
waktu terasa begitu cepat berlalu dan tak terasa sudah 6 bulan
Raya tinggal serumah bersama Rilo walaupun hubungan mereka hanya seperti itu
saja tak ada perubahan namun semakin hari ruang gerak Aya selalu dibatasi Rilo
dengan alasan tak mau orang lain tau tentang hubungan mereka
Mengingat tahun
ini merupakan tahun terakhir Aya dibangku SMA maka untuk beberapa bulan
terakhir ini iya begitu sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujiannya.
Berbagai les privat Aya ikuti demi mendapatkan nilai terbaik untuk bisa masuk
diuniversitas pilihannya
Seperti saat ini
iya begitu sibuk untuk mempersiapkan diri dengan belajar dikamarnya sampai iya
kadang lupa untuk keluar kamar hanya untuk makan
“nona, sebaiknya
nona makan dulu karena nona belum makan dari tadi pagi” tak ada jawaban dari dalam kamar
“nona, atau saya
perlu antarkan makanan saja kekamar nona, bagaimana?” Aya akhirny membuka pintu
dan mendapati pak Mun telah menunggunya didepan pintu kamar
“baiklah, pak
saya akan turun untuk makan siang dan maaf sebelumnya karena telah merepotkan
anda” Aya mengikuti pak Mun dari belakang turun kebawah menuju meja makan
“maaf, pak jika
saya terlalu ikut campur sepertinya akir-akhir ini kak Rilo jarang sekali
dirumah apakah dia begitu sibuk?” Aya mulai menyuapi makanan kedalam mulutnya
“untuk lebih
mengetahuinya lebih baik nona tanyakan saja langsung pada tuan muda, kalo
begitu saya permisi dulu” selalu saja Aya ditinggal makan sendiri dimeja makan
setiap hari, apakah ini yang dinamakan sebuah keluarga? Padahal hari ini
weekend seharusnya iya kan istirahat dirumah saja atau jangan-jangan dia nggak
suka dirumah karena aku ada dirumah? Yasudahlah, aku tak punya waktu untuk
memikirkan hal demikian seminggu lagi aku akan ujian akhir dan semoga saja
hasilnya begitu memuaskan hingga aku berhasil lolos diunversitas impianku
Aya kembali
kekamarnya setelah menyelesaikan makannya, iya mnegambil ponselnya yang iya
letakkan diatas nakas tempat tidurnya kemudian iya rebahan karena iya perlu istirahat
sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya
Aya muka grup
kelas serta grup rusuh yang berisikan Nono, Eta, Lulu, Dito, dan Aya
keliatannya mereka lagi asyik membicarakan bagaimana nantinya mereka setelah
lulus SMA
Dito
Duh, deg degan ni soalnya bentar lagi bakalan taruhan nyawa
buat lulus SMA dan pastinya bakalan pisah sama sayang-sayangku
Lulu
Lebay banget sih jadi orang, biasanya aja kamu santai kok
sekarang panikan sih?
Oh iya kalian udah nentuin belum bakalan kemana setelah lulus
nanti?
Eta
Hmmmm, aku kayaknya bakalan ikut nenek ke London deh, saolnya
nenek nggak ada yang nemenin disana lagian aku juga bakalan lanjut disana juga
Lulu
Yah, nggak seru dong aku bakalan sendirian disini. Masa iya
aku ditinggal sendiri sih @Nono juga bakalan kebelanda tapi kurang tau @Dito
Aya
Kita bakalan pisah nanti, duh pasti rindu ni sama kelkuan
konyol kalian
Dito
Aku kayaknya bakalan kesini aja deh, biarpun aku minta keluar
bakalan ngak diizinin sama papaku, taulah ya anak tampan, ehek
@Aya lanjut dimana ni?
__ADS_1
Aya
Tau ni, aku nggak
yakin bakalan lulus diuniversitas itu.
