Gelombang Laut

Gelombang Laut
selamat ulang tahun


__ADS_3

         diluar ruangan terlihat Rilo menunggu dengan tenangnya karena iya yakin Aya pasti bai-baik saja, Fras pun datang dan duduk dikursi sebelah Rilo


        “tenang bro, kalo lo gelisah gini gimana mau jagain si Aya, gue yakin Aya anaknya kuat. Buktinya dia selalu sabar buat nungguin orangtuanya gak sibuk buat ngejenguk dia sama nenek dirumah nenek” Rilo menepuk pundak Fras memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu


        “gue heran aja, cobalah mereka buat sempatkan waktu untuk Aya halaupun hanya sebentar, gue khawatirnya


itu bakalan jadi beban pikiran Aya, gue gak tega aja ngeliat Aya harus sedih tiap ada keluarga yang bahagia didepan dia” Fras sebenarnya kesal akan perlakuan om Tristan dan tante anya terhadap Aya, terkadang Fras melihat Aya harus sembunyi untuk menangis supaya neneknya tidak khawatir. Malam semakin larut, Fras menelpon orang rumah mengabari jika dia dan Aya tidak pulang malam ini karena suatu alasan. Fras dan Rilo menjaga Aya dirumah sakit malam itu.


        Didalam hati Rilo ada sesuatu yang tak biasa, entah kenapa sudah beberapa hari ini semenjak iya


bertemu dengan Aya, ada rasa yang tak bisa dijelaskan olehnya yang terjadi padanya, sebenarnya iya ingin menceritakan hal tersebut kepada Fras, namun ditahannya mngingat kondisi Aya yang masih dirumah sakit.


        Pancaraan sinar matahari menampar pipi Aya yang tengah tertidur dibrankas rumah sakit, Fras tertidur disofa setelah berjaga untuk Aya, sedangkan Rilo duduk dikursi jaga pasien disamping Aya. Rilo tersenyum tanpa sebab memandang wajah Aya yang kurang nyaman diterpa sinar matahari, Rilo pun menutup tirai kemudian duduk kembali dikursinya


        “entah kenapa perasaanku beda setiap menatap wajah cantikmu, dan aku tak tau sejak kapan hal itu terjadi kepadaku, rasanya perasaanku tenang jika sudah melihatmu. Mungkinkah aku mulai menyukaimu?” Rilo bergumam sendiri tentang apa yang iya rasakan terhadap Aya, Aya menggeliat dan akhirnya terbangun, Rilo yang semua menatap wajah Aya pun lantas memalingkan wajahnya kearah lain agar si empu wajahnya tak tersinggung


        “kakak dimana? Aku mau pulang hari ini ada ujian disekolah” ucap Aya yang membuat Rilo berpaling  kearah lain


        “kamu masih harus  istirahat, saol ujian kakakmu nanti yang akan mengurusnya” Rilo mencoba menjelaskan kepada Aya, dari arah sofa Fras terlihat sudah bangun


        “mau sarapan apa, dek? Nanti kakak siapkan” Fras menuju ke arah brankas tempat tidur Aya


        “nanti aja kak. Kak, Aya boleh kan sekolah hari ini, hari ini Aya ada ujian disekolah” Aya


terlihat memohon dengan melipat jarinya didada agar Fras mau mengizinkannya masuk sekolah hari ini


        “gak, kamu harus istirahat hari ini, soal nenek sama ujian biar kakak yang urus. Jadi kamu tenang aja ya, oke” Fras berusaha Aya agar tidak khawatir. Setelah berdebat akhirnya Aya mengalah dengan tidak masuk sekolah hari ini


        “bro, gue duluan ya, ada jadwal meeting pagi ini jam 9” Rilo pamit duluan dan Fras mngucapkan


terima kasih kepada Rilo.Rilo pergi duluan sedangkan Fras masih marus mengurus administrasi Aya terlebih dahulu.


        Hari tampak begitu cerah, langit biru membentuk awan putih yang, burung-burung terbang seakan senang akan cuaca hari ini, Aya sudah terlihat sudah segar, iya berjalan disamping Fras menuju arah parkiran mobil


        “kak, Aya boleh makan bakso nda, pengen ni. Hiii” cengengesan Aya yang membuat kakaknya sedikit bingung.


