Gelombang Laut

Gelombang Laut
Pasti ada jalan


__ADS_3

         Tuhan tak akan memberikan anaknya ujian jika iya tidak mampu untuk melewati semua itu. Buktinya kondisi Tristan saat ini sudah stabil dan dikabarkan sudah bisa pulang namun perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya


        “yah, gimana perasaan ayah, apa udah mendingan?” Rian menghampiri ruangan ayahnya


        “ayah udah merasa sehat kok, bagamana konsidi adikmu, apa ada kabar baru?” walau sebenarnya


diwajah aya tampak bersedih karena merasa kehilangan sosok ibu dalam hidupnya


        “belum ada, yah. Rian udah nyari kemana-mana namun belum mendapatkan pendonor yang cocok dengan Aya”


        “percayalah sama bunda, adik kamu kuat melewati semua ini, buktinya selama ini iya tak pernah mengeluh atas apa yang telah ayah dan bunda lakukan terhadapnya” padahal didalam hati bunda iya jga sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya yang belum mendapatkan pendonor juga


        “yah, om Dio sama tante Lala hari ini mau jenguk ayah” Rian menyampaikan pesan kepada ayahnya,


dia tau jika ayahnya saat ini tidak baik-baik kondisinya


        “baiklah, nak. Sampaikan terima kasih dari ayah untuk om dan tantemu atas semuanya”


        “baiklah ayah” ponsel Rian berdering karena ada panggilan masuk dan ternyata itu dari Rilo, Rian keluar dari ruangan tersebut karena takut mengganggu waktu istirahat ayahnya


        “halo, yan, gue dapat pendonor yang cocok buat adik lo, temui gue di cafe biasa, bisakan? Ada yang mau gue omongin sama lo”


        “ok, thank’s. gue siap-siap dulu, sampai ketemu disana” rian menutup panggilannya dan menghampiri


kedua orangtuanya untuk pamit jika iya harus keluar sebentar. Saat dikoridor rumah sakit Rian bertemu Fras dan kedua orang tuanya


        “kak, ikut gue boleh bentar ketemu Rilo, karna lo lebih ngerti dari gue” kedua orang tua Fras mengerti maksud dari anaknya melihat kearah mereka, om Dio dan tante Lala berjalan menuju ruangan dimana tempat ayah dirawat sedangkan Fras ikut serta Rian menemui Rilo


        Mereka satu mobil untuk menuju cafe yang dimaksud Rilo, Fras mengemudi mobil sedangkan Rian dikursi samping Fras, sekitaran 15 menit berlalu mereka sampai ditujuan. Fras memarkirkan mobilnya didepan cafe dan segera menemui Rilo yang sudah menunggu


        “sorry buat lo nunggu, jadi gimana?” Rian duduk kursi depan Rilo beserta Fras


        “gue barusan dapat kabar kalo orang suruhan gue dapat orang yang cocok buat jadi pendonor tu


adik lo, tapi dia minta imbalannya gak tanggung-tanggung” Rilo seraya menyeruput minumannya


        “gak masalah semahal apapun gue bayar asal adik gue selamat, tadi tu orang udah melakukan


pemeriksaan kan?” Rilo mneyerahkan data hasil pemeriksaannya yang kemudian dibaca Fras


        “hmmmm………hasil pemeriksaanya ok, kondisi dia juga ok. Tapi gue penasaran ni orang kenapa

__ADS_1


bersedia buat jadi pendonornya si Aya, apa karna anak buah lo ancam dia biar diam au ngedonor buat Aya?” Fras menatap curiga Rilo karena iya sudah kenal luar dalam siapa Rilo Edward Mayniro, terkadang iya bisa melakukan hal diluar batas orang norlam


        “Fras, mata lo gak gitu juga kali. Curigaan amat sama gue, ya kali anak buah gue ancam tu orang, lagian ni ya apa sih untungnya buat gue nyuruh anak buah gue ngancam tu orang?” Rian juga penasaran kok maunya Rilo bantu nyariin pendonor buat adiknya


        “lah lu bedua, adik sama kakak sama-sama curigaan amat sih? Gue bantu kalian dua ikhlas tanpa


ada embel-embel apapun, ya kali gue minta kerjaan sama lo, Yan”


        “ya kali ada, kan lo orangnya ada barang ada imbalan. Apa jangan-jangan lo suka sama adik gue?”


selidik Fras


        “what? Jangan ngaco deh? Pedofil dong gue?” Rilo masih setenang mungkin menghadapi kedua


kakak beradik ini, ya kali dia suka sama anak usia 16 tahunan? Secara usia Rilo sama dengan Fras 25 tahun.