Eta
Yah, jangan
pesimis dong, ya kesal deh jadinya aku
Dito
Dasar nggak
jelas, yang jalanin itu Aya apa kamu sih, Ta?
Eta
Eh, kambing tega banget sama teman sendiri
Dito
Jadikan kita bakalan pergi nanti? Soalnya nggak menutup
kemungkinan kita bakalan nggak ketemu buat waktu yang lama nantinya
Aya
Aku sih yes yang lain gimana ni, guys?
Eta
Sikat kita, mana tau dapat
cowok kaya ganteng lagi
Hihihi
Nono
Dasar jones lo, palingan yang mau itu mamang cilok samping
café tempat kita biasa nongkrong
Lulu
Jahat banget jadi teman
Tak terasa hari sudah mulai sore, rasanya baru saja iya
berbaring diatas tempat tidur tapi sudah sore saja mana diluar lagi mendung
lagi pasti sebentar lagi bakalan turun hujan pikir Aya. Andai dirumah ini ada
orang lain yang nyaman diajak bicara pasti takkan sebosan ini, duh katanya
tinggal dirumah mewah maka hidupmu akan nyaman karena semuanya serba ada, tapi
Aya menghabiskan sorenya itu dengan membaca novel serta komik
yang beberapa hari lalu dibelinya disebuah toko buku, ya walaupun sebenarnya
masih kurang efektif untuk mengusir kebosanannya didalam rmah saja namun masih
bisa untuk mengurangi kebosanannya
Setelah membaca bebrapa novel dan komiknya tersebut iya merasa
badannya begitu lengket hingga iya memutuskan untuk membersihkan diri dikamar
mandi saja.
Mobil terparkir dengan rapi disebuah penthouse mewah dengan
halaman rumah yang begitu luas. Seorang pria dengan mengenakan jas hitam keluar
dari mobil tersebut sambil membawa tas kerjanya ditangan
“selamat datang tuan, nona Raya ada dikamarnya seharian dia
habiskan dengan belajar dan membaca beberapa komik dan novelnya”
“baik, terima kasih pak Mun, saya kedalam duluan dan simpan
saja diruang kerja saya” Rilo kemudiian mendahului pak Mun memasuki rumah
Rumah yang begitu sepi untuk dihuni oleh sepasang suami istri
dan beberapa asisten pribadi lainnya, bahkan beberapa anak saja tak akan
membuat rumah tersebut sempit untuk ditinggali. Astaga apa yang dipikirkan Rilo
ketika mendapati rumahnya yang begitu sepi seperti tak ada penghuni yang
tinggal padahal biasanya juga seperti ini
Rilo menaiki anak tangga dengan bermaksud untuk menuju kamarnya
untuk beristirahat melepas penatnya hari ini, tapi iya tak melihat dimana Aya
hingga membuatnya untuk memeriksa langsung kekamarnya
“boleh aku masuk?” hening, taka da jawaban dari dlaam ruangan
tersebut
“boleh aku masuk, ada hal yang harus kau sampakan kepadamu”
namun masih sama taka da jawaban sama sekali hingga akhirnya iya memegang knop
pintu dan ternyata tak terkunci
“kemana anak itu kenapa pintu kamarnya tak terkunci, pak Mun
bilang dia hanya menghabiskan harinya dikamar tapi tak biasanya iya tak
__ADS_1
mengunci pintu ketika berada dikamarnya” Rilo pun masuk kedalam kamar Aya namun
mendapat teriakan dari empu kamarnya
“maaf, aku tak sengaja, aku kira kau tau da didalam karena
pintu kamarmu tak terkunci seperti biasanya jadi aku masuk saja” Rilo berdiri didepan
pintu kamar Aya
“keluar sekarang, aku tak perlu alasan apapun” wajah Aya
memerah menahan marah dan malunya. Bagaimana tidak dikala iya baru saja selesai
mandi dan hendak mengenakan pakaiannya tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka
padahal seingat iya sudah mengunci pintu kamarnya ketika hendak mandi tadi tapi
