
“dokter, cepat. Lakukan apapun untuk adikku” Rian berteriak sepanjang koridor rumah sakit seraya menggendong tubuh Aya.
Berantakan sekali, Rian sembarangan memarkirkan mobilnya didepan pintu masuk rumah sakit
karena panik akan keadaan adiknya, sedangkan bunda mengikuti dari belakang, pihak rumah sakit gempar dibuat Rian karena telah membuat keributan dirumah sakit, namun siapa yang berani membantah Rian Pradita, dengan cepat pihak rumah sakit menangani Aya dan memeriksa keadaannya
Rian dan bunda menunggu didepan ruangan Aya, kasak-kusuk terlihat diwajah keduanya, siapa yang
tak khawatir akan keadaan Aya karena sedari kecil kondisinya sangatlah lemah, selang beberapa waktu dokter keluar ruangan dan memberitakan jika keadaan Aya baik-baik saja.
Lengkungan senyum nampak disudut bibir Rian juga bunda, bunda sangat bersyukur karena Aya dengan
keadaan baik-baik saja. Rian dan bunda segera masuk keruang perawatan Aya, Aya ternyata sudah siuman dengan posisi berbaring membelakangi pintu
“dek, kita perlu bicara, jangan diam gini. Please” Rian terlihat memohon kepada adiknya, namun
yang diajak bicara tak memunculkan reaksi sedikitpun
“Ya, ayolah, kakak tau kalo kakak salah dan gak seharusnya kami berbohong kepadamu” namun
sayangnya Aya tak beraksi apa-apa hingga Rian membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya
Miris, seorang Raya Pratiwi menangis dalam diamnya, dengan mata memerah dan bantal yang basah akibat air matanya serta hidung yang memerah
“puas kalian dengan semuanya, kenapa gak kalian biarkan saja aku menyusul nenek?” Aya terlihat sangat marah, bunda tak pernah melihat anaknya semarah ini
“dengarkan kakak dulu, jangan egois jadi anak” Rian masih sabar menghadapi adiknya
“apa, egois kata kakak? Siapa yanag egois, kalian yang egois sama aku. Apa kalian tak pernah sedikit pun memikirkan bagaimana perasaanku? Kalian dengan mudahnya menyembunyikan hal besar terhadapku, apa kalian masih punya hati terhadapku, jika tidak jangan pernah datang kepadaku lagi” pilu terasa dihati Aya mengatakan hal demikian
“dengarkan penjelasan kakak dulu” namun Aya tak menghirukan bujukan Rian, iya kemudian membalikkan badannya dan membelakangi Rian dan bund, tak lama kemudain Fras masuk keruangan tersebut karena dihubungi oleh bunda sebelum pergi kerumah sakit
“dek, ini kakak, ayo bicara sama kakak” Fras membujuk Aya, berkutik sedikitpun tak Aya dari posisinya, berulang kali Fras membujuknya namun hasilnya nihil, Aya masih tak mau bicara
Bunda dan Rian keluar ruangan membiarkan Fras membujuk Aya, karena bunda tau selama ini jika Aya ada masalah selalu menceritakannya kepada Fras
“bunda dan Rian udah keluar ruangan, please dengerin kakak sebentar saja” Fras membujuk Aya sudah seperti merayu anak kecil yang merajuk karena gak dibelikan mainan
Aya membalikkan badannya dengan mata dan hidung yang memerah akibat menangis
“sebelumnya kakak minta maaf karena gak jujur sama kamu, namun ini karena kondisi kamu yang tak
stabil saat itu dan hal itu tak diduga sebelumnya, nenek gak tau kamu masuk rumah sakit bahkan sebelum kakak pergi kerumah sakit tempat kamu dilarikan, keadaan nenek sangat baik, ini sudah kehendak Tuhan dan kita tak bisa membantahnya, ikhlaskanlah nenek, nenek gak senang jika kalo cengeng kayak gini, mana cucunya yang tegar dulu ketika jatuh kakinya tersandung batu dan luka? Percayalah, nenek pasti bahagia jika kamu mengikhlaskan kepergiannya” Aya masih berdiam diri dengan air mata yang terus mengalir
__ADS_1
“masih ada kami, ada kakak, bunda, ayah, mama, papa, Rian dan teman-temanmu yang lain, kamu
bahkan tidak sendiri, neenk maunya kamu menjalani hidup dengan baik” Fras merangkul Aya dan membawakannya dalam dekapannya, Aya menangis sejadi-jadinya hatinya begitu kesal kenapa nenek menginggalkannya begitu cepat bahkan dikondisi Aya tak berada disampingnya
“udah nangisnya, baju kakak basah kena ingus kamu” dasar Fras adiknya masih dalam kondisi
bersedih masih bisa diajak bergurau
“kakak jahat, udah sana belikan Aya makanan, Aya lapar” Fras membelakkan matanya bagaimana bisa Aya masih mengingat makanan padahal iya masih bersedih
“ok, tapi jangan marah lagi ya, kasian bunda tu khawatir dari tadi, Rian udah kayak kucing
kehilangan induk lagi kenak kamu ngambekin” Aya hanya bisa tersenyum kecil.
