Gelombang Laut

Gelombang Laut
Senjata makan tuan


__ADS_3

        suasana di SMA bakti Mulia ricu karena kedatangan seseorang yang tak terduga sebelummnya, parasiswi  sudah seperti ikan menggelepar melihat pria dengan setelan formal tengah menunggu sesorang didepan gerbang sekolah padahal masih dalam jam sekolah


        Paras yang menawan, berbadan tegap tinggi dengan wajah yang mempesona membuat kaum hawa


tergila-gila ditambah dengan menggunakan mobil sport edisi terbatas menbah nilai tambah bagi kaum hawa.


        “permisi den, sedang nunggu siapa” tanya pak satpam sekolah kepada pria tersebut


        “Raya pratiwi, pak” jawab pria tersebut dengan sopan, satpam tersebut lalu mempersilahkan pria tersebut menunggu di pos satpam saja


        Nono berlari memuju kantin dimana Aya, Eta dan Dito tengah makan bakso bibi-bibi kantin hingga menyenggol seorang siswi yang tengah memesan makanannya


        “kalo jalan hati-hati dong, hais” emosi siswi tersebut, tapi tak ditanggapi Nono, iya malah dengan santainya melewati siswi yang tengah emosi tersebut dan menuju meja Eta dan teman-temannya


        “kenapa, No kayak abis kena kejar setan aja kamu” Nono ngos-ngosan karena berlari menuju kantin


        “ha…… Ya di…di.. depan sekolah, ha…. Ada yang nungguin kamu” dengan bicara yang terbata-bata karena ngos-ngosan Nono berusa menjelaskan kenapa iya ngos-ngosan


        “siapa? Rian?”tebak Lulu


        “bukan, itu cowok kemarin yang nolongin Aya pas kecelakaan kemarin” Aya terlihat berpikir hal apa yang membuat dia datang kemari?


        “ada janjian kamu? Kok gak cerita kalo ada hubungan spesial sama tu abang ganteng sih?”


pletak, Aya mencitak kepala Eta


        “ya kali ada hubungan kenal aja kagak, bilangin dia Ayanya gak masuk hari ini” Eta melambaikan tangannya seolah-olah menyuruh Nono pergi memberi tau orang tersebut


        “bilangin aja sendiri, ogah dah. Aku mau makan, lapar. Lagian ni ya, kalo aku balik kesana bakalan habis aku, karna gak bawa kamu. Please ya, kerja sama dikit kenapa sih?” Nono malah duduk dikursi depan bereka berdua bertiga


        “udah deh, Ya. kesana aja deh, ya kali ada kepentingan lain kan?” Dito membujuk Aya. Aya mendengus kasar


        “yaudah deh, bentar ya. No bayarin makanan ku dulu ya, lupa bawa dompet kekantin tadi” Aya segera


meninggalkan teman-temannya


        “anak sultan mah


bebas mau ngapain aja, gak mikir orang lagi kantung kering” mendumel Nono


        “eh, emang dia bilang apa tadi sampai kamu lari-lari gitu” Lulu menggeserkan kursinya


mendekati Nono


        “tau tu orang, masa iya dia ngancam bakalan ngeluarin aku dari sekolah kalo gak bisa bawa Aya nemuin dia?” dengan santainya Nono mencomot makanan dari tangan Dito yang membuat empunya menatap dengan mata mematikan


        “kenapa sih, pelit amat?” dengan tanpa rasa bersalah Nono mengunyah makanan dimulutnya


        “iya, pelit, maka liat-liat dulu dong kalo mau ngambil makanan orang lain, itu makanan terakhir aku dodol” Eta dan Lulu saling bertatapan melihat tingkah kedua temannya seraya tertawa


        “duh, pasangan serasi hari ini” serentak keduanya yang membuat Nono dan Dito memandang keduanya


        Aya berjalan mengikuti Lorong sekolah yang terlihat sepi, padahal masih jam istirahat kenapa begitu sepi pikirnya. Tak jauh dari arah gerbang betapa ramainya para siswi yang histeris melihat kearah depan gerbang seraya menjebretkan kamera ponselnya


        Aya berjalan kearah keramaian tersebut dan mendapati seseorang yang tak asing baginya tengah menikmati popularitasnya diantara para siswi yang tengah histeris tersebut

__ADS_1


        “cepat masuk” Aya masih tak mengerti dengan perkataan Rilo, ya dia Rilo yang membuat ulah disekolah Aya