kenapa bisa iya masuk kekamarnya
Ditambah lagi sebelumnya Aya tak pernah mengenakan pakaian
mini didepan siapapun jika tidak dikamarnya seorang diri, kala disaat Rilo
masuk kamar Aya hanya mengenakan pakaian dalam saja Karena sudah kebiasaannya
untuk melepas handuknya ketika sudah mengenakan pakaian dalamnya dengan alasan
sulit untuk mengenakan pakaian jika masih mengenakan handuk
“baiklah, aku keluar, aku tunggu diruang kerjaku segera” Rilo
kemudian keluar dari kamar tersebut dan sedangkan Aya masih kesal mengingat
kecerobohannya yang abru saja terjadi
“bagaimana bisa pria tua itu hanya biasa saja reaksinya ketika
melihat wajahku marah, apakah dia tidak tau malu sama sekali ketka melihat
seorang gadis mengenakan pakaian seperti itu?” Aya menggerutu tak jelas
meluapkan kekesalannya
“hais, bagaimana bisa kau keruangannya setelah apa yang baru
saja terjadi, mau disimpan dimana wajahku?” rasanya iya mati saja menahan rasa
malunya. Bukankah sudah hal yang wajar saja jika suami melihat istrinya
berpakain seperti itu? tapi bagaimana ini, ini pertama kalinya bagi Aya
memperlihatkan tubuhnya kepada orang lain
Rilo tengah menunggu Ata diruang kerjanya setelah menganti
pakaiannya dengan pakaian rumahan, dari laur pintu terdengar suara ketukan
“masuk saja, pintunya tak dikunci” Aya masuk kedalam ruangan
tersebut, iya begitu terpana dengan banyaknya buku-buku terpajang rapi diatas
rak buku diruangan tersebut
“duduklah, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu mengenai
pendidikanmu setelah lulus nanti” Aya tampak ragu untuk duduk apalagi diruangan
tersebut hanya ada mereka berdua saja, rasanya tinggal disebuah gua batu yang
begitu menyeramkan berdua diruangan tersebut.
Aya begitu tegang dalam situasi seperti ini ditambah Rilo yang
sedari tadi menatapnya seperti singa yang begitu kelaparan Aya hanya bisa
menunduk tak berani menatap Rilo yang berada dihadapannya saat ini. Entah
karena apa pandangan Rilo tak lepas dari bibir mungil Aya yang terlihat begitu
menggoda, hais ditambah lagi kejadian beberapa saat yang lalu. Rilo pria normal
samas seperti pria lainnya apalagi didepannya ini gadis yang telah berstatus
sebagai istrnya, normal saja kan jika iya berminat terhadap istri sendiri?
Astaga apa yang sedang kau pikirkan, Rilo bukankah kau
mengatakan jika kau tak tertarik dengan gadis sepert dia, tapi mengapa kau bisa
berpikiran demikian?
Pikiran Rilo begitu berkecambuk hingga iya lupa apa yang
menjadi tujuan utama iya menyuruh gadis itu pergi keruang kerjanya
“apa yang perlu dibicarakan, katakanlah tapi harus aa
persetujuan dariku jika apapun keputusanmu tentang pendidikanku” Aya
memberanikan diri untuk bicara
“tak jadi, kau kembali kekamarmu saja lain kali kita akan
bicara lagi”
“baiklah, kalo gitu aku pergi” Aya kemudian keluar ruangan itu
meninggalkan Rilo seorang diri yang tengah kebingungan sendiri
“bagaimana bisa ini, apa yang harus aku lakukan padahal
sebelumnya aku tak pernah seperti ini terhadap wanita sekalipun Sarah,
membuatku Frustrasi saja” Rilo kemudian bangkit dengan berjalan menuju kamar
mandi yang tersedia riuangan tersebut untuk menenangkan diri dari hasratnya
yang menginginkan istri kecilnya itu
__ADS_1