Gelombang Laut

Gelombang Laut
terima kasih


__ADS_3

        waktu terus berlalu, jam berganti hari, hari pun berganti minggu, tak terasa setelah seminggu Aya dirawat dirumah sakit kini iya diperbolehkan dokter pulang dan menjalankan rawat jalan saja, sebenarnya Rian melarang untuk menjalankan rawat jalan dan Aya proses pemulihan Aya dirawat dirumah sakit, namun Aya dengan keras kepala mengatakan jika iya tidak menyukai suasana rumah sakit dengan embel-embel Fras atau bundanya bisa melakukan check up setiap saat


        Hari ini Aya sudah bisa pulang, semua administrasi sudah selesai diurus Rian tinggal menunggu teman-teman Aya yang ikut serta menjemput Aya, dengan ditemani keluarganya Aya menggunakan kursi Roda untuk menuju lobi karena menunggu Rian mengambil mobil dibassment rumah sakit


        “Ya, akhirnya kamu bisa keluar dari rumah sakit, tau gak seminggu kamu gak masuk sekolah aja buat kita rindu gimana kalo sebulan coba” Nono menoleh ke arah Lulu yang mulai dengan mode lebainya


        “jangan percaya deh ya sama tu buaya betina, mau ada kamu ataupun gak tetap aja tu kerjaannya genit ke cowok-cowok disekolah” Lulu menatap Nono tajam, bisa-bisanya Nono mengatakan jika Lulu buaya betina, padahal sama-sama buaya


        “eh, bentar deh Edo sekarang lagi dekat sama silvya tau, huuu............. sukur Aya gak nerima dia kemarin


dia emang buaya bunting” cerocos Eta, Dito membulatkan matanya


        “hah? Emang kapan tu anak nembak Aya sih, kok aku gak tau?” Lulu narik ujung rambut Dito yang membuatnya empunya mengaduh kesakitan


        “makanya jangan ganjen mulu, bilangin orang buaya betina, diri sendiri aja gak nyadar” kesal Lulu


        “oh, jangan bilang anak-anak yang pada heboh dilapangan basket lepas pertandingan ya? duh sayang gak liat ni, tapi apa boleh buat mending ngeliat cewek sekolah lawan duh canti-cantik banget, iya kan, No?” Nono meminta kerja sama Dito namun sayangnya Dito malah gak mengerti yang membuat kedua teman perempuannya semakin jengkel, Aya yang melihat tingkah keempat temannya hanya bisa tersenyum


        “anak-anak, udah yuk masuk mobil. Hari ini Aya balik rumah tante ya, mau pada ikut?” bunda menawarkan kepada teman-teman Aya


        “boleh tante, tapi kita pake motor aja ya, gak papa kan, tante?” Eta bicara dengan sangat hati-hati takut menyinggung perasaan bunda


        “it’s ok. Tapikalian hati-hati ya, jangan kebut-kebutan dijalan raya, bahaya” peringat bunda


untuk teman-teman Aya


        “siap tante” Aya sekeluarga masuk kedalam mobil dengan dikemudi oleh Rian, sedangkan Fras bersama orangtuanya menggunakan mobilnya sendiri.


        Rian sengaja gak mau nyuruh anak buahnya menjemput adiknya walaupun kerjaannya banyak hari ini,


hanya karena iya ingin menunjukkan jika iya sangat menyayangi adikya dan gak mau kejadian kemarin terulang kembali


        Mobil mereka sudah keluar dari area rumah sakit, sedangkan teman-teman Aya mengikuti mobil


tersebut dari belakang


        “bun, boleh mampir dulu kerumah mama gak, pengen ketemu nenek” rengek Aya karena sudah


seminggu dia gak berjumpa dengan neneknya

__ADS_1


        “nenek perlu istirahat, nak. Nanti ya setelah Aya pulih total kita dan nenek sudah stabil kondisinya kita ketemu nenek, ok” padahal dalam hati bunda menahan rasa sakit karena berbohong terhadap putrinya


        “hmmm……. Baiklah bunda, tapi janji ya” Aya meyakinkan bundanya


        “iya, janji” Rian dan Ayah hanya terdiam mendengar percakapan keduanya, entah apa yang terjadi


jika Aya tau yang sebenarnya


        Mereka telah sampai didepan rumah mewahm rumah yang menjadi kenangan masa kecil Aya, ya itu


rumah orang tuanya Aya. Satpam membukakan pintu gerbang untuk mereka dengan senyuman kemajikannya


        “bun, taman belakang masih dirawat gak sama bi Inah?” Aya menanyakan taman tempat iya biasa


bermain bersama bi Inah dimasa iya kecil dulu


        “masih dong, kan ada bi Inah yang ngerawatnya” antusias bunda, tak lama mobil Fras telah sampai


dihalaman rumah tersebut yang disusul oleh teman-teman Aya


        “wah, gila ni anak, gak nyangka ternyata anak horang kayah dia, padahal selama ini dia biasa-biasa aja” puji Dito seraya terperangah melihat mewahnya rumah yang mereka datangi


nutupin gengsinya padahal, behh tau ah, gak baik ngomongin orang mulu” Eta seraya memukul-mukul mulutnya dengan tangannya


