
langit tampak mulai gelap, bahwa surya kini berganti caya bulan, nyanyian serangga kecil terdengar begitu riang ditelinga, bagai alunan nyanyian bunga tidur, namun hal itu tak berlaku bagi Aya. Aya dengan raut wajah yang masih sangat sedih menunggu neneknya ditepi ranjang tempat tidur sang nenek, dengan mata yang sembab sehabis menangis iya tertidur. Sang nenek masih tertidur karena pengaruh obat yang baru saja dikonsumsinya, hingga suara adzan
membangunkan kedua insan itu mengingatkan ibadah bagi yang menjalankan. Sang nenek perlahan membuka matanya menemukan Aya yang tertidur sangat pulas, elusan lembut dirambut Aya membuatnya terbangun dari tidurnya
“nenek sudah bangun, gimana perasaan nenek, udah baikan?” aya dengan wajah khawatirnya menatap sang nenek
“nenek udah sehat, Aya. Nenek Cuma kecapean aja, Aya jangan khawatir sampai segitunya,
nenek baik-baik aja” nenek mengelus punggung tangan Aya memberikan penenangan
akan kekhawatiran yang Aya alami
“gimana gak khawatir, hanya nenek yang aya punya lagi, Aya gak mau kehilangan nenek. Untuk
kedepannya nenek jangan sampai capek kayak tadi, Aya takut kalo nenek kenapa-kenapa. Nanti Aya sama siapa kalo nenek kenapa-kenapa?” butiran air mata keluar dari pelupuk mata Aya, rasa takut akan kehilangan neneknya begitu terlihat diwajah Aya
“anak cantik gak boleh cengeng, jangan biarkan dunia menertawaimu hanya kamu gak bisa
mengendalikan hatimu karna hal kecil. Ingatlah, nenek akan selalu bersamamu semaumu, senyum dong, nenek gak suka kamu jadi cengeng begini” dengan muka tuanya yang penuh senyuman nenek membuat aya tersenyum kembali
“gitu dong, yaudah bersih-bersih dulu sana, udah itu kita makan malam, tapi Aya yang masak
nenek udah gak lama makan masakan Aya” Aya mengganggukkan kepala menandakan meng iyakan kata nenek dan segera ke kamar mandi untuk memberihkan diri begitu juga nenek
Ditempat lain, terlihat Rilo yang baru saja keluar dari garasi mobilnya, dengan masih
mengenakan pakaian kerjanya karena iya baru saja selesai makan malam dengan sahabatnya Fras. Didepan pintu masuk telah menunggu pak mamun kepala pelayan dirumah tersebut, rumah yang begitu besar seharusnya dihuni oleh sebuah keluarga besar, namun ditempat ini, hanya ada beberapa pengurus rumah tangga dan tuan rumah saja yang menjadi penghuni ditempat tersebut.
“tuan, mau disiapkan makan malam apa, biar saya siapkan?” tanya pak mamun lelaki tua yang
sudah renta kepada sang majikannya
__ADS_1
“tidak usah, pak. Saya sudah makan diluar tadi” Rilo meranjak menuju anak tangga untuk naik ke
atas, namun dia lalu teringat sesuatu
“pak, tolong sampaikan ke nenek, saya bisa mengunjungi beliau sabtu depan, karena minggi ini saya ada perjalanan ke luar kota” pak mamun pun mengerti perintah tuannya dengan mengangguk mengerti
Pak Mamun merupakan lelaki tua yang sudah bekerja dengan nenek Rilo sejak Rilo masih kecil,
hingga disaat Rilo memutuskan untuk tinggal sendiri nenek mengutus pak mamun untuk melayani Rilo karena nenek tau Rilo sangat sulit percaya dengan orang yang baru saja dikenalnya.
Dikamar mandi, Rilo masih terlintaskan kejadia tadi sore yang iya alami, baru pertama kalinya iya ditolak perempuan, padahal diluar sana banyak sekali perempuan yang inginmengobrol dengan dirinya. Bukan hanya dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses, iya juga memiliki paras yang menawan, dengan bentuk badan peranakan eropa pribumi ditambah bola mata yang coklat bening membuatnya semakin menawan.
