
Terpaan cahaya matahari memasuki ruangan tersebut dengan menembus tirau jendela, penghuni kamar yang merasa sengatan cahaya menggeliat seakan memberi respon jika iya malas terbangun dari tidurnya
Tanpa disadari keduanya, Aya sudah berada dipelukan Rilo semalaman. Aya menggeliat merasa pergerakannya sempit hingga memaksanya membuka mata
“Rilo, lepaskan tanganmu, apa yang kamu lakukan?” Aya begitu terkejut dengan posisi tidur
keduanya hingga iya berusaha melepaskan tangan Rilo dari pinggangnya
“ya tidur, emang kenapa?” dengan santainya iya menjawab aya tanpa membuka mata
“jangan suka mencari kesampatan dalam kesempitan, lepasin atau aku akan berteriak ada pelecehan seksual disini” Rilo tertawa mendengar perkataan Aya, mana ada suami yang melakukan pelecehan terhadap istrinya sendiri
“silahkan saja jika kamu berani, palingan orang-orang akan menertawaimu begitu saja” Rilo masih memeluk erat tubuh Aya
“lepasin” Aya merendahkan suaranya yang hampir tak tersengar bahkan terdengar isak tangis
“yah, gimana ni, padahal aku belum minta bagianku dan bahkan aku belum memberimu hukuman atas
kesalahanmu” goda Rilo namun tak digubris Aya, iya malah bangun dan berjalan menuju kamar mandi
Hampir 2 jam lamanya Aya berdiam diri dikamar mandi, entah apa yang dilakukannya dikamar mandi
hingga Rilo sempat menyelesaikan pekerjaannya hanya untuk menunggu Aya keluar dari kamar mandi
“aku mau pulang hari ini, lusa waktu izinku berakhir” Aya melewati Rilo yang tengah main game online
“besok saja ya, hari ini aku sangat lelah” namun reaksi Aya sangat tidak baik
“kamu saja yang pulang besok, aku mau hari ini” Aya mengambil kopernya dan mengemasi pakaiannya
“jangan suka bertingkah kekanakan, aku paling tidak suka gadis kekanak-kanakan” Rilo berusaha selembut mungkin namun Aya masih bersikeras ingin pulang hari ini
“baiklah, jangan salahkan aku jika aku akan menghukummu dirumah saja” plok, rasanya Aya ingin
mati saja telah menikah dengan seorang yang sangat menyebalkan ini
Karena Aya bersikeras ingin pulang hari ini, maka dengan segera mungkin Rilo menyuruh Rio asisten sekaligus sekretarisnya untuk mengatur kepulangan mereka
“bersiaplah, kita akan pulang hari ini” dengan wajah datarnya iya mengatakan hal itu
“benarkah? Terima kasih” Aya langsung mengemasi barang keduanya
Tiba saatnya mereka menuju bandara karna jadwal keberangkatan sebentar lagi, dibandara Rio telah
__ADS_1
menunggu tuannya
“keberangkatan setengah jam lagi, mohon tunggu sebentar” Rio meninggalkan keduanya yang diam
tanpa kata hingga keberangkatan tiba keduanya pun masih, Rio yang melihat kelakuan kedua majikannya hanya bisa geleng-geleng kepala
“Rio, pulang ke vilaku” Aya tercengang mendengar Rilo berkata demikian, bagaimana bisa iya akan
tinggal serumah dengan iblis ini
“aku ingin pulang kerumah bunda saja” namun perkataan Aya tak digubris Rilo hingga mobil berhenti
disebuah vila mewah yang sangat luas
“pulang aja sendiri, lagian kamu bakalan dimarahin bunda udah tau punya suami tapi masih
mau tinggal sama bunda”
“barang aku semuanya ditempat bunda, buku-buku juga masih disana” Rengek Aya
“aman, barang-barangmu udah dibawa kesini kemarin, nyonya Edward” Rilo menyondongkan
kepalanya ke Aya kemudian berlalu meninggalkan Aya yang masih tak terima iya akan tinggal divila Rilo
serumah sama ni orang sih?” Aya mendumel sendiri ditinggal Rilo masuk kedalam vila
Suasana vila yang tenang dengan tak satupun penghuni yang terlihat disana ditambah lagi dengan interior vila yang mewah membuatnya tak layak dihuni satu orang saja melainkan sebuah keluarga besar yang begitu bahagia, hais apaan sih?