        “boleh, tapi jangan banyak ya, Aya belum sembuh total” Aya mengacungkan jempolnya ke arahFras. Mobil berhenti disebuah warung bakso yang tidak jauh dari jalan raya, Aya sangat antusias ketika pesanannya sudah datang, dengan santainya iya makan bakso tanpa mempedulikan Fras yang disampingnya


        “pelan-pelan kali dek makannya. Awas keselek kamu” Aya hanya mengacungkan jempolnya kearah Fras, sekitaran setengah jam mereka berada dirumah makan tersebut.


        “kak, ke supermarket dulu ya, mau beli sesuatu sama cemilan, stok Aya dirumah udah mau abis” iya mengedipkan sebelah matanya kearah Fras yang membuat kakaknya terlihat geli

__ADS_1


        “sama aja kamu dengan nana, yang gak pernah dilupa pasti cemilan. Yaudah ayok” Aya berseru gembira seraya tertawa kecil. Setelah bayar makanan, Fras dan Aya kembali kejalan raya dan tidak jauh dari warung bakso tersebut ada supermarket dan mereka berhenti disitu. Aya membawakan keranjang belanjaan sedangkan Fras hanya menemani dari belakang, iya terlihat memilih beberapa makanan dan keperluan lainnya, ketika hendak mengambil makanan ringan dari raknya untuk dimasukan ke keranjang belanjaan


        “Aya, sama siapa disini” Rian terlihat menyapa Aya, Aya sempat terkejut kemudian berusaha bertingkah normal


        “sama kakak, kok kamu disini masih pake seragam. Ada tugas gak, Rian?” Aya menunjuk kearah kakaknya yang tegah sibuk memilih sesuatu


        “gak, hari ini guru disekolah rapat jadi pulangnya dipercepat dan ujianpun diganti minggu depan. Oh iya, kamu kenapa gak masuk sekolah” Rian setenang mungkin bertanya kepada Aya agar tidak menyinggung perasaannya


        “ada sedikit urusan, yan, aku duluan ya” Aya mendahului Rian namun Rian pun mengataka jika iya juga hendak kekasir untuk membayar belanjaannya. Saat hendak membayar Fras berpapasan dengan Rian, terlihat gak asing Rian didepannya, seperti mengingatkannya terhadap seseorang


        “Aya, udh?” Fras meletakkan belanjaanya diranjang belanjaa Aya, dan Aya pun mengangguk, Rian


berada dikasa sebelah, setelah membayar Aya pun membawakan belanjaannya kemobil dibantu Fras


        “Rian, duluan ya, sampai jumpa besok” Aya melambaikan tangan kearah Rian, Fras heran melihat Aya karena tidak biasanya iya memiliki teman lelaki yang terlihat sangat akrab


        “kakak kenapa? Itu Rian teman sebangku aku, dia baru aja pindah kemarin” Aya menjelaskan Rian kepada Fras dan Fras hanya mengangguk. Terlihat sangat familiar dimata Fras seorang Rian barusan yang iya temui


        “gak, Cuma kakak kayak gak asing aja sama dia, kayak kakak udah lama kenal dia Fras mengingat dimana iya pernah bertemu Rian sebelumnya, namun Aya malah meningglkannya didalam supermarket tersebut, Fras menggerutu karena ditinggalkan dan Aya malahan menertawakan kakaknya


        Disebuah rumah yang sangat megah, lelaki dengan tubuh jangkung dengan perangai bak artis korea


        “ok, sekarang sudah siap. Tunggu bunda balik nanti dia bakalan senang dapat kejutan dari aku” dia dengan senyum mempesonanya melihat hasil kerja kerasnya


        “bi, nanti kalo bunda udah nyampe rumah ditahan dulu ya, akum au ngasi bunda kejutan” empu yang


dipanggil namanya pun mengangguk patuh.


        Cahaya matahari mulai meredup, kini muncul cahaya rembulan yang siap menerangi bumi, burung-burung pun kembali kesarangnya siap untuk menemui ananknya. Rian, ya dia Rian yang sudah menyiapkan kejutan untuk sang bundanya yang hari ini berulang tahun yang sama bertepatan dengan hari ulangtahunnya juga, semua lampu sudah


iya matikan dengan dia bersembunyi dibalik sofa depan ruang tamu. Dari arah gerbang depan terdengar suara mobil masuk keruang bagasi depan, Rian sudah bersiap memberikan bundanya kejutan dan


        Pintu rumah mulai terbuka, terdengar suara bunda menanyakan bagaimana bisa rumahnya begitu gelap,


ketika hendak menyalaka lampu dan


        “surprise……… selamat ulang tahun bunda” Rian menyalakan lilin kuenya terlihat bunda terharu


hingga meneteskan air mata


        “selamat ulag tahun juga sayang, maksih udah repot- repot mau nyiapin semuanya buat bunda” bunda memberi selamat kepadaRian dan menciumi pipi kiri Rian begitu juga Ayah dan asisten-asisten rumah tangga yang lain juga tak lupa untuk memberikan Rian dan bunda selamat bertambah usia.