Raya Pratiwi, tepatnya Pradita Raya Pratiwi seorang anak tunggal dari pengusaha terkenal
Tritan Pradita rekan bisnisnya begitu hebatnya telah menyembunyikan identitas anaknya dari awak media, sehingga tak siapapun yang mengetahuinya, termasuk rekan bisnisnya. tak biasanya anak pengusaha begitu membenci jadi orang kaya yang memilii segalanya, dengan memilih menjadi orang baisa yang tak dikenal oleh siapapun dikalangan orang tuanya. Kebanyakan orang malahan senang dengan kekayaan orangtuanya dan dengan senang hat menikmati kehidupan mewah yang diberikan oleh orangtuanya, namun itu tidak berlaku bagi Aya.
“gadis manis yang menarik, sayang keberadaannya tak diketahu awak media, jika media tau ini
Sudah banyak Rilo mengenal perempuan, namun entah kenapa Aya begitu menarik baginya, atau karena
Aya hanya remaja yang masih SMA yang masih polos? Entahlah, hanya Rilo yang tau akan hal itu.
Didapur nenek terlihat Aya dengan cekatannya mengaduk makanan dalam panci, ya Aya masak sop
ayam sebagai makanan makan malamnya. Nenek dengan setianya menunggu Aya yang tengah memasak dimeja makan dengan makan bebapa cemilan yang sudah aya siapkan
“nek, tunggu sebentar lagi ya, udah itu kita makan malam, ok” aya mengacungkan jempul tangan
kanannya kearah nenek dan nnek pun tersenyum.
“cucu nenek sudah gadis rupanya, gak kerasa ya, kamu makin dewasa dan nenek pun semakin tua. Coba
__ADS_1
bunda kamu tau kalo kamu udah pintar masak sekarang pasti dia senang” dengan wajah yang tenang Aya menjawab sang nenek
“aya sih maunya gitu, nek. Aya pengen sekali bunda sama ayah nyobain masakan buatan Aya, tapi
jangankan buat nyobain masakan Aya, mampir hanya sekedar sebulan sekali aja mereka entah-entah ada. Tapi gak papa deh, asalkan aya masih bersama nenek Aya udah senang banget kok, makasih ya nek, udah mau ngerawat Aya dari aja masih nakal hingga sekarang. Aya gak tau kalo gak ada nenek aya sama siapa” jlep,
Mutiara aya mulai keluar lagi, entah kenapa setiap membicarakan hal itu Aya pasti selalu sedih
“mereka sibuk juga demi kamu, nak. Suatu sat mereka bakalan balik sama kamu sama seperti yang
kamu mau, tapi biarpun begitu, kamu jangan pernah benci sama mereka ataupun marah ya, ingat mereka orang tua kamu, biar gimana pun mereka terhadap kamu, ya Aya ya” tenang nenek kepada Aya, nenek tau Aya pengen sekali seperti anak lain yang sangat dekat dengan orangtuanya, karena itulah nenek sangat menyayangi
Aya, karena selain itu Aya hanyalah cucu satu-satunya karena ayah Aya, anak
dari nenek merupakan anak tunggal sama seperti Aya.
“nek, sop nya dah masak, kita langsung aja, yuk. Heee Aya udah lapar dari siang belom makan”
cengir Aya kepada neneknya
“kamu kebiasaan sekali jadi anak, pandai bilang nenek jangan telat akan, kamu lebih lagi. Kalo
sakit siapa yang jaga nenek, katanya kamu akan selalu jaga nenek” dengan ekspresi nenek yang dibuat-buat sedih membuat Aya tertawa lepas
“tau gak, nenek kayak gitu mirip anime yang pernah aya tonton, dia seorang anak kecil yang lagi
pengen permen ke maminya, sedangkan nenek kan beda. Heee” nenek yang melihat ekspresi Aya pun ikut tertawa
“iya dong, nenek kan udah nenek nah dia kan masih anak kecil ya jelas beda. Udah katanya lapar
ayo makan, nenek bantu siapin” aya dan nenek pun menyiapkan makan malam, kemudian mereka pun lalu makan malam dengan tenang.
__ADS_1