
Aya terlihat lesu pagi ini, bagaimana tidak iya tak bisa tidur memikirkan percakapan dimakan malam tadi malam. Dengan kulit yang putih sangat mudah menampakkan mata pandanya dan kantung matanya. Aya turun kebawah untuk sarapan bersama keluarga, dengan siap membawakan tasnya Aya berencana untuk tidak mengikuti acara sarapan pagi itu namun Rian mencegahnya dan mengatakan jika Aya berangkat kesekolah serta dirinya nanti, yam au tak mau Aya harus mau ikut sarapan padahal sebenarnya Aya menghindar agar tak dilontarkan pertanyan ada apa dengan matanya yang memiliki lingkaran hitam dan kantung mata
“mata kamu kenapa, dek? Kok kayak orang kurang tidur?” memang si kakak yang peka akan perubahan kecil
“gak, Aya nyenyak tidur semalam, mungkin karena tidur keawalan kali makanya mata Aya jadi yah
seperti yang bisa dilihat” Aya mengunyah sarapannya dengan sangat cepat, bunda melirik kearah Aya dan hendak bertanya namun dengan cepat Aya bagkit dari tempat duduknya
“kak, ayok nanti aku telat” Aya menarik tangan kakaknya yang masih meneguk segelas susu, ayah
geleng-geleng melihat kelakuan ank gadisnya itu
“dasar ni anak, jujur aja deh kamu gak bisa tidur karena perkataan ayah semalam kan?” ngena banget, memang Rian kakak yang peka sekali terhadap adiknya
“bodo ah, cepetan” Aya memaksa kakaknya cepat masuk kedalam mobil karena lagi tak mau
membicarakan masalah semalam
Aya dan Rian masuk dalam mobil yang dikemudikan Rian, sesampainya digerbang sekolah terjadi perdebatan kecil saat Aya akan turun dari mobil
“ongkosnya mana? gak ada yang gratis ya sama kakak” Aya bingung dengan kakanya yang menyedorkan
pipi kearahnya hingga Aya jadinya memberikan uang lima ribu sebagai ongkosnya
“enak aja ngasi lima ribu, kakak gak mau, kakak maunya ini” seraya menunjukkan pipinya, Aya memutar bola matanya mengerti maksud kakaknya. Duh, kayak anak SD aja pake acara cium pipi segala pas diantar sekolah
“iya deh” Aya melihat sekelilingnya dan mencium pipi kiri kakaknya
“dah, sana pergi ntar aku dibilang simpanan om-om lagi pake acara cium pipi segala” Rian menyalakan mesin mobilnya dan melambaikan tangannya meninggalkan Aya.
Aya masuk kelingkungan sekolah dengan bertemu dengan Eta yang melambaikan tangannya, Aya berlari kearah Eta
“kenapa mukamu, eh kok lingkar matamu hitam banget sih, tu kantung mata juga besar amat?” duh
mulai deh pikir Aya
“udah jangan banyak bacot, kelas yuk” mereka berdua berjalan menelusuri Lorong sekolah, suasana sekolah sudah ramai karena sebentar lagi bel masuk akan dibunyikan
“wow, si ratu sekolah, datang kesekolah dengan raja barunya pake acara ciuman segal sebelum berpisah” Aya menoleh kearah sumber suara
“jangan sembarangan ngomong deh, tau apa kamu?” Eta nyolot tak terima Aya dikatain begitu.