__ADS_1


        “bun, maaf Rian belum bisa menjadi anak yang baik buat keluarga, dan makasih udah menjadi orang


tua yang baik buat Rian” mereka ngobrol diruang tengah, suasana terasa begitu hangat


        Dibelahan tempat lain, terlihat perayaan yang sangat sederhana namun begitu berarti bagi seorang


Raya Pratiwi, ya. Aya hari ini berulang tahun yang ke 16 tahun


        “selamat ulang tahun sayang, semoga selalu dalam lindungan tuhan ya, dan baik dalam menjalani


hidup” begitu doa sang nenek untuk cucu perempuannya


        “selamat ulang tahun gadis kecil kakak, jangan selalu merasa sendiri ya didunia ini, kami begitu menyayagimu” Fras membawa adiknya kedalam pelukannya dengan penuh kasih sayang, begitu juga dengan kedua orangtuaFras yang sangat menyayangi Aya bak anak sendiri. Air mata Aya mengalir dengan derasnya membasahi pipi, mereka bisa merasakan sebenarnya yang diharapkan Aya disetiap hari ulang tahunnya, yaitu kehadiran kedua orangtuanya


        “kok nangis, anak mama gak boleh nangis, harus kuat dong, nanti cantiknya berkurang trus make


up nya luntur kena air mata” racau mama Fras yang digelaki seisi rumah begitujuga dengan Aya


        “aya cuma rindu bunda sama Ayah, ma. Aya pengen sekali setiap dihari ulang tahun Aya dirayain


barengan mereka, tapi Aya gak bisa maksa kehendak buat dapati itu semua” isak tangis menjadi keluar dari mulut Aya, Fras berusaha menenangkan adiknya itu dengan membawakannya dalam dekapannya


        “kami yakin, orangtuamu ingat hari ini ulang tahunmu, percayalah sebentar lagi mereka akan menghubungimu” papa Fras menimpali kalimat-kalimat penenang yang diucapkan nenek dan mama Fras, seketika ponsel Aya berdering, tertera nama bunda. Aya bergegas menjawab panggilan bundanya


        “selamat ulang tahun putri bunda yang sangat cantik, maafkan bunda dan Ayah selama ini gak ada buat kamu, besok kami akan mengunjungi kamu dan kita akan pergi bersama” jleb, Aya merasa kebahagiaan yang sangat luar biasa, hingga tangsinya pecah, iya tak henti-hentinya menangis


        “kok malah nangis, ni Ayah mau liat putri kecilnya” bunda menyerahkan ponselnya ke Ayah


        “selamat ulang tahun, sayang. Tak terasa kamu sekarang tumbuh menjadi gadis kecil Ayah yang sangat cantik ya, besok Ayah sma bunda mengunjungi rumah nenek, kamu siap-siap ya kita pergi besok” semua orang yang berada diruangan tersebut bahagia melihat betapa senangnya Aya kala itu


        “iya, Ayah.Makasih udah ingat hari ulang tahun Aya, buat bunda selamat ulang tahun juga. Aya sangat sayang sma bunda juga Aya” Aya melambaikan tanganya sebelum mereka mengakhiri panggilan


        “benar kata papa, mereka ingat hari ulang tahunku, makasih Ayah” Aya memeluk tubuh tinggi papanya


Fras dengan penuh kegirangan hingga membuat papanya Fras kesulitan bergerak


        “sesenang itu kah kamu, hingga papa gak bisa gerak kamu peluk” tawa pecah ketika papa berucap


demikian hingga Aya pun melepas kan pelukannya


        “maaf, pa. Aya senang sekali soalnya. Hiii” cengir Aya. Suasana malam itu sangat begitu diingat Aya, hingga sulit bagi Aya hanya untuk memejamkan mata karena takut jika semuanya itu hanyalah mimpi yang begitu menyakitkan buat diingat.

__ADS_1


__ADS_2