Gelombang Laut

Gelombang Laut
bermuka dua


__ADS_3

        tak ada yang bisa melihat kehidupan manusia kedepannnya, baik buruk, susah dan senang kita tidak


tau. Roda kehidupan terus berjalan tak pernah berhenti, baik dijalan yang mulus maupun dijalan yang bebatuan


        Raya pratiwi masih merenungi kata-kata yang diucapkan Rilo kepadanya, sungguhkan iya akan


bernasib demikian, memiliki suami nantinya yang hanya menganggap pernikahan hanya sebuah lelucon


        Aya duduk ditepi ranjang tempat tidur, dilihatnya sekeliling isi kamar yang menampakkan bahwa


pemilik kamar tersebut sangat menyukai gaya klasik. Beberapa miniature superhero terpajang sederatan di meja khusus yang berisikan sebuah buku-buku bacaan, pandangan Aya tertuju pada sebuah foto berbingkai yang memperlihatkan seorang anak kecil tengah mermain pasir dipantai


        Aya sedikit tersenyum lama memandangi foto tersebut pikirnya sebagai pengalih dari pikiran-pikiran yang tengah mengganggunya, tiba-tiba knop pintu berbunyi memperlihatkan pria yang baru saja membuat pikirannya kacau


        “bersiaplah untuk pulang, jangan suka membuat repot nenek” dengan wajah tanpa ekspresi masuk kedalam kamar, hati aya berdegup kencang, apakah karena aya ketakutan atau, Raya Pratiwi telah menyukai pria itu? Entahlah, hanya dia yang tau


        “sebegitu menawannya kah aku difoto tersebut hingga kau tersenyum memandanginya, ingat pernah berniat untuk menyentuh barangku, karena jika tidak maka kau harus membayarnya dengan tubuhmu” apakah yang ada didepanku ini manusia tak punya hati, atau iblis yang menyerupai Rilo calon suamiku? Hais menyebutnya calon suami saja membuat bulu kudukku bergidik


        “jangan mudah berbesar kepala, aku hanya melihatnya bukan tersenyum memandanginya, jangan memandangiku terus-terusan seperti seakan kamu akan memangsaku” Aya mundur beberapa langkah menjauh dari Rilo


        “memangnya kenapa jika aku akan memangsamu sekarang juga, karna sebentar lagi kamu akan menjadi


milikku seutuhnya” sama seperti singa lapar Rilo berkata demikian


        “aku bukan barang yang bisa kamu klaim sebagai milikmu, aku memiliki kehidupanku sendiri” Rilo


semakin berjalan mendekat tanpa jarak diantara mereka berdua hingga Aya bias merasakan hembusan napasnya


        “ya, kamu barangku dan barang yang pernah menjadi milik seorang dari Rilo Edward Mayniro


tidak bisa menjadi milik orang lain, karena aku tak mau berbagi dengan yang lain” Aya menjauhkan dirinya dari jangkauan Rilo hingga membuatnya bersandar ditembok kamar tersebut


        “kenapa, apakah kamu menyesal dengan perjodohan ini? Sepertinya tidak karna diluar sana kaum


hawa sangat menginginkan diriku untuk menjadi dekat dengan mereka apalagi menjadi suaminya. Tapi aku rasa kamu juga akan merasakan hal yang sama bias menikah dengan seorang Rilo Edward Mayniro, hmm?”


        “wanita bodoh yang bermimpi menikah denganmu manusia yang tak punya hati” Aya berusaha melepaskan diri dari kepungan tangan Rilo namun sayangnya takkan bisa


        “ya, dan wanita bodoh itu kamu sendiri. Bagaimana, apakah kamu menyesal telah mengatakan jika


hanya wanita bodoh yang bermimpi ingin menikah denganku, lalu bagaimana dengan wanita didepanku sekarang? Apakah dia sama bodohnya atau dia lebih dari kata bodoh karena sebentar lagi akan menjadi istri dari Rilo Edward Mayniro?”


        Kak Rian, menyesal kamu menyetujui orang yang ada bersamaku sekarang untuk menjagaku


sepanjang hidupku tapi akan menyiksaku sepanjang hidupku


        “ya, aku memang bodoh karna telah menyetujui perjodohan bodoh ini dan kamu juga bodoh karena

__ADS_1


akan menikahi wanita bodoh, dasar pedofil!” terdengar menarik dipendengaran Rilo “pedofil”


        “tak ada salahnya aku sebagai pedofil karena pedofil yang kamu sebutkan tersebut akan menjadi suamimu. bagaimana, menarik bukan?”


        “lepaskan tanganmu, tanganku sakit” pergelangan tangan Aya sudah memerah karena dicengkram Rilo dari tadi


        “ini baru permulaan, karena masih banyak permainan yang lebih menarik lagi, ingat putri dari Tristan Pradita, sebentar lagi kamu akan menjadi istriku dan hangan coba untuk berani lari dari pernikahan ini, karena kamu akan tau akibatnya” Rilo melepaskan cengkramannya dan menuju kearah pintu


        “cepatlah turun karna aku akan mengantarmu pulang kerumah” Rilo berlalu meninggalkan Aya


seperti orang baru saja bertemu dengan hantu, tidak dia bukanlah hantu melain kan iblis berparas menawan. Hais mengakuinya menawan membuat Aya ingin sekali membunuhnya


        Aya menuruni tangga untuk menemui Rilo dibawah yang sedang berbincang-bincang dengan neneknya, dia terlihat sangat berbeda sekali ketika iya bersama dirinya, bagaimanakah dia sebenarnya, kenapa dengan dirinya iya sangat kejam, sedangkan didepan neneknya iya seperti anak kecil yang begitu polos dan lugu


