Gelombang Laut

Gelombang Laut
Episode 31


__ADS_3

     Aya memasuki rumah dengan suasana hati yang tak tenang sebab pikirnya iya harus menghadapi Rilo, baru beberapa langkah iya memasuki ruangan suara deheman sudah menyambutnya dan benar saja itu Rilo yang


tengah duduk diruang tengah


     “dari mana saja kamu? Lupa ya sama diri kamu yang sekarang?” tanpa menoleh Rilo kearah Aya yang


membuat Aya seketika menghentikan langkahnya


        “kenapa diam, bingung nyari alasan buat ngejelasin kalo balik telat karna jalan sama cowok lain?” dari mana dia tau kalo Aya pergi dengan teman-temannya?


        “mulai besok Andy yang akan terus antar jemput kamu tanpa bantahan atau kamu jangan keluar rumah


sama sekali”


        “nggak bisa gitu, emang aku bonekanya kamu yang seenaknya kamu gerakin?” Aya tak terima dengan


peraturan Rilo


        “terserah, atau jangan—jangan kamu gak rela buat pisah sama cowok yang jalan sama kamu tadi,


iya?”


        “bukan urusanmu” Aya beranjak menuju kamarnya dengan membanting pintu kamarnya


        Aya menghempaskan badannya diatas tempat tidur, dengan segala kekesalannya iya redakan dengan


berendam di bath up kamar mandi. Dadanya terasa sesak napasnya terasa berat, Aya berendam masih mengenakan seragam sekolahnya


        Dengan penuh usaha Aya mencari obatnya didalam tas, namun sayang obatnya habis. Aya harus


meredakan rasa sakit yang iya rasakan dengan mengatur napasnya perlahan, iya hendak menghubungi Fras namun ponselnya lowbat hingga iya harus berjuang sendiri. Aya duduk ditepi kiri ranjangnya dengan pakaian yang basah semua karna iya berendam barusan sebelum dadanya terasa sakit


        “Raya, cepat turun makan malam jangan suka jadi sibuk” Rilo teriak dari luar kamar Aya masih kesilitan untuk bernapas hingga tak menjawab Rilo yang berteriak kepadanya


        “Raya, jangan kebiasaan kamu ya, kalo diajak bicara jawab” Rilo masih berada didepan pintu kamar Aya


        “dalam waktu 10 menit kamu harus turun kebawah untuk makan malam jika tidak maka kamu akan tau akibatnya” Rilo kemudian meninggalkan pintu kamar Aya dan menuju meja makan


        Kondisi Aya masih sama seperti sebelumnya, iya masih kesulitan untuk bernapas ditambah lagi


dengan teriakan Rilo yang membuatnya panikan sendiri


        “bun, tolongin Aya, aya gak mau tinggal disini” Aya setengah menangis dan berusaha bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.  Butuh waktu 30 menit lamanya iya untuk menenangkan diri sebelum menyusul Rilo kemeja makan

__ADS_1


        Aya mengenakan pakaian tidur yang begitu kebesaran dengan tubuh yang kecil, iya menuruni tangga dan mendapati meja makan sudah tak ada satupun orang disana. Aya berjalan menuju meja makan dengan maksud makan malam namun sayangnya tak ada makanan yang tersisa diatas meja tersebut, iya membuka lemari dan hanya menemukan sebungkus mie instan


        Karena berhubung iya sanga lapar sekarang makan sebungkus mie instan cukup untuk mengganjal perutnya yang sudah tak bisa diajak kerja sama


        Malam semakin larut namun mata Aya masih terlalu terang untuk dipejamkan, iya lalu mengambil sebuah novel yang sempat iya baca sebelumnya namun belum selesai


        “pernikahan bukanlah sebuah permainan dikehidupannmu, melainkan anugrah tuhan yang sangat


sacral dan patut untuk kamu jaga. Bagaimana pun keadaannya jangan pernah kamu mengatakan untuk berpisah, ingat janji yang diucapkan kedua belah pihak didepan Tuhan dan itu harus dijaga hingga maut memisahkan”


        Aya terdiam sejenak merenungi sebuah isi novel yang sedang iya baca. Apakah iya harus\ demikian adanya? Bagaimana jika keadaannya seperti yang iya alami apakah iya harus mempertahankannya? atau karena ini sebuah kehidupan baru jadi iya harus menyesuaikan dirinya kembali?


        Jika pernikahan demikian adanya, kenapa Tuhan memberikan seorang pasangan yang sama sekali tak


sama sekali cocok dengan dirinya? Kenapa Tuhan tak bertindak dihari iya mengatakan jika iya tak mau menikah dengan seorang yang sekarang menjadi suaminya?


        Bodoh, kalian belum mengikat janji dihadapan Tuhan kalian hanya diikat oleh sebuah tulisan yang dibubuhi tanda tangan dari kedua belah pihak dan saksi saja


        Tidak, tapi bukankah itu sama saja dengan sebuah pernikahan, dengan adanya tanda tanganku mengartikan aku sudah setuju untuk menikahi dan hidup bersamanya?


