
Aya keluar kamar dengan mengenakan minidress selulut, bunda yang melihat penampilan putrinya pun
tersenyum
“cantik benar anak bunda, emang kita mau kemana sih?” bunda pura-pura bertanya padahal sebenarnya mereka akan menuju pantai karena Aya sangat menyukai pantai
“kalo Aya maunya ke pandai gimana?” Aya berkata dengan penuh kehati-hatian agar tidak membuat
orangtuanya marah
“oke, tapi Aya harus janji dulu sama Ayah, jangan main terlalu dalam” Aya mengacungkan jari jempolnya kepada sang Ayah.
Setelah semuanya siap, waktunya berangkat namun terlebih dahulu Ayah mengantarkan nenek ke rumah orang tua Fras karena merasa khawatir kan kondisi nenek, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan. Sepanjangn perjalanan Aya bersenandung ria dibelakang kemudi Ayahnya sedangkan sang bunda duduk disamping Ayah, Aya bersenandung bak anak kecil yang baru dibelikan mainan, bunda hanya tersenyum melihat berapa bahagianya Aya, sesekali mengajaknya membicarakan apa-apa saja yang Aya lakukan selama ini
“bun, bulan depan Aya mau lomba diluar kota, tapi Aya takut nenek gak ada yang nemenin. Tapi Aya juga udah nyanggupin lomba tersebut dan dan udah nyiapin semuanya” Aya bercerita setenang mungkin, padahal dalam hatinya Aya sangat gundah untuk meninggalkan neneknya sendiri dirumah, mengingat kondisi neneknya
“soal nenek gampang, nanti bunda ngomong sama mama Fras ya, karena bulan depan Ayah sama bunda ada pekerjaan diluar negeri. Aya jangan khawatir ya, percaya sama bunda” mata Aya berbinar mendengar tanggapan bundanya.
“tada…………kita sudah sampai, ayo turun” eh Aya bingung kok Aya gak ngerasa perjalanannya jauh
ya, padahal sudah hampir 3 jam perjalanan tapi Aya merasa baru setengah jam perjalan udah sampai ditujuan. Aya antusias turun dari mobil dan berlari menuju jalan tepi yang tidak jauh dari pantai tersebut
__ADS_1
“hati-hati nak, jangan main jauh-jauh. Ingat itu” Ayah mengeluarkan barang bawaan yang dibantu bunda. Mereka membawakan banyak sekali bawa barang sudah kayak piknik aja mereka, dibawah pohon rindang, bunda melamparkan semacam permadani kecil sebagai alas duduk mereka, Aya masih seru bermain pasir
“yah, coba liat betapa senangnya Aya kita ajak kesini, tak ada satupun kegundahan yang terlihat
di wajahnya, bagaimana nisa dia tumbuh menjadi gadis cantik yang begitu kuat dan pintar? Bunda mneyesal jarang memperhatikan tumbuh kembang Aya. Ayo yah, kita perbaiki semuanya, bunda sangat rindu amak-anak berkumpul” Ayah masih memperhatikan Aya yang tengah asyik bermain
“ayah juga meras begitu, tapi sekarang bukan saatnya, Ayah masih takut untuk memperkenalkan Aya
ke luar, bunda kan tau gimana sengitnya pesaing bisnis Aya, mereka gak bakalan segan-segan buat nyari cara biar Ayah jatuh. Ayah gak mau anak-anak kenapa-napa” diwajah Ayah tampak sedih
“yah, bun, ayo ikut main seru loh” tawar Aya ke orangtuanya yang tengah memperhatikannya bermain, dan kedua orang tuanya pun turun ikut bermain bersama Aya. Mereka bermain mulai dari membuat istana pasir, timbun badan Ayah, hingga lomba lari antar ketiganya. Semua keseruan yang dilakukannya hingga lupa jika Aya memiliki
gangguan pernapasan. Ketika Aya tertawa dengan lepas karena bahagia, Aya merasa dadanya sakit untuk dibawa Bernapas, dari ekspresinya bunda mengetagui keadaan putrinya hingga dengan sigap mengambilkan obat untuk Aya
dengan pasrah Aya meng iya kan perkataan bundanya
Hari itu merupakan hari terbahagia untuk seorang raya pratiwi dimana iya bisa merasakan apa yang telah selama ini iya irikan terhadap orang lain, iya sangat bersyukur dalam hatinya orangtuanya begitu menyayanginya, walaupun dalam hati Aya timbul suatu pertanyaan kenapa jika bunda dan Ayahnya menyanyangi dia tidak membawanya tinggal bersama dan bebas dengan dengan identitas dia yang sebenarnya? Itu hanya Ayah dan bunda yang tau, jika pun Aya ingin tau maka iya harus menanyakan semuanya kepada mereka berdua atau mencari tau kebenarannya sendiri. Tapi, yasudahlah, cukup dengan begini saja Aya sangat bahagia bagaimana jika memang kenyataannya Aya bebas dengan identitas yang sebenarnya dan tinggal bersama dengan orangtuanya maka itu anugerah Tuhan yang sangat luar biasa.