__ADS_1
“hebat banget jadi cewek, nolak Edo eh ketemu orang taji, seneng ya idup loh” plak, Eta menggampar silvya yang tadi tadi ngoceh tak jelas
“semua sekolah tau, kamu seorang silvya dari dulu ngejar-ngejar Edo tapi sayangnya yang dikejar gak pernah noleh ke dia, duh kasian banget sih” Eta dengan nada mengejek
Silvya ingin membalas perbuatan Eta namun dengan cepat Aya menjadi penengah diantara mereka
“udah, Ta, biarin aja deh” Aya menarik tangan Eta yang tengah emosi dibuat silvya tapi sesaat kemudian Aya berbalik kearah Silvya
“oh iya, maaf ya silvya yang barusan kamu liat gak salah, tapi itu kakakku bukan pacarku” dengan
nada yang penuh penekanan sebelum Aya meninggalkan Silvya dan masuk kelas
“Ya, maafin aku deh, gak seharusnya aku emosi tadi tapi aku kesel dan gak suka dia ngatain kamu begitu”
“iya, lain kali jangan gitu, malu tau” Aya duduk dikursinya dan karena bel telah dibunyikan
palingan sebentar lagi ada guru yang masuk kelas dan benar saja pelajara sebentar lagi akan dimulai
Pelajaran disekolah hari ini lumayan menguras energi juga ya buktinya Eta sampai menghembus napasnya kasar setelah bel pulang telah dibunyikan, mereka tanpak mengemaskan barang dan dimasukan kedalam tas masing-masing
“Ya, tau gak, Edo setelah nembak kamu dan kamu tolak dia langsung keluar negeri loh, dan kata
temen-temennya mereka gak tau gimana kabar Edo sekarang” Lulu mulai jadi ratu gosip ni
nyambung dikursi belakang
“yeee……….bilangin aja senang si tukang tebar pesona gak ada selain kamu, iya kan, Dit?” kena sekali ucapan Nono
“udah ah, balik yuk, sekalian nyari makan, lapar banget soalnya” putus sudah tali pergosipan
diantara mereka. Mereka setuju dengan Aya karena sebenarnya mereka juga sama laparnya, mereka menuju warung bakso depan sekolah, baru beberapa menit duduk diwarung bakso ponsel Aya berdering
“halo, kak Aya lagi mau makan bakso di tempat biasa kita makan” mereka langsung tau siapa yang menelpon Aya
“hmmm, oke deh kalo gitu” Aya menutup panggilannya
“pak, bungkus satu ya mie ayam baksonya, bulat baksonya ditambahin ya” Aya memberitah penjual baksonya
“yah, gak makan sini dong, emang kenapa sih? Tanya Lulu
“gak tau tu anak, padahal baru mau makan bakso eh disuruh balik rumah kata ayah ada perlu sama
__ADS_1
aku” Aya mengeluarkan uang dari sakunya dan membayar pesananya, tak lama kemudian Rian sampai lokasi
“duluan ya semua, sorry makan barengnya lain kali aja ya” Aya melambaikan tangannya kearah teman-temannya karena telah dijemput Rian
“enak banget ya jadi Aya, udah anak orang kaya, eh kakak ganteng lagi pengusaha muda yang sukses lagi, tapi masih mau makan makanan beginian”
“seharusnya bersyukur punya temen kayak dia, walaupun dia kaya masih mau berteman dengan
kita tanpa memandang status sosial” Jawab Nono akan perkataan Lulu
Aya dan Rian telah sampai dirumah, dibagasi Aya melihat mobil yang taka sing baginya, mungkinkah?
“Aya, kamu mandi dulu trus pake pakaian yang sopan, bentar lagi calon mertuamu datang” hah? Aya
terkejut dong dengar kata calon mertua
“yah, jangan mulai lagi deh yah, capek Aya mau istirahat aja” Aya naik keatas menuju
kamarnya tanpa memperdulikan orang lain yang sedang duduk bersama ayahnya
Aya berendam dibath up kamar mandinya untuk menyegarkan badan, karena memang iya benar-benar
capek hari ini, padahal ujian tinggal beberapa bulan lagi.
sejam lamanya Aya gak keluar kamar, ayah menyuruh istrinya mengecek keadaan Aya, bunda naik keatas dan mendapatkan kamar Aya tak terkunci, dari kamar mandi terdengar suara bising, bunda mengetuk pintu kamar mandi tersebut
“kenapa, bun?” Aya masih mengenakan handuk dengan rambut yang basah
“ayah nungguin dibawah, cepetan ya” bunda kemudian membuka lemari pakaian Aya dan memilih pakaian yang sesuai dengannya untuk dipakai sebentar lagi
Aya keluar kamar mandi dan mendapati bundanya msih berada didalam kamarnya
“pakai ini, udah bunda siapin. Bunda tunggu dibawah, jangan lama gak enak sama mereka” bunda
langsung meninggalkan Aya yang maih belum mengerti keadaannya
Sekitaram 15 menit Aya keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian pilihan bundanya, saat menuruni tangga terlihat dari atas iya melihat bahu seseorang yang sangat falimiar sekali, sambal mengingat-ngingat Aya perlahan menuruni tangga
“hah?” Ayaterkejut mendapati Rilo dibawah bersama keluarganya serta sepasang suami istri yang terlihat seumuran dengan ayah, bundanya
“baguslah jika kalian berdua sudah saling kenal” ucap ayah yang membuat Aya membulatkan matanya
__ADS_1
“Aya, ini calon suami kamu dan orang tua yang sebentar lagi akan menjadi orang tua kamu juga” bak tersambar petir Aya mendengar kata ayahnya
Apa barusan, calon suami? masa Aya harus menikah dengan orang yang layak menjadi kakaknya sih? duh, gimana ni? Baiknya sih Aya ngomong baik-baik dengan keduanya, tapi kondisi ayah nanti memburuk kalo Aya nolak, Kak Rian tolongin Aya dong