Gelombang Laut

Gelombang Laut
Episode 32


__ADS_3

     untukpertama kalinya Aya merasa bosan berdiam diri dirumah dimalam


hari, padahal title yang melekat pada dirinya adalah anak yang tak pernah mau


keluar rumah jika bukan karna ada keperluan yang mengharuskannya untuk keluar


rumah


        “Eta, keluar yuk


aku bosen dirumah mulu” ya sekarang ini Aya sedang menghubungi Eta untuk


menemaninya keluar rumah


        “e bentar, ini


Raya pratiwi, kan? atau orang lain yang pake hapenya Aya buat ngajak aku


keluar?”


        “Ta, seriusan aku


lagi pengen keluar rumah, sekalian ajak Lulu juga ya” Eta yang berada


diseberang sana bisa berdiam mendengar ajakan temannya ini


         Aya sudah siap untuk keluar rumah untuk


bertemu teman-temannya, sebenarnya ini masih disebut petang karna masih


setengah tujuh malam


        Aya keluar kamar


dengan mengenakan pakaian santai lengkap dengan sweaternya karna iya tau akan


dingin nanti malam, saat hendak turun tangga didapatinya pak Mamun tengah duduk


disofa sepertinya sedang mengurus sesuatu


        “pak, Aya izin


keluar sebentar buat ketemu temen-temen Aya, ya lagian Aya juga pulangnya gak


kemaleman juga nanti” belum sempat pak Mamun menjawab Aya sudah berlalu dari


hadapanny


        “Andy, kamu


tolong awasi non Aya yang katanya akan kelaur buat ketemu teman-temannya” Andy


yang menerima perintah langsung melaksanakannya


        Aya menunggu


taksi didepan gerbang rumah tersebut tak lama kemudian Andy menghampirinya


        “permisi, non


saya anterin ya, soalnya kata tuan non gak boleh kemana-mana apalagi keluar


rumah kalo sendirian”


        “terima kasih,


Andy tapi saya sudah memesan taksi dan itu udah didepan sekarang, permisi” Aya


berlalu dan menuju taksi yang sudah ada didepan rumahnya dan tak lama kemudian


iya meninggalkan halaman rumah tersebut


        “tap” ucapanAndy


terputus usai menyadari jika majikannya sudah pergi dari hadapannya


        Suasana cafe


begitu sendu dengan diiringi instrument music menambah suasana nikmat ditempat


tersebut. Disudut pojok sebelah kiri terlihat seorang gadis yang tampak seperti


menunggu seseorang, sesekali iya melihat jam jangan yang iya kenakan sambal


menikmati cemilan yang telah tersedia didepannya


        Sesekali iya


nampak kesal karena seseorang yang ditunggunya tak kunjung juga datang hingga


ketika iya melihat kearah pintu masuk ada seorang gadis juga yang melambaikan


tangan kearahnya tapi iya tidak sendiri melainkan berdua dengan teman gadisnya


juga


        “sorry, aku kena


macet tadi. Lagian kamu tumben kesambet setan apa ngajak keluar cuma buat


ketemuan ditempat beginian biasanya juga asik ngebucin sama novel atau gak sama


noh buku-buku fisika” padahal yang seharusnya marah itu Aya bukan Eta yang baru


saja datang


        “mulai kambuh ni

__ADS_1


mode emak-emaknya, emang salah aku ngajak keluar?” wajah Aya tampak kusut


        “ya enggak, Cuma


tumben aja kamu ngajak keluar biasanya diajak keluar juga jawabnya male mending


dirumah berduaan sama novel atau sama buku fisika edisi terbaru”


        “udah ah, meding


duduk dulu daripada ngerepek gak jelas gitu” Lulu yang datang bersama Eta pun


menarik kursi disamping Aya


        “ada masalah apa


dirumah, cerita sama kita siapa tau bisa bantu kamu” Lulu langsung to the point


        “enggak, Cuma


pengen ngerasa keluar rumah cuma buat ngedatengin tempat beginian aja” padahal


dalam hati Aya pengen cerita namun diurungkan karna iya merasa belum saatnya


iya menceritakan tentang pernikahannya yang baru saja iya jalankan


        “gini aja deh,


karna kamu yang ngajakin kita keluar bayarin apapun yang kita pesen” Eta mode


serakahnya keluar


        “terserah deh,


asalkan jangan yang buat tabunganku terkuras habis” mereka pun kemudian tertawa


        “Ya, kamu tau


dari mana tempat ini, asyik dan menenangkan” Eta mengedarkan pandangannya


keseluruh ruangan yang dimana dihiasi lukisan-lukisan bertemakan klasik serta


dipadukan dengan beberapa ornamen-ornamen unik lainnya


        “nanya sama kak


Fras, dia bilang tempat ini asyik buat nongkrong”


