Gelombang Laut

Gelombang Laut
Episode 34


__ADS_3

    waktu terasa begitu cepat berlalu dan tak terasa sudah 6 bulan


Raya tinggal serumah bersama Rilo walaupun hubungan mereka hanya seperti itu


saja tak ada perubahan namun semakin hari ruang gerak Aya selalu dibatasi Rilo


dengan alasan tak mau orang lain tau tentang hubungan mereka


        Mengingat tahun


ini merupakan tahun terakhir Aya dibangku SMA maka untuk beberapa bulan


terakhir ini iya begitu sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujiannya.


Berbagai les privat Aya ikuti demi mendapatkan nilai terbaik untuk bisa masuk


diuniversitas pilihannya


        Seperti saat ini


iya begitu sibuk untuk mempersiapkan diri dengan belajar dikamarnya sampai iya


kadang lupa untuk keluar kamar hanya untuk makan


        “nona, sebaiknya


nona makan dulu karena nona belum makan dari tadi pagi”  tak ada jawaban dari dalam kamar


        “nona, atau saya


perlu antarkan makanan saja kekamar nona, bagaimana?” Aya akhirny membuka pintu


dan mendapati pak Mun telah menunggunya didepan pintu kamar


        “baiklah, pak


saya akan turun untuk makan siang dan maaf sebelumnya karena telah merepotkan


anda” Aya mengikuti pak Mun dari belakang turun kebawah menuju meja makan


        “maaf, pak jika


saya terlalu ikut campur sepertinya akir-akhir ini kak Rilo jarang sekali


dirumah apakah dia begitu sibuk?” Aya mulai menyuapi makanan kedalam mulutnya


        “untuk lebih


mengetahuinya lebih baik nona tanyakan saja langsung pada tuan muda, kalo


begitu saya permisi dulu” selalu saja Aya ditinggal makan sendiri dimeja makan


setiap hari, apakah ini yang dinamakan sebuah keluarga? Padahal hari ini


weekend seharusnya iya kan istirahat dirumah saja atau jangan-jangan dia nggak


suka dirumah karena aku ada dirumah? Yasudahlah, aku tak punya waktu untuk


memikirkan hal demikian seminggu lagi aku akan ujian akhir dan semoga saja


hasilnya begitu memuaskan hingga aku berhasil lolos diunversitas impianku


        Aya kembali


kekamarnya setelah menyelesaikan makannya, iya mnegambil ponselnya yang iya


letakkan diatas nakas tempat tidurnya kemudian iya rebahan karena iya perlu istirahat


sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya


        Aya muka grup


kelas serta grup rusuh yang berisikan Nono, Eta, Lulu, Dito, dan Aya


keliatannya mereka lagi asyik membicarakan bagaimana nantinya mereka setelah


lulus SMA


Dito


Duh, deg degan ni soalnya bentar lagi bakalan taruhan nyawa


buat lulus SMA dan pastinya bakalan pisah sama sayang-sayangku


Lulu


Lebay banget sih jadi orang, biasanya aja kamu santai kok


sekarang panikan sih?


Oh iya kalian udah nentuin belum bakalan kemana setelah lulus


nanti?


Eta


Hmmmm, aku kayaknya bakalan ikut nenek ke London deh, saolnya


nenek nggak ada yang nemenin disana lagian aku juga bakalan lanjut disana juga


Lulu


Yah, nggak seru dong aku bakalan sendirian disini. Masa iya


aku ditinggal sendiri sih @Nono juga bakalan kebelanda tapi kurang tau @Dito


Aya


Kita bakalan pisah nanti, duh pasti rindu ni sama kelkuan


konyol kalian


Dito


Aku kayaknya bakalan kesini aja deh, biarpun aku minta keluar


bakalan ngak diizinin sama papaku, taulah ya anak tampan, ehek


@Aya lanjut dimana ni?

__ADS_1


Aya


Tau ni, aku nggak


yakin bakalan lulus diuniversitas itu.


