Gelombang Laut

Gelombang Laut
Pertemuan Kedua


__ADS_3

suasana dirumah Aya kembali seperti biasanya, teman-teman Aya serta Fras telah pulang sekitaran sejam yang lalu, kini Aya tengah menyiapkan keperluan nenek untuk dibawa ke rumah Fras karena nenek akan tinggal disituselama Aya dan Fras pergi ke acara makan malam rekan Fras


“yakin, nenek gak apa-apa ditinggalin dirumah kakak selama Aya pergi dengan kak Fras?” Aya


meyakinkan neneknya yang mengizinkannya pergi ke acara makan malam tersebut, karena sebenarnya Aya berat hati menginggalkan neneknya walaupun hanya untuk beberapa jam saja


“yakin, dong. Kamu gak percayaan benar sama nenek, masa kamu jaga nenek terus? Sesekali kamu


senang-senang ya kayak misalnya pegi ke acara makan malam” sebenarnya nenek tau Aya sangata sulit unutk meninggalkan neneknya walaupun itu dirumah mamanya Fras, karena selain itu Aya juga kurang suka pesta, karena menurutnya pesta hanya akan menghabiskan uang saja


“udah, kamu siap-siap sanak. Sebentar lagi palinganFras datang” padahal waktu sudah menunjukkan pukul 18.20 menit, tapi Aya belum sama sekali siap-siap, hingga dari arah depan terdengar suara mobil, nenek mencoba melihat siapa yang datang dan ternyata itu adalah Fras


“cepat siap-siap sana, tu kakakmu udah datang, kasian nanti dia nunggu lama, entar keburu telat


kalian perginya” rayu nenek agar Aya mau bersiap-siap, nenek membukakan pintu untuk Fras


“hay, nek. Nenek udah siap?” goda Fras yang sebenarnya tau jika neneknya sudah siap untuk berangkat, dan sudah dia pastikan jika Aya belum siap-siap sama sekali


“nenek sih udah dari tadi siapnya, tu adik kamu tu, mandi aja baru sekitaran 15 menit yang


lalu, cepat kamu suruh dia cepat entar kaian telat lagi” nenek menunjuk kearah kamar Aya, Fras yang mengerti maksud neneknya menuju arah pintu kamar Aya


“dek, udah belum? Pake baju yang kakak kasi tadi ya. Awas kalo gak dipake” ancam Fras karena iya


tau jika adiiknya yang satu ini paling gak suka pake pakaian feminim, dari dalam kamar terdengar Aya yang berteriak mengatakan jia iya sebantar lagi selesai. Fras menunggu Aya dengan mengobrol dengan nenek diruang tengah sekitaran 5 menit, dan Aya pun keluar dari kamarnya


“tu, kan apa kakak bilang, kamu tu coba sesekali pake pakaian begini, kan lebih tambah


manis, heee” goda Fras yang membuat rona dipipi Aya, nenek yang melihat hal itu tertawa, karena baru kali ini lagi Aya mau mnegenakan gaun, walaupun hnaya sekedar untuk pergi ke pesta setelah kepergian kakeknya


“udah siap, kan? Ayo cepat berangkat, ntar kalian telat lo” Aya, nenek dan Fras pun menuju ke mobil dan tidak lupa Aya mnengunci pintu rumah. Fras menuju rumahnya terlebih dahulu karena nenek akan tinggal untuk beberapa saat disana selama mereka ke acara makan malam, setelah itu baru mereka menuju ke lokasi acaranya.


Mereka berhenti disebuah restoran yang sangat mewah menurut Aya, sehingga membuatnya enggan untuk keluar dari mobil, Fras tersenyum kearah adikknya tersebut


“udah, santai aja. Ada kakak kok, semua orang yang hadir ramah-ramah kok, pecaya sama kakak” Fras


berusaha meyakinkan Aya agar dia tidak terlalu khawatir dan takut, dan berhasil. Aya mau mengikuti apa yang dikatakan Fras kepadanya, iya turun dari mobil sementara Fras memarkirkan mobilnya, Aya tampak sangat gelisah menuggu Fras didepan meja resepsionis, hingga batang hidungFras tampak baru Aya meras tenang