        Rian sibuk menurunkan barang-barag bawaan Aya dari rumah sakit yang dibantu Fras, sebenarnya


bisa aja sih Rian memanggil bi Inah untuk nurunin semua barang bawaan, tapi dia masih punya hati karna dia tau bi Inah sangat sibuk untuk mengurusi rumah sebesar ini       “masuk yuk, kok malah diluar” bunda membuyarkan percakapan teman-teman Aya. Bukannya norak atau apa sebenarnya mereka berempat juga anak pebisnis namun memilih gaya hidup yang sederhana karena menurutnya itu milik orang tua mereka bukan milik mereka


        “heeee…… iya tante. Dit, masuk malah ngelamun” Nono menarik tangan kanan Dito yang masih terperangah melihat rumah mewah tersebut


        Teman-teman Aya serta orang tua Fras duduk diruang tamu sedangkan Aya dibawa naik keatas untuk


istirahat. Untuk sementara waktu Aya menempati kamar kakaknya karna kamarnya belum disiapkan sebelumnya secara Aya tinggal bersama neneknya ketika berusia 8 tahun


        Aya digendong Rian naik keatas karena Aya disarankan jangan terlalu bergerak karena masa pemulihan, Rian membaringkan adiknya diatas Kasur dengan sangat hati-hati, kalo ada orang lain yang melihat maka mereka akan mengatakan betapa romantisnya pasangan baru ini padahal mereka sebenarnya kakak adik


        “kak, geng rusuh dibawa suruh kesini dong, masa iya Aya sendirian dikamar, kan bosan” Aya memasang wajah


belas kasihannya yang membuat Rian tak tega untuk menolak permintaan adiknya itu

__ADS_1


        “hmmm……….. tapi jangan lama-lama ya, kan kamu harus istirahat” Rian mnegelus rambut hitam adiknya


        “oke, kak. Makasih” Rian keluar kamar dan menuju kebawah menemui teman-teman Aya serta orang tua


mereka


        “Aya gimana, tidur?” mama Fras menanyakan Rian yang belum sempat mendudukkan pantatnya disofa


        “tidur apanya, dia malah tu nyuruh geng rusuhnya naik keatas” Rian melirik keempat temannya,


Eta nyengir kuda ketika dibilang geng rusuh oleh orang yang sempat sekelas dengannya


        “kalian naik aja, kamarnya tepat didepan tangga” bunda menunjukkan kamar yang dimaksud, mereka berempat serentak mengacungkan jempol kearah bunda


        “bunda senang, Aya punya kawan kayak mereka” bunda terharu melihat pertemanan mereka, karena dipikiran bunda anak-anak remaja seusia Aya lebih suka memilih gaya hidup yang hedon dibandingkan apa adanya apalagi tau jika orang tuanya memiliki harta yang lebih.


        Mereka sudah berada didepan kaamr Aya, Eta mengetuk pintu kamar Aya dan Aya mempersilahkan mereka masuk


        “Aya, gilak ya kamu selama ini kita berteman kok kamu gak ngasi tau, sumpah orangtua kamu tajir melintir weh. Belum lagi kak Rian, duh kamu malah memilih hidup sesederhana mungkin, padahl aku jengkel pas mereka bilang “ah, tu si Aya belagu banget jadi cewek, hidup aja pas-pasan tapi depan cowok sok cantic” duh pengen


ku ulek tu mulutnya” Lulu mulai nyerocos gak jelas seraya mengikuti gaya orang tersebut


        “seharusnya kamu tu bersyukur, Aya hidup sederhana, ya kalo dia gaya hidupnya mewah mana mau


temenan sama kita-kita, duh aku juga ogah temenan sama kamu, Lu” Aya tertawa mendengar perdebatan diantara teman-temannya


        “seharusnya aku yang ngucapain makasih ke kalian, udah mau jadi temen aku, ada buat aku disaat


aku perlu ataupun gak perlu, udah selalu menghibur aku dan, makasih ya udah nolongin aku pas kejadian kemarin” mereka berempat saling bertatapan mendengar curahan isi hati Aya. Eta nyengir kuda


        “heee………sebenarnya yang bawa kamu kerumah sakit kemarin bukan kita, tapi cowok dengan pakaian ya


kayaknya orang penting atau apalah, coba aja tanya ke Rian, karna dia terlihat sangat akrab dengan Rian” Eta menjelaskan siapa yang mmebawakan Aya kerumah sakit, Aya Nampak berpikir namun ditepiskannya lagi


        “yaudah deh, gak penting juga, yang penting sekarang aku udah punya temen yang bisa dipercaya” Nono


bergidik sendiri


        “emang sejak kapan kita berteman?” Dito memulai yang membuat keempat temannya serentak menjawab

__ADS_1


        “sejak kambing pak Indra kawin sama kucing bu Pinoy” mereka tertawa lepas sedangkan Nono memandangi keempat temannya dengan wajah yang kesal


__ADS_2