Gelombang Laut

Gelombang Laut
Episode 36


__ADS_3

suara gemercik air dari kamar mandi terdengar hingga keluar


kamar mandi, saat itu Aya mandi untuk menyegarkan badannya yang letih seharian,


karena bunda meminta mereka untuk menginap barang semalam jadi iya memutuskan


untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum malam malam keluarga.


             Hari memang menjelang malam namum Rilo masih


fokus terhadap laptop yang tepat didepannya mengingat ada beberapa laporan


perusahaan yang harus iya periksa. Mengingat bahwa mereka sekarang berada


dirumah orangtua Aya yang tak tau sebenarnya selama pernikahan mereka sekalipun


mereka belum pernah untuk sekamar jadi untuk mneghilangkan kecurigaan


orangtuanya Aya menyetujui usul Rilo untuk semar hanya selama mereka menginap


dikediaman orangtua Aya


            "Klek" bunyi knop pintu dibuka


memperlihatkan Aya hanya mengenakan kimono mandinya dengan panjang selutut.


Tubuh rampingnya terbalut rapi oleh kimono berwarna putih tersebut. Rilo yang


menyadari suara knop pintu menoleh kesumber suara


            “kenapa menatapku seperti itu, apakah ada yang salah padaku?” Aya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil


seraya menatap Rilo yang juga mentapnya


            “jangan dibiasakan berpakaian seperti itu didepan pria normal” jawaban datar Rilo


            “memangnya kenapa dengan cara berpakaianku, aku sedang dikamar sekarang bukan diluar rumah menggunakan pakaian seperti ini” Aya menuju meja riasnya


            “apakah kau sama sekali tak menganggap kehadiranku disini?”


            “memangnya kamu hantu sampai aku tak melihat keberadaanmu?” Rilo semakin terlihat kesal, wajahnya tampak memerah menahan amarahnya


            “apakah kau sama sekali tak ada rasa takut sekarang? kau baru saja membangunkan singa tidur yang lapar”


            “kenapa aku mesti takut denganmu,


bukankah kau hanya manusia sama seperti aku? Aya mengambil pakaiannya dari


dalam lemari, karena temaptnya agak tinggi hingga menampakkan kaki mulusnya


yang mampu memikat lawan jenisnya seperti tampaknya Rilo saat itu juga sedari


tadi menahan hasratnya untuk mengabaikan keberadaan istri kecilnya itu


            “Raya, apakah kau sekarang sedang


mengujiku? Aku pria normal yang bisa melakukan apa saja terhadapmu apalagi


disaat kau seperti itu”


            “aku tau kau pria normal, maka dari


itu jika kau risih dengan keadaan sekarang kau keluar sekarang karena aku akan


mengenakan pakaianku” Rilo beranjak dari tempatnya tadi dan melangkah turun


dari ranjang namun disaat yang bersamaan Aya berbalik dan melangkahkan kakinya


dan tersandung kekursi riasnya


            “apa yang kau lakukan turun dari


atasku sekarang juga aku bisa mati jika tertimpa olehmu” padahal Aya sudah


menahan malu sedari iya masuk kedalam kamar setelah mandi hanya mengenakan


kimono mandinya karena iya lupa untuk membawa pakaian gantinya, ditambah lagi


sekarang Rilo diatasnya karena disaat iya tersandung iya masih sempat untuk


mencari tempat berpegangan ternyata iya malah menarik tangan Rilo yang saat itu


juga hilang keseimbangan


            “apakah sekarang kau baru takut


padaku karena posisi kita sekarang?” Ril mengeluarkan senyum liciknya


            “aku penasaran apakah kau sudah


mengenakan pakaian dalammu yang dikala itu kau pakai berwarna biru toska atau


pakaian yang lain lagi?” blush Aya setengah mati menahan malu sekarang


            “cukup, beranjak dari atasku atau


aku akan berteriak sekarang juga” ancam Aya

__ADS_1


            “silahkan saja jika kau mau


orangtuamu menyangka kita melakukan layaknya suami istri” astaga Aya lupa jika


mereka saat ini tengah berada dikediaman orangtuanya


            “dasar licik, beranjak sekarang atau


kau kugigit” ketakutan diwajah aya tampak jelas


            “aku senang kau gigit sekarang juga,


ya aku juga sudah lama mengimpikan untuk menggigitmu juga, bagaimana apakah kau


mau kita berdua main gigit menggit sekarang?”


            “dasar om mes………..” ucapan Aya


terpotong keburu mulutnya terbekap bibir Rilo, Aya meronta untuk dilepaskan


namun Rilo masih tak mau menyerah untuk menjelajah bibir Aya, merasa jalanny


tak diterima, Rilo menggigit bibir bawah Aya hingga berdarah. Bau amis darah


tercium diindra pemciuman Aya dan rasa asin menyeruak kedalam rongga mulutnya


hingga berlahan iya membuka mulutnya yang memberi kesempatan Rilo untuk lebih


menguasai Aya, Rilo ******* habis bibir Aya yang walnya melakukan perlawanan


kini menerima sedikit demi sedikit.


