Gelombang Laut

Gelombang Laut
Mainan baru


__ADS_3

        tempat diadakannya resepsi pernikahan antara Rilo dan Aya kini sudah sepi, semua tamu sudah pulang, keluarga kembali kehotel untuk beristirahat begitu juga dengan kedua mempelai yang tengah beristirahat dikamar


hotel, hanya beberapa petugas kebersihan yang membersihkan tempat pesta berlangsung


        Aya dan Rilo kini tengah berada dikamar hotel dengan lokasi jauh dari lokasi keluarga mereka menginap, Rilo sengaja memilih tempat tersebut dengan Alasan untuk menghindari keluarga mereka


        Aya masih mengenakan gaun resepsi tengah merapikan pakaian keduanya kedalam lemari pakaian yang telah disediakan, sedangkan Rilo sedang berkutat dengan laptopnya diatas tempat tidur


        “kenapa kamu membawa banyak sekali pakaian?” Aya memilah-milah pakaian Rilo dari koper yang dibawanya


        “sesukaku, lagian besok kita belum boleh ikut mereka balik karena akan honeymoon” Aya langsung terdiam


        “tak ada kata honeymoon segala, ingat perjanjian kita sebelumnya, tak ada konta fisik diantara keduanya sebelum kita sah didalam agama”


        “itu perjanjianmu, tapi aku tak pernah mengatakan setuju dengan perjanjianmu” Aya bangkit dari merapikan pakaian tersebut dan menghampiri Rilo namun sayangnya gaun yang iya kenakan kepanjangan hingga terinjak oleh kakinya sendiri dan membuatnya terjatuh


        “lemah, begitu saja terjatuh, padahal aku belum menghukummu sama sekali atas kesalahanmu” Rilo bangkit dari atas tempat tidur dan menghampiri Aya


        “jangan mendekat, aku bisa sendiri tanpa bantuanmu” Aya setengah berteriak seraya menyilangkan kedua tangan didadanya


        “lihatlah, belum kuapa-apakan, kamu sudah berteriak saja, ternyata kamu sangat agresif ya nyonya Edward”


        “kepalamu agresif, tu pikiran dikasi asupan makanan basi makanya gak beres” Aya berusaha bangun namun tak bisa karena gaunnya membalut tubuhnya


        “bagaimana, perlu bantuan dariku, nyonya Edward? Tapi bayaranku mahal lho, aku yakin kamu gak bakalan bisa membayarnya”


        “duh, pergi sana, aku bisa sendiri” setelah lama berusaha akhirnya Aya bisa bangun, namun iya


bingung ketika akan melepas gaunnya karena sekarang Rilo berada dikamar tersebut


        “kenapa menatapku begitu?” Rilo melihat kearah Aya yang Nampak kebingungan


        “bisakah kamu keluar sebentar, aku ingin mandi” astaga Aya, apa yang kamu bicarakan?


        “kalo mau mandi ya mandi saja, kenapa menyuruhku keluar kamar segala” sewot Rilo


        “karena aku bingung gimana melepas gaun ini” Aya menunduk


        “ya lepas saja, lagian siapa juga yang ingin melihatmu, toh jika aku melihatnya aku juga suamimu” suami kepalamu, mas


        “tidak bisa, aku maunya kamu keluar kamar, aku ragu kamu akan mengintipku nantinya” Rian tak menggubris dan fokus kearah laptopnya


        “hais, dasar, awas saja jika kamu berani mengintip maka aku akan berteriak” Aya terpaksa menuju kamar mandi untuk membuka pakaiannya, namun “bruk”


        “kenapa juga aku setuju dengan mama untuk mengenakan gaun ini, sungguh merepotkan, pinggangku sakit lagi” Aya terpeleset dikamar mandi ketika hendak membuka pakaiannya, iya berusaha bangun namun rasa nyari dikakinya membuatnya susah untuk berdiri


        Gimana ni, masa iya aku harus minta tolong sama tu manusia iblis, eh lebih tepatnya jelmaan


iblis, tapi kakiku merah dan nyeri, bunda toongin Aya, Aya mau pulang kerumah saja, bunda


        “ngapain didalam? Barusan suara apaan?” Rilo mengetuk pintu kamar mandi

__ADS_1


        “mandilah, emang tidur dikamar kandi” jawab Aya ketus


        “buruan keluar, aku mau mandi juga” astaga, pintu kamar mandi lupa dikunci, dasar ceroboh sekarang kamu sedang bersama iblis


        “jangan masuk, aku sebentar lagi akan keluar” Aya berusaha bangkit namun usahanya gagal karna


sekalin gaunnya yang melilit tubuhnya kaki krinya sepertinya tergelincir dan keseleo


        “cepetan, lamanya minta ampun” Aya tak memberi jawaban, knop pintu berbunyi hingga terlihat Aya yang sedang duduk disamping bath up


        “ngapain kamu duduk disitu? Oh aku tau kamu sengaja menggodakukah, nyonya Edward?” Rilo


menghampiri Aya


        “jangan mendekat, aku bisa sendiri” Aya berusaha berdiri dan berhasil, namun terjatuh lagi karena


kakinya terasan nyeri


        “perlu bantuan, nyonya Edward?” Aya merasa pergelangan kakinya terasa begitu sakit dan merah


        “lihatlah, belum mendapat hukuman dariku kamu sudah terluka” Rilo mengangkat tubuh Aya keluar kamar mandi


        “tak perlu gendong, papah saja aku” Aya berusaha turun namun usahanya sia-sia


        “begitu saja terluka, bagaimana kamu akan melawanku, huh…… lawan yang tak seimbang dengan diriku” Rilo meletakkan Aya diatas tempat tidur


