Gelombang Laut

Gelombang Laut
Episode 40


__ADS_3

Bosan menungg dalam ruangan yang terasa begitu asing baginya membuat Aya


mengerucutkan bibir layaknya anak kecil yang tak dibelikan lollipop oleh


mamanya.  Cemilan yang telah diantarkan


Rio sebelumnya telah habis seketika, entah kenapa iya jadi kut sekali ngemil


padahal ngemil merupakan hal yang jaang dilakukan oleh seorang Raya pratiwi


            “kenapa disini begitu membosankan, Rilo juga begitu lama


hanya untuk meeting apakah iya tak kasian denganku yang ingin sekali makan sate


depan sekolahan. Aku harus pulang kerumah bunda untuk minta dibuatkan brownis


yang biasa bunda buatkan untuk kak Rian” Aya tampak kesal sendirinya entah apa


penyebabnya.


            hampir dua jam Rilo mengikuti Meeting akhirnya selesai


sudah, semua rekannya telah keluar ruangan termasuk partner bisnisnya, kini iya


melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya.


            “kenapa nenek belum juga datang katanya mau kesini, apa


jangan-jangan Rilo bohong ya biar aku mau berlama-lama diruangan yang


membosankan ini. Awas saja jika dia berani membohongiku maka iya akan


kukebirikan langsung diruangan Ini” aneh memang seorang Aya mengoceh sendirinya


apalagi kesal karena Aya yang biasanya hanya cuek dan dngin berubah menjadi


cerewet


            Knop pintu berbunyi menampakkan Rilo dengan senyum


manisnya yang sebelumnya tak pernah iya tampakka jika berada dikantor apalagi


depan karyawannya. Aya yang terus saja mendumel tak menyadari bahwa Rilo sudah


masuk dalam ruangan tersebut


            “bagaimana bisa wajah kucing kecil cemberut, dimana


keberaniannya yang dulu, apakah sudah hilang atau memang begini adanya dia?


Gumam Rilo yang melihat tingkah Aya tanpa Aya ketahui


            “Rilo, awas saja jika kau datang maka aku akan


mengkebirimu hingga habis, aku mau sate bunda” terasa ada yang menyentuh


bahunya membuat iya berpaling kebelakang untuk melihat siapa gerangan yang


membuatnya terkejut


            “Rilo, kebiasaan banget sih suka banget ngejutin orang,


kalo orang jantungan gimana. Poonya aku tidak mau tau, aku mau sate depan


sekolahan sekarang juga”


            “tunggu pulang aja ya, aku capek sekarang habis meeting


sama klient. Makan yang lain aja ya, aku suruh Rio yang belikan dekat kantor


biar tak butuh waktu lama”


            “nggak, aku maunya sate depan sekolahan. Kalo emang nggak


bisa yaudah aku pergi sendiri aja” Aya beranjak dari sofa menuju pintu ruangan


hendak keluar

__ADS_1


            “kamu kenapa sih hari ini, nggak biasanya juga kayak


gini” tiba-tiba mata Aya berkaca-kaca menahan tangisnya yang hendak pecah


karena baru saja Rilo meninggikan suaranya


            “-“merasa Aya tak ada respon sama sekali Rilo menoleh


kearahnya dan betapa herannya iya melihat Aya yang matanya sudah berkaca-kaca


hendak menangis


            “kenapa kau menangis?” jleb tangis Aya pecah membuat Rilo


semakin kebingungan dibuat Aya


            “kenapa kau semakin menangis, jangan membuatku takut”


paniknya Ril dibuat Aya dengan tingkahnya har ini yang tak biasanya


            “salah jika aku maunya sate depan sekolahan, jika kau tak


bisa untuk membawakanku kesana maka aku bisa pergi sendiri saja” suranya


tersebdat-sendat karena menahan isak tangisnya


            “astaga, aku bukannya tak mau pergi menemanimu tapi aku


sekarang benar-benar lelah dan ingi istirahat sebentar, kau mengertilah”


