
hari ini merupakan operasi Aya, teman-teman, keluarga pun mendoakan agar operasi Aya berjalan dengan lancar. Dikoridor rumah sakit depan ruang operasi rian terlihat sangat gelisah, gambarannya susah untuk ditebak,
namun bagaimana pun gaya coolnya masih tetap bertahan
Diruang operasi dokter yang menangani operasi Aya berusaha semaksimal mungkin karena mengingat
jika serang yang sedang iya operasikan merupakan anak dari pengusaha ternama yang bisa membeli apa saja dengan uangnya, sebelum masuk ke ruang operasi Rian sudah membuat perjanjian dengan dokter yang menangani operasi Aya
Dua jam para dokter berjuan diruang operasi untuk menyelamatkan nyawa Raya Pratiwi, hingga
akhirnya operasi berakhir. Dokter kepala yang menangani aya keluar ruangan dan langsung dihampiri Rian
“selamat, operasinya berjalan dengan lancer. Tunggu beebrapa jam lagi maka pasien akan segera siuman, sekali lagi selamat ya” Rian terlihat sangat sumbringah mendengar kabar operasi adinya berjalan dengan lancar.
Semua orang menunggu Aya siuman, kedua orang tua Fras, teman-teman dekat Aya, ya bias dibilang begitu karena hanya Eta, Lulu, Dito dan Nono yang selalu bersama Aya disekolah, Fras, dan orangtua Aya sangat menantikan Aya segera siuman
Padahal malam ini adalah perayaan Dies Natalis sekolah, namun mereka berempat gak pergi dikarenakan Aya masih terbaring dirumah sakit, mereka berempat akan pergi bila Aya juga pergi. Entah apa yang ada dipikiran mereka berempat bagaimana bisa Aya menghadiri acara DN sedangkan dia aja masih terbaring dirumah sakit
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, keempat teman Aya masih setia menunggu kabar jika Aya
akan segera siuman, mereka menunggu Aya diruangan karena Aya sudah dipindahkan keruangan khusus.
Jemari Ayarefleks bergerak dengan mata yang berusaha terbuka, Eta yang pertama melihat hal tersebut langsung memanggil Rian yang tengah berada diruangan ayahnya, Rian segera memanggil dokter untuk memeriksa keadan Aya
Dokter memeriksa mulai dari denyut nadi, pernapasan, detaj jantung hingga mata Aya dan dokter mengatakan jika Aya sepenuhnya telah siuman, betapa bahagianya mereka mendengar kabar tersebut terlebih Rian yang sumbringah mendengar kabar adiknya telah siuman
Aya terdiam melihat teman-temannya ada diruangan tersebut, air matanya mengalir dengan sendirinya,
Eta dan Lulu sampai menangis melihat jika Aya telah sepenuhnya siuman, betapa rindunya iya akan temannya
“Ya, kamu baring aja, jangan banyak gerak dulu. Baru aja bangun tidur eh udah kayak cacing kepanasan” gurau Dito yang membuat lengkung dibibir Aya
“kok rasanya badanku pegel semua ya, emang berapa lama aku tidur?” Aya berusaha berbicara
dengan teman-temannya
__ADS_1
“tak kan pernah terhenti untuk slalu percaya walau harus menuggu seribu tahun lamanya” Nono
menjawab Raya dengan lirik lagu
“duh, gak usah dengerin Nono deh, Ya. kata dokter kamu jangan banyak gerak dulu” bujuk Eta
karena khawatir akan kepulihan temannya
Suasana ruangan terlihat sangat bahagia, Rian bisa melihat dari luar ruangan, betapa
bersyukurnya iya karena adiknya memiliki teman yang sangat peduli terhadapnya. Dari ruangan seberang ayah keluar ruangan dibantu dengan kursi roda yang didorong bunda, dibelakang ayah dan bunda ada kedua orang tua Fras serta Fras yang akan melihat keadaan Aya
“Ya, kenapa gak masuk?” Fras menepuk pundak Rian, Rian hanya menanggapi Fras dengan melirikkan
matanya kearah dalam ruangan dan Fras mengerti ternyata Rian memberi ruang untuk Aya dan teman-temannya.
