
“baik pak, terima kasih” Aya kemudian permisi untuk berlalu masuk kedalam gedung
megah yang menjulang tinggi tersebut
Raya bukanlah gadis yang terlahir
dari keluarga terlahir dari keluarga yang berkekurangan namun karena iya sudah
terbiasa dengan penampilan yang sederhana membuatnya tak terlena dengan harta
yang dimiliki orang tuanya. Selama masuk kedalam gedung tersebut tak sedikit
pasang mata yang menatap Raya, bagaimana bisa gadis seperti dia masuk keamari,
apakah iya nyasar?” ya begitulah berbagai pertanyaan yang terlontarkan dari
mulut beberapa orang yang melihatnya.
Aya menuju meja recepsionis untuk
menanyakan dimana ruangan Rilo namun iya mendapati hal yang tak menyenangkan
dari karyawan suaminya tersebut karena melihat penampilan Aya yang tampak
sangat belia
“baiklah jika tak percaya padaku
maka aku sekarang akan menghubungi bosmu itu” Aya kemudian menelpon Rilo untuk
mengatakan jika iya sudah dibawah namun tak diizinkan masuk oleh recepsionis
kantornya
“aku ada dimeja recepsionis kau
kesini bantu aku karena aku tak dipebolehkan untuk menemuimu” Rilo yang mendengar dari seberang sana
langsung bergegas menuju lantai dasar menemui Aya beberapa menit kemudian iya
sudah berada dilantai bawah
“kenapa diam disitum ruanganku
berada dilantai paling atas” ucap Rilo dengan menatap sendu Aya
“tanyaka saja pada recepsionismu ini
kenapa aku tak diperbolekan masuk” gerutu Aya karena hampir setengah jam iya
berdiri didepan meja recepsionis
“baiklah, maafkan aku sekarang ikut
aku keruanganku, nenek katanya ingin bertemu denganmu jadi dia akan datang
setelah aku mengatakan jika kau datang kekantor untuk mengantar berkasm meeting”
Rescepsionis wanita tersebut terperangah bagaimana bisa bosnya yang begitu
dingin dengan para karyawannya apalagi karyawan wanita ini begitu lembut dengan
gadis belia yang ada didepannya sekarang
“kenapa kau tak mengatakan dari aku
dirumah tadi jika nenek akan datang, jika saja aku lebih awal tau maka aku akan
membuatkanmu makan siang beserta nenek”
“janga dipikirkan, ayo keruanganku
sekarang” Aya berjalan bersampingan dengan Rilo menuju lift khusus disamping
lift karyawan. Selama perjalanan menuju ruangannya pandangan Rilo tak lepas
dari Aya yang tak menyadari jika sedari
tadi suaminya memperhatikannya dengan senyum kecil
“apa kau belum makan, ayo makan
__ADS_1
siang bersama mumpung jam meetingku masih lama” Aya yang baru saja duduk disofa
tersebyum masam
“ada apa dengan wajahmu, apakah kau
akit kenapa wajahmu begitu masam dipandang?” ya memang untuk saat ini Aya
tampak begit lelah bahkan terlihat seperti orang yang menahan matanya untuk
tidur
“entahlah, aku begitu ngantuk hari
ini dan aku jga tak berselera untuk makan, aku belum lapar” iyakemudian
membaringkan kepalanya dilengan Sofa terebut yang begitu lebih panjang jika
dibandingkan dengan tubuh mungilnya
“apakah kau sebegitu ngantuknya
sampai harus tidur disofa itu? jika kau ngantuk tidur saja dikamar” kamar?
Bagaimana bisa sedangkan inikan dikantor?