Benar apa yang dikatakan Fras neneknya pasti sedih melihat kondisinya saat ini, jadi iya harus
kuat dan menerima semuanya dengan ikhlas, neneknya pasti sudah bertemu dengan kakek dialam sana
“bentar ya, kakak panggilin bunda sama Rian dulu biar bisa jagain kamu karna kakak yang belikan
kamu makanan”
“oke deh, kak sekalian sate dekat sekolah Aya ya, bolehkan?” Fras terkadang bingung dengan
“iya, tapi janji jangan ngambek lagi” Fras dengan nada penuh penekanan, kemudian Fras keluar
ruangan, Rian dan bunda sudah menunggu didepan pintu
“gimana?” tanya Rian seperti menyelidik sesuatu
“aman, eh malah dia minta belikan makanan sekarang” Rian tertawa mendengar penjelasan Fras
“ok, makasih, mau gue temenin?” Rian menawarkan diri
“gak usah, mending lo masuk dalam no, ntar singa betina ngamuk lagi” Fras berlalu
meninggalkan bunda dan Rian untuk membelikan Aya makanan sedangkan keduanya masuk keruangan Aya
“nak, maafin bunda ya, bunda salah disini. Please maafkan bunda ya” wajah Aya sudah berseri
kembali mudah sekali mood tu anak stabil
“hmmm……..iya bunda, Aya juga minta maaf karna udah ngerusak barang dikamar kakak, heeee………
__ADS_1
maaf ya kak” Rian tersenyum melihat tingkah adiknya ini, andai dari kecil mereka hidup bersama betapa bahagianya Rian bisa memahami adiknya dikala moodnya lagi kurang baik
“kakak maafin asalkan Aya bantu kakak ngedekor ulang lagi, gimana?” dan Aya setuju, lihatlah bunda tersenyum bahagia melihat kedua anaknya sudah baikan, betapa bahagianya iya jika menemani masa kecil mereka hingga sebesar ini
Suasana sudah kembali membaik, keduanya sudah bersenda gurau tak memperdulikan bahwa bunda
mereka ada diruangan tersebut, Fras yang membelikan Aya makanan juga belum kembali
“bunda tinggal dulu gak apa ni? Bunda lupa ada operasi jam 5” kedua anaknya saling bertatap
dan
“ok, bunda, hati-hati” mereka menjawab bak paduan suara, bunda tersenyum dan meninggalkan
mereka berdua setelah mencium putrinya
Didalam ruangan tersebut, Rian tak henti-hentinya menggoda sang adik
“dek, kok Rilo kenal sama kamu? Kenal dimana? Apa jangan-jangan kalian ada hubungan special ya?” beruntun pertanyaan diajukan Rian untuk adiknya
“kak, janga nuduh ya, emang siapa juga yang mau berhubungan dengan tu orang, idih gak sudi”
Aya memutar bola matanya
“oh ya, masa sih? Tapi yang kakak liat kayaknya dia da sesuatu sama kamu, dia panik lo kemarin waktu kamu masuk rumah sakit” pertanyaan rian seperti mengintimidasi sang adik
“kak, jangan ngaco deh, malas ah bahas yang lain dong. Mana kak Fras lama banget lagi cuma nyari makanan doang udah kayak nyari jodoh aja” tak lama kemudian Fras datang membawakan makanan pesanan Aya
“ehe baru juga diomongi eh orangnya udah datang aja” cerocos Aya, Rian yang merasa terabaikan mencolekcolek tangan adiknya
“kenapa sih, kak? Aya mau makan dulu, lapar” Fras yang melihat kedua adik kaka tersebut hanya bisa
tersenyum
“au ah, gitu ya kamu ada makanan lupa sama orang lain, kebiasaan kamu” Rian pura-pura merajuk,
namun Aya masih tak pedulu malahan dengan lahapnya menyantap makanan yang baru saja dibelikan Fras
“dasar tukang makan, makan aja mulu tapi badan segitu aja kayak orang cacingan” Aya kesal
mendengar penuturan Rian kemudian melempar Rian menggunakan Sendok, Rian menghindar dengan cepat
“udah, Aya makan dulu dan Rian jangan ganggu adikmu” Fras menjadi penengah diantara mereka berdua. Dasar kakak beradik yang aneh, gerutu Fras dalam hati
__ADS_1