Gelombang Laut

Gelombang Laut
Episode 39


__ADS_3

“baik pak, terima kasih” Aya kemudian permisi untuk berlalu masuk kedalam gedung


megah yang menjulang tinggi tersebut


            Raya bukanlah gadis yang terlahir


dari keluarga terlahir dari keluarga yang berkekurangan namun karena iya sudah


terbiasa dengan penampilan yang sederhana membuatnya tak terlena dengan harta


yang dimiliki orang tuanya. Selama masuk kedalam gedung tersebut tak sedikit


pasang mata yang menatap Raya, bagaimana bisa gadis seperti dia masuk keamari,


apakah iya nyasar?” ya begitulah berbagai pertanyaan yang terlontarkan dari


mulut beberapa orang yang melihatnya.


            Aya menuju meja recepsionis untuk


menanyakan dimana ruangan Rilo namun iya mendapati hal yang tak menyenangkan


dari karyawan suaminya tersebut karena melihat penampilan Aya yang tampak


sangat belia


            “baiklah jika tak percaya padaku


maka aku sekarang akan menghubungi bosmu itu” Aya kemudian menelpon Rilo untuk


mengatakan jika iya sudah dibawah namun tak diizinkan masuk oleh recepsionis


kantornya


            “aku ada dimeja recepsionis kau


kesini bantu aku karena aku tak dipebolehkan untuk menemuimu”  Rilo yang mendengar dari seberang sana


langsung bergegas menuju lantai dasar menemui Aya beberapa menit kemudian iya


sudah berada dilantai bawah


            “kenapa diam disitum ruanganku


berada dilantai paling atas” ucap Rilo dengan menatap sendu Aya


            “tanyaka saja pada recepsionismu ini


kenapa aku tak diperbolekan masuk” gerutu Aya karena hampir setengah jam iya


berdiri didepan meja recepsionis


            “baiklah, maafkan aku sekarang ikut


aku keruanganku, nenek katanya ingin bertemu denganmu jadi dia akan datang


setelah aku mengatakan jika kau datang kekantor untuk mengantar berkasm meeting”


Rescepsionis wanita tersebut terperangah bagaimana bisa bosnya yang begitu


dingin dengan para karyawannya apalagi karyawan wanita ini begitu lembut dengan


gadis belia yang ada didepannya sekarang


            “kenapa kau tak mengatakan dari aku


dirumah tadi jika nenek akan datang, jika saja aku lebih awal tau maka aku akan


membuatkanmu makan siang beserta nenek”


            “janga dipikirkan, ayo keruanganku


sekarang” Aya berjalan bersampingan dengan Rilo menuju lift khusus disamping


lift karyawan. Selama perjalanan menuju ruangannya pandangan Rilo tak lepas


dari  Aya yang tak menyadari jika sedari


tadi suaminya memperhatikannya dengan senyum kecil


            “apa kau belum makan, ayo makan

__ADS_1


siang bersama mumpung jam meetingku masih lama” Aya yang baru saja duduk disofa


tersebyum masam


            “ada apa dengan wajahmu, apakah kau


akit kenapa wajahmu begitu masam dipandang?” ya memang untuk saat ini Aya


tampak begit lelah bahkan terlihat seperti orang yang menahan matanya untuk


tidur


            “entahlah, aku begitu ngantuk hari


ini dan aku jga tak berselera untuk makan, aku belum lapar” iyakemudian


membaringkan kepalanya dilengan Sofa terebut yang begitu lebih panjang jika


dibandingkan dengan tubuh mungilnya


            “apakah kau sebegitu ngantuknya


sampai harus tidur disofa itu? jika kau ngantuk tidur saja dikamar” kamar?


Bagaimana bisa sedangkan inikan dikantor?


