
Bosan menungg dalam ruangan yang terasa begitu asing baginya membuat Aya
mengerucutkan bibir layaknya anak kecil yang tak dibelikan lollipop oleh
mamanya. Cemilan yang telah diantarkan
Rio sebelumnya telah habis seketika, entah kenapa iya jadi kut sekali ngemil
padahal ngemil merupakan hal yang jaang dilakukan oleh seorang Raya pratiwi
“kenapa disini begitu membosankan, Rilo juga begitu lama
hanya untuk meeting apakah iya tak kasian denganku yang ingin sekali makan sate
depan sekolahan. Aku harus pulang kerumah bunda untuk minta dibuatkan brownis
yang biasa bunda buatkan untuk kak Rian” Aya tampak kesal sendirinya entah apa
penyebabnya.
hampir dua jam Rilo mengikuti Meeting akhirnya selesai
sudah, semua rekannya telah keluar ruangan termasuk partner bisnisnya, kini iya
melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya.
“kenapa nenek belum juga datang katanya mau kesini, apa
jangan-jangan Rilo bohong ya biar aku mau berlama-lama diruangan yang
membosankan ini. Awas saja jika dia berani membohongiku maka iya akan
kukebirikan langsung diruangan Ini” aneh memang seorang Aya mengoceh sendirinya
apalagi kesal karena Aya yang biasanya hanya cuek dan dngin berubah menjadi
cerewet
Knop pintu berbunyi menampakkan Rilo dengan senyum
manisnya yang sebelumnya tak pernah iya tampakka jika berada dikantor apalagi
depan karyawannya. Aya yang terus saja mendumel tak menyadari bahwa Rilo sudah
masuk dalam ruangan tersebut
“bagaimana bisa wajah kucing kecil cemberut, dimana
keberaniannya yang dulu, apakah sudah hilang atau memang begini adanya dia?
Gumam Rilo yang melihat tingkah Aya tanpa Aya ketahui
“Rilo, awas saja jika kau datang maka aku akan
mengkebirimu hingga habis, aku mau sate bunda” terasa ada yang menyentuh
bahunya membuat iya berpaling kebelakang untuk melihat siapa gerangan yang
membuatnya terkejut
“Rilo, kebiasaan banget sih suka banget ngejutin orang,
kalo orang jantungan gimana. Poonya aku tidak mau tau, aku mau sate depan
sekolahan sekarang juga”
“tunggu pulang aja ya, aku capek sekarang habis meeting
sama klient. Makan yang lain aja ya, aku suruh Rio yang belikan dekat kantor
biar tak butuh waktu lama”
“nggak, aku maunya sate depan sekolahan. Kalo emang nggak
bisa yaudah aku pergi sendiri aja” Aya beranjak dari sofa menuju pintu ruangan
hendak keluar
__ADS_1
“kamu kenapa sih hari ini, nggak biasanya juga kayak
gini” tiba-tiba mata Aya berkaca-kaca menahan tangisnya yang hendak pecah
karena baru saja Rilo meninggikan suaranya
“-“merasa Aya tak ada respon sama sekali Rilo menoleh
kearahnya dan betapa herannya iya melihat Aya yang matanya sudah berkaca-kaca
hendak menangis
“kenapa kau menangis?” jleb tangis Aya pecah membuat Rilo
semakin kebingungan dibuat Aya
“kenapa kau semakin menangis, jangan membuatku takut”
paniknya Ril dibuat Aya dengan tingkahnya har ini yang tak biasanya
“salah jika aku maunya sate depan sekolahan, jika kau tak
bisa untuk membawakanku kesana maka aku bisa pergi sendiri saja” suranya
tersebdat-sendat karena menahan isak tangisnya
“astaga, aku bukannya tak mau pergi menemanimu tapi aku
sekarang benar-benar lelah dan ingi istirahat sebentar, kau mengertilah”
“itukan kau meman tak mau mengantarkanku untuk membelikan
sate depan sekolah, sudahlah aku pergi sendiri” Aya hendak membuka pintu namun
segera Rilo berteriak yang membuatnya semakin takut dan tangisnya semakin
menjadi-jadi
“kenapa kau semakin menangis” Rilo dibuat gelagapan
dengan Aya yang tengah menangis secara tiba-tiba
satenya jangan berteriak” wajah Aya tampak ketakutan