“oh iya, kamar kamu depan tangga dan kalo ada keperluan lain ngomong sama pak Mamun”
“iya, iya udah sana ganggu orang aja” Aya kemudian mengikuti pak Mamun naik tangga untuk menuju kamarnya
“kalo ada keperluan lain cari saya saja” lembut sekali suara lelaki tua ini, tapi kenapa
dia mau jadi pelayannya iblis ini, pikir Aya
Aya memasuki kamarnya, interior yang menarik sederhana namun menenangkan, Aya kemudian
menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena seharian beraktivitas membuat tubuhnya gerah
Suasana hari sudah menggelap dan rembulan sudah menampakkan diri, Aya turun kebawah karena merasa perutnya lapar, perlahan iya melewati tangga seolah-olah seperti pencuri yang mengendap-endap masuk untuk mencuri
“ngapain kamu kayak maling main ngendap-ngendap gitu” Aya setengah terkejut karena suara Rilo yang menegurnya
__ADS_1
“enak aja, siapa yang ngendap-ngendap sih, orang jelas-jelas jalan kayak biasanya” Aya menahan malu karena ketahuan mengendap-endap
Rilo mendahului Aya menuju meja makan, disana sudah tersedia menu makan malam yang disiapkan
asisten rumah tangga
“setau aku, kamu gak milih-milih makan jadikalo emang ada makanan yang gak kamu suka bilang sama
pak Mamun atau yang lain” sepanjang kalimat itu terucap kemudian senyap selama makan malam hingga Rilo selesai langsung meninggalkan Aya yang masih tengah makan dimeja makan tanpa bicara
Aya hanya menatap punggung lelaki yang sekarang menjadi suaminya tersebut yang meninggalkannya
makan sendiri dimeja makan, menikah dengan jalan perjodohan tak seindah yang dibayangkan, dibayangan Aya yang akan menikah dengan orang yang mampu mencintainya dan menjalani hari-hari indah bersama kini hanya bayangan belaka. Aya menarik napas Panjang sebelum meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya
untuk menyiapkan perlengkapan sekolahnya karena besok iya mulai kembali bersekolah
Dentingan alarm pagi membangunkan Aya dari tidurnya, badannya terasa begitu pegal semua rasanya
iya mau bolos saja dari sekolah, namun mengingat sebentar lagi iya akan mengikuti ujian dan selama ini iya dikenal dengan anak yang teladan disekolah akhirnya iya pun menuju kamar mandi
Rilo sudah duduk dikursi meja makan untuk sarapan pagi dengan pakaian kantornya, Aya menuruni
tangga mendapati Rilo yang tengah sarapan
“pagi” sapa Aya dengan senyuman naum tak ada tanggapan
“biar supir yang antar kamu kesekolah, aku pergi dulu” Rilo beranjak dari tempat duduknya
padahal Aya baru saja hendak duduk
“dasar manusia aneh bin ajaib” Aya mencomoti sarapannya dan segera menghabiskan segelas
susunya kemudian bersiap untuk berangkat
“non, mari saya antar” tawar Andy yang bekerja sebagai supir dirumah Rilo
“makasih, tapi saya bisa berangkat sendiri” tola kaya dengan halus
“jangan non, nanti tuan marah” takut Andy dimarahi Rilo karena tak menjalankan tugasnya
“tenang, nanti saya bicara sama dia, kamu kerjakan aja tugas yang lain saya mau berangkat dulu, permisi” Aya kemudian menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum
Ternyata tak ada satupun angktan umum yang lewat didepan rumah akhirnya Aya berjalan menuju halte bus yang lumayan jauh dari rumah, setelah sekitar 10 menit menunggu akhirnya Aya mendapatkan angkutan umum walaupun dengan kondisi didalam angkutan tersebut berdesakan
__ADS_1
“gak papa deh kayak gini aja dulu ntar juga biasa” ucap Aya terhadap dirinya sendiri