        “emang orang tua


kamu sama Rian pada kemana?” tanya Lulu


        “ada, cuma aku


pengen keluar aja, kalian iklas gak sih nemenin aku?” dengan suara yang dibuat


        “ya kali gak


ikhlas kalo gak dibayarin, iya gak Lu?” Aya mencubit lengan Eta


        Keduanya memesan


minuman serta beberapa cemilan untuk menemai mereka berbincang-bincang,


sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka bertiga


        Beberapa meja


jarak kesebelah kiri terlihat sepasang insan yang tengah memadu kasih, mereka


tak segan-segannya untuk berciuman padahal ini ditempat umum


        “Lu, lit deh


pasangan yang tak jauh dari meja kita disebelah kiri, kok aku jadi ngeri ya


ngeliatnya? ini tempat umu loh kenapa mereka gak mau buat ngelakuin hal


demikian?” Eta bergidik melihat kelakuan sepasang insan yang sedang dimabuk


cinta tersebut


        “kamu sih


jomblonya gak ketulungan maka bilang begitu, ya kali dia malu Namanya juga uda


ditutupin yang Namanya cinta”


        “ya tapikan ini


tempat umum, Lu apa mereka gak malu apa orang lain pada ngeliat kearah mereka?”


        “udahlah biarin


aja, toh itu urusan mereka kan yang kita tak berhak buat ikut campur urusan


mereka” Aya menjadi penengah diantara kedua temannya yang tengah membicarakan


kedua pasangan tersebut


        Aya masih belum


melihat kearah pasangan yang dimaksud kedua temannya hingga tepat iya menjadi


penengah keduanya iya pun melihat kerah yang dimaksud


        Terlihat tak

__ADS_1


asing dengan pria yang sedang bersama wanita tersebut, mulai dari bentuk


tubuhnya hingga suaranya. Aya sungguh mengenal suara dan bentuk tubuh pria


tersebut


        Dengan melihat


lebih teliti lagi hingga iya beberapa kali mengucek matanya yang sebenarnya


baik-baik saja, iya tak percaya bahwa pria tersebut iyalah seseorang yang baru


saja menyandang status suaminya, yah pria tersebut Rilo


       Iya terlihat


sangat bahagia bersenda gurau sesekali saling mengecup bersama wanita yang


duduk didepannya. Wanita tersebut begitu cantik dan seksi serta terlihat begitu


anggun, dengan tubuh yang rambing serta rambut dikucir kuda membuatnya terlihat


semakin menawan


        Dada Aya terasa sesak


seketika melihat pemandangan disekitarnya, bagaimana bisa pria yang berstatus


suami orang melakukan hal demikian?


        Air mata lolos


dari pelupuk mata Raya Pratiwi namun iya segera untuk menghapus air matanya


takut jika kedua temannnya mengetahui jika iya meneteskan air matanya


        Ponsel Lulu


berdering terlihat panggilan dari Teo yang baru saja menjadi teman sekelas


mereka, Lulu menjawab panggilan dari Teo beberapa saat sebelum iya kembali


berbincang-bincang dengan kedua temannya


        “Ya, aku balik


duluan ya, Teo lagi sedang dirumah buat ngambil barang, gak papa kan kalo aku


duluan?” Lulu merasa tak enakan dengan kedua temannya tapi iya juga tak enak


dengan Teo karna Teo sudah menunggunya dirumah


        “iya, hati-hati


dijalan” Lulu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi mendahului kedua


temannya


        “ya, kamu nyadar


gak pas dikantin beberapa hari yang lalu Teo merhatiin kamu terus sampe Nono


ajak dia ngomong aja dia gak fokus karna merhatiin kamu mulu” Aya yang


mendengar penuturan temannnya itu langsung kaget


        “Ta, jangan


becanda deh ah, ada-ada aja deh kamu ini”


        “seriusan aku,


kalo kamu gak percaya coba kamu tanya ke Lulu atau gak Dito” kekeh Eta


        “udah ah, bodo


amat sama masalah begituan” Eta sebenarnya sudah tau jika jawaban Aya bakalan


seperti ini, namun iya hanya mengatakan apa yang iya lihat saja


        “Ya, balik yuk.


Aku janji sama mama bakalan balik sebelum jam 10 dan sekarang udah setengah 10”


Eta melirik ponselnya untuk melihat waktu


        “yah, oke deh aku


bayar dulu tapi” Aya beranjak menuju kasir untuk membayar pesanannya


        “yuk” keduanya


meninggalkan tempat tersebut. Eta langsung masuk ketaksi yang tengah


menunggunya karena telah iya pesan bebrapa saat yang tadi sedangkan Aya masih


tak tau harus kemana.


        Iya terus


berjalan diatas trotoar sesekali melihat suasana malam yang terasa mengerikan


padahal masih dikatakan awal, namun hatinya terasa begitu sakit melihat seorang


pria yang baru beberapa hari menjadi suaminya kini tengah memadu kasih dengan


seorang wanita lain. Mungkinkah Aya mulai menyukai lelaki yang kini berstatus

__ADS_1


suaminya itu?


__ADS_2