        “bawakan obat merah kekamar nomor 294” Rilo menelpon seseorang dan tak lama kemudian terdengar


ketukan pintu kamar


        “ada lagi yang perlu saya bantu, tuan” tanya seorang tersebut


        “tidak ada, terima kasih dan kamu boleh pergi” seseorang tersebut meninggalkan kamar Rilo


        “mana kakimu?” Aya mengarahkan kakinya yang sakit kearah Rilo


        Lihat, betapa lembutnya iya mengolesi obat dikakiku, andai kamu seperti ini setiap saat, kemungkinan aku akan menyukaimu. Aya melamun memandangi Rilo yang mengolesi obat dikakinya, seketika lamunannya bubar


        “sudah, jangan buat ulah lagi, aku tak mau direpotkan dan jika kamu terluka apa yang akan aku katakan kepada nenek dan keluargamu nanti” Rilo menyimpan obat tersebut diatas meja dan kembali menghampiri laptopnya


        “hooo.. lihatlah, kamu takut aku celaka karena nenekmu. Baiklah, apa ya jadinya jika aku kabur malam


ini juga” cengir Aya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rilo


        “o iya? Silahkan saja jika kamu mau nda pastinya jika kamu bisa lari dariku, maka selanjutnya kamu akan mendapatkan kado teristimewa dariku” bodoh kamu Aya, lihatlah iblis telah memasuki jiwanya, tatapan mata yang mematikan dengan suara yang sangat dingin bak diantartika sana


        “aku tak perlu menerima kado darimu, toh aku juga sudah memiliki semuanya” santai sekali Aya mengatakannya tanpa menghiraukan tatapan Rilo


        “iya, kecuali bayi kecil yang akan datang dihari-hari berikutnya” Aya langsung bangkit hendak kekamar mandi sampai iya lupa jika kakinya masih sakit


        “lupa sama kaki sakit, dasar ceroboh” Rilo hendak membantu Aya menuju kamar mandi namun

__ADS_1


dihadang Aya


        “stop, aku bias sendiri, janga macam-macam ya kamu” Aya memasang pertahanannya, namun malah


mengundang tawa Rilo


        “aku cuma satu macam, bahaya kalo macam-macam ngurus satu istri aja repotnya kayak gini,


gimana macam-macam” tunggu, dia bilang istri? Mimpi sana jangan ada embel-embel kata istri


        “bodo amat, udah males ngomong sama kamu” Aya berusaha berdiri dengan sesekali menyeret kakinya masuk kamar mandi serta membanting pintu kamar mandi dengan kerasnya


        Dikamar mandi Aya ngoceh sendiri melihat kelakuan Rilo, masih ada ya manusia kayak gitu, kenapa gak


Tuhan tarik aja dia dari bumi ini biar hidupnya aman dan tentram


        Aya melakukan aktivitas mandinya sekitaran 10 menit berlalu, hingga iya selesai membilas badan dan


rambutnya dan hendak menggunakan piyama mandi pikirannya mendadak kacau


        “gimana ni, masa iya aku keluar dengan pakaian beginian? Itu manusia bakalan ngetawain nanti


dan masa iya aku tidurnya dikamar mandi kan lucu” Aya memandangi dirinya di cermin kamar kandi


        “udah belom, aku mau mandi juga ni” setengah teriak Rilo dari luar kamar mandi


        “jangan berkelakuan aneh ya kamu didalam” tebak Rilo takut aya melakukan hal yang akan menyakitinya


        “iya, iya sebentar” Aya berjalan mendekati pintu kamar madi dan memegang knop pintu dengan Rilo yang berdiri didepan pintu kamar mandi. Wajah Aya sontak memerah menahan malu keluar kamar mandi hanya dnegan menggunakan piyama mandi warna putih diatas lutut


        “mandi aja setahun lamanya” Rilo langsung masuk kamar mandi tanpa memandangi Aya yang wajahnya bak kepiting rebus


        Perasaan Aya dipenuhi dengan penuh kehati-hatian, haruskah iya memesan kamar satu lagi agar


terpisah tidur malam ini dengan Rilo? Tapi Aya kan tak membawa uang barang sepeserpun, lagian dompet ATM dan semua barang pribadinya tak diperbolehkan dibawa ketika hari pernikahannya


        Aya memandangi baju tidur yang hendak iya kenakan, yang biasanya iya akan mengenakan pakaiannya yang begitu nyaman dengan leluasa sekarang harus waspada karena disekitarnya ada iblis berparas menawan


        Pilihannya jatuh pada piyama tidur warna biru, iya bergegas mengenakannya sebelum Rilo keluar


dari kamar mandi, syukur Rilo lama dikamar mandi jadi dirinya agak tenang.


        Bodo amat dengan pikirannya, semua badannya pegal semua, rasa kantuknya pun telah menyerang


hingga membuatnya memandangi tempat tidur seolah-olah itu merupakan tempat ternyamannya, Aya melemparkan badannya diatas tempat tidur dan tak lama kemudian iya punsudah terlelap


        Rilo telah selesai mandi, kini iya sudah keluar dari kamar mandi, iya mencari keberadaan


Aya, takut-takut iya akan kabur. Pandangannya teredar keseluruh ruangan hingga mendapati Aya sudah tertidur lelap diatas tempat tidur


        Rilo mengenakan pakaian tidurnya kemudaian naik ketempat ditur seraya lanjutkan pekerjaannya kembali

__ADS_1


        “coba gitu terus tiap saat tanpa anyak protes gak juga buat kepala pening” Rilo memandangi wajah


Aya sebelum menyusul Aya kealam tidur


__ADS_2