“astaga, hanya masalah sate kau sampai segitunya. Baiklah
aku tak marah denganmu tapi aku mohon untuk sekarang jika kau mau biar Rio saja
yang membelikan untukmu, karena aku bisa mengantarmu sore disaat kita pulang
kerumah” Rilo memijit pangkal hidungnya melihat kelakuan istrinya hari ini yang
begitu aneh dimatanya
“aku tidak mau Rio yang membelinya, aku maunya kau
sendiri yang pergi atau kau pergi denganku. Tidak enak jika satenya sudah
dibungkus, lebih baik kita makan disana saja terasa begitu nikmat”
“astaga, Aya aku harus bagaimana lagi, kerjaanku masih
banyak dan harus diselesaikan juga. Jangan keras kepala atau kia tidak kesana
sama sekali, bagaimana?” Aya terlihat semakin menangis mendengar perkataan Rilo
yang demikian hingga pintu ruangan tersebut terbuka menampakkan seorang wanita
yang cukup tua namun masih terlihat anggun
“nenek, kenapa tidak bilang jika sudah disini biar Rio
yang menjemput nenek” sapa Rilo melihat nenek sekar yang perhatiannya jatuh
kepada Aya yang masih menangis
“aku tidak apa-apa, Rilo kamu apakan istrimu hingga
__ADS_1
menangis begini?” mata mengintimidasi nenek menatap Rilo
“ah Aya mau sate depan sekolahnya, nek tapi kerjaanku
belum siap sama sekali, aku sudah menwarkan Rio untuk membelikannya sate namun
iya menolak dengan alasan tak enak jika dibungkus baiknya dimakan disana” jelas
Rilo yang tak mau neneknya salah faham
“a begitu rupanya, baiklah sekarang kamu temani Aya untuk
membelikan satenya, kasian Aya hingga menangis begini” nenek mengelus kepala
Aya untuk menenangkannya. Rilo yang tak bisa membantah neneknya mengiyakan
permintaan Aya
“baiklah, nek. Aya mari kita beli sate yang kau mau itu” wajah
Aya langsung bersinar mendengarnya, iya dengan senang mengekori suaminya untuk
keluar ruangan tersebut.
Dalam perjalanan Aya berceloteh tiada henti bahkan Rilo
yang berasa disampingnya terlihat risih yang hanya sesekali menanggapi celoteh
Aya. Nasib baik bagi Rilo hari ini karena satenya masih ada hingga Aya bagaikan
anak kecil yang telah dibelikan lollipop kesukaannya
“mang, satenya 3 porsi ya, minumnya es teh aja” Rilo yang
mendengar pesanan Aya membesarkan matanya, bagaimana bisa 3 porsi mampu
dihabiskan oleh istrinya itu
“tunggu sebentar, kamu pesan 3 porsi seporsinya untuk
siapa coba?” Aya memutarka bola mata memandang malas suaminya
“ya untuk aku, emang kamu mau makan makanan beginian?”
“astaga Aya, bukan begitu maksud akunya Cuma apa kamu
yakin mampu buat ngabisin sate yang 3 porsi itu?”
“udah, aku mau makan sekarang, terserah kamu maunya
gimana aku lapar” Aya langsung melahap makanan yang sudah ada didepan matanya.
Sedikitpun tak dipedulikannya Rilo yang duduk disampingnya bahkan iya bagaikan
orang yang sudah tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari saja.
“mang, dia yang bayar ya semuanya kalo dia tidak mau
bayar suruh cuci piring aja ya” Rilo dibuat bingung dengan tingkahnya hari ini
bahkan untuk sekarang ia sudah meninggalkan Rilo yang masih duduk dikursinya
hendak berdiri untuk membayar makanan Aya
“terima kasih, den. Pacarnya non Raya ya serasi banget”
senyum mang ucup sang penjual sate kepada Rilo
“hee iya pak, sama-sama. Kami permisi dulu ya, mari” Rilo
kemudian menyusul Aya yang sudah menunggu didepan mobil. Setelah keduanya masuk
kedalam mobil Rilo melajukan mobilnya melintasi jalanan yang saat itu masih
dalam keadaan sepi. Sepanjang perjalanan Rilo masih dibuat bingung dengan
perubahan yang ada pada diri istrinya namun iya engan untuk menanyakannya
__ADS_1
kepada istrinya.