
untukpertama kalinya Aya merasa bosan berdiam diri dirumah dimalam
hari, padahal title yang melekat pada dirinya adalah anak yang tak pernah mau
keluar rumah jika bukan karna ada keperluan yang mengharuskannya untuk keluar
rumah
“Eta, keluar yuk
aku bosen dirumah mulu” ya sekarang ini Aya sedang menghubungi Eta untuk
menemaninya keluar rumah
“e bentar, ini
Raya pratiwi, kan? atau orang lain yang pake hapenya Aya buat ngajak aku
keluar?”
“Ta, seriusan aku
lagi pengen keluar rumah, sekalian ajak Lulu juga ya” Eta yang berada
diseberang sana bisa berdiam mendengar ajakan temannya ini
Aya sudah siap untuk keluar rumah untuk
bertemu teman-temannya, sebenarnya ini masih disebut petang karna masih
setengah tujuh malam
Aya keluar kamar
dengan mengenakan pakaian santai lengkap dengan sweaternya karna iya tau akan
dingin nanti malam, saat hendak turun tangga didapatinya pak Mamun tengah duduk
disofa sepertinya sedang mengurus sesuatu
“pak, Aya izin
keluar sebentar buat ketemu temen-temen Aya, ya lagian Aya juga pulangnya gak
kemaleman juga nanti” belum sempat pak Mamun menjawab Aya sudah berlalu dari
hadapanny
“Andy, kamu
tolong awasi non Aya yang katanya akan kelaur buat ketemu teman-temannya” Andy
yang menerima perintah langsung melaksanakannya
Aya menunggu
taksi didepan gerbang rumah tersebut tak lama kemudian Andy menghampirinya
“permisi, non
saya anterin ya, soalnya kata tuan non gak boleh kemana-mana apalagi keluar
rumah kalo sendirian”
“terima kasih,
Andy tapi saya sudah memesan taksi dan itu udah didepan sekarang, permisi” Aya
berlalu dan menuju taksi yang sudah ada didepan rumahnya dan tak lama kemudian
iya meninggalkan halaman rumah tersebut
“tap” ucapanAndy
terputus usai menyadari jika majikannya sudah pergi dari hadapannya
Suasana cafe
begitu sendu dengan diiringi instrument music menambah suasana nikmat ditempat
tersebut. Disudut pojok sebelah kiri terlihat seorang gadis yang tampak seperti
menunggu seseorang, sesekali iya melihat jam jangan yang iya kenakan sambal
menikmati cemilan yang telah tersedia didepannya
Sesekali iya
nampak kesal karena seseorang yang ditunggunya tak kunjung juga datang hingga
ketika iya melihat kearah pintu masuk ada seorang gadis juga yang melambaikan
tangan kearahnya tapi iya tidak sendiri melainkan berdua dengan teman gadisnya
juga
“sorry, aku kena
macet tadi. Lagian kamu tumben kesambet setan apa ngajak keluar cuma buat
ketemuan ditempat beginian biasanya juga asik ngebucin sama novel atau gak sama
noh buku-buku fisika” padahal yang seharusnya marah itu Aya bukan Eta yang baru
saja datang
“mulai kambuh ni
__ADS_1
mode emak-emaknya, emang salah aku ngajak keluar?” wajah Aya tampak kusut
“ya enggak, Cuma
tumben aja kamu ngajak keluar biasanya diajak keluar juga jawabnya male mending
dirumah berduaan sama novel atau sama buku fisika edisi terbaru”
“udah ah, meding
duduk dulu daripada ngerepek gak jelas gitu” Lulu yang datang bersama Eta pun
menarik kursi disamping Aya
“ada masalah apa
dirumah, cerita sama kita siapa tau bisa bantu kamu” Lulu langsung to the point
“enggak, Cuma
pengen ngerasa keluar rumah cuma buat ngedatengin tempat beginian aja” padahal
dalam hati Aya pengen cerita namun diurungkan karna iya merasa belum saatnya
iya menceritakan tentang pernikahannya yang baru saja iya jalankan
“gini aja deh,
karna kamu yang ngajakin kita keluar bayarin apapun yang kita pesen” Eta mode
serakahnya keluar
“terserah deh,
asalkan jangan yang buat tabunganku terkuras habis” mereka pun kemudian tertawa
“Ya, kamu tau
dari mana tempat ini, asyik dan menenangkan” Eta mengedarkan pandangannya
keseluruh ruangan yang dimana dihiasi lukisan-lukisan bertemakan klasik serta
dipadukan dengan beberapa ornamen-ornamen unik lainnya
“nanya sama kak
Fras, dia bilang tempat ini asyik buat nongkrong”
“emang orang tua
kamu sama Rian pada kemana?” tanya Lulu
“ada, cuma aku
pengen keluar aja, kalian iklas gak sih nemenin aku?” dengan suara yang dibuat
“ya kali gak
ikhlas kalo gak dibayarin, iya gak Lu?” Aya mencubit lengan Eta
Keduanya memesan
minuman serta beberapa cemilan untuk menemai mereka berbincang-bincang,
sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka bertiga
Beberapa meja
jarak kesebelah kiri terlihat sepasang insan yang tengah memadu kasih, mereka
tak segan-segannya untuk berciuman padahal ini ditempat umum
“Lu, lit deh
pasangan yang tak jauh dari meja kita disebelah kiri, kok aku jadi ngeri ya
ngeliatnya? ini tempat umu loh kenapa mereka gak mau buat ngelakuin hal
demikian?” Eta bergidik melihat kelakuan sepasang insan yang sedang dimabuk
cinta tersebut
“kamu sih
jomblonya gak ketulungan maka bilang begitu, ya kali dia malu Namanya juga uda
ditutupin yang Namanya cinta”
“ya tapikan ini
tempat umum, Lu apa mereka gak malu apa orang lain pada ngeliat kearah mereka?”
