
Suasana penthouse kediaman Rilo dan Aya nampaknya mulai
terasa hangat tak dingin seperti sebelumnya yang membuat keadaan begitu
mencekam karena kesibukan sendiri. Aya tengah sibuk membuat sarapan untuk Rilo
sebagai ucapan terima kasih karena iya telah bersedia bermalam barang sehari
dirumah orangtua Raya namun Aya bersikukuh untuk melakukannya dengan alasan
untuk belajar masak jika iya sudah kuliah nanti. Dengan tubuh mungilnya iya
berkutat didapur yang begitu besar tersebut dengan perabotan dapur yang serba
lengkap bahkan bisa dikatakan mewah untuk ukuran seorang Aya. Sibuk dengan
membuat sarapan tersebut iya bahkan sampai tak menyadari keberadaan Rilo yang
sedari tadi duduk dikursi meja makan tersebut
“astaga, kenapa kau ada disitu?
Mengagetkan saja bagaimana jika makanannya tumpah” kesal diwajah Aya nampak
terlihat karena baru kali pertamanya Rilo menunggunya berkutat didapur dan
melihatnya tubuh penuh keringat
“jangan hiraukan aku, fokuskan saja
dengan pekerjaanmu” ucap Rilo penuh senyuman yang mampu membuat Raya salah
tingkah
“terserah kau saja, tunggulah
sebentar lagi maka sarapannya akan siap” dia dengan cekatan iya menyiapkan
sarapan tersebut dan menyediakannya diatas meja makan
“sekarang makanlah, aku kembali
keatas sebentar” Raya bergerak meninggalkan dapaur namun tangannya dicekal Rilo
“kenapa harus kembali kekamar
sedangkan ada seseorang yang berharap ditemani untuk sarapan disini” blush
wajah Aya memerah menahan malu mengingat beberapa terakhir ini hubungan merek
berdua semakin dekat saja taka da batasan seperti biasanya
“jangan mengada, kau harus segera
berangkat kekantor jika tak ingin dimarahi Ayah karena kau terlambat untuk
datang kekantor”
“ayah tak akan marah jika aku
mengatakan aku terlambat karena istriku minta ditemani dikamar, kupikir ayah
bakalan senang sekali mendengarnya bahkan akan mengiizinkanku untuk cuti saja”
“aku akan mengatakan kepada ayah
jika kau berangkat karena kau melakukan hal yang ada manfaatnya sama sekali,
cepatlah atau sarapanmu kukasikan ketetangga saja” Aya tampak kesal dengan
keadaannya sekarang ini, seharusnya iya langsung pergi saja ketas untuk
merapikan kamar
“aku melakukan hal yang bermanfaat,
lagian bukankah semuanya karena kamu aku melakukan hal yang tak bermanfaat
itu?”
“apa maksudmu, bagaimana bisa aku
penyebabnya sedangkan yang melakukannnya itu kau sendiri”
“benarkah? Ha iya aku terlambat tidur
semalam karena ada kucing liar yang tak membiarkan aku tidur tenang karena iya
maunya selalu menempel didekatku” kerlipan licik iya tujukan ke Aya
__ADS_1
“seingatku kau tak memelihara kucing
ataupun keluar rumah untuk bertemu kucngmu tu semalam, kau hanya dirumah
semenjak kau pulang dari kantor lagian kau menghabiskan waktumu berkutat dengan
laptop dan kemudian kau….” Astaga sepertinya Aya baru menyadari apa yang baru
iya katakana itu
“kau apa? Ah ya aku sebenarnya belum
kenyang semalam namun dengan cepat makananku kelelahan lalu tidur mendahuluiku,
hais bagaimana aku bisa kenyang jika seperti itu”
“berangkat sekarang, terserah aku
mau naik keatas untuk merapikan kamar” wajahnya begitu memerah menahan marah
bagaimana bisa Rilo mengatakan hal yang terdengar memaukan itu? berbeda dengan
Rilo iya tampak puas untuk menggoda istrinya itu
“baiklah, aku akan berangkat
sekarang, namun berikan aku satu kecupan bagaimana?” iya menyendongkan bibirnya
kearah Raya
“tidak ada satu kecupan pun atau kau
tak boleh tidur dikamar malam ini” Aya berlari menaiki tangga meninggalkan Rilo
yang puas dengan godaannya terhadap istrinya itu
Aya membenahi kamar sejam lamanya
karena kamar yang begitu luas membuatnya kelelahan akhirnya iyapun tertidur
sejenak karena tak mampu menahan kantuknya kali itu, dentingan dering ponselnya
berbunyi sedari tadi namun tak mampu melawan rasa kantuknya hingga nada
panggilan masuk keonselnya yang membuatnya terpaksa untuk membuka mata untuk
melihat siapakah gerangan yang menghubunginya
ketinggalan dirumah?” dari seberang sana terdengar twa kecil suara seorang pria
“iya, istriku tertinggal dirumah
sendirian, apakah dia tak mersa kesepian dirumah sebesar itu?” benar, yang
menghubungi Raya itu adalah Rilo
“berhentilah bicara jika kau hanya
akan menggangguku” suara sendu terdengar dari seberang sana
“ada apa denganmu, apakah kau sakit
kenapa suaramu seperti itu?”