Pintu ruangan terbuka, orangtua Aya masuk ruangan beserta Fras dan orangtuanya, Rian menyusul dari belakang, teman-teman Aya memberi ruang untuk keluarga Aya dengan berpamitan kepada mereka yang ada diruangan tersebut untuk balik duluan, Aya sedikit terkejut melihat keberadaan Rian bersama keluarganya dan terlihat sangat akrab dengan Fras
“bunda, ayah kenapa, ayah sakit ya? pertanyaan pertama keluar dari mulut Aya walaupun suaranya sangat kecil persis seperti orang berbisik
“hay adik kakak yang rewel, jangan banyak gerak dulu ya. bekas jahitannya masih belum kering
lo” Fras melambaikan tangannya kearah Aya, namun tak dihiraukan Aya, iya masih penasaran kenapa Rian bisa bersama keluarganya
“lah, kakaknya ngomong malah ngeliat kelain, mikirin apa sih?” Rian masih terdiam melihat Aya terus menatapnya, iya tak mau bicara biarkan orangtuanya saja yang mengatakan kebenarannya kepada adiknya tersebut. Bunda yang melihat Aya sangat penasaran akan kehadiran Rian pun mengerti jika Aya perlu penjelasan kenap Rian bias bersama mereka
“nak, kamu istirahat aja dulu ya, jangan banyak gerak. Benar kata kakakmu lukanya belum
kering benar jadi kamu jangan banyak gerak dulu ya”
“bun, kenapa Rian ada disini? Kak Fras juga akrab benar sama Rian. Ada apa sih?” Fras melirik
kearah Rian
“karna Rian kakakmu” hanya itu yang keluar dari mulut bunda, Aya nampak bingung
__ADS_1
mendengarnya
“oke, jadi sebenarnya kamu dan Rian kembar tak identik, kalian Cuma beda 7 menit kok, tapi Rian yang kakaknya ya dan kamu adiknya” jelas bunda, tau gimana reaksi Raya Pratiwi? iya membulatkan matanya hingga mnegundnag tawa seisi ruangan tersebut
“bun, jangan bercanda deh. Aya serius nanya bund, ya kalo bunda masih marah sama kejadian
kemarin Aya minta maaf, Aya tau Aya salah” sungguh-sungguh Aya bicara
“apa yang dibilangkan bunda benar, dek, dan disini aku kakaknya” cengir Rian
“hah? Kok bunda gak pernah cerita kalo Aya ada kakak sih, hmmm……..tapi tetap aja kakaknya Aya ya
kak Fras” Rian sedikit muram mendengar jawaban adiknya, bagaimanapun sulit bagi aya untuk menerima kenyataan jika Rian merupakan kakak kandungnya, tapi hal itu bisa dirasakan Aya
“gitu aja muram, mana tu yang disekolah selalu nyemangatin Aya, cupu kakak” Rian terbelalak
mendengar ucapan adiknya, apakah dengan itu artinya ada sepenuhnya menerima dirinya sebagai kakaknya?
“makasih, udah susah-susah buat ngejagain Aya disekolah dan selalu nasihatin Aya” Rian
memegang tangan adiknya
“makasih udah mau nerima kakak sebagai kakakmu, ya karna secara biologis aku kakakmu bukan kak Fras” seraya melirik ke arah Fras
“lah, kok malah bawa-bawa aku sih, lagian ni ya, aku dah ngeliat semua kelakuan Aya mulai dari
ingusan sampe gadis kayak gini, na kamu baru Taunya aja sekarang. Jadi siapa yang sebenarnya berperan sebagai kakak disini? Cetus Fras sebagai tanggapan gurauan Rian, orang tua mereka yang ad diruangan tersebut hanya bias menyaksikan perdebatan diantara mereka, hingga akhirnya Aya menanyakan kabar neneknya
“ma, nenek mana. Aya rindu nenek, rasanya biar nenek aja yang ngurutin semua badan Aya, pegel ma” namun sebelumnya mereka sepakat untuk tidak memberitahukan kebenarannya kepada Aya mengingat Kondisi Aya yang masih belum stabil
“nenek sedang istirahat, ada bi Sumi yang jagain dirumah sama pak Toro” bunda melirik kelain
setelah mengatakan hal demikian kepada Aya, seisi ruangan tersebut hanya terdiam mendengar jawaban bunda
“hmmmm………padahal Aya pengen ketemu nenel, tapi yasudah deh. Kan Aya bisa ketemu sama nenek
__ADS_1
nanti-nanti” senyum Aya pada dirinya, tak bisa dibayangkan jika Aya tau yang sebenarnya jika neneknya telah tiada, tak tau siapa yang bisa menenangkan Aya.