
dunia terasa sangat tidak adil bagi seorang Tristan Pradita, bagaimana tidak belum mendapatkan pendonor yang cocok untuk putrinya kini sang ibu telah pergi mendahului untuk menghadap yang Maha Kuasa. Belum sempat hubungan dengan anaknya membaik akibat perseteruan beberapa hari yang lalu kini sang putri tengah lemah dirumah sakit. Dosa apakah yang diperbuat Tristan Ppratama?
“Rian, ayah mohon tolong jaga adik kamu dulu, ayah pergi sebentar ketempat nenek kamu” Rian mengangguk meng iya kan ayahnya, belum sampai beberapa meter ayah merasakan dadanya terasa sangat sakit, hingga sampai tersungkur menahan sakitnya
“ayah, kenapa? Fras, tolong paanggilkan dokter tolongin om kamu” bunda sangat panik, Tuhan kenapa engkau memberikan cobaan yang beruntut untuk keluargaku?
Fras dengan sigap memanggiil dokter dan petugas segera membawanya keruangan untuk memeriksa
keadaaan ayah, Rian yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dengan hati yang seperti teriris pisau
“tan, biar Fras aja yang ketempat nenek, tante jagain om aja disini, kalo ada kabar baru
langsung kabari Fras ya, permisi tante” Fras pun pamit dan berlalu dari hadapan tante Anya
Sepanjang perjalanan pikiran Fras sangat kacau, pantaskah iya menyalahkan Tuhan atas peristiwa yang menimpa keluarganya atau ini memang ujian dari Tuhan yang memang diperuntukkan untuk Tristan Pradita? Entahlah hanya Tuhan yang punya rencana manusia hanya bisa menjalankannya
Sekitaran setengah jam Fras sampai dirumah sakit sesuai lokasi yang diberikan mamanya, Fras langsung mneghampiri kedua orangtuanya
“kamu harus tabah, nak. Kita semua harus kuat biar nenek pergi dengan tenang dan Aya juga
kuat” mama merangkul putranya karena mama Fras tau putranya sangat dekat dengan sang nenek
“gimana keadaan Aya? Udah ada perubahan?” papa mencoba mengalihkan pembicaraan
“kondisi Aya sekarang belum stabil, pa. Aya perlu pendonor sum-sum tulang belakang” jedar………betapa terkejutnya mama dan papa Fras mendengar berita itu. Bagaimana jika Aya mengetahui jika neneknya sudah mendahului untuk menghadpa yang Maha Kuasa?
Ponsel Fras berdering karena panggilan dari tante Anya, Fras segera menjawabnya dengan
setenang mungkin
“hallo, tante bagaimana keadaan om sekarang?” dari seberang sana terdengar isak tangis
menandakan jika kondisi dari yang ditanya tidak baik-baik saja
__ADS_1
“Fras, om kamu ternyata menderita penyakit jantung dan itu sudah lama sekali, dokter mengklaim jika om tidak boleh mendengar yang tak mengenakkan hati terlebih dahulu, ini demi kesehatannya om. Tante merasa bingung harus bagaimana lagi sekarang” oh Tuhan bagaimanakah ini?
“kasian kamu, nak, tapi mama yakin kamu bisa melewati semua ini karna kamu anak terhebat yang
pernah mama miliki” mama seolah-olah memberikan kekuatan pada dirinya sendiri
“pa, om Tristan juga masuk ruangan dirumah sakit tempat Aya dirawat” bagaimana bisa? Bagaimana bisa sepupunya menerima ujian yang beruntut-runtut, sanggupkah kamu melewati semuanya Tristan? Papa Fras sampai memulas dada mendengar kabar demikian
“untuk pemakaman papa sudah urus dan mita tolong pak Toro buat mempersiapkan semuanya, nenek
kita bawa kerumah malam ini”
Suasana rumah sakit yang begitu sepi sangat mencekam jika seakan-akan mengerti kesedihan yang
dialami oleh anak-anak manusia, semuanya ada ditangan Tuhan, jika Tuhan sudah mengatakan jika semuanya akan ditariknya kembali maka manusia bisa berkata apa?
