
suara gemercik air dari kamar mandi terdengar hingga keluar
kamar mandi, saat itu Aya mandi untuk menyegarkan badannya yang letih seharian,
karena bunda meminta mereka untuk menginap barang semalam jadi iya memutuskan
untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum malam malam keluarga.
Hari memang menjelang malam namum Rilo masih
fokus terhadap laptop yang tepat didepannya mengingat ada beberapa laporan
perusahaan yang harus iya periksa. Mengingat bahwa mereka sekarang berada
dirumah orangtua Aya yang tak tau sebenarnya selama pernikahan mereka sekalipun
mereka belum pernah untuk sekamar jadi untuk mneghilangkan kecurigaan
orangtuanya Aya menyetujui usul Rilo untuk semar hanya selama mereka menginap
dikediaman orangtua Aya
"Klek" bunyi knop pintu dibuka
memperlihatkan Aya hanya mengenakan kimono mandinya dengan panjang selutut.
Tubuh rampingnya terbalut rapi oleh kimono berwarna putih tersebut. Rilo yang
menyadari suara knop pintu menoleh kesumber suara
“kenapa menatapku seperti itu, apakah ada yang salah padaku?” Aya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil
seraya menatap Rilo yang juga mentapnya
“jangan dibiasakan berpakaian seperti itu didepan pria normal” jawaban datar Rilo
“memangnya kenapa dengan cara berpakaianku, aku sedang dikamar sekarang bukan diluar rumah menggunakan pakaian seperti ini” Aya menuju meja riasnya
“apakah kau sama sekali tak menganggap kehadiranku disini?”
“memangnya kamu hantu sampai aku tak melihat keberadaanmu?” Rilo semakin terlihat kesal, wajahnya tampak memerah menahan amarahnya
“apakah kau sama sekali tak ada rasa takut sekarang? kau baru saja membangunkan singa tidur yang lapar”
“kenapa aku mesti takut denganmu,
bukankah kau hanya manusia sama seperti aku? Aya mengambil pakaiannya dari
dalam lemari, karena temaptnya agak tinggi hingga menampakkan kaki mulusnya
yang mampu memikat lawan jenisnya seperti tampaknya Rilo saat itu juga sedari
tadi menahan hasratnya untuk mengabaikan keberadaan istri kecilnya itu
“Raya, apakah kau sekarang sedang
mengujiku? Aku pria normal yang bisa melakukan apa saja terhadapmu apalagi
disaat kau seperti itu”
“aku tau kau pria normal, maka dari
itu jika kau risih dengan keadaan sekarang kau keluar sekarang karena aku akan
mengenakan pakaianku” Rilo beranjak dari tempatnya tadi dan melangkah turun
dari ranjang namun disaat yang bersamaan Aya berbalik dan melangkahkan kakinya
dan tersandung kekursi riasnya
“apa yang kau lakukan turun dari
atasku sekarang juga aku bisa mati jika tertimpa olehmu” padahal Aya sudah
menahan malu sedari iya masuk kedalam kamar setelah mandi hanya mengenakan
kimono mandinya karena iya lupa untuk membawa pakaian gantinya, ditambah lagi
sekarang Rilo diatasnya karena disaat iya tersandung iya masih sempat untuk
mencari tempat berpegangan ternyata iya malah menarik tangan Rilo yang saat itu
juga hilang keseimbangan
“apakah sekarang kau baru takut
padaku karena posisi kita sekarang?” Ril mengeluarkan senyum liciknya
“aku penasaran apakah kau sudah
mengenakan pakaian dalammu yang dikala itu kau pakai berwarna biru toska atau
pakaian yang lain lagi?” blush Aya setengah mati menahan malu sekarang
“cukup, beranjak dari atasku atau
aku akan berteriak sekarang juga” ancam Aya
__ADS_1
“silahkan saja jika kau mau
orangtuamu menyangka kita melakukan layaknya suami istri” astaga Aya lupa jika
mereka saat ini tengah berada dikediaman orangtuanya
“dasar licik, beranjak sekarang atau
kau kugigit” ketakutan diwajah aya tampak jelas
“aku senang kau gigit sekarang juga,
ya aku juga sudah lama mengimpikan untuk menggigitmu juga, bagaimana apakah kau
mau kita berdua main gigit menggit sekarang?”
“dasar om mes………..” ucapan Aya
terpotong keburu mulutnya terbekap bibir Rilo, Aya meronta untuk dilepaskan
namun Rilo masih tak mau menyerah untuk menjelajah bibir Aya, merasa jalanny
tak diterima, Rilo menggigit bibir bawah Aya hingga berdarah. Bau amis darah
tercium diindra pemciuman Aya dan rasa asin menyeruak kedalam rongga mulutnya
hingga berlahan iya membuka mulutnya yang memberi kesempatan Rilo untuk lebih
menguasai Aya, Rilo ******* habis bibir Aya yang walnya melakukan perlawanan
kini menerima sedikit demi sedikit.
