
Rian tersenyum melihat keduanya, Aya langsung dengan wajah cemberutnya, bagaimana tidak, bisa-bisanya Rian tersenyum melihat keadaan padahl dia tau jika adiknya tidak suka dengan perjodohan ini
“nak, duduk dulu masa berdiri terus gak sopan” bunda menarik tangan Aya yang terus berdiri dari turun tangga, bukannya Aya terperpesona karena dijodohkan dengan seorang Rilo Edward Mayniro namun iya merasa jika ini kutukan karena sebelumnya belum pernah mengenal lelaki selain kakaknya
Rilo melirik kearah Aya yang kemudian mata bertemu mata sekilas, Rilo langsung mengalihkan pandangannya kea rah lain. Kedua orang tua yang melihat kedua anknya diam pun memulai percakapan
“pernikahan kalian akan dipercepat bulan depan, ini sesuai dengan permintaan nenek sekar dan Ayah telah setuju dengan usulan nenek sekar” Aya melihat Keara Rian bagaikan meminta pembelaan, masa iya kakaknya tak peka sekali dengan keadaan Aya yang sekarang
“untuk semua persiapan kalian berdua tak perlu khawatir karena semuanya kami yang menyiapkan, kalian hanya perlu mempersiapkan diri, dan untuk Aya sementara waktu jangan berbuat hal yang aneh-aneh karena kalo Aya berbuat hal aneh maka ayah akan memajukan tanggal pernikahannya” oh tuhan, bagaimana ini? Aya harus bagaimana Tuhan?
“yah, gak bisa gitu dong, Aya gak setuju. Gimana dengan sekolah Aya, semua yang Aya ingin capai, ini egois namanya” Aya mencoba melakukan pembelaan diri
“memang kenapa dengan sekolah, kan kamu bisa terus sekolah, pernikahan hanya berlangsung sehari saja dan kamu bisa izin untuk beberapa hari” ayah masih bersiteguh dengan keputusannya
“yah, yang jalani ini semua Aya nantinya, bukan ayah. Aya belum siap menikah sekarang, lagian usia Aya masih muda yah. Tolong mengerti Aya” Aya memohon kepada Ayahnya, namun nihil hasilnya masih sama
Rilo hanya berdiam diri seperti anak kecil yang polos dan lugu mendengar semua perdebatan antara anak dan ayah tersebut, karena bagaimana pun iya susah menyanggupi untuk menikahi seorang putri dari keluarga Pradita.
Rian bukannya tak mau menolong adiknya namun iya sangat mengkhawatirkan kondisi kesehtan ayahnya, sebenarnya iya juga tak terima dengan perjodohan ini karna iya tau siapa seorang Rilo Edward Mayniro, selain sebagai rekan bisnis, Rilo juga teman nongkrongnya Rian
“kasi Aya waktu buat bicara sama itu orang” Aya menunjuk kearah Rilo yang sedari tadi dengan wajah tenangnya tanpa bisa dibaca ekspresinya, Rilo mengerti maksud Aya kemudian iya mengikuti Aya berjalan
menuju arah dapur
“kita perlu bicara, pernikahan ini gak boleh terjadi aku gak mau nikah muda karena masih banyak yang ingin aku capai” Aya memulai percakapan
__ADS_1
“demi apapun aku juga gak mau penikahan ini terjadi tapi aku gak bisa nolak karna ini permintaan nenek” Rilo seraya mneggulung lengan bajunya keatas, sejenak Aya juga berpikir tentang ayahnya, bagaimana jika kesehatan ayahnya tiba-tiba menurun? Aya gak mau dicap sebagai anak durhaka, tapi Aya gak bisa menerima pernikahan ini dengan semudah itu
“ok, aku terima perjodohan ini tapi ada syaratnya” Aya memicingkan matanya, Rilo mengerti maksud dari Aya tersebut
“biarkan aku menjalani kehidupanku seperti biasanya tanpa ada kekangan dan kamu menjalani kehidupan seperti biasa setelah pernikihan” Rilo terlihat berpikir sejenak kemudian menyetujui persyaratan Aya
Keduanya menuju ruangan depan untuk berkumpul Bersama keluarga keduanya, Aya duduk didekat kakaknya sedangkan Rilo kembali ketempat duduknya semula
“sabtu depan kalian fitting baju dibutik mama, ingat datangnya barengan” mama Rilo seakan memberi perintah, keduanya hanya bisa saling bertatap satu sama lain
“maaf, tante sabtu depan Aya ada kemah disekolah” Aya takut-takut menjawab perkataan dari mama Rilo
“Rilo yang akan minta izin buat kamu nanti, dan mulai sekarang jangn panggil tante karena sebentar lagi kamu akan menjadi anak mama” lembut ucapan dari mama Rilo calon mertuanya Raya Pratiwi, Aya hanya bisa tersenyum kikuk bagaimana bisa iya memanggil beliau dengan sebutan mama?