“udahlah biarin
aja, toh itu urusan mereka kan yang kita tak berhak buat ikut campur urusan
mereka” Aya menjadi penengah diantara kedua temannya yang tengah membicarakan
kedua pasangan tersebut
Aya masih belum
melihat kearah pasangan yang dimaksud kedua temannya hingga tepat iya menjadi
penengah keduanya iya pun melihat kerah yang dimaksud
Terlihat tak
__ADS_1
asing dengan pria yang sedang bersama wanita tersebut, mulai dari bentuk
tubuhnya hingga suaranya. Aya sungguh mengenal suara dan bentuk tubuh pria
tersebut
Dengan melihat
lebih teliti lagi hingga iya beberapa kali mengucek matanya yang sebenarnya
baik-baik saja, iya tak percaya bahwa pria tersebut iyalah seseorang yang baru
saja menyandang status suaminya, yah pria tersebut Rilo
Iya terlihat
sangat bahagia bersenda gurau sesekali saling mengecup bersama wanita yang
duduk didepannya. Wanita tersebut begitu cantik dan seksi serta terlihat begitu
anggun, dengan tubuh yang rambing serta rambut dikucir kuda membuatnya terlihat
semakin menawan
Dada Aya terasa sesak
seketika melihat pemandangan disekitarnya, bagaimana bisa pria yang berstatus
suami orang melakukan hal demikian?
Air mata lolos
dari pelupuk mata Raya Pratiwi namun iya segera untuk menghapus air matanya
takut jika kedua temannnya mengetahui jika iya meneteskan air matanya
Ponsel Lulu
berdering terlihat panggilan dari Teo yang baru saja menjadi teman sekelas
mereka, Lulu menjawab panggilan dari Teo beberapa saat sebelum iya kembali
berbincang-bincang dengan kedua temannya
“Ya, aku balik
duluan ya, Teo lagi sedang dirumah buat ngambil barang, gak papa kan kalo aku
duluan?” Lulu merasa tak enakan dengan kedua temannya tapi iya juga tak enak
dengan Teo karna Teo sudah menunggunya dirumah
“iya, hati-hati
dijalan” Lulu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi mendahului kedua
temannya
“ya, kamu nyadar
gak pas dikantin beberapa hari yang lalu Teo merhatiin kamu terus sampe Nono
ajak dia ngomong aja dia gak fokus karna merhatiin kamu mulu” Aya yang
mendengar penuturan temannnya itu langsung kaget
“Ta, jangan
becanda deh ah, ada-ada aja deh kamu ini”
“seriusan aku,
kalo kamu gak percaya coba kamu tanya ke Lulu atau gak Dito” kekeh Eta
“udah ah, bodo
amat sama masalah begituan” Eta sebenarnya sudah tau jika jawaban Aya bakalan
seperti ini, namun iya hanya mengatakan apa yang iya lihat saja
“Ya, balik yuk.
Aku janji sama mama bakalan balik sebelum jam 10 dan sekarang udah setengah 10”
Eta melirik ponselnya untuk melihat waktu
“yah, oke deh aku
bayar dulu tapi” Aya beranjak menuju kasir untuk membayar pesanannya
“yuk” keduanya
meninggalkan tempat tersebut. Eta langsung masuk ketaksi yang tengah
menunggunya karena telah iya pesan bebrapa saat yang tadi sedangkan Aya masih
tak tau harus kemana.
Iya terus
berjalan diatas trotoar sesekali melihat suasana malam yang terasa mengerikan
padahal masih dikatakan awal, namun hatinya terasa begitu sakit melihat seorang
pria yang baru beberapa hari menjadi suaminya kini tengah memadu kasih dengan
seorang wanita lain. Mungkinkah Aya mulai menyukai lelaki yang kini berstatus
__ADS_1
suaminya itu?