Hanyut dalam permainan Rilo Aya kini
melupakan ketakutannya hingga pertahannya runtuh seketika, tak tau siapa yang
memulai permainan tersebut helaian demi helaian benang yang menutupi keduanya
kini tergeletak manis dilantai kamar tersebut, naluri alamiah menuntun keduanya
untuk bersama menyalurkan hasratnya satu sama lain
“bolehkah sekarang, aku tau ini
pertama kalinua bagimu, aku akan berusaha selembut mungkin walaupun sebenarnya
aku membencinya” Aya masih memejamkan matanya takut untuk menatap Rilo
“bukalah matamu, jangan seperti aku
bersama orang buta sekarang” dengan perlahan Aya membuka matanya
sekarang, aku takkan memaksamu jika memang kau belum siap” senyum manis terukur diwajah Aya yan mungil,
bak terhipnotis Rilo menatap sayang mata indah itu yang entah sejak kapan itu
menjadi candunya. Aya yang sudah berada dikendali hasratnya mengangguk
menyutujui permintaan Rilo
“jika aku menyakitimu kau boleh
menggigit atau mencaraku” Aya mengangguk pelan, karena mendapat persetujuan
Rilo melakukannya dengan sangat hati-hati dan perlahan. Air mata Aya mengalir
disudut matanya Rilo yang melihatnya merasa begitu iba
“apakah aku perlu berhenti sekarang,
aku takut akan menyakitimu” namun Aya menggeleng tak menyetujui dan Rilo
melanjutkannya hingga mereka berdua sama-sama terbuai. Suara keduanya menggemai
dalam ruangan menyalurkan hasrat keduanya, hingga Aya terlihat begitu kelelahan
Rilo pun berhenti dan berbaring disamping Aya seraya memeluknya
“terima kasih karena kau telah
menjaganya, maaf jika aku telah menyakitimu tadi” Aya meringkuk dalam pelukan
Rilo berlahan iya memejamkan matanya larut dalam kelelahan. Rilo yang melihat
Aya tertidur menysulnya untuk menuju alam mimpi sebelum waktu makan malam tiba.
Suasana dapur tampak begitu hangat,
Ayah Rian, dan Rilo telah duduk dikursi makan sedangkan bunda menata meja makan
tersebut dengan berbagai menu makan malam. Ayah yang tak melihat putrinya menanyakan
keberadaannya
“dimana Aya, kenapa belum turun
__ADS_1
untuk makan malam?”
“tadi masih mandi ketika aku turun
kebawah, tunggu sebentar aku akan memanggilnya untuk turun” padahal Rilo tau
istrinya lama mandi akibat ulahnya yang mengajaknya mandi bersama hingga mereka
kembali untuk menyalurkan hasratnya. Rilo berjalan menuju kamar Aya dan
langsung membuka pintu kamar tanpa menghiraukan istrinya yang masih mengenakan
pakaian dalam saja
“apakah kau tak punya sopan santun
sama sekali jika masuk kekamar?” wajah Aya memerah karena Rilo terus saja memandanginya tanpa
mau berkedip
“apa yang kau malukan, aku sudah
melihat dan merasakan semuanya, cepatlah turun Ayah, Rian dan Bunda sudah
menunggumu dibawah”
“iya, sebentar lagi aku akan turun”
namun Rilo berjalan mendekati Aya, tatapan tajam mata Aya menusuk kearah Rilo
“apa yang akan kau lakukan, apakah
aku belum sepenuhnya memberimu?” ditangan Aya sudah ada baju berleher rendah
yang kemudian dirampas Rilo
“gunakan yang lain saja, apakah kau
mau mereka meledekmu nanti?” Rilo menarik baju berleher tinggi dan
memberikannya ke Aya
“pakailah ini, aku menunggu dibawah
dan cepalah tak enak mereka menungu terlalu lama” namun sbelum benar-benar
keluar kamar Rilo mengecup bibir Aya sejenak dan berlalri kelaur karena iya tau
akan mendapatkan pukulan dan caci maki dari istrinya itu
“kurang ajar, awas saja kau nanti”
Rilo tersenyum mendengar makian istrinya dan kemudian turun kebawah menuju
ruang makan.
Selang
beberapa menit Aya turun menyusul keluarga dan suaminya dimeja makan, matanya
tampak berbinar melihat makanan yang tertata rapi dimeja makan
“apakah kau akan terus berdiri
disitu dan hanya menatap kami makan saja?” Tanya Rian
“hais, sebentar kak, aku sudah lama
tak makan masakan bunda, huuu makasih bunda” Iya duduk disamping Rian
“Aya, apakah sekarang kau tak
menganggak suamimu setelah bertemu kakakmu?” Tanya bunda
“ah iya, biarkan saja dia sendiri
aku sekarang hanya mau dekat sama kakakku, lagian dia jiga sudah tua kan pandai
mengurus dirinya sendiri?”
“baiklah, aku sekarang tua didepanmu
dan sebentar lagi akan menjadi kakek, berilah aku selamat” mereka saling
berpandang melihat wajah kesal Rilo hingga tawa Rian pecah karena tak mampu
menawan tawaya melihat eksperesi kakak iparnya itu bagaikan anak kecil yang
tengah merajuk
“lihatlah, kakek tua itu tengah
merajuk, sperti anak kecil saja”
“Aya, sudahlah makan sekarang kasian
Rilo” tengah bunda sedangkan Ayah hanya tersenyum melihat kelakuan putrinya
__ADS_1
itu. suasana makan malam yang terasa begitu hangat, tawa dan senyum memenuhi
sepanjang perjamuan makan malam itu