“kakak lama banget sih, kayak nunggu ikan mkan umpan pancing aja” canda Aya seberusaha


mungkin untuk menghilangkan rasa cemasnya, Fras yang mengerti adiknya cemas pun merangkul adiknya untuk masuk ke tempat yang dusah disediakan oleh tuan acara


“hay, Fras. Maksihdah datang, eh sorry ni, acara nya sederhana banget, ya maklumlah” sapa rekan Fras

__ADS_1


yang terlihat seperti si pemilik acara, dia melirik kearah Aya sehingga Aya agak sdikit canggung


“pacar baru, ya? Nana kemana?” Fras tertawa mendengar pertanyyan tersebut, sedangkan Aya merasa


sangat terpojokkan, terlihat dari wajahnya yang sudah sangat gelisah


“no, no. dia adik gue, kenalin Aya. Manis kan, gak kalah manis dari gue” Fras mengenalkan Aya ke


rekannya, dan Aya pun berkenalan dengan rekan Fras tersebut. Mereka terlihat mengobrol sedikit sesuatu hingga akhirnya tuan acara, pamit untuk menyapa tamu-tamu yang lain. Agak terlihat sedikit lega.


“udah, dek. Santai aja ya jangan cemas gitu, Oh ya tunggu sebentar kakak ambilin makanan


dulu, kamu tunggu dimeja yang itu ya” Fras menunjuk kearah meja, Aya yang mengerti maksud kakaknya segera menuju kearah meja tersebut, beberapa saat kemudian Fras telah kembali menuju meja yang dimaksudnya dengan membawakan makan untuknya dan juga Aya


“sorry kakak lama, tadi ngobrol sebentar dengan teman kakak” Aya hanya tersenyum kearah Fras


dan faham akan situasinya sekarang, Ayapun mulai mencicipi makanan yang dibawakan Fras tadi, dan Aya sangat menikmatinya. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki jangkung datang menyapa Fras dimeja


“hay bro, apa kabar lo? Udah lama gak ketemu” mereka pun melakukan salam layaknya kaum lelaki, dan Fras


memperkenalkan Aya kepada temannya tersebut


“kenalin, adik gue, Aya” Aya menjulurkan tangannya begitu juga dengan temannya Fras, setelah Fras


“kakak ke sana dulu, kalo kamu bosan kamu ajalan aj, dibelakang ada taman, kalo udah selesai


jalan-jalannya hubungi kakak ya” Aya pun meng anggukkan kepala menandakan iya, Fras menyapa teman-temannya yang lain, sedangkan Aya memutuskan untuk berjalan-jalan menuju taman belakang yang dikatakan Fras barusan, dan Aya pun memenukan taman yang dimaksud Fras kepadanya.


Suasana taman yang sangat tenang dengan ditumbuhi bunga-bunga indah serta dipadukan gemercik


air menambah sausana betapa tenangnya taman tersebut. Aya memilih untuk duduk disebuah ayunan dekat tepian air gemercik, entah kenapa Aya jadi sangat merindukan kedua orangtuaya, Aya berniat untuk menelpon bundanya, tapi dibatalkan karena iya takut kecewa karena bukan bunda yang menjawab panggilannya, akhirnya Aya hanya bisa menangis terdiam dengan duduk di ayunan tersebut, rasa rindu kepada bundan dan Ayahnya mnegalahkan rasa kecewanya, dan Aya pun menelpon bundanya. Diseberang sana ponsel bundanya berdering, hingga


terdengar suara dari seberang sana yang menjawab panggilan Aya


“halo, nak. Ada apa, tumben kamu nelpon bunda malam-malam gini” bunda menjawab panggilan


telepon Aya, Aya sangat bahagia bundanya menjawab panggilannya, hingga rasa nya sangat sulit untuk berbicara


“bun, Aya rindu bunda, bunda kapan kerumah nenek sama Ayah?” isak suara Aya terdengar


diseberang sana, hingga panggilan untuk bundanya dari seseorang memutuskan percakapan diantara keduanya


“udah dulu, ya. Bunda lagi ada kerjaan. Selamat malam, Aya. Jangan lupa bersi-bersih sebelum

__ADS_1


tidur dan jangan tidur larut” hanya kata itu yang diucapka bunda, hingga rindu di hati Aya belum sepenuhnya terobati, tapi mau bagaimana lagi begitulah


keadaan orang tuanya. Isak tangisnya membuat Aya terlihat kesulitan untuk bernafas, Aya berusaha mencari obatnya didalam tas, namun tidak ditemukan, hingga ponselnya terjatah dari tangannya.