            “lebih baik aku pulang saja, sungguh


aku begitu ngantuk sekali”ia tak peduli lagi dengan Rilo kemudian memejamkan


matanya, beberapa saat kemudianAya sudah masuk kedalam dunia mimpinya. Rilo


yang sedari tadi menjadi lawan bicaa Aya terperanga melihat istri kecilnya


sudah terlelap diatas sofa


            “hais, dasar kucing kecil seenaknya


saja tidur tanpa mengenal tempat” iya kemduan mengangkat tubuh mungil itu


menuju kamar tempat iya istirahat ketika lelah melanda


            Rilo melanjutkan kerjaannya dan


seorang diri didalam ruangan yag nampak asing baginya. Apakah ini artinya Rilo


mulai menyukai istrinya atau iya sebenarnya hanya melakukan semua ini untuk


meluruskan niatnya? Jika iya mulai menyukai Aya lalu bagaimana dengan Sarah


wanita yang begitu dicintai oleh Rilo sejak beberapa taun yang lalu


            “Rio, katakana kepada Maya untuk


membawakan aku makan siang dua porsi jangan membuatku menunggu lama” panggilan


langsung terputus menyisakan Rio yang menatap layar ponselnya setelah bosnya


menelpon beberapa saat tadi


            Tanpa merasa tidurnya terganggu Aya


tertidur dengan pulas diatas sofa tersebut padahal sedari lepas menghubungi


Rio, Rilo terus menatap istri kecilnya yang tertidur seperti kucing kecil yang


tak takut dengan lingkungan sekitar yang bisa saja sewaktu-waktu menerkamnya.  Rilo membelai wajah mungil tersebut yang


tampak cantik dipandangnya terus menerus seolah candu baginya untuk terus


menatap wajah sang istri, istri kecilnya yang sudah hampir setahun hidup


dengannya walaupun kehidupan pernikahannya tak sama seperti pasangan lainnya.


Bagaimana bisa iya berkhianat meninggalkan istri kecilnya yang candu baginya


dan pergi bersama wanita yang telah lama bersamanya jauh sebelum istri kecilnya


hadir dalam hidupnya.


            Sarah, wanita yang sudah lama

__ADS_1


berstatus sebagai kekasih Rilo semenjak mereka duduk dibangku SMA keduanya


telah menjalin hubungan yang cukup dekat, namun Sarah memutuskan untuk pergi


keluar negeri mengejar mimpinya menjadi model ternama hingga membuat keduanya


memutuskan menjalani hubungan jarak jauh tapi hal tersebut tak menghalangi


keduanya untuk menjalin kasih. Sudah 10 tahun keduanya menjalin hubungan namun


sayangnya nenek Sekar tak merestui keduanya dengan alasan yang hanya diketahui


oleh nenek Sekar seorang hingga mereka menjalani hubungan secara diam-diam.


            Jika demikian halnya bagaimana


dengan Aya yang telah berstatus sebagain istrinya hampir 8 bulan tersebut


bahkan hubungan keduanya baru saja membaik dua bulan terakhir. Memikirnya saja


sudah membuat pusing kepala bahkan rasanya ada sesuatu yang mengganjal dirongga


dada Rilo saat ini, iya harus bagaimana?


            Suara ketukan pintu terdengar


menyadarkan lamunan Rilo dari pikiriannya yang berkecambuk, Maya sekretarisnya


mengantarkan makan siang untuk Rilo dan juga Aya setelah izin keluar ruangan


Rilo menghampiri Aya yang masih tertidur pulasnya


            “bangunlah, ayo makan siang bersama”


tubuh mungil tersebut menggeliat karena ada sesuatu yang mengganggunya namun


langsung tidur lagi


            “sayang, bangunlah untuk makan siang


nanti kau sakit jik kau tak makan” Aya langsung membuka matanya merasa mebusan


napas Rilo yang begitu dekat dengan wajahnya


            “bisakah jangan seperti ini, aku


begitu tidak nyaman” Rilo yang menyadari posisi mereka langsung meranjak


berdiri


            “maafkan aku, ayo makan siang


bersama sebelum nenek menemuimu. Cih kau tidur bagai kucing kecil yang tak


takut musuh sama sekali” Aya kemudian duduk dari tidurnya sedangkan Rilo duduk


            “tapi aku masih kenyang, eh sate


depan sekolahan enak kayaknya. Beliin sate depan sekolah” Aya memelas dengan


mata memohon


            “astaga, tapi waktu pulang ya aku


harus mempersiapkan berkas untuk meeting sebentar lagi. Untuk sekarang kau


makanlah dulu ini atau jika kau mau yang lain beritahu Rio saja, ok” walau


dengan berat hati untuk menyetujui perkataan suaminya


            “yaudah sana, pergi meeting aku


ingin tidur lagi jangan ganggu aku” Aya kemudian berbaring kembali tanpa


mempedulikan Rilo yang masih menatapnya heran


            “tak biasanya dia seperti itu,


yasudahlah. Aku meeting dulu dan tunggulah disini, jika ada yang kau inginkan


beritahu Rio” Rilo keluar ruangan karena setengah jam lagi iya akan mengikuti

__ADS_1


meeting.


__ADS_2