Langit tampak mulai menjingga, panas pun tak tersa lagi, ya itu menandakan akan datangnya senja. Bagaimanapun juga Aya sama seperti remaja pada umumnya yang sangat menyukai senja dan menganggap jika senja itu merupakan hal yang romantis, dengan suasana disebuah bangku taman tepi danau atau di pbibir pantai? ah sering kali Aya membayangkan menikmati senja dengan seorang yang mampu melihat kekurangan yang ada pada dirinya disuatu masa depan nanti. Aya tidak salah kan hanya mengimpikan hal yang sangat sederhana seperti itu?
Sebuah mobil silver meninggalkan tepian pandai dan melaju menuju jalan raya, terlihat sebuah
__ADS_1
keluarga yang sangat bahagia sekali seorlh tidak ada celahnya. Bunda menemani sang Ayah dikursi kemudi sedangkan sang anak Raya Pratiwi sedang asyik bersenandung dibelakang kemudi sang Ayah dengan tak meghiraukan keberadaan kedua orang tuanya.
“nak, jika sekolahmu telah selesai pergilah ke Melbourne dan menetaplah disana untuk beberapa tahun, sebelum Ayah dan bunda membawamu balik kesini. disini kejam nak, Ayah khawatir akan dirimu yang belum sanggup untuk menerima kejamnya kehidupan disini” Aya yang bersenandung tiba-tiba bengong mendengar perkataan Ayahnya. Ya angina apa yang telah merasuki Ayah hingga iya mampu untuk berkata demikian? padahal Aya gak pernah sedikitpun untuk melanjutkan sekolah jauh keluar negeri. Aya hanya ingin mselalu bersama mereka, tapi kenapa Ayah berkata seperti demikian?
“yah, Aya mau disini aja, Aya masih mau menemani nenek dihari tuanya, dan Aya juga senang tinggal disini”
“kamu terlalu dini untuk mengetahui situasi disini nak, dengarkan saja apa kata Ayahmu karenasemua ini demi kebaikanmu” Aya memasang tidak suka dengan usulan kedua orang tuanya, bagaimana bisa Aya berpisah dengan sang nenek yang selalu ada untuknya selama ini, dimana hati mereka yang berani mengtakan jika Aya akan meninggalkan neneknya dengan bersekolah ke luar negeri hanya demi keselamatannya?
“apakah kalian tidak ada sedikit saja hati untuk menyayangiku dengan menuruti keinginan kecilku? Aku selama ini gak pernah minta apapun dari Ayah dan bunda bahkan hal sebenarnya yang sangat aku ininkan pun aku urungkan niat agar tidak merepotkan bunda dan Ayah. Tapi kenapa hanya untuk membiarkanku disini bersama nenek dengan melanjutkan sekolahku disini saja kalian tidak mengizinkanku bahkan menyuruhku untuk bersekolah diluar saja. Seberapa besarkah keselamatanku yang Ayah khawatirkan sehingga tega menyuruhku untuk sekolah diluar sana dan meninggalkan nenek seorang diri? Jika ini mneyangkut bisnis Ayah maka aku gak akan pernah mau, cukup selama ini aku hanya diam menerima jika waktu Ayah dan bunda sedikit bahkan tak pernah ada buatku, diluar sana aku sangat iri melihat orang tua yang tertawa bahagia bersama anaknya tanpa harus khawatir akan
keselamannya, aku gak mau barang mahal aku hanya perlu Ayah dan bunda menyisihkan sedikit saja waktunya untukku, cukup.” Aya meluapkan semua yang iya rasakan selama ini kepada orangtuanya, selama ini mereka mengira jika Aya hanya seorang anak yang sangat penurut sehingga mereka dengan aman menyembunyikan
identitas yang sebenarnya, ternyata Aya tidaklah demikian, orang tua Aya belum mengenal siapa anak mereka ini
Mobil terhenti disebuah rumah sederhana dengan beragam tanaman didepannya, pagar terbuat dari kayu yang jika dilihat dari fisiknya sangatlah tua renta. Seorang gadis kelaur dari mobil tesebut tanpa mengucapkan sepatah kata saja lalu berlari masuk rumah dan mnegunci pintu tanpa menghiraukan panggiland dari balik pintu rumah tersebut, ya itu Aya yang meninggalkan kedua orang tuanya didalam mobil berlari masuk rumah, terdengar dari luar Ayah dan bundanya memanggil agar Aya mau mendengarkan penjelasan mereka namun percuma Aya sudah masuk kamar dan mengurung dirinya dalam kamar seorang diri karena nenek masih dirumah orang
tua Fras
“Raya, tolong buka pintunya sebentar saja nak, Ayah mau bicara” teriak seorang Ayah dari luar rumah berulang kali, hingga akhirnya iya mneyerah dan meninggalkan rumah tersebut kemudian masuk mobil bersama sang istri
“biarkan Aya tenang dulu, jika sudah saatnya maka kita akan mengatakan yang sebenarnya kepada Aya” sang istri memenangkan suaminya didalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil tersebut perlahan meningalkan pekarangan rumah tersebu dan melaju menuju jalan raya
__ADS_1
Aya melihat semuanya dari jendela kamar dengan sesegukan dari tangisnya yang tak terima jika iya harus dipisahkan dari neneknya.