Gelombang Laut

Gelombang Laut
Serasa tak Berguna


__ADS_3

        parkiran sekolah SMA Bakti Mulia terlihat sangat ramai dikarenakan jam pulang sekolah, enam orang siswa-siswi tengah sibuk bercanda ria siapa lagi jika bukan Aya, Nono, Dito, Rian, Eta dan Lulu sehingga mereka tak peduli dengan orang-orang disekeliling mereka. Mereka berencana akan pergi ke pusat perbelanjaan tak jauh dari sekolah mereka untuk mencari keperluan di acara Dies Natalis sekolah mereka


        “nanti ya, aku bakalan cari pakaian yang sangat nyentrik biar mereka pada tertarik sama aku dan aku jadi pusat perhatian. Haaaa……………” Dito seraya memperagakan dirinyamnegenakan baju tersebut


        “yeee……. Kamu tu cocoknya pake jubah malaikat penjemput nyawa, Dit. Haaaaa……… biar yang lain


pada kabur semua, kan enak tu makanan kita semua yang makan” duh, Nono sudah mulai ngaco ni bicaranya


        “gaes, kalo gini terus kapan ni kita berangkatnya, ayok a buruan, ntar keburu sore kasian Aya,


kan diam pergi besok” Eta menjadi penengah diantara mereka.


        Mereka berenam pun keluar gerbang sekolah, Eta dan lulu menggunakan motor boncengan, Nono dan


Rian satu motor boncengan sedangkan Dito dan Aya mengendarai motor sendiri-sendiri karena selepas berbelanja bersama teman-temannya Aya langsung balik rumah untuk istirahat.


        Kondisi jalanan disaat itu tidak terlalu ramai karena belum waktunya jam produktif pulang kerja, serta kendaraan yang berlalu Lalang pun tidak terlalu ramai. Aya dan Dito berada dikemudi paling belakang, sedangkan Eta, Lulu, Rian dan Nono berada dikemudi depan.


        Mereka mengendarai motor dengan kecepatan normal, namun Aya merasa ada yang janggal dengan motornya, iya kesulitan untuk mencengkram remnya dikarena remnya blong, Aya berusaha memberitahukan kepada teman-temannya namun mereka tidak mendengar apa yang Aya katakan, Aya berusaha tenang namun iya tidak bisa, hingga tepat diperempatan jalan, belum sempat Aya bisa mengendalikan motor yang iya kendarai, dari arah horizontal sebuah mobil truck dengan muatan banyak tengah melaju kencang, Aya yang tengah berusaha untuk menghindarpun telat, sehingga “bruk”


        Teman-teman Aya menoleh kebelakang melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya mereka melihat


sebuah motor yang sudah tak berbentuk lagi, Eta yang tengah dibonceng Lulu berteriak histeris. Nono, Rian dan Dito langsung putar haluan mendengar suara tersebut. Tak jauh dari suara tersebut mereka melihat motor Aya yang sudah tak berbentuk lagi, ketiga temannya langsung turun dari motor dan mencari keberadaan Aya. Aya sudah terpental jauh di rerumputan disekitar tepian jalan, dengan kondisi tak sadarkan diri lagi dan tubuh berlumuran darah sedangkan mobil truck tersebut berhenti beberapa meter dari kejadian tersebut.


        Rian langsung mengangkat tubuh Aya dengan wajah yang sangat panik, Dito dan Nono menahan pemilik mobil truck sedangkan Eta dan Lulu menghubungi ambulance.  Mereka semua dipenuhi dengan perasaan panik


yang begitu hebat, Eta dan Lulu menghampiri Rian yang tengah memangku tubuh Aya yang berlumuran darah dan seketika keduanya menangis melihat kondisi Aya yang sangat menyedihkan. Mereka berusaha memberikan kekuatan satu sama lain dan meyakinkan satu sama lain jika Aya akan baik-baik saja.


        Rian terlihat menahan emosi yang meluap-luap denga mengepalkan tangannya agar emosinya tak


diluar kendali, dan tak lama kemudian sebuah mobil berhenti didepan mereka

__ADS_1


        “Rian?” seorang Rilo keluar dari dalam mobil tersebut dan terkejut menlihat kondisi aya yang sangat menyedihkan


        “Lo, tolongin adik gue, please. Cepetan bawa kerumah sakit” dengan sigap Rian membukakan pintu mobilnya dan langsung membawa Aya kerumah sakit terdekat. Didalam mobil Aya ditemani Rian yang terlihat sangat panik bukan main.