“tidak, kau menggangu tidurku saja”
Raya kemudian memutuskan panggilannya hanya sepihak karena iya sudah sangat
mengantuk sekali.
Semenjak pulang dari rumah kedua
orangtuanya sikap Rilo terhadapnya berubah, iya lebih memperhatikan Aya ketika
berada dirumah bahlan keduanya sudah tak ada batasan lagi lain sebelumnya,
apakah Aya mulai membuka hatinya untuk pria yang dulunya dipanggil om itu
sebagai suaminya tau iya memang sudah lama menahan rasa untuk dirinya sendiri
saja?
Hampir 2 jam iya tertidur dalam
kamar karena begitu lelahnya hinga iya mengerjapkan mata meihat hari sudah
menunjukkan waktu pukul 10.45 WIB membuatnya langsung bangun dari tidurnya dan
menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena sedari tadi mempersiapkan
__ADS_1
sarapan iya belum mandi pagi
“hais, kenapa aku bisa tertidur
hinga begitunya ya? Ini semua karena Rilo. Apa sebaiknya malam ini aku harus
mencari alasan untuk menghindarinya, rasanya tulang patas semua akibat ulah
manusia itu” Aya bergumam sendiri dalam kamar mandi.
Hanya perlu untuk Raya membersihkan
diri dikamar mandi kini iya sudah keluar dengan mengenakan pakaian rumahan
lengkap. Ponsel yang berada dinakas sampiing tempang tidur berkedip-kedip tanda
ada notif pesan. Siapa gerangan yang menghubungi dirinya sepagi ini gumam Aya.
Iya kemudian mengusap layar ponselnya untuk melhat siapa yang mengirimnya pesan
sepagi itu
“tak seperti biasanya iya menelpon
hingga berkali-kali bahkan ini masih pagi” belasan panggilan dari Rilo masuk
keponsel Aya, iya kemudian membuka pesan yang mengatakan
“bisakah kamu membawakan berkas yang
ada diatas meja kamar kekantor sekarang, itu berkas untuk meeting siang ini”
Aya kemudian bergerak memeriksa berkas yang ada diatas meja kerjnya Rilo yang
ada didalam kamar. Ada banyak map berkas disini yang mana harus aku bawakan
untuk dia? Akhirnya iya memutuskan untuk menghubungi Rilo saja dan sekejap
panggilan tersambung
“disini banyak sekali berkas, yang
mana harus aku bawakan?”
“map biru, tolong diantar
kekantor sekarang ya karena meetingnya dimulai jam 1 siang nanti, jika kau
pergi mengantarkannya kesini maka hati-hati dijalan”
“baiklah, aku bersiap untuk
berangkat sekarang” Aya kemudian memutuskan panggilan dan segera berganti
pakaian untuk langsung menuju kantor Rilo namun sebelumnya iya telah memesan
ojek online untuk mengantarkannya menuju kantor Rilo.
Lalu lalang kendaraan dijalan
melintas tak hentinya, motor melaju menembus keramaian jalan yang dipadati
dengan berbagai macam kendaraan lainnya dan hanya perlu waktu 30 Aya sudah
sampai didepan kantor Rilo. Dari arah gerbang masuk kantor seorang satpam
sedang berjaga untuk keamanan diperusahaan tersebut langsung tersenyum ramah
ketika menyadari kedatangan Aya yang baru saja tiba
“selamat siang ibu, ada yang bisa
saya bantu?” senyum ramahnya
“o iya pak, saya mau mengantarkan
berkas untuk Rilo tapi saya tak tau ruangannya dimana” Aya kebingungan karena
ketika menghubungi Rilo ponselnya tak aktif
“ibu masuk saja kedalam, didalam
tanyakan saja sama recepsionis yang ada disana nanti dibantu bu”
“baik pak, terima kasih” Aya
__ADS_1
kemudian permisi untuk berlalu masuk kedalam gedung megah yang menjulang tinggi
tersebut