Lidah terasa begitu kelu hanya untuk berbicara, Rian menunggu adiknya dengan penuh kesabaran, iya sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari pendonor yang cocok buat Aya, gelisah terlihat diwajah Rian bagaimana tidak baru saja iya mengetahui jika iya memiliki adik tapi kondisinya menyedihkan sekarang.
Rian masih penasaran dengan hasil penyelidikan dari pihak kepolisian terhadap motor adinya,
Rian duduk dikursi tunggu, badannya yang lusuh dengan pakaian berlumuran darah karena dari
tadi belum sempat menggantikan pakaiannya, iya sudah menyuruh orang suruhannya membawakannya pakaian ganti
Bagaimana pikirantak kacau, adiknya kini terbaring dirumah sakit dengan membutuhkan pendonor,
ayahnya mengalami sakit yang sebelumnya tak mereka ketahui, ditambah lagi neneknya yang kini telah tiada. Rasanya hati Rian begitu hampa, baru saja iya senang karena telah mengetahui jika Aya adiknya tapi beberapa saat kemudian hal besar terjadi dikeluarganya
Suasana dirumah duka terasa menyakitkan hati, nenek sudah diantarkan ke pemakaman umun setempat
dengan pemakaman kakek, kini sanak keluarga maupun kenalan memberi ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Didepan pintu gerbang rumah Fras seorang wanita tua yang seumuran dengan nenek Dian keluar
__ADS_1
dari mobil dengan dikawal oleh dua orang kepercayaannya, iya langsung menuju pintu masuk rumah dan menemui pemilik rumah
“tante Sekar, makasih udah datang tante. Mari masuk tante, kita bicara didalam saja” mama Fras membawa nenek Sekar masuk kedalam rumah
“Lala, maaf jika tante tak ikut mengantar Dian ke tempat peristirahatan terakhir, tante baru
mendengar kabarnya tadi pagi”
“tidak masalah tante, tante sudah mau datang pun cukup untuk kami, karena ada amanat yang
perlu saya sampaikan untuk tante dari mama” mama Fras mempersilahkan nenek Sekar minum minuman yang telah disediakan
“Tristan sama Anya mana? Kok tante gak ngeliat mereka disini?” nenek sekar mencari keberadaan
Tristan dan istrinya secara Tristan merupakan anak kandung dari sahabatnya Dian
“Tristan masuk rumah sakit tante, sama seperti putrinya Aya yang mnegalami kecelakaan kemarin
sore” nenek sekar terkejut mendengar berita itu bagaimana bisa berita duka disertai musibah telah menimpa keluarga sabahatnya
“sekarang bagaimana keadaan keduanya” walau bagaimana pun nenek Sekar telah mengangggap
nenek Dian sepertisaudara sendiri karena mereka telah bersahabat dari masa muda
“keadaan Tristan sudah stabil, namun untuk Aya masih belum siuman dari kemarin akibat pendarahan
hebat yang iya alami” nenek Sekar turut sedih mendengar hal itu biar bagaimanapun juga nenek Dian biasanya bercerita tentang bagaimana Aya dengan dirinya
“o iya, Lala, kata kamu tadi ada amanah dari Dian untuk saya, apa itu” nenek sekar teringat akan perkataan Lala diawal pembicaraan tadi
“mama menyampaikan maaf jika tidak bisa menepati janji untuk menjodohkan Tristan dengan anak tante dulu karena iya tak bisa membantah pilihan Tristan” nenek sekar terlihat mengingat-ingat perjanjian yang disebutkan oleh Lala
“saya tidak masalah, selama itu membuat anak-anak senag maka saya dengan senang hati menerimanya. Mereka berhak menentukan pilihannya sendiri”
__ADS_1
Benar, karena bagaimana pun juga sekarang bukan jamannya siti nurbaha san datuk maringgih, bukan? Jadi mereka berhak menentukan pilihahati sesuai dengan pilihan mereka, orang tua hanya bisa mendukung keputusan sang anak jika itu masih berada dijalan yang benar.