Hanyut dalam permainan Rilo Aya kini


melupakan ketakutannya hingga pertahannya runtuh seketika, tak tau siapa yang


memulai permainan tersebut helaian demi helaian benang yang menutupi keduanya


kini tergeletak manis dilantai kamar tersebut, naluri alamiah menuntun keduanya


untuk bersama menyalurkan hasratnya satu sama lain


            “bolehkah sekarang, aku tau ini


pertama kalinua bagimu, aku akan berusaha selembut mungkin walaupun sebenarnya


aku membencinya” Aya masih memejamkan matanya takut untuk menatap Rilo


            “bukalah matamu, jangan seperti aku


bersama orang buta sekarang” dengan perlahan Aya membuka matanya


sekarang, aku takkan memaksamu jika memang kau belum siap”  senyum manis terukur diwajah Aya yan mungil,


bak terhipnotis Rilo menatap sayang mata indah itu yang entah sejak kapan itu


menjadi candunya. Aya yang sudah berada dikendali hasratnya mengangguk


menyutujui permintaan Rilo


            “jika aku menyakitimu kau boleh


menggigit atau mencaraku” Aya mengangguk pelan, karena mendapat persetujuan


Rilo melakukannya dengan sangat hati-hati dan perlahan. Air mata Aya mengalir


disudut matanya Rilo yang melihatnya merasa begitu iba


            “apakah aku perlu berhenti sekarang,


aku takut akan menyakitimu” namun Aya menggeleng tak menyetujui dan Rilo


melanjutkannya hingga mereka berdua sama-sama terbuai. Suara keduanya menggemai


dalam ruangan menyalurkan hasrat keduanya, hingga Aya terlihat begitu kelelahan


Rilo pun berhenti dan berbaring disamping Aya seraya memeluknya


            “terima kasih karena kau telah


menjaganya, maaf jika aku telah menyakitimu tadi” Aya meringkuk dalam pelukan


Rilo berlahan iya memejamkan matanya larut dalam kelelahan. Rilo yang melihat


Aya tertidur menysulnya untuk menuju alam mimpi sebelum waktu makan malam tiba.


 


            Suasana dapur tampak begitu hangat,


Ayah Rian, dan Rilo telah duduk dikursi makan sedangkan bunda menata meja makan


tersebut dengan berbagai menu makan malam. Ayah yang tak melihat putrinya menanyakan


keberadaannya


            “dimana Aya, kenapa belum turun

__ADS_1


untuk makan malam?”


            “tadi masih mandi ketika aku turun


kebawah, tunggu sebentar aku akan memanggilnya untuk turun” padahal Rilo tau


istrinya lama mandi akibat ulahnya yang mengajaknya mandi bersama hingga mereka


kembali untuk menyalurkan hasratnya. Rilo berjalan menuju kamar Aya dan


langsung membuka pintu kamar tanpa menghiraukan istrinya yang masih mengenakan


pakaian dalam saja


            “apakah kau tak punya sopan santun


sama sekali jika masuk kekamar?” wajah Aya memerah  karena Rilo terus saja memandanginya tanpa


mau berkedip


            “apa yang kau malukan, aku sudah


melihat dan merasakan semuanya, cepatlah turun Ayah, Rian dan Bunda sudah


menunggumu dibawah”


            “iya, sebentar lagi aku akan turun”


namun Rilo berjalan mendekati Aya, tatapan tajam mata Aya menusuk kearah Rilo


            “apa yang akan kau lakukan, apakah


aku belum sepenuhnya memberimu?” ditangan Aya sudah ada baju berleher rendah


yang kemudian dirampas Rilo


            “gunakan yang lain saja, apakah kau


mau mereka meledekmu nanti?” Rilo menarik baju berleher tinggi dan


memberikannya ke Aya


            “pakailah ini, aku menunggu dibawah


dan cepalah tak enak mereka menungu terlalu lama” namun sbelum benar-benar


keluar kamar Rilo mengecup bibir Aya sejenak dan berlalri kelaur karena iya tau


akan mendapatkan pukulan dan caci maki dari istrinya itu


            “kurang ajar, awas saja kau nanti”


Rilo tersenyum mendengar makian istrinya dan kemudian turun kebawah menuju


ruang makan.


            Selang


beberapa menit Aya turun menyusul keluarga dan suaminya dimeja makan, matanya


tampak berbinar melihat makanan yang tertata rapi dimeja makan


            “apakah kau akan terus berdiri


disitu dan hanya menatap kami makan saja?” Tanya Rian


            “hais, sebentar kak, aku sudah lama


tak makan masakan bunda, huuu makasih bunda” Iya duduk disamping Rian


            “Aya, apakah sekarang kau tak


menganggak suamimu setelah bertemu kakakmu?” Tanya bunda


            “ah iya, biarkan saja dia sendiri


aku sekarang hanya mau dekat sama kakakku, lagian dia jiga sudah tua kan pandai


mengurus dirinya sendiri?”


            “baiklah, aku sekarang tua didepanmu


dan sebentar lagi akan menjadi kakek, berilah aku selamat” mereka saling


berpandang melihat wajah kesal Rilo hingga tawa Rian pecah karena tak mampu


menawan tawaya melihat eksperesi kakak iparnya itu bagaikan anak kecil yang


tengah merajuk


            “lihatlah, kakek tua itu tengah


merajuk, sperti anak kecil saja”


            “Aya, sudahlah makan sekarang kasian


Rilo” tengah bunda sedangkan Ayah hanya tersenyum melihat kelakuan putrinya

__ADS_1


itu. suasana makan malam yang terasa begitu hangat, tawa dan senyum memenuhi


sepanjang perjamuan makan malam itu


__ADS_2