Tak jau dari taman terlihat seorang lelaki tengah selesai menelpon, pencahayaan taman yang terang membuat seorang tersebut mudah untuk melihat keadaan Aya, iya pun segera berlari menuju taman tersebut, dan mendapatkan Aya yang kesulitan bernafas


“Aya?” ya, lelaki tersebut Rilo, seorang yang menemukan kartu pelajar Aya


“kak, tolong bantu telpon kak Fras, bilang aku ditaman” Aya berbicara terputus-putus dengan


pandangan yang tersamarkan,Rilo mencari ponsel Aya dan menemukannya dibawah ayunan tempat duduk Aya, Aya sudah terlihat sangat kesulitan bernafas hingga Aya pun jatuh pingsan, Rilo segera menghubungi Fras yang tengah ngobrol dengan rekannya yang lain mendengar hal tersebut langsung menuju ke taman belakang.


“dek, bangun dek” Fras memeriksa pernapasan Aya, dengan sigap iya membawa Aya kerumah sakit terdekat,Rilo pun ikut serta kerumah sakit menemani Fras


“makasih udah nolongin adek gue, gue gak tau kalo gak ada lo apa jadinya, dan gak baisanya


dia gak bawa obat kemana-mana” sesal Fras karena merasa tidak bisa menjaga Aya hingga Aya sakit pun orang lain yang menolongnya


“jangan nyalahin diri sendiri, kebetulan gue juga baru nerima panggilan telpon tadi dibelakang,


eh gue liat Aya nangis pas selesai nelpon, trus dia nangis, karena ngerasa aneh maka gue samperin tu anak” tenang Rilo kepada Fras, karena dari wajahnya Fras


sangat terlihat cemas. Tak lama keluar dokter yang menangani Aya dari ruangan


“keluarga raya pratiwi, pasien sudah siuman” iya, dok. Makasih, kalo begitu saya permisi dulu” Fras


mendahului dokter yang menangani Aya dan masuk kedalam ruangan tempat Aya dirawat.


“kak, maaf ngerepotin kakak, jangan bilang ke nenek ya atau Ayah sama bunda, Aya gak mau


mereka khawatir sama Aya” Aya masih terlihat lemah, Rilo memberikan senyuman kepada Aya


“kamu kenapa sebenarnya, kok bisa gini, lagian kenapa lupa bawa obat?” Fras masih gak ngerti


jalan pikirannya Aya gimana yang gak mau orang tuanya tau keadaannya yang sebenarnya. Rilo yang merasa kurang nyaman berada diantara kedua adik kakak tersebut pun keluar dari ruangan.


“aya rindu bunda sama Ayah, kak. Tapi mereka sangat sibuk walau hanya untuk menjenguk nenek saja


gak sempat. Emang Aya gak penting ya buat mereka?” pecah, tangis Aya pecah, Fras memeluk adiknya tersebut memberi ketenangan


“kakak gak tau, yang pastinya gak ada orang tua yang gak sayang dan peduli terhadap anaknya,


mereka kerja juga buat Aya, kan?”Fras berusaha menenangkan adiknya yang masih terisak dalam pelukannya. Fras membiarkan Aya menangis dalam pelukannya hingga sampai Aya tertidur dan Fras pun membaringkan adiknya untuk istirahat

__ADS_1


“tak satupun orang tua yang sangat tega untuk gak peduli sama anaknya, hanya cara mereka aja yang berbeda-beda, dan kakak yakin Ayah sama bunda sangat menyayangi Aya” gumamFras sebelum meninggalkan ruangan menyusulRilo yang menunggu diluar.


__ADS_2