        Apakah aku harus bertahan dikondisiku sekarang ini dengan semua hal yang tak bisa ku terima atau


aku pergi meninggalkan semua yang telah terjadi dan mengejar apa yang aku inginkan?


bertahan itu sama saja aku meninggalkan semua impianku


        Semua itu ada dalam pikiran seorang Raya Pratiwi sekarang, bagaimana tidak, baru beberapa


hari hidup dengan seorang yang baru berstatus suaminya sudah membuatnya tak mampu bertahan bagaimana jika nanti disaat semuanya sudah berumur, apakah iya mampu untuk bertahan?


        Aya menggulingkan tubuhnya diatas kasur dengan pikiran yang masih kacau sampai iya lupa waktu


        “hais, kenapa hidupku jadi begini sekarang?” Aya bangun dari tempat tidur dan beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya


        “yasudahlah, biarkan saja semuanya dulu mendingan aku istirahat sekarang” Aya kemudian naik ketempat tidur dan menyusul untuk pergi kealam mimpi


        Aya merasa hangat ketika mentari menusuk kulit wajahnya dan menandakan jika sudah saatnya iya harus bangun untuk bersiap-siap kesekolah


        Aya turun kebawah untuk segera berangkat karena pikirnya iya akan terlambat jika tak berangkat sekarang


        “non, mari saya antar” Andy sudah siap untuk mengantar Aya pergi kesekolah


        “oh, makasih tapi saya bisa berangkat sendiri” Aya hendak melanjutkan langkahnya namun ditahan suara yang terdengar begitu dingin

__ADS_1


        “pergi saja, namun untuk besok kamu tidak boleh kemana-mana dan untuk sekolahmu homeschooling saja” mata Aya terbelangak mendengar yang bicara, siapa dia orang tuanya saja tak pernah menyuruh iya untuk homeschooling


        “jangan suka ngatur hidup orang lain, urus saja hidup sendiri” Aya kemudian berlalu setengah berlari kemudian keluar rumah menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum yang lewat dan sepertinya dewi keberuntungan masih berpihak kepadanya hingga iya dengan mudah untuk menemukan taksi untuk ditumpangi sampai kesekolah tanpa terlambat


        Suasana ruang rapat sangat mencekam, bagaimana tidak Rilo membuat suasana rapat menjadi suasana uji nyali


        “cukup sampai disini rapat kita, terima kasih” semua klien meras terlepas dari jeratan tali hingga mereka sekarang leluasa untuk bernapas


        “permisi pak, bu Sarah menunggu bapak diruangan kerja bapak” sekretaris Rilo memberiahu jika iya sudah ditunggu seseorang


        “bilang sebentar lagi saya kesana” sekretaris itu hanya mengangguk kemudian berlalu untuk memberitahukan jika tuannya sebentar lagi akan menemui tamunya


        “sayang, kamu lama banget sih capek aku nungguin kamu selesai rapat” dengan bergelut mesra ditangan Rilo iya terlihat sangat manja


        “kenapa gak ngabarin kalo kamu kesini” lihatlah Rilo yang terlihat sangat dingin terhadap Aya kini begitu lembut jika berhadapan dengan wanita yang bernama Sarah sekarang


        “aku habis pemotretan langsung sini buat ngajakin kamu makan siang, lagian udah lama kita


gak makan siang, aku kangen” siapapun yang melihat gak percaya jika pria yang bersama sekarang itu Rilo


       "yasudah, kamu tunggu sebentar aku siap-siap dulu” Rilo kemudian memuju meja kerjanya dan menelpon seseorang tak lama seseorang tersebut datang


        “Rio, kamu urus kantor dulu saya mau keluar” iya kemudian berlalu bersama Sarah dari ruang kerja dan hanya meninggalkan Rio soerang diri


        “sayang, nanti malem temenin aku shoping ya, kamu juga udah lama gak nemenin aku jalan-jalan shoping”


        “terserah kamu mau ngapain hari ini, aku bakalan nemenin kamu sampai kamu puas buat hari ini”


        “beneran sayang?” Sarah memasang wajah imutnya


        “iya, aku juga kangen sama kamu” Rilo memeluk Sarah


        Hari sudah mulai sore namun cahaya mentari masih saja menyengat dikulit, Aya berjalan menelusuri trotoar untuk mencari angkot yang lewat karna iya bosan untuk menunggu angkot dihalte sekolah


        “Ya, mau barengan kita gak, biar kita antar kerumah” Eta menyapa Aya dari atas motor bersama Lulu


        “gak usah, aku bisa sendiri kok lagian udah lama gak kayak gini”


        “seriusan, Aya kita takut kamu kenapa-napa”


        “berisik bu RT, aku udah bisa jaga diri” melihat keyakinan dari sahabatnya Eta dan Lulu pun meninggalkan Aya sendiri


        Aya berjalan beberapa meter kemudian barulah iya menemukan Angkot, iya segera naik untuk menuju rumahnya, salah sebenarnya iya mengatakan rumahnya karna iya tak berhak untuk mengakui barang yang bukan miliknya tapi milik pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya

__ADS_1


__ADS_2