“Rilo, untuk sebulan kedepannya kamu jangan ambil proyek diluar dan masalah kantor biarkan Rio yang menghandle semuanya” papa Rilo memberi titah untuk anaknya dan yang diberi titah hanya berdiam diri
“saya rasa cukup sampai disini dulu, nanti untuk semua persiapan kita koordikasikan saja” ayah menjawab perkataan papa Rilo
“oh iya, besok kalian berdua temui nenek, karna ada yang mau bicarakan dengan kalian” mama Rilo membenarkan duduknya seraya beicara dengan kedua calon pasangan, ralat, tapi anak dan menantunya
“iya, ma Rilo akan datang mengunjungi nenek” Rilo seperti anak yang sangat patuh terhadap orang tuanya terlihat dari cara bicaranya kepada orang tuanya
“baiklah kalo begitu kami pamit dulu, Aya kamu baik-baik ya nak, kami tinggal dulu” pesan mama Rilo sebelum beranjak berdiri hendak pergi begitu juga dengan Rilo dan juga papanya, Aya hany tersenyum mendengar pesannya mama Rilo
Mereka mengantar Rilo dan juga orang tuanyasampai depan pintu, lihatlah betapa akrab dan senangnya kedua orang tua tersebut yang sebentar lagi akan menjadi sebuah keluarga
__ADS_1
Aya naik keatas dan masuk kekamarnya, merenungi kata-kata yang telah diucapkan ketika bercakap-cakap dibawah. Rasanya isi kepala Aya mau meledak emngingat semua yang telah iya ucapkan, bagaimana bisa iya menerima perjodohan ini dengan mudahnya hanya karna takut kesehatan ayahnya akan memburuk dan dirinya dicap sebagai anak durhaka yang tak tau balas budi kepada orang tuanya, ya walaupun dirinya tak mampu membalas semua balas budi kedua orang tuanya.
Aya menggulingkan badannya diatas kasur empuk, entah kenapa rasanya badan Aya begitu lemah tak berdaya. Pintu terdengar suara ketukan, entahlah siapa yang datang, mungkin orang tuanya atau kakaknya.
“dek, ini kakak, kakak masuk ya” ternyata Rian yang mengetuk pintu, knop pintu berbunyi dan nampaklah siempu suaranya
“kamu kenapa, nyesa karna nerima perjodohan ini dengan mudah?” Rian menghampiri Aya yang tengah membungkus dirinya dengan selimut dan berguling-guling ditempat tidur
“kakak jahat, bukannya bantu belain Aya tadi malah senyam-senyum gak jelas kayak tadi. Emang kakak rela aku nikah sama tu orang, dia orangnya gimana aja aku gak tau, eh malah bentar lagi jadi suami pula” kata
suami lolos dari mulut Aya yang membuatnya segera mneutup mulutnya sendiri
“tu kamu bilang suami, itu artinya kamu memang mau perjodohan ini terlaksana. Sebenarnya kemarin kakak tau kalo Rilo akan dijodohkan dengan kamu, tapi Rilonya bilang jangan beri tau kamu dulu, biar kejutan katanya”
Bukk………..Aya melemparkan bantal kearah kakaknya “kenapa sih? bukannya kalian udah beberapa kali ketemu ya? kakak yakin kok pilihan ayah sama bunda gak salah buat kamu, kakak kenal Rilo” dasar kakak oneng, bukannya bantu nyari jalan keluar malah mendukung perjodohan ini
“memangnya karna bertemu hanya beberapa kali Aya hafal semua kelakuan dia, sikap dia segalanya tentang dia gitu? Aya takut dia gak bisa menerima kekurangan yang Aya miliki, lagian Aya kan masih anak kecil” Rian
tertawa melihat kelakuan adiknya yang menirukan gaya anak kecil minta dibelikan sesuatu sama mamanya
“ya, bukan begitu juga. Sebenarnya kakak juga jurang setuju dengan perjodohan ini namun kakak juga gak selamanya bisa buat jaga kamu, perlu orang lain yang harus jaga kamu, karna kita bakalan punya kehidupan
masing-masing” Aya terdiam mendengar tuturan kata kakaknya
“tak ada yang rela menyerahkan adiknya keorang lain jika dirinya bakalan selamanya mampu menjaga adiknya, kakak diam dengan perjodohan bukan berarti kakak setuju, tapi kakak percaya Rilo mampu menjaga kamu” Rian mengelus rambus adiknya yang sebentar lagi akan memiliki kehidupannya sendiri
__ADS_1
“Aya takut dengan pernikahan diusia muda kak, banyak diantara mereka yang tak mampu melewati masalah rumah tangga mereka sampai akhirnya berujung perceraian” sedewasa inikah adiknya? atau cuma celoteh anak kecil belaka? Entahlah
“kamu memang sudah menikah nantinya, namun tak luput dari pengawasan kakak, kakak ini kakak kamu kamu boleh datang kapanpun kamu perlu kakak, dan kakak akan datang kapanpun kamu perlu” air mata Aya mengalir dengan sendirinya, bahagia sekali rasa dalam hati iya memiliki kakak yang pengertian seperti Rian