara dia tau jika Aya tak pernah membawakan temannya kerumah apagi seorang lelaki
“Rilo, kamu ngapain disini? Kamu kenal Aya?” Fras bertanya kepada Rilo karena Rilo dan Fras
merupakan teman semasa dibangku kuliah walaupun berbeda fakultas
“nanti aja bicaranya, mending kamu cepat tolong periksa nenek, Aya udah khawatir dari
tadi” Fras pun memeriksa keadaan sang nenek dan mengatakan jika keadaan nenek baik-baik saja hanya karena kelelahan makanya nenek jatuh pingsang. Wajah Aya langsung senang mendengar penuturan Fras, nenekpun dipindahkan kekamarnya untuk istirahat dikamar saja. Melihat kondisi nenek yang baik-baik saja fras pun
pamit begitu juga dengan Rilo. Aya mengantarkan mereka berdua hingga pintu depan kemudian menemani neneknya dalam kamar.
__ADS_1