            “itukan kau meman tak mau mengantarkanku untuk membelikan


sate depan sekolah, sudahlah aku pergi sendiri” Aya hendak membuka pintu namun


segera Rilo berteriak yang membuatnya semakin takut dan tangisnya semakin


menjadi-jadi


            “kenapa kau semakin menangis” Rilo dibuat gelagapan


dengan Aya yang tengah menangis secara tiba-tiba


satenya jangan berteriak” wajah Aya tampak ketakutan


            “astaga, hanya masalah sate kau sampai segitunya. Baiklah


aku tak marah denganmu tapi aku mohon untuk sekarang jika kau mau biar Rio saja


yang membelikan untukmu, karena aku bisa mengantarmu sore disaat kita pulang


kerumah” Rilo memijit pangkal hidungnya melihat kelakuan istrinya hari ini yang


begitu aneh dimatanya


            “aku tidak mau Rio yang membelinya, aku maunya kau


sendiri yang pergi atau kau pergi denganku. Tidak enak jika satenya sudah


dibungkus, lebih baik kita makan disana saja terasa begitu nikmat”


            “astaga, Aya aku harus bagaimana lagi, kerjaanku masih


banyak dan harus diselesaikan juga. Jangan keras kepala atau kia tidak kesana


sama sekali, bagaimana?” Aya terlihat semakin menangis mendengar perkataan Rilo


yang demikian hingga pintu ruangan tersebut terbuka menampakkan seorang wanita


yang cukup tua namun masih terlihat anggun


            “nenek, kenapa tidak bilang jika sudah disini biar Rio


yang menjemput nenek” sapa Rilo melihat nenek sekar yang perhatiannya jatuh


kepada Aya yang masih menangis


            “aku tidak apa-apa, Rilo kamu apakan istrimu hingga

__ADS_1


menangis begini?” mata mengintimidasi nenek menatap Rilo


            “ah Aya mau sate depan sekolahnya, nek tapi kerjaanku


belum siap sama sekali, aku sudah menwarkan Rio untuk membelikannya sate namun


iya menolak dengan alasan tak enak jika dibungkus baiknya dimakan disana” jelas


Rilo yang tak mau neneknya salah faham


            “a begitu rupanya, baiklah sekarang kamu temani Aya untuk


membelikan satenya, kasian Aya hingga menangis begini” nenek mengelus kepala


Aya untuk menenangkannya. Rilo yang tak bisa membantah neneknya mengiyakan


permintaan Aya


            “baiklah, nek. Aya mari kita beli sate yang kau mau itu” wajah


Aya langsung bersinar mendengarnya, iya dengan senang mengekori suaminya untuk


keluar ruangan tersebut.


            Dalam perjalanan Aya berceloteh tiada henti bahkan Rilo


yang berasa disampingnya terlihat risih yang hanya sesekali menanggapi celoteh


Aya. Nasib baik bagi Rilo hari ini karena satenya masih ada hingga Aya bagaikan


anak kecil yang telah dibelikan lollipop kesukaannya


            “mang, satenya 3 porsi ya, minumnya es teh aja” Rilo yang


mendengar pesanan Aya membesarkan matanya, bagaimana bisa 3 porsi mampu


dihabiskan oleh istrinya itu


            “tunggu sebentar, kamu pesan 3 porsi seporsinya untuk


siapa coba?” Aya memutarka bola mata memandang malas suaminya


            “ya untuk aku, emang kamu mau makan makanan beginian?”


            “astaga Aya, bukan begitu maksud akunya Cuma apa kamu


yakin mampu buat ngabisin sate yang 3 porsi itu?”


            “udah, aku mau makan sekarang, terserah kamu maunya


gimana aku lapar” Aya langsung melahap makanan yang sudah ada didepan matanya.


Sedikitpun tak dipedulikannya Rilo yang duduk disampingnya bahkan iya bagaikan


orang yang sudah tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari saja.


            “mang, dia yang bayar ya semuanya kalo dia tidak mau


bayar suruh cuci piring aja ya” Rilo dibuat bingung dengan tingkahnya hari ini


bahkan untuk sekarang ia sudah meninggalkan Rilo yang masih duduk dikursinya


hendak berdiri untuk membayar makanan Aya


            “terima kasih, den. Pacarnya non Raya ya serasi banget”


senyum mang ucup sang penjual sate kepada Rilo


            “hee iya pak, sama-sama. Kami permisi dulu ya, mari” Rilo


kemudian menyusul Aya yang sudah menunggu didepan mobil. Setelah keduanya masuk


kedalam mobil Rilo melajukan mobilnya melintasi jalanan yang saat itu masih


dalam keadaan sepi. Sepanjang perjalanan Rilo masih dibuat bingung dengan


perubahan yang ada pada diri istrinya namun iya engan untuk menanyakannya

__ADS_1


kepada istrinya.


__ADS_2