Gelombang Laut

Gelombang Laut
Berseteru dengan Ayah


__ADS_3

        Aya dengan telatennya mengobati luka dilutut dan sikunya tanpa menghiraukan kehadiran Rilo yang mengajaknya berbicara, mala hiya buru-buru untuk memberesi barangnya dan hendak pergi dari tempat tersebut


        “pak, maaf boleh dibungkus aja trus tambah satu porsi lagi ya, makasih” ayah membayar makanannya dan menunggu sejenak sate satu porsinya lagi, Rilo yang melihat aya berusahamenghindarinya pun hanya bisa diam melihat sikap Aya


        “makasih pak” Aya menerima pesananaya dan segera berlalu dari warung tersebut. Sebenarnya bukan


Aya bermaksud tak sopan terhadap orang yang tengah berbicara kepadanya, iya tak mau saja jika Rilo akan memberitahukan hal tersebut kepada Fras, karena jika Fras tau maka iya akan ngomel dan marah-marah kenapa Aya bisa-bisanya terluka


        Hari sudah mulai menggelap menandakan malam akan segera tiba, burung-burung tengah kembali


kesarangnya membawakan makanan bagi anak-anaknya. Aya sudah berada didepan rumahnya, diluar pagar terdapat mobil yang sudah sangat dikenali Aya, siapa lagi jika bukan mobil orang tuanya.


        Dengan perasaan yang tak karuan Aya memasuki rumah sebelumnya memarkirkan motornya dibagasi


samping rumah, Aya menebak jika maksud kedatangan kedua orang tuanya kerumah untuk membicarakan masalah kemarin. Aya masuk kedalam rumah melirik orang tuanya dan nenek tengah berbicara dengan ekor matanya


        “nak, sini sebentar ada yang ingin kami bicarakan denganmu” nenek memanggil Aya yang hendak menuju kamarnya


        “jika ayah dan bunda masih membicarakan masalah kemarin lebih baik jangan, karena Aya gak bakalan mau, Aya masih mau tinggal disini bersama nenek” aya menjawab perkataan neneknya dari depan pintu kamarnya


        “nak, kemari sebantar ayah hanya perlu bicara sebentar denganmu, ayolah nak” rayu sang ayah dan akhirnya Aya pun menuruti perkataan ayahnya untuk turut serta duduk Bersama mereka


        “ayah minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu, dan tolong dengarkan ayah. Ayah menyuruhmu


untuk melanjutkan sekolah ke melbournd ada tujuannya, selain disini keselamatanmu tak sepenuhnya ayah bisa menjaga tapi disana kamu bakalan aman dan taka da satupun yang tau kamu ada disana” Aya hanya menunduk mendengar perkataan ayahnya


        “Ayah tau ini berat buat kamu, tapi percayalah ini benar-benar untuk keselamatanmu gak lebih dari itu”

__ADS_1


        “yah, maaf sebelumnya Aya sudah bilang sama ayah kan, Aya gak mau. Apa salahnya sih Aya melanjutkan sekolah disini, kan gak ada bedanya sama-sama belajar juga. Lagian yang ayah takutkan keselamatan Aya gak terjamin ayah gak perlu khawatir karna Aya bisa jaga diri” Aya masih menjawab perkataan ayahnya dengan wajah yang tenang


        “nak, ayah tau kamu sudah besar dan bisa jaga diri, tapi kondisinya gak seperti yang kamu bayangkan. Kamu kan tau juga, ayah ini pebisnis yang banyak sekali pesaingnya, mereka mencari kelemahan ayah, dan ayah khawatir mereka tau keberadaanmu.  Percayalah sama ayah, ini murni demi kebaikanmu, nak”


        “iya, Aya. Kami melakukan ini karena kami sayang sama kamu, kami gak mau sesuatu terjadi sama kamu menyangkut karier ayahmu” bunda mulai bicara memberikan pengertian kepada Aya


        “gak, gimanapun Aya gak mau. Aya sudah nyaman disini bersama nenek, Aya gak mau ningggalin nenek sendiri. Cukup ayah sma bunda yang gak ada waktu buat Aya karna kesibukan yah dan bunda tapi jangan buat aya juga harus berpisah dari nenek” bola mata Aya mulai memerah menahan tangisnya


        “nak, kami tau bagaimana tersiksanya kamu selama ini dikala diluar sana kamu selalu ingin untuk menghabiskna waktu bersama kami sama seperti keluarga yang lainnya, kami juga ingin seperti apa yang kamu inginkan namun kami begini juga demi kehidupan kamu, kami gak mau kamu hidup dalam kesusahan, kami mau kamu hidup bahagia menikmati apa yang telah kami dapatkan untuk kamu”


        “jika ayah dan bunda tau akan hal itu, kenapa sedikitpun kalian gak mau menyisihkan waktu buat


aku walaupun hanya sehari dalam seminggu, kalian masih saja sibuk dengan kerjaan kalian, kalian gak pernah memikirkan bagaimana perasaanku” aya sudah mulai menangis