“lebih baik aku pulang saja, sungguh
aku begitu ngantuk sekali”ia tak peduli lagi dengan Rilo kemudian memejamkan
matanya, beberapa saat kemudianAya sudah masuk kedalam dunia mimpinya. Rilo
yang sedari tadi menjadi lawan bicaa Aya terperanga melihat istri kecilnya
sudah terlelap diatas sofa
“hais, dasar kucing kecil seenaknya
saja tidur tanpa mengenal tempat” iya kemduan mengangkat tubuh mungil itu
menuju kamar tempat iya istirahat ketika lelah melanda
Rilo melanjutkan kerjaannya dan
seorang diri didalam ruangan yag nampak asing baginya. Apakah ini artinya Rilo
mulai menyukai istrinya atau iya sebenarnya hanya melakukan semua ini untuk
meluruskan niatnya? Jika iya mulai menyukai Aya lalu bagaimana dengan Sarah
wanita yang begitu dicintai oleh Rilo sejak beberapa taun yang lalu
“Rio, katakana kepada Maya untuk
membawakan aku makan siang dua porsi jangan membuatku menunggu lama” panggilan
langsung terputus menyisakan Rio yang menatap layar ponselnya setelah bosnya
menelpon beberapa saat tadi
Tanpa merasa tidurnya terganggu Aya
tertidur dengan pulas diatas sofa tersebut padahal sedari lepas menghubungi
Rio, Rilo terus menatap istri kecilnya yang tertidur seperti kucing kecil yang
tak takut dengan lingkungan sekitar yang bisa saja sewaktu-waktu menerkamnya. Rilo membelai wajah mungil tersebut yang
tampak cantik dipandangnya terus menerus seolah candu baginya untuk terus
menatap wajah sang istri, istri kecilnya yang sudah hampir setahun hidup
dengannya walaupun kehidupan pernikahannya tak sama seperti pasangan lainnya.
Bagaimana bisa iya berkhianat meninggalkan istri kecilnya yang candu baginya
dan pergi bersama wanita yang telah lama bersamanya jauh sebelum istri kecilnya
hadir dalam hidupnya.
Sarah, wanita yang sudah lama
__ADS_1
berstatus sebagai kekasih Rilo semenjak mereka duduk dibangku SMA keduanya
telah menjalin hubungan yang cukup dekat, namun Sarah memutuskan untuk pergi
keluar negeri mengejar mimpinya menjadi model ternama hingga membuat keduanya
memutuskan menjalani hubungan jarak jauh tapi hal tersebut tak menghalangi
keduanya untuk menjalin kasih. Sudah 10 tahun keduanya menjalin hubungan namun
sayangnya nenek Sekar tak merestui keduanya dengan alasan yang hanya diketahui
oleh nenek Sekar seorang hingga mereka menjalani hubungan secara diam-diam.
Jika demikian halnya bagaimana
dengan Aya yang telah berstatus sebagain istrinya hampir 8 bulan tersebut
bahkan hubungan keduanya baru saja membaik dua bulan terakhir. Memikirnya saja
sudah membuat pusing kepala bahkan rasanya ada sesuatu yang mengganjal dirongga
dada Rilo saat ini, iya harus bagaimana?
Suara ketukan pintu terdengar
menyadarkan lamunan Rilo dari pikiriannya yang berkecambuk, Maya sekretarisnya
mengantarkan makan siang untuk Rilo dan juga Aya setelah izin keluar ruangan
Rilo menghampiri Aya yang masih tertidur pulasnya
“bangunlah, ayo makan siang bersama”
tubuh mungil tersebut menggeliat karena ada sesuatu yang mengganggunya namun
langsung tidur lagi
“sayang, bangunlah untuk makan siang
nanti kau sakit jik kau tak makan” Aya langsung membuka matanya merasa mebusan
napas Rilo yang begitu dekat dengan wajahnya
“bisakah jangan seperti ini, aku
begitu tidak nyaman” Rilo yang menyadari posisi mereka langsung meranjak
berdiri
“maafkan aku, ayo makan siang
bersama sebelum nenek menemuimu. Cih kau tidur bagai kucing kecil yang tak
takut musuh sama sekali” Aya kemudian duduk dari tidurnya sedangkan Rilo duduk
“tapi aku masih kenyang, eh sate
depan sekolahan enak kayaknya. Beliin sate depan sekolah” Aya memelas dengan
mata memohon
“astaga, tapi waktu pulang ya aku
harus mempersiapkan berkas untuk meeting sebentar lagi. Untuk sekarang kau
makanlah dulu ini atau jika kau mau yang lain beritahu Rio saja, ok” walau
dengan berat hati untuk menyetujui perkataan suaminya
“yaudah sana, pergi meeting aku
ingin tidur lagi jangan ganggu aku” Aya kemudian berbaring kembali tanpa
mempedulikan Rilo yang masih menatapnya heran
“tak biasanya dia seperti itu,
yasudahlah. Aku meeting dulu dan tunggulah disini, jika ada yang kau inginkan
beritahu Rio” Rilo keluar ruangan karena setengah jam lagi iya akan mengikuti
__ADS_1
meeting.