        “gimana, kepalamu sudah tak pusing lagi?” suara nenek sekar yang lembut mampu membuat hati Aya tenang


        “sudah, nek. Maaf sebelumnya merepotkan nenek”


        “jangan begitu, kamu kan cucu nenek juga, Rilo antar Aya sampai kerumah dengan selamat ya, ingat jangan kebut-kebutan dijalan raya, bahaya” Rian hanya tersenyum mendengar kata neneknya


        “nek, kami pergi dulu ya, jaga kesehatan nenek jangan sampai sakit katanya nenek sangat menantikan pernikahan kami bahkan menantikan cicit” menohok, perkataan Rilo tertuju pada Aya. Dasar iblis berparas oplas


        “jaga Aya dengan baik, ingat Aya masih harus banyak belajar, bimbinglah dia dengan baik, iya kan Aya?” Aya hanya tersenyum kikuk menjawab perkataan nenek sekar


        “nenek juga harus menjaga kesehatan, jangan terlalu capek” sera beranjak melangkah, dengan sigap


        “duh kalian, takut benar pisah, nenek jadi ingat masa muda dulu sama kakekmu” wajah Aya


memerah bagaikan kepiting rebus menahan malu, tapi biasa bagi iblis perparas oplas


        “iya, dong nek, sayang ayok kita pulang. Nek, kami pamit dulu ya” keduanya meninggalkan nenek


dirumah tersebut setelah nenek mengantar keduanya sampai ke depan pintu


        “lepaskan tanganmu, tolong geli” semakin erat Rilo memeluk pinggang Aya yang membuat empunya bagai cacing kepanasan karena menahan geli


        “terbiasalah dengan hal seperti ini, karena nantinya kamu akan menemaniku diacara resmi, sayangku” sayang apanya yang kerjaannya suka mengintimisadi seseorang melalui kata-katanya


        “jangan mimpi untuk mengajakku keacara pergi, menakitkan untuk pergi bersama iblis bermuka dua seperti kamu” Aya langsung didorong masuk kedalam mobil


        “menarik, kita lihat saja, seberapa mampu kamu menolakku, hah?” beberapa senti lagi bibir keduanya bertemu, Aya sudah terlihat seperti ingin menangis


        “jangan mudah cengeng mnejadi perempuan, air matamu tak berarti bagiku” Rilo kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah nenek sekar


        Epanjang perjalanan Aya banyak diam karena takut kejadian tad siang terulang kembali dan


iya takut Rilo akan melakukan hal yang mebih dari pada itu, hingga tiba dirumah keduanya masih saja diam

__ADS_1


        “ingat, apapun yang terjadi diantara kita berdua tak boleh satupun ada orang yang tau karena jika sampai terjadi bayarlah dengan tubuhmu” Aya langsung keluar dari mobil mendengar perkataan Rilo dan dilihatnya ayah sedang duduk diteras depan


        “cepat banget pulangnya, Rilo mana?” ayah menyeruput minumannya seraya membaca koran harian


        “tanya aja sama menantu kesayangan ayah sendiri” Aya berlalu masuk kerumah menuju kamarnya


        “selamat malam om, kok diluar bukannya istirahat didalam?” Rilo menyapa ayah dengan senyumnya bagaikan senyuman iblis


        “masih sungkan aja kamu, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, panggil ayah aja” tak lama terdengar suara bunda


        “eh, Rilo, kenapa gak masuk aja sama ayah ngomongnya didalam aja, Aya mana?” mencari keberadaan Aya


        “mungkin dikamarnya bun” jawab Ayah, keduanya msuk kedalam rumah dan berbincang-bincang, sedangkan Aya dikamar ngomel sendiri kenapa harus Rilo yang mengambil ciuman pertamanya, kenapa bukan orang yang dicintainya nanti?


        “dek, kakak masuk ya” itu suara kak Rian, tumben sudah pulang dari kantor?


        “kenapa ngomel sendiri, ada masalah dengan Rilo?” dalam pikiran Aya apakah kakaknya akan tau


jika baru beberaoa jan yang lalu Rilo mencuri ciuman pertamanya?


        “kok mukamu jadi merah gitu sih kakak nanya, apa jangan-jangan?”


        “sembarangan aja kakak, tak baik selalu berburuk sangka, kak” Aya mengalihkan pembicaraan


        “trus kenapa? Apa aja yang kalian lakukan seharian ini?” kak Rian kakaknya Aya atau polisi yang lagi mengintrogasi?


        “tanya aja sama teman kakak yang sebentar lagi akan menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia” dengan nada tak suka Aya mengungkapkan kekesalannya


        “tukan, memang Rilo orang yang bisa dipercaya” Rian mencoel pipi adiknya


        “apaan sih? udah ah, Aya mau mandi, gerah na” Aya mengipas-ngipaskan tangannya


        Ketukan pintu kamar terdengar bersamaan dengan suara unda


        “nak, antarin Rilo kedepan sana, dia mau balik”


        “dek, anterin calon suami kamu balik dulu sana baru mandi” Rian menekankan kata calon suami


        “ogah, Aya mau mandi, kenapa gak bisa sendiri aja, dasar manja” Aya menjawan dari kamar mandi


        “bun, Aya bilang ogah katanya, lagian dia baru masuk kamar mandi” Rian setengah berteriak dari


dalam kamar


        “yaudah deh, lain kali jangan begitu” bunda kemudian turun kebawah mengatakan jika Aya sedang mandi, akhirnya Rilo diantar oleh ayah sampai depan


        “gadis yang menarik” terukir senyum dibibir Rilo ketika masuk kedalam mobil sebelum meninggalkan rumah tersebut

__ADS_1


__ADS_2