        “hah? gak, ini masih jam sekolah” Aya hendak pergi namun karena kerumunan siswi-siswi tersebut Aya tak bisa lolos dan lengan bajunya ditarik Rilo


        “masuk, nenek udah nunggu dirumah” Aya dipaksa masuk ke mobil walaupun Aya berontak namun apalah daya karena kekuatannya kebih besar dari kekuatan Aya


        Para sisiwi yang melihat kejadian itu bergosip ria, ada yang iri pada Aya karna bisa berduaan


dengan pria taman, ada juga yang bergosip jika Aya simpanan om-om


        Didalam mobil Aya ngomel tak henti-hentinya, namun tak dihiraukan Rilo, sampai Aya minta diturunkan dijalan namun masih saja Rilo fokus menyetir


        “turunin aku sekarang atau aku akan loncat” padahal Aya tak memiliki keberanian untuk melakukan hal


demikian, tapi ini caraya agar Rilo mau menghentikan mobilnya, dan berhasil namun


        “cup” wajah Aya memerah bagaikan kepiting rebus, sedangkan mobil lanjut melaju dijalan raya.


Aya masih terdiam hingga mobil melaju kembali disitulah kesadarannya kembali


        “stop” Rilo menoleh kearah Aya dengan tatapan yang tak biasa


        “duduk dan diam tanpa berisik atau aku akan melakukannya disini sekarang juga” perkataan yang


ambigu mampu membius Aya untuk terdiam, pikiran Aya sudah kemana-mana bagaimana jika kesuciannya direnggut Rilo sekarang juga, hancurlah masa depan Aya, lagian mereka kan belum sah dimata agama dan hukum


        “keluar, kita sudah sampai. Berlakulah sperti biasnaya dan ingat sopan santun, karena nenek


gak suka dengan gadis tak tau sopan santun dengan orang tua” Aya ditinggalkan didalam mobil sendiri sedangkan Rilo sudah keluar mobil dan menyambut neneknya yang tengah menunggunya didepan pintu


        Melihat betapa dekatnya kedua orang itu, Aya jadi teringat akan neneknya, iya sangat merindukan neneknya. Aya keluar mobil dan memberi salam dengan nenek sekar


        “cantiknya, gak salah pilih nenek kan? ternyata kamu sudah menjadi gadis canti dan sopan, padahal duu terakhir nenek ketemu kamu masih lucu-lucunya main sepeda” nenek sekar memeluk Aya, yah sang empu badan malah kaku, kok bisa nenek sekar tau Aya?


        “masuk yuk, nenek sudah menyiapkan makan siang untuk kita makan siang bersama” nenek membawa Aya


masuk kedalam seperti melupakan kehadiran Rilo


        “gini, ni ada yang baru yang lama dilupakan” Rilo mendumel sendiri karena merasa tak dipedulikan


        Mereka bertiga menuju meja makan yang telah tersedia menu makan siang dengan berbagai jenis. Bagaimana ini, apakah Aya harus jaim dengan menjaga sikap atau makan seperti biasa? Tapikan pesan Rilo dia harus sopan, duh. Aya menjadi dilema


        “kalian berdua sering-sering kesini dong, nenek kesepian sendirian dirumah, atau begini saja, setelah menikah kalian berdua tinggal disini saja, mau kan?” Aya tersedak mendengar permintaan nenek sekar yang langsung disodorkan minuman oleh Rilo


        “maaf, nek, tapikan Rilo punya rumah sendiri, mau sampai kapan kamu bergantung dengan kalian, kan kami juga punya kehidupan sendiri, iya jika masih bedua, nah kalo dah nambah satu anggota lagi” maksudnya Rilo apaan? Anak? oh tidak, Aya tampak muram


        “kamu kenapa, kurang enak badan?” tanya nenek sekar. Gimana gak enak badan, nikah aja karena dijodohkan sekarang malah ngomongin anak


        “sehat kok, nek, cuma agak pusing aja” nenek langsung memandang kearah Rilo dengan tatapan


merintah


        “Cuma pusing aja nek, kenapa tatapan nenek gitu amat sih?” jawab Rilo santai


        “bawa kekamar, Aya istirahat ya. nenek yang akan nelpon ayah kamu kalo kamu ditempat nenek” mau tak mau Rilo harus menuruti kemauan neneknya, berbeda dengan Aya yang menolak dengan berbagai alasan, tapi sayangnya nenek sekar susah untuk dikelabuhi