Eta


Yah, jangan


pesimis dong, ya kesal deh jadinya aku


Dito


Dasar nggak


jelas, yang jalanin itu Aya apa kamu sih, Ta?


Eta


Eh, kambing tega banget sama teman sendiri


Dito


Jadikan kita bakalan pergi nanti? Soalnya nggak menutup


kemungkinan kita bakalan nggak ketemu buat waktu yang lama nantinya


Aya


Aku sih yes yang lain gimana ni, guys?


Eta


Sikat kita, mana tau dapat


cowok kaya ganteng lagi


Hihihi


Nono


Dasar jones lo, palingan yang mau itu mamang cilok samping


café tempat kita biasa nongkrong


 


Lulu


Jahat banget jadi teman


    Tak terasa hari sudah mulai sore, rasanya baru saja iya


berbaring diatas tempat tidur tapi sudah sore saja mana diluar lagi mendung


lagi pasti sebentar lagi bakalan turun hujan pikir Aya. Andai dirumah ini ada


orang lain yang nyaman diajak bicara pasti takkan sebosan ini, duh katanya


tinggal dirumah mewah maka hidupmu akan nyaman karena semuanya serba ada, tapi


    Aya menghabiskan sorenya itu dengan membaca novel serta komik


yang beberapa hari lalu dibelinya disebuah toko buku, ya walaupun sebenarnya


masih kurang efektif untuk mengusir kebosanannya didalam rmah saja namun masih


bisa untuk mengurangi kebosanannya


    Setelah membaca bebrapa novel dan komiknya tersebut iya merasa


badannya begitu lengket hingga iya memutuskan untuk membersihkan diri dikamar


mandi saja.


    Mobil terparkir dengan rapi disebuah penthouse mewah dengan


halaman rumah yang begitu luas. Seorang pria dengan mengenakan jas hitam keluar


dari mobil tersebut sambil membawa tas kerjanya ditangan


    “selamat datang tuan, nona Raya ada dikamarnya seharian dia


habiskan dengan belajar dan membaca beberapa komik dan novelnya”


    “baik, terima kasih pak Mun, saya kedalam duluan dan simpan


saja diruang kerja saya” Rilo kemudiian mendahului pak Mun memasuki rumah


    Rumah yang begitu sepi untuk dihuni oleh sepasang suami istri


dan beberapa asisten pribadi lainnya, bahkan beberapa anak saja tak akan


membuat rumah tersebut sempit untuk ditinggali. Astaga apa yang dipikirkan Rilo


ketika mendapati rumahnya yang begitu sepi seperti tak ada penghuni yang


tinggal padahal biasanya juga seperti ini


    Rilo menaiki anak tangga dengan bermaksud untuk menuju kamarnya


untuk beristirahat melepas penatnya hari ini, tapi iya tak melihat dimana Aya


hingga membuatnya untuk memeriksa langsung kekamarnya


    “boleh aku masuk?” hening, taka da jawaban dari dlaam ruangan


tersebut


    “boleh aku masuk, ada hal yang harus kau sampakan kepadamu”


namun masih sama taka da jawaban sama sekali hingga akhirnya iya memegang knop


pintu dan ternyata tak terkunci


    “kemana anak itu kenapa pintu kamarnya tak terkunci, pak Mun


bilang dia hanya menghabiskan harinya dikamar tapi tak biasanya iya tak

__ADS_1


mengunci pintu ketika berada dikamarnya” Rilo pun masuk kedalam kamar Aya namun


mendapat teriakan dari empu kamarnya


    “maaf, aku tak sengaja, aku kira kau tau da didalam karena


pintu kamarmu tak terkunci seperti biasanya jadi aku masuk saja” Rilo berdiri didepan


pintu kamar  Aya


    “keluar sekarang, aku tak perlu alasan apapun” wajah Aya


memerah menahan marah dan malunya. Bagaimana tidak dikala iya baru saja selesai


mandi dan hendak mengenakan pakaiannya tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka


padahal seingat iya sudah mengunci pintu kamarnya ketika hendak mandi tadi tapi


kenapa bisa iya masuk kekamarnya


    Ditambah lagi sebelumnya Aya tak pernah mengenakan pakaian


mini didepan siapapun jika tidak dikamarnya seorang diri, kala disaat Rilo


masuk kamar Aya hanya mengenakan pakaian dalam saja Karena sudah kebiasaannya


untuk melepas handuknya ketika sudah mengenakan pakaian dalamnya dengan alasan


sulit untuk mengenakan pakaian jika masih mengenakan handuk


    “baiklah, aku keluar, aku tunggu diruang kerjaku segera” Rilo


kemudian keluar dari kamar tersebut dan sedangkan Aya masih kesal mengingat


kecerobohannya yang abru saja terjadi


    “bagaimana bisa pria tua itu hanya biasa saja reaksinya ketika


melihat wajahku marah, apakah dia tidak tau malu sama sekali ketka melihat


seorang gadis mengenakan pakaian seperti itu?” Aya menggerutu tak jelas


meluapkan kekesalannya


    “hais, bagaimana bisa kau keruangannya setelah apa yang baru


saja terjadi, mau disimpan dimana wajahku?” rasanya iya mati saja menahan rasa


malunya. Bukankah sudah hal yang wajar saja jika suami melihat istrinya


berpakain seperti itu? tapi bagaimana ini, ini pertama kalinya bagi Aya


memperlihatkan tubuhnya kepada orang lain


    Rilo tengah menunggu Ata diruang kerjanya setelah menganti


pakaiannya dengan pakaian rumahan, dari laur pintu terdengar suara ketukan


    “masuk saja, pintunya tak dikunci” Aya masuk kedalam ruangan


tersebut, iya begitu terpana dengan banyaknya buku-buku terpajang rapi diatas


rak buku diruangan tersebut


    “duduklah, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu mengenai


pendidikanmu setelah lulus nanti” Aya tampak ragu untuk duduk apalagi diruangan


tersebut hanya ada mereka berdua saja, rasanya tinggal disebuah gua batu yang


begitu menyeramkan berdua diruangan tersebut.


    Aya begitu tegang dalam situasi seperti ini ditambah Rilo yang


sedari tadi menatapnya seperti singa yang begitu kelaparan Aya hanya bisa


menunduk tak berani menatap Rilo yang berada dihadapannya saat ini. Entah


karena apa pandangan Rilo tak lepas dari bibir mungil Aya yang terlihat begitu


menggoda, hais ditambah lagi kejadian beberapa saat yang lalu. Rilo pria normal


samas seperti pria lainnya apalagi didepannya ini gadis yang telah berstatus


sebagai istrnya, normal saja kan jika iya berminat terhadap istri sendiri?


    Astaga apa yang sedang kau pikirkan, Rilo bukankah kau


mengatakan jika kau tak tertarik dengan gadis sepert dia, tapi mengapa kau bisa


berpikiran demikian?


    Pikiran Rilo begitu berkecambuk hingga iya lupa apa yang


menjadi tujuan utama iya menyuruh gadis itu pergi keruang kerjanya


    “apa yang perlu dibicarakan, katakanlah tapi harus aa


persetujuan dariku jika apapun keputusanmu tentang pendidikanku” Aya


memberanikan diri untuk bicara


    “tak jadi, kau kembali kekamarmu saja lain kali kita akan


bicara lagi”


    “baiklah, kalo gitu aku pergi” Aya kemudian keluar ruangan itu


meninggalkan Rilo seorang diri yang tengah kebingungan sendiri


    “bagaimana bisa ini, apa yang harus aku lakukan padahal


sebelumnya aku tak pernah seperti ini terhadap wanita sekalipun Sarah,


membuatku Frustrasi saja” Rilo kemudian bangkit dengan berjalan menuju kamar


mandi yang tersedia riuangan tersebut untuk menenangkan diri dari hasratnya


yang menginginkan istri kecilnya itu

__ADS_1


__ADS_2