        Selang beberapa menit berlalu kemudian mobil ambulance datang yang ikuti oleh mobil polantas,


Nono dan Rian masih memberikan keterangan kepada pihak polantas yang tengah menahan sopir truck tersebut dan tak lama kemudian mereka diminta ke kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut, sedangkan lokasi kejadian diberikan polisi line


        Sesampai dirumah sakit Aya langsung ditangani oleh pihak rumah sakit. Rian merasakan sakit yang


luar biasa disekujur tubuhnya, ingin sekali iya berteriak menahan sakitnya, namun iya msih sempat memikirkan kondisi Aya. Rian hanya mengabari kedua orang tuanya atas kondisi Aya yang sekarang ini tengah ditangani dokter tapi belum sempat menceritakan kejadian yang dialami Aya


        Sekitaran setengah jam Nono dan Dito menyusul kerumah sakit sedangkan Eta dan Lulu telah dulu sampai kerumah sakit, dengan langkah yang tergesa-gesa Nono dan Ditonmenelusuri koridor rumah sakit untuk segera mengetahui kondisi Aya.


        “Eta, gimana kondisi Aya? Apa kata dokter?” Nono menanyakan kondisi Aya


        “dokter belum keluar dari tadi, kita tunggu aja kabar dari dokter dan semoga Aya baik-baik


        Rian mondar mandir di depan pintu kamar tempat Aya ditangani dokter, dan


        “Keluarga Raya pratiwi?” Rian langsung menghampiri dokter yang menangani Aya


        “bagaimana keadaan adik saya, dok?” teman-teman Aya yang mendengar kata adik dari Rian pun


terkejut dan hendak bertanya namun diurungkan mengingat situasi sekarang bukan saat yang tepat


        “boleh ikut saya keruangan sebentar, ada yang perlu saya bicarakan” Rian mengikuti dokter tersebut keruangannya, sesampai diruangan dokter tersebut mereka pun langsung membicarakan hal yang mengenai kondisi Aya saat itu


        “adik anda mengalami pendaharan yang sangat banyak serta………” dokter tersebut hendak


melanjutkan kalimatnya namun iya ragu mengingat kondisi Aya yang harus segera ditangani karena menyangkut nyawanya

__ADS_1


        “serta apa dok? Tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya” Rian terlihat tak sabaran


mendengar kondisi Aya sekarang


        “mohon maaf sebelumnya, kondisi adik anda saat ini sangat mengkhawatirkan, dia mengalami


kerusakan tulang belakang akibat tenturan yang sangat hebat dibelakangnya ketika terpental saat kejadian terjadi, dan harus dioperasi sesegera mungkin, namun untuk melakukan operasi harus ada pendonor yang cocok dengan sum-sum tulang belakangnya adik anda dan itu harus ada dalam 5 hari” jleb, rasanya pandangan Rian gelap mendengar kabar tersebut


        “tolong ambil punya saya dok, apapun tolong selamatkan adik saya” perasaan Rian tak karuan


sudah, rasanya dunia begitu sangat gelap taka da satupun cahaya yang menerangi


        “sebelum melakukan proses pendororan kita harus cek terhadap kondisi anda terlebih dahulu, apakah anda bersedia?”


        “saya bersedia,dok. Lakukanlah agar bisa menyelamatkan adik saya”


          Beberapa saat kemudian Rian mengikuti petugas yang akan mengecek kondisi Rian sebagai pendonor, setelah setengah jam lamanya Rian diperbolehkan untuk keluar ruanga dan berkonsultasi dengan dokter yang menangani Aya


        “bagaimana, dok. Apakah saya bisa menjadi pendonor untuk adik saya?”


        “maaf sebelumnya, apakah benar menurut hasil pemeriksaan anda pernah mengalami penyakit langka?”


        “iya, dok. Tapi itu dikala saya masih kecl dulu dan saya yakin kondisi saya sekarang aman-aman saja” Rian berharap penuh agar bisa menolong adiknya


        “maaf sebelumnya, anda tidak bisa menjadi pendonor karena mengingat kondisi anda yang


sewaktu-waktu bisa drop, dan itu bisa membahayakan nyawa anda serta kami dari pihak rumah sakit tidka mau mengambil resiko atas hal itu, sebaiknya kita mencari pendonor lain saja” rasanya Rian ingin mati saja mendengar iya tak bisa menolong adinya, kecewa sudah hatinya atas hal itu, apa yang bisa iya lakukan?


        Rian keluar dari ruangan dokter tersebut dengan wajah yang sangat kecewa, seketika iya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seorang kepercayaannya kemudian menyusul keteman-temannya yang lain


        “Yan, gimana kondisi Aya, dia baik-baik aja kan?”

__ADS_1


__ADS_2