__ADS_1


        Rilo membawa Aya menuju kamarnya yang dirumah nenek sekar, padahal Aya sudah mengatakan jika iya baik-baik saja namun percuma. Aya menyesal karena sudah mengatakan jika iya pusing padahal iya menghindari untuk pembicaraan antara nenek dan cucu tersebut


        “tanggung sendiri akibatnya, lain kali kalo cari alasan yang masuk akal biar gak senjata makan


tuan” Rilo membawa Aya masuk kedalam kamarnya


        “pembicaraan kalian ambigu, ingat, aku memang sejutu dengan perjodohan ini tapi untuk hal


seperti itu aku belum setuju” Rilo mendekat kearah Aya menyudutkannya ke tembok kamar tak jauh dari pintu


        “jadi kamu bakalan setuju nantinya jika memberikanku anak, iya?” Aya begitu gelisah menyesali


setiap perkataan yang keluar dari mulutnya


        “gak, selama pernikahan ini belum sah didalam agama, kamu gak berhak menyentuhku” Rilo agak menjauhi Aya dan berkata


        “jangan terlalu berharap banyak dengan pernikahan ini, pernikahan ini hanya diatas kertas bukan


atas dasar hubungan yang serius. Orang lain yang menikah karena cinta kata mereka saja bisa berpisah gimana dengan pernikahan hanya karena perjodohan konyol ini” Rilo senyum tak meng enakkan kearah Aya


        “terserah gimana penilaianmu, tapi ingat. Pernikahan bukan hal yang bisa dijadikan mainan, sekali seumur hidup” Rilo tertawa mendengar jawaban Aya barusan


        “jadi kamu sungguh berharap untuk hidup denganku seumur hidupmu?” selidik Rilo


        “baiklah, tapi jangan salahkan aku jika suatu saat harapanmu itu akan membuatmu menangis”


        “tolak saja perjodohan ini jika kamu menganggap menikah denganku hanya sebuah permainan, jika kamu tidak bisa mengatakannya kepada keluargamu dan keluargaku maka aku yang akan melakukannnya dengan mengatakan jika aku tak setuju untuk meikah denganmu” entah keberanian dari mana Aya bisa bicara demikian


        “lakukan saja, silahkan tuan putri, tapi ingatlah jika kamu sampai melakukannya maka nyama ayahmu yang menjadi taruhannya dan nenek sekar akan sakit jika mendengarnya. Jika keduanya terjadi apa-apa maka kamulah penyebabnya” astaga, Aya melupakan hal tersebut


        “bagaimana? Apakah kamu masih bisa mengatakan kepada mereka jika kamu tak setuju untuk menikah denganku?” Aya terdiam


        “aku tak masalah, aku juga tak punya keuntungan atas pernikahan ini, malahan aku bersyukur dan


berterima kasih jika kamu bertindak demikian” Rilo masih diposiinya yang beradadidepan Aya namun agak menjauh


        “apa tujuanmu setuju untuk menikah denganku?” Aya sudah memerah wajahnya menahan tangis


        “sederhana, aku sebagai pengambil alih perusahaan ayahmu dan aku senang melihatmu seperti


sekarang” Rilo tertawa seperti seorang yang tengah memenangkan lotre


        “ambil saja apa yang kamu mau, tapi lepaskan aku” air mata Aya sudah lolos dari pelupuk matanya


        “tak semudah itu, Pradita Raya pratiwi, kamu bagaikan maian baru yang menyenangkan” cengir Rilo


yang membuat Aya semakin menangis


        “lakukan semua yang aku katakan tanpa bantahan jika kamu mau hidupmu berjalan seperti biasanya” Rian menyudutkan Aya ke tembok yang membuatnya semakin menangis


        “ingat, apapun yang terjadi nanti jangan pernah mengatakan untuk minta cerai” ucapan siapakah ini, manusia atau iblis? Begitu pikiran Aya


        “berlakulah seperti biasanya jika kamu mau semuanya berjalan seperti biasanya, jika tidak


maka kamu akan tau akibatnya sendiri” Rilo meninggalkan Aya sendirian dalam kamar

__ADS_1


        Lutut Aya terasa lemas hingga membuatnya terkulai dilantai dengan deraian air mata


        Sebegini mirisnya kah hidupnya? Apa salahnya terlahir kedunia ini? Nenek bagaimana bisa Aya menjalani kehidupan yang keras ini tanpa nenek disamping Aya


__ADS_2