        “ayah, tau? Aku sangat ingin sekali dimana sewaktu aku kecil aku ingin sekali diajarin ayah buat naik sepeda, tapi dimana ayah. Ayah sibuk dengan kerjaan ayah walaupun itu waktu weekend, ayah malah lebih memilih untuk menemani rekan kerja ayah sebagai sesame pebisnis. Bunda tau, aku ingin sekali bercerita bersama bunda menceritakan apa yang aku alami disekolah sama seperti yang temna-teman aku lakukan. Namun apa, setiap aku ingin bermain bersama bunda dan bercerita dengan bunda, bunda selalu menjawab jika bunda harus ke luar kota karena bertugas. Setiap malam aku sangat ingin sekali ditemani tidur dengan dibacakan dongen sebelum tidur, namun yang selalu melakukan itu hanyalah bi Inah, walaupun dia melakukan semua pekerjaan rumah dan menjagaku, namun dia masih menyempatkan waktu untuk menemaniku tidur malam. Terkadang aku berpikir sebenarnya aku ini anak kandung kalian atau aku hanya anak yang tak diinginkan oleh kalian” plak, tamparan mendarat dipipi kanan Aya oleh tangan ayahnya sendiri, bunda dan nenek terkejut melihat perlakuan ayah terhadap Aya


        “makasih, ayah. Aku memang pantas untuk mendapatkan pukulan manis dari ayah karena tak tau


        “yah, apa yang telah ayah lakukan, kenapa ayah tega melayangkan tangan ayah kepada Aya, kenapa


ayah tega melakukan itu? Cukup hanya waktu kita yang gak pernah ada buat aya, cukup hatinya saja yang sakit, tapi jangan fisknya yang sakit juga, apa ayah sudah gak punya hati terhadap putri sendiri? Aya masih dini untuk mengerti semua ini, bunda tau bagaimana khawatirnya ayah terhadap keselamatan Aya, namun gak gini caranya. Ayah seharusnya mengerti posisi Aya” bunda terlihat marah melihat suaminya melayangkan tangannya tepat dipipi kanan Aya


        Nenek hanya bias terdiam melihat situasi yang tak meng enak kan hati tersebut, dan beruntungnya


penyakit nenek gak kambuh saat itu. Diwajah sang ayah terlihat penyesalan atas apa yang telah iya lakukan terhadap putrinya, iya merutuki dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol emosi untuk menghadapi putrinya tersebut


        Ayah bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri pintu kamar putrinya

__ADS_1


        “nak, maafkan ayah. Ayah gak bermaksud begitu sama Aya, ayo bukalah pintunya, ayah mau bicara


sama Aya” ayah berusaha membujuk aya, namun nihil tak terdengar jawaban dari lawan bicaranya


        Aya menangis sejadi-jadinya di kamar mandi, iya masih tak percaya ayahnya bisa setega tu melayagkan tangannya tepat dipipi kanannya, iya melihat selama ini ayahnya adalah ayah yang sangat baik ternyata dia salah, sang ayah yang sangat dikagunimya telah tega melayangkan tangannya atas dirinya hanya karena perdebatan kecil.


        Sudah hampir 2 jam Aya mengurung dirinya dalam kamar, tak tau apa yang dilakukannnya dalam


kamar, nenek dari tadi sangat gelisah melihat cucunya belum keluar kamar juga, akhirnya iya mengetuk pintu kamar Aya


        “nak, ayo keluar bicara sama nenek, kamu harus makan juga karna nenek tau dari tadi belum makan


sehabis pulang sekolah, ini sudah jam 9 malam. Ayo makanlah sedikit, nanti kamu sakit” Aya masih belum mau menjawab perkataan neneknya, iya masih membungkus dirinya dengan selimut


        “ayolah, orang tuamu sudah pulang sejam yang lalu, hanya nenek yang ada disini sekarang” mendengar orang tuanya sudah tidak disitu lagi akhirnya Aya bergerak dari tempat tidurnya dan membukakan neneknya pintu kamar


        “maaf nek, Aya salah” hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Aya sembari memeluk sang nenek


        “nenek tau kamu berat untuk meninggalkan nenek, tapi nenek gak masalah jika itu memang kemauanmu bukan kemauan orang tuamu” nenek mengelus rambut sebayunya Aya


        “maafkan ayahmu, memang gak sepantasnya ayah berlaku kasar terhadpamu, namun maafkanlah dia


mungkin kondisi ayahmu lagi dalam masalah” Aya masih sesegukan dalam pelukan neneknya


        “sudah, ayo makan, nenek sudah masakin makanan kesukaan kamu, makan yok. Nenek tau kamu


belum makan dari sepulang sekolah, karena satemu masih diatas meja belum kamu sentuh sedikitpun, kan?” perut aya pun berdendang minta di isi, Aya yang merasa perutnya berdendang hanya nyengir kuda kepada neneknya.

__ADS_1


        Mereka pun menuju dapur untuk makan malam dan sejenak Aya bisa meluakan kejadian beberapa jam


yang lalu dan kejadian tadi siang aya yang terserempet motor tak diketau orang tuanya maupun sang nenek karena mereka tak menyadari luka di lutut dan siku Aya


__ADS_2