        “awas aja lo ya ada udang dibalik batu sam adik gue, bakalan iparan kita, haha…………” gelak tawa


mewarnai pembicaraan mereka bertiga


        “udah ya, berenco ngawurnya, sekarang gue nanya ni, tu orang emang minta imbalan berapa” mereka


        “2,5 M. eits, asal usul tu orang udah gue selidiki. Dia terlilit hutang sama rentenir dalam jumlah yang sangat besar, dia punya suami penjudi dan pemabuk, memiliki anak  perempuan usia 12 tahun”


        “ok, gue terima tawarannya, besok gue transfer uang kerekeningnya dia, tapi kalo dia sempat


nipu gue, dia bakaan tau akibatnya” cengir Rian dan Rilo mengerti maksud cengiran tersebut


        Sedikit masalah mulai bisa teratasi, akhirnya Aya mendapatkan pendonor yang cocok dengannya,


namun pelaku dari kecelakaan Aya masih iya selidiki


        Rian melirik ponselnya yang telah berdering dari tadi dan setelah dicek ternyata teman-teman


Aya minta izin buat ngejenguk aya dirumah sakit


        “gue duluan, teman-temannya Aya mau ngejengukin dia dirumah sakit sekalian gue mau ngurus


administrasi buat operasinya Aya, Fras, serta apa lo sama Rilo?” Rian beranjak dari tempat duduknya dan memegang kunci mobil


        “serta lo aja deh, sekalian mau ngebesuk om Tristan juga” Rilo pun ikut bangkit dari tempat duduknya dan ikut serta pergi juga

__ADS_1


        Ketiganya menuju parkiran, Rian dan Fras akan menuju rumah sakit sedangkan Rilo menyelesaikan


urusan pendonor untuk Aya


        Suasana dirumah sakit lumayan ramai, teman-teman Aya datang untuk melihat bagaimana keadaan Aya


sekarang, walaupun dari kemarin Aya belum juga siuman.


        Kemarin sebenarnya hari dimana Aya akan berangkat untuk mengikutiolimpiade Fisika, namun karena kondisi Aya masih terabaring dirumah sakit maka posisi Aya digantioleh siswa yang lain, dari pihak sekolah juga tidak bisa memaksa jika memang Aya tidak bisa mewakili sekolah karena kondisi yang tak memungkinkan


        Rian menyapa teman-teman Aya yang membawakan bingkisan untuk Aya, ya walau bagaimana pun


teman Aya teamannya Rian juga karena Rian juga sekelas dengan mereka walaupun dalam posisi menyamar menjadi siswa pindahan karena ayahnya menyuruh untuk memantau adiknya Aya


        “makasih ya kalian udah mau jengukin Aya, sayangnya aya masih tidur dari kemarin, mungkin


beberapa hari lagi Aya akan melihat berata bahagianya iya memiliki teman kayak kalian” Eta timbul dengan mode genitnya


        “duh, Rian, eh kak Rian udah kayak sama siapa aja. Kita kan sekelas, iya kan Lu?” Nono dan Dito yang melihat tingkah genit temannya hanya bisa bergidik


        “panggil rian aja, gak perlu pake kak, kita seumuran kok. Akunya aja yang kecepetan” Eta bagaikan melambung diudara mendengar jawaban Rian


        Rian pamit sebentar untuk menuju kamar ayahnya sekalian melihat bagaimana kondisi ayahnya


sekarang sedangkan Fras telah duluan masuk kekamar ayahnya Rian


        “yah, gimana keadaan ayah sekarang? Apa kata dokter bun?”


        “dokter bilang kondisi ayah uda stabil, mungkin hari ini bisa keluar” bunda setia menemani


ayah


        “bun, boleh bicara sebentar, tapi diluar ya” Rian berbicara sedikit berbisik dengan sang bunda dan bunda pun meng iyakan. Rian dan bundanya keluar ruangan untu bicara


        “bun, Rian udah dapat pendonor yang cocok buat Aya, besok Aya udah boleh dioperasi” bunda


terharu mendengarnya hingga iya tak bisa berkata apa-apa


        “nak, bunda yakin kamu pasti bisa melewati semua ini” hanya itu kalimat yang bisa diucapkan bunda


mendengar kabar bahagia